Dandelion Kecil

Dandelion Kecil
Bab 87. Rasa penasaran


__ADS_3

Di Ruangan Nael.


Nael masih menunggu Caca agar menemuinya dengan perasaan harap-harap cemas dia sibuk bolak balik menantikan wanita itu datang ke ruangannya.


Tak lama kemudian Nael melihat Caca yang sudah datang, tanpa basa basi pria itu langsung menarik tangan Caca agar masuk ke dalam ruangannya.


"Carisa ... bagaimana apa yang kamu bicarakan dengan Pak Tris? sekarang ceritakan lah masalahmu kepadaku," ucap Nael sambil terus menantikan balasan dari Caca.


Caca terdiam, dia dilanda kebingungan tentang perkataan dari Satya. Caca tidak ingin jika Nael sampai mengetahuinya, akan tetapi dia juga telah berjanji akan menceritakannya kepada Nael.


"Tidak apa Nael, hanya membicarakan masalah keluarga, sekarang lebih baik aku kerja ya. Laporan ini banyak sekali yang belum selesai."


Caca lalu pergi ke meja kerjanya dengan perasaan bersalah karena menyimpan sesuatu dari Nael.


"Maaf kan aku Nael aku tidak bisa menceritakannya kepadamu. Aku tidak ingin kamu banyak terlibat dengan Satya," ucap Caca dalam hati.


Nael sedih karena Caca tidak mau bercerita kepadanya dan tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan dari Caca.


Nael kemudian menghampiri Caca dengan perasaan sedikit kecewa dia berkata, "Kenapa kamu tidak mau bercerita kepadaku? apa aku tidak penting bagimu Carisa?"


Caca tertegun dia menatap wajah Nael yang sepertinya tidak puas dengan jawabannya itu.


"Bukan seperti itu Nael, kamu sangat penting bagiku. Sekarang jangan lah dipikirkan, aku tidak punya masalah yang serius. Tadi aku hanya membicarakan masalah keluarga ku dimasa lalu yang belum aku ketahui kepada Pak Tris, ku harap kamu mengerti jangan lah marah memang ada beberapa yang tidak bisa aku ceritakan kepadamu." Caca kemudian menunduk.


Nael menatap raut wajah Caca yang masih terlihat tertekan, tetapi memaksa Caca menceritakannya pun dirasa percuma baginya. Nael menghela nafas dia kemudian kembali ke dalam ruangannya dan tidak lupa menyuruh sesuatu kepada Caca.


"Carisa bikin kopi!"


Caca tersenyum dia senang setidaknya Nael tidak memaksakan dirinya untuk bercerita masalah tadi.


"Baik!"


Caca kemudian menuju dapur untuk melaksanakan perintah dari pria tampan tersebut sedangkan Nael hanya bisa memandangi Caca yang keluar dari ruangannya dan bergumam dalam hati, "Baiklah Carisa. Jika kamu memang tidak ingin menceritakan masalahmu itu kepadaku maka aku yang akan mencari tahu sendiri."


Nael lalu kembali bekerja menunggu Carisa memberikan kopi kepadanya.


***


Tak berapa lama kemudian wanita itupun tiba dengan membawakan secangkir kopi favoritnya.


"Terima kasih."


"Sama-sama."


Caca kemudian kembali bekerja tetapi Nael dengan segera menghentikannya.


"Tunggu Carisa jangan pergi dulu!"


Caca seketika berbalik ketika Nael memanggilnya. "Iya Nael ada apa?"


"Bruk!"


Nael menyerahkan setumpuk pekerjaan kepada Caca dengan ekspresi datar tanpa tersenyum dia memberikan perintah kepada Caca. "Kerjakan semua laporan ini dan aku minta hari ini juga harus selesai!"

__ADS_1


Caca terkejut dengan Nael yang tiba-tiba memberikan tugas yang begitu banyak kepada dirinya. "Ta..tapi ini banyak sekali, apa bisa selesai hari ini."


"Bukankah kamu suka bekerja, sekarang kerjakanlah semua tugas ini dan jangan banyak protes!" jawab Nael dengan tegas lalu pergi meninggalkan Caca yang masih melongo tidak berdaya.


Caca menghentikan tatapan kosongnya itu lalu meraih tugas yang diberikan oleh Nael tersebut dan mulai mengerjakannya.


Dengan hati yang mengerutu Caca berkata, "Tugas sebanyak ini, apa bisa selesai hari ini juga. Ah Pria itu benar-benar kejam, apa dia marah kepadaku dengan memberikan pekerjaan yang begitu banyak sebagai tanda protesnya kepadaku atau memang penyakit memerintahnya kumat kembali."


"Huft ...!"


Caca menghela nafas panjang, mau tidak mau diapun mengerjakan tugas tersebut tanpa bisa menolaknya lagi.


***


Sementara itu Nael memandang Caca dari kejauhan. Ada perasaan tidak tega di dalam hatinya ketika memaksa Caca untuk mengerjakan pekerjaan yang begitu banyak.


Tetapi demi mendapatkan informasi yang ingin dia ketahui, maka mau tidak mau diapun harus tega melakukan hal tersebut.


"Maaf Carisa setidaknya itu bisa membuat mu sibuk sejenak sementara itu aku akan pergi sebentar mencari ada apa sebenarnya dengan dirimu yang sampai kau sendiri tidak mau memberitahukannya kepadaku."


Nael kemudian berpikir. "Bagaimana caranya agar aku bisa tahu tentang apa yang terjadi dan siapa yang harus ku temui terlebih dahulu. Baiklah aku akan bertanya kepada Pak Tris."


