
Hari Minggu.
Pesta pertunangan Nael dan Caca sebentar lagi akan dimulai, mereka melangsungkan pesta tersebut di Kediaman Heru dan diadakan secara sederhana. Dengan dihadiri para keluarga inti dan kerabat terdekat saja, acara tersebut berjalan dengan lancar tanpa gangguan sama sekali.
Sebelum pulang ke Mess, Pak Heru mengajak Pak Tris untuk berbincang mengenai sesuatu. "Tris jangan pulang dulu, ikutlah denganku ada yang ingin aku bicarakan kepadamu."
"Baiklah." Pak Tris mengangguk setuju kemudian mengikuti sahabatnya itu menuju ruang tamu dan mereka duduk lalu memulai pembicaraan.
"Syukurlah acara pertunangan mereka sudah selesai Tris, tidak ada gangguan juga dari Satya. Tapi apakah itu tidak aneh?" tanya Pak Heru sedikit curiga.
Pak Tris melipat kedua tangannya di depan dada, lalu berpikir dan menerka. "Iya Heru sangat aneh sekali, tidak ada ancaman maupun gangguan dari Satya ataupun anak buah nya sama sekali. Apa ancaman Satya kepada Caca sebelumnya adalah gertakan belaka."
"Entah lah Tris, semoga saja hanya gertakan Tris, mengingat bulan depan Nael dan Caca akan mengadakan pengikatan janji suci dan juga pesta pernikahannya, kuharap semuanya lancar seperti ini."
Pak Tris menghela nafas. "Semoga saja Heru, tapi kita tidak boleh lengah sedikitpun. Satya orang yang licik entah apa rencana orang itu di kemudian hari. Aku takutnya dia sengaja tidak melakukan pergerakan hari ini karena ingin membuat penjagaan kita menjadi lengah di kemudian hari."
Pak Heru menaikan kaca matanya yang sedikit turun, kemudian sambil mangut-mangut dia berkata, "Benar Tris kita tidak boleh lengah sedikit pun ... Tris coba kamu cari informasi tentang Satya, mungkin kita bisa jaga-jaga jika sesuatu akan terjadi."
"Baiklah Heru, aku akan mencari informasi tersebut secepatnya." balas Pak Tris.
"Oke Tris hanya itu saja yang ingin aku bicarakan kepadamu, maaf menahanmu agak lama. Sekarang beristirahatlah, besok kita harus kembali bekerja. Sampai bertemu lagi dikantor." Pak Heru kemudian berdiri dan menepuk-nepuk punggung sahabatnya itu.
"Baiklah kalau begitu, sudah malam lebih baik aku pulang. Titip salam untuk Nael dan Caca, sekali lagi selamat untuk mereka berdua."
"Terima kasih Tris, nanti akan kusampaikan kepada mereka. Hati-hati di jalan."
Pak Tris menganggukkan kepala lalu pulang menuju mess nya. Selama di perjalanan Pak Tris memikirkan sesuatu, hatinya masih belum tenang. Diapun nerencana akan menanyakan sesuatu kepada Cindy besok pagi.
***
Di Kamar Caca.
Nael menemukan Caca yang sedang murung di dalam kamar, diapun menghampiri Caca dan bertanya sesuatu. "Apa yang kamu lamunkan Carisa?"
Caca menggeleng. "Tidak ada ...." lalu menghela nafas.
Nael mengerti kemurungan dari calon istrinya itu, Nael duduk disamping Caca lalu merangkulnya. "Jangan bersedih, keluargamu tidak bisa datang karena ada alasan tertentu bukan."
"Benar, lagipula hanya pesta pertunangan saja." Caca menyandarkan kepala nya di bahu Nael.
Nael mengusap bahu Caca. "Ada hari yang lebih penting di bulan depan, mereka pasti akan datang."
"Hem, benar. Mereka akan datang saat pernikahan kita nanti. Aku rindu sekali dengan mereka, aku harap mereka bisa datang sebelum perayaan itu tiba," ucap Caca penuh harap.
"Sabar ya, sudah jangan melamun lagi. Lebih baik kita memikirkan persiapan untuk nanti, masih banyak yang harus di urus bukan. Kita harus mengurus undangan, siapa saja tamu yang akan diundang, fitting baju dan juga bulan madu ...."
__ADS_1
"Bulan madu?" Caca menunduk malu.
"Iya bulan madu, kenapa harus malu. Aku ingin kita merayakannya bersama-sama dan akan ku tunjukan nanti berapa besarnya cintaku kepadamu Carisa dan akan kubuktikan itu semua diatas kasur nanti." Nael mulai menggoda Caca.
"Sudah jangan dibahas! kau ini. Hari ini saja belum berakhir kau malah sudah memikirkan bulan madu." Caca mendorong Nael yang mulai memeluknya.
"Apa yang salah dengan itu, sini jangan menjauh atau kau mau sekarang juga? aku siap untuk itu." Nael kemudian tertawa, dia senang sekali menggoda wanitanya itu.
"Tidak!" teriak Caca.
"Aku bercanda Carisa, ya sudah lebih baik kita istirahat ya, besok kita ke kantor bersama." Nael terkekeh lalu mematuk bibir Caca bertubi-tubi.
"Iya Nael, pergilah ke kamarmu sekarang!" pinta Caca sambil menjauhkan wajahnya.
"Oke selamat malam." Nael mencium kening Caca.
"Selamat malam."
