
Caca menangis, dia tidak tahu harus kemana. Dia juga mengabaikan semua orang. Dia tidak tahu kalau dirinya sedang dalam bahaya.
Caca berlari tanpa arah, yang dia rasa hanyalah kesedihan. Langkah kaki nya terhenti, dia mengingat akan perintah ayahnya. Dia tidak boleh keluar dari tempat kerja hingga Ayah menjemput nya.
Caca kemudian berbalik, dia ingin kembali ke tempat kerja, walau tidak masuk ke kantor setidaknya dia bisa menunggu di pos penjagaan satpam sambil menunggu ayah nya datang.
Caca tidak menyadari ada yang sedang mengikuti nya. Di perjalanan Caca mengambil handphone nya. Dia melihat banyak panggilan tak terjawab dari ayah dan juga dari teman-teman nya.
Caca kemudian menelepon ayah nya, dia meminta untuk di jemput pulang.
***
Sementara itu Ayah Caca merasakan handphone nya bergetar, dia pun berhenti untuk menjawab panggilan tersebut. Hati nya merasa lega itu dari Caca. Kemudian segera mengangkat panggilan tersebut.
"Halo, Ca. Kamu dimana?" tanya Ayah.
"Halo, Ayah. Caca ada di deket tempat kerja, tolong jemput ya. Caca mau pulang, kayanya Caca kurang enak badan," kata Caca berbohong.
"Tunggu. Ayah sebentar lagi sampai."
"Iya, Ayah. Cepat ya."
Caca menutup panggilan ayahnya. Caca kemudian melanjutkan kembali perjalannya menuju kantor. Tak lama kemudian ada sebuah mobil yang berhenti menghadang jalan Caca. Orang tersebut keluar dan menarik Caca untuk masuk ke dalam mobil tersebut.
Caca tidak bisa berontak. Ada sekitar lima orang yang berada di dalam mobil itu. Caca tak bisa berteriak. Salah satu dari mereka menutup mulut Caca.
Ayah Caca melihat Caca di culik. Dia bergegas mengikuti mobil tersebut dengan diam-diam agar tidak ada yang mengetahui nya. Motor nya melaju kencang mengikuti laju mobil tersebut.
……………………………………………………………………………
Sementara itu di dalam kantor. Mba Dewi dan Lista sedang cemas, semua nomor yang dia tuju tidak bisa di hubungi. Mereka juga bingung harus apa.
Jam istirahat berbunyi, mereka membicarakan tentang Caca yang pergi dari tempat kerja ini.
Tidak ada yang tahu sekarang Caca berada dimana, entah dia pulang ke rumah atau tidak. Mereka mengenal Caca yang tidak ingin merepotkan orang lain dan membuat khawatir atau sedih terutama ibu dan ayah nya.
Teh Mul yang mendengar Caca di pecat kemudian menanyakan hal tersebut kepada teman-teman kantor nya. Andai saja ada Pak Tris di sini, mungkin Caca tidak akan pergi.
Ahmad juga terkejut mendengar hal tersebut. Kenapa dengan Nael, yang tiba-tiba memecat Caca. Ahmad melihat Nael yang sedang bolak balik di dalam ruangan nya, terlihat juga wajah nya terdapat bekas tamparan seseorang.
Nael merasa ada yang aneh dalam diri nya, kenapa dia merasa salah dengan perbuatannya itu, kenapa dia tidak puas dengan memarahi dan memecat Caca, mengapa dengan dirinya yang merasa gelisah sekali.
………………………………………………………………………………
Sementara itu, Ayah Caca tidak membawa peralatan lengkap sebagai body guard. Karena dia terburu-buru dan tidak sempat untuk mengambil itu semua, yang dibawa cuma segenggam Handphone. Dia juga tidak sempat mengganti motor besar nya.
Ayah Caca kehilangan jejak. Motor butut nya tidak bisa mengikuti laju mobil tersebut, dia pun gusar.
Ayah Caca kemudian berhenti dan menghubungi beberapa mata-mata yang berada di sekitarnya, untuk mencari mobil yang nomor plat nya sudah dia ingat sebelum nya.
Caca pun hilang. Entah kemana mereka membawa Caca. Ayah Caca cemas dan dia kembali memarahi dirinya sendiri. Apa yang harus dia katakan kepada Pak Heru dan Pak Tris. Dan apa yang terjadi pada Caca nanti nya, dia hanya berdoa dan berharap Tuhan selalu melindungi nya.