Nael kemudian berjalan menuju ke ruangan Pak Tris dengan harapan agar Pak Tris mau menjawab pertanyaannya.


***


"Tok tok tok!"


"Masuk!" sahut Pak Tris dari dalam ruangannya.


"Maaf Nael Bapak tidak bisa menceritakannya kepadamu."


"Tetapi ada apa sebenarnya Pak Tris? Carisa tidak mau bercerita kepada saya," balas Nael sedikit kecewa.


Pak Tris mengerti kekecewaan Nael tetapi dia tidak boleh memberitahu Nael terlebih dahulu sampai Caca memberitahukannya sendiri.


"Sudahlah kami berdua hanya menceritakan beberapa hal tentang keluarga Caca dimasa lalu, dia sedang merindukan kedua orang tuanya. Oiya bagaimana dengan pekerjaan kamu apa sudah beres semuanya?" Pak Tris mengalihkan pembicaraan.


Nael mengetahui bahwa Pak Tris sedang mengalihkan pembicaraan tersebut dan itu membuatnya semakin penasaran dengan apa yang disembunyikan oleh Caca dan Pak Tris.


"Pekerjaan saya sudah selesai. Baiklah Pak Tris maaf jika sudah mengganggu waktu mu."


"Tidak apa Nael," balas Pak Tris.


Nael lalu pergi dengan masih menyisakan rasa penasaran dalam hatinya diapun terus melangkah mencari sesuatu berharap ada yang bisa menjawab pertanyaannya itu.


"Siapa lagi yang bisa aku tanyakan, apa tanya ke Papa? Akh jangan pria itu pasti dengan tegas menolak pertanyaanku mentah-mentah, lagipula Papa juga sepertinya tidak tahu masalah ini."


Nael lalu duduk terdiam sambil berpikir kembali dan tak berapa lama kemudian Nael melihat Sandy yang sedang berjalan menuju ruangan Pak Tris.


"Ah benar juga aku akan bertanya kepada Sandy!" seru Nael lalu berjalan mendekati Sandy.


Nael menarik Sandy yang ingin masuk ke dalam ruangan Pak Tris diapun berlagak menanyakan keadaan keluarga Caca di desa.

__ADS_1


"Sandy!" panggil Nael.


Sandy menoleh ke arah suara yang memanggil dirinya dan mendapati Nael yang sedang menghampirinya.


"Nael sedang apa disini?" tanya Sandy.


"Oh saya habis dari ruangan Pak Tris, kamu sedang apa disini?" tanya Nael berusaha tenang.


"Tadi Pak Tris memanggil saja, ada urusan penting katanya," balas Sandy.


Nael mengangguk pelan lalu bertanya kembali kepada Sandy, "Oh begitu. Urusan penting apa?"


Sandy melihat Nael seperti orang yang sedang penasaran terhadap sesuatu, tetapi dia mengingat pesan dari Pak Tris agar tidak memberitahukan Nael tentang pertemuan rahasia ini.


Sandy mengangkat kedua bahunya dan menggelengkan kepala lalu berkata, "Entahlah, Pak Tris juga belum memberitahu saya. Apa ada lagi yang mau di tanyakan?" tanya Sandy kemudian berlalu pergi.


"Tunggu Sandy, bagaimana kabar Ibu dan Nenek di desa?" tanya Nael kembali.


"Baik mereka semua sehat!" jawab Sandy.


"Oh syukurlah kalau begitu. Ya sudah saya pergi dulu mau bekerja kembali." Nael lalu berpura-pura pergi menuju tempat kerjanya.


"Baiklah Nael." Sandy lalu masuk ke dalam ruangan Pak Tris dengan segera dan memastikan Nael tidak melihat atau mendengar pembicaraan mereka.


Nael semakin penasaran dengan urusan penting apa yang dimaksud oleh Pak Tris kepada Sandy dan kenapa Sandy begitu terburu-buru serta terlihat waspada.


Nael akhirnya kembali lalu menunggu di depan ruangan Pak Tris dan menguping pembicaraan mereka berdua.


***


Di dalam ruangan Pak Tris.


"Sandy, apa Nael tahu kedatanganmu kesini?" tanya Pak Tris.


"Tahu Pak Tris, tapi dia tidak tahu maksud kedatangan saya dan juga tentang urusan yang akan dibahas kali ini," jawab Sandy.


"Bagus, apa dia masih di luar dan menguping pembicaraan kita?" tanya Pak Tris kembali.


"Saya rasa tidak Pak Tris, tadi dia pergi untuk bekerja kembali setelah menanyakan kabar keluarga Nona Caca di desa," balas Sandy.


"Begitu, baiklah ayo kita pergi ke ruangan itu sekarang, semua sudah berkumpul disana."


"Baik Pak Tris."


***


Sementara itu Nael yang sedang berada di depan pintu ruangan Pak Tris segera menghindar lalu bersembunyi ketika Sandy dan Pak Tris keluar dan menuju ruangan tersebut.


Nael yang penasaran kemudian mengikuti mereka berdua secara diam-diam dengan terus dilanda kecemasan Nael berpikir akan terjadi hal yang tidak baik kepada Carisa tentang semua ini.


"Ruangan rahasia? kenapa sampai dibahas di sana, apakah sangat begitu penting. Oh Tuhan masalah besar apa lagi yang akan dihadapi oleh Carisa dan mengapa aku tidak diijinkan untuk mengetahuinya," guman Nael dalam hati.


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2