……………………………………………………………………………
Keesokan harinya
Pak Tris mengunjungi Cindy diam-diam, dia ingin menanyakan sesuatu mengenai Satya.
"Beritahu saya sedikit informasi tentang Satya, berapa jumlah anak buahnya dan juga seberapa besar kekuatannya sekarang?" tanya Pak Tris.
Cindy mengerti, dia akan memberitahu informasi tentang ayahnya kepada Pak Tris sebanyak yang dia tahu.
"Papa punya banyak anak buah, dia tersebar diberbagai daerah. Pengikutnya dari kalangan kelas teri, hingga kelas kakap. Dia sekarang adalah bos besar pemilik berbagai bisnis ilegal serta gembong narkoba di negara ini."
"Bagaimana dia bisa begitu berpengaruh dan darimana dia bisa mendapatkan kekuatan yang begitu besar?" tanya Pak Tris kembali.
Cindy membalas. "Papa menjalin beberapa penjahat di dalam sel tahanan, selama dia dipenjara Papa mengajukan kerjasama dari berbagai pihak baik dari dalam maupun dari luar penjara. Dia memberanikan diri memulai bisnis haram tersebut dan mulai bergaul dengan beberapa penjahat kelas atas untuk memupuk kekuatan. Keberanian dan keberhasilannya dalam mengedarkan benda haram tersebut membuatnya paling dikagumi dan lambat laun akhirnya dia diangkat menjadi bos besar."
Pak Tris menggali informasi dan bertanya kembali, "Lalu apa Satya masih ingin merebut perusahaan Djuanda, dan apa alasan dia ingin sekali menculik Caca jika dia sendiri sudah begitu kuat sekarang?"
"Tujuan awal dirinya ingin menguasai harta Djuanda juga bukanlah tanpa alasan, dia bukan hanya ingin menguasai harta peninggalan Djuanda saja tetapi juga pengaruh perusahaan besar tersebut di negara ini, karena jika dia berhasil menguasai perusahaan Djuanda otomatis beberapa perusahaan yang berada di dalam Djuanda Grup akan serta merta tunduk di dalam kekuasaannya dengan begitu tidak akan ada lagi yang bisa menghentikannya dan alasan Papa ingin menculik Caca, mungkin saya rasa Bapak sudah tahu alasannya." balas Cindy
"Jadi itu alasan dia masih bersikukuh merebut perusahaan Djuanda, agar memperluas dan membuat bisnis haramnya lebih kuat dan sasarannya adalah para pengusaha kaya yang berada dibawah perusahaan Djuanda?" tanya Pak Tris kembali.
"Benar Pak Tris, dia ingin semua pemimpin perusahaan tunduk kepadanya, dengan begitu dia bisa mengendalikan dan melakukan transaksi haram tersebut dengan leluasa dan tersebar lebih luas lagi dikalangan pebisnis kaya. Terlebih lagi dia mendapat dukungan dari mafia lainnya, jika dia berhasil mendapatkan kekuasaan itu, pengusaha lain bahkan penegak hukum tidak akan ada lagi yang berani menghalanginya."
Pak Tris mengerti. "Baiklah Cindy terima kasih informasinya, itu saja yang ingin saya dengar."
"Sama-sama Pak Tris, janganlah sungkan bila memerlukan sesuatu," balas Cindy.
__ADS_1
Pak Tris kemudian pamit pergi, dia sangat khawatir memikirkan begitu besarnya kekuatan Satya, apalagi jika dia menggerakkan semua para pengikutnya maka apa yang akan dia lakukan agar bisa menghalangi Satya yang ingin merebut Caca.
Caca bagaikan kunci emas untuk Satya menuju ambisinya dan jika itu terjadi maka hancurlah semua yang berada dibawahnya.
Kekhawatiran Pak Tris dirasakan juga oleh Cindy, walau bagaimanapun juga dia tidak ingin Ayahnya itu berhasil. Dia memberanikan diri membocorkan rahasia kecil agar Pak Tris lebih berjaga-jaga.
"Pak Tris, berhati-hatilah. Dari info yang ku dengar bahwa Sony akan dibebaskan oleh Papa bulan depan."
Seketika Pak Tris terkejut, dia sedikit bergetar mendengar berita tersebut. "Bulan depan? bagaimana itu bisa?"
"Papa menyuap beberapa pejabat penting disana," jawab Cindy.
"Sebegitu kuatkah Satya hingga berbagai cara kotor dia lakukan demi ambisinya dan itu bisa dia lakukan dengan mudah."
"Begitulah Pak Tris!" balas Cindy.
"Baiklah terima kasih."
Cindy mengangguk kemudian menutup pintu messnya meninggalkan Pak Tris yang sedang harap-harap cemas di depan.
"Aku harus bergegas menemui Heru!" ucap Pak Tris kemudian berjalan menuju kantor.
***
Di Kantor.
Pak Tris bergegas mencari sahabatnya untuk membahas tentang informasi yang dia dapatkan dari Cindy.
"Tok tok tok!"
"Masuk!" sahut Pak Heru dari dalam.
"Heru, ada berita penting!" ucap Pak Tris.
"Berita penting apa Tris?" tanya Pak Heru.
"Aku tidak bisa jelaskan disini, sekarang aku minta tolong. Beritahu yang lain kita akan adakan rapat dadakan hari ini!" pinta Pak Tris.
"Baiklah Tris!"
.
.
Bersambung.
__ADS_1