Ayah Caca lalu menelepon Pak Tris untuk memberitahu bahwa Caca di culik, tapi nomor nya tidak aktif, dia pun kembali memarahi dirinya sendiri, kenapa saat situasi genting ini ada saja yang menghambat.
Ayah Caca tetap mencari Caca walau tidak tahu harus kemana. Tak lama kemudian handphone Ayah bergetar, dia langsung mengangkat nya.
"Halo. Apa ada kabar?"
"Halo,Pak. Mobil tersebut sekarang berada di sebuah gudang tak terpakai, dekat sebuah danau di jalan Melati."
"Oke. Kirim lokasi nya, pantau terus dan tunggu saya. Saya akan langsung kesana."
Ayah Caca langsung bergegas ke tempat tersebut.
………………………………………………………………………………
Di Bandara.
Di lokasi berbeda. Pak Tris baru tiba di bandara bersama dengan Pak Heru.
__ADS_1
Dia kemudian menyalakan handphonenya kembali. Banyak sekali pesan masuk dan panggilan tak terjawab. Pak Tris kemudian menelepon kantor terlebih dahulu.
"Kring kringg!" telepon kantor berbunyi.
Lista yang kebetulan mengangkat telepon tersebut.
"Halo selamat siang."
"Halo. Ini, Lista ya? tadi telepon saya ada perlu apa?"
"Pak Tris. Caca di pecat Pak! sekarang tidak tahu ada dimana, tadi dia sambil nangis-nangis, Pak. Saya telepon ayah nya juga tidak di angkat."
"Apa! kenapa bisa begitu? siapa yang mecat Caca tanpa persetujuan dari Pak Heru dan saya?" tanya Pak Tris sedikit marah.
"Pak Nael, Pak."
Pak Tris segera menelepon Burhan untuk menanyakan keberadaan Caca ada dimana.
"Halo, Pak Tris."
"Halo, Burhan. Apa Caca bersama kamu?" tanya Pak Tris.
Ayah Caca terdiam, lalu dia menceritakan kalau Caca sedang di culik.
"Apa!"
Pak Tris terlihat lemas. Wajahnya seketika pucat, dia hanya menyebut nama Caca, Caca dan Caca. Pak Heru yang melihat itu menanyakan kepada Pak Tris tentang apa yang terjadi.
"Heru, Caca di culik orang nggak dikenal. Burhan sedang menyelamatkan Caca, kita harus segera balik ke sana," kata Pak Tris menangis.
"Tenang, Tris. Segera kita pesan tiket dan pulang," kata Pak Heru.
Mereka pun membatalkan kunjungan kerja nya. Pak Tris dan Pak Heru meminta marketing yang melanjutkan kunjungannya tersebut, karena mereka ingin pulang segera.
…………………………………………………………………………
Di tempat yang berbeda.
"Apa ada orang yang mengikuti kalian?" tanya seseorang pria tidak dikenal.
"Tidak ada, Bos."
"Bagus. Segera kurung dia, jangan lupa memberinya makan dan minum dan jangan ada yang berani menyentuh nya! Tunggu sampai bos muda datang kesini."
"Baik, Bos."
Mereka kemudian mengunci Caca dan meninggalkan dia sendirian.
***
Ayah Caca telah sampai di tempat yang telah di beritahu sebelumnya, dia kemudian bersembunyi agar tidak ada orang yang menemukannya. Dia melihat sekeliling untuk menghitung berapa jumlah orang yang menjaga tempat tersebut. Ternyata ada sekitar lima orang.
***
Caca mulai siuman, dia melihat ke sekeliling. Dia tidak tahu dirinya sedang berada dimana. Caca pun ketakutan. Dia pun berteriak minta tolong. Caca kemudian teringat kembali masa kecilnya, dia pernah di kunci di tempat yang gelap dan sempit. Trauma nya muncul kembali, dia pun kembali menangis.
Terdengar suara Caca dari dalam berteriak minta tolong, Ayah Caca pun menahan dirinya. Ketika penjagaan sedang lengah, dia kemudian maju perlahan dan bersembunyi kembali.
Ayah Caca mendengar pembicaraan salah satu penjaga.
"Hey! di dalam itu cewe cantik banget, sayang kalau di lewatin. Gimana kalau kita gerayangin aja dulu."
"Dasar! mau bos besar nanti menghabisi kita? dia Nggak boleh di sentuh, dia itu milik bos muda."
"Ah sebodo amat. Ya sudah kalo nggak mau mah gua aja ah."
Ayah Caca yang mendengar hal itu pun geram, tapi dia harus menunggu bantuan yang lama sekali sampai nya.
Tak lama kemudian pria tersebut membuka pintu dimana Caca di kurung. Caca kemudian berteriak minta tolong dan memanggil ayah nya.
__ADS_1
"Ayah! tolong Caca nggak mau, Ayah!" teriak Caca dan menangis.
Ayah Caca tak tahan mendengar hal tersebut, dia langsung masuk dan menghajar semua orang yang bertugas disana.
Ayah Caca kemudian menendang pintu yang terkunci dari dalam, pintu tersebut hancur dengan sekali tendangan. Dia pun menghajar pria yang berani menyentuh putri nya.
Caca lega dan memeluk Ayah nya. Tiba-tiba Caca berteriak.
"Ayah! awas di belakang!" kata Caca berteriak.
Ayah Caca tak sempat menghindar, kepala nya dipukul oleh sebatang besi. Darah mengalir deras dari kepala nya.
Caca berteriak histeris.
"Ayah! bangun! bangun!"
Kemudian Ayah Caca berusaha bangun dan menghajar pria tadi. Ayah berjuang melawan sendiri demi meyelamatkan kehormatan putrinya.
Ayah Caca sudah tidak muda lagi, staminanya sudah tidak sekuat dulu lagi. Ayah Caca pun ambruk, tapi dia berusaha bangkit kembali. Caca hanya menangis melihat Ayahnya dipukuli oleh para sekelompok orang jahat tersebut.
***
Tak lama kemudian bantuan datang. Mereka membantu Pak Burhan melawan para penjahat itu. Penjahat itu kemudian lari berusaha menyelamatkan diri.
Caca menangis. Diapun meminta tolong agar membawa ayahnya ke rumah sakit. Ayah nya tak sadarkan diri, banyak luka dan darah di sekujur tubuh nya.
Caca kembali mengingat ketika ayah kandung nya memiliki luka yang sama demi menyelamatkan keluarga nya. Mereka segera membawa Pak Burhan ke rumah sakit terdekat.
………………………………………………………………………………
Pak Tris dan Pak Heru telah sampai di bandara. Mereka meminta Pak Budiman untuk segera menuju ke kantor. Dia ingin sekali menanyakan kepada Nael, kenapa Caca bisa sampai di pecat. Pak Heru pun geram kepada putra nya.
***
Mereka pun tiba di kantor. Nael yang melihat Papa nya datang langsung menanyakan kenapa mereka pulang cepat.
"Nael, kesini kamu. Ikut Papa!"
"Ya, Pah."
Mereka kemudian masuk ke dalam ruangan. Pak Heru langsung memarahi Nael yang telah membuat kesalahan besar.
"Kenapa! kenapa kamu pecat Caca? karena perbuatan kamu, Caca sedang dalam bahaya!" kata Pak Heru sambil menarik kerah baju anak nya.
"Apa maksud Papa? Caca bersalah Pah! dia telah malsuin laporan produksi. Diaa berusaha membuat perusaan kita bangkrut, Pah!" kata Nael membela diri.
Pak Heru pun marah besar. Saat melanjutkan amarah nya, Pak Tris datang.
"Heru! Heru! Caca telah di temukan! mata-mata kita berhasil menemukan Caca!" kata Pak Tris menangis.
Pak Heru mendengar kabar tersebut langsung merasa lega. "Syukurlah."
"Tapi. Ada berita buruk! Pak Burhan Ayah Caca, sedang koma di rumah sakit." kata Pak Tris menangis kembali.
"Ayo kita pergi sekarang menemui mereka Tris, cepat! pasti Caca sangat membutuhkan kita sekarang." kata Heru tergesa-gesa.
"Budi! cepat kita kerumah sakit!" perintah Heru.
Mereka pun pergi dan meninggalkan Nael. Nael pun kebingungan.
"Kenapa mereka sangat mencemaskan Caca? dan kenapa dengan ayahnya Caca? apa yang salah dengan ucapan saya?" tanya Nael dalam hati.
Nael memegang Ayahnya untuk ikut. Tapi Ayahnya menolak. Nael kemudian menelepon Ahmad untuk mengikuti mobil Ayahnya. Dan mereka pun segera pergi kerumah sakit.
"Apa! dia berhasil kabur! dasar bodoh kalian semua! dasar tidak berguna!"
"Dor! Dor! Dor!" suara bunyi senapan. Mereka pun ambruk seketika.
"Buang mayat orang-orang tidak berguna ini semua!"
__ADS_1
"Baik, Bos."
Bersambung.