Dandelion Kecil

Dandelion Kecil
Bab 78. Buka Kado


__ADS_3

Nael masuk kedalam kamarnya begitu pula dengan Caca, mereka saling mengingat kejadian tadi ketika berada di ruang kerja pribadi Nael.


Nael yang tengah kasmaran menghempaskan tubuhnya diatas kasur lalu memejamkan kedua matanya sambil membayangkan wajah wanita pujaan hatinya itu.


"Ah Carisa baru juga kita bertemu kenapa aku malah merindukanmu lagi," gumam Nael di dalam kamarnya.


"Lagi apa dia sekarang? lebih baik aku melihatnya."


Nael kemudian bangun dan berjalan keluar dari kamarnya lalu menuju kamar disebelahnya yaitu kamar Caca.


"Tok tok tok!" Nael mengetuk pintu di hadapannya.


Tak lama kemudian, Caca membuka pintu tersebut dan melihat Nael yang tengah berdiri di hadapannya.


"Ya ada apa?" tanya Caca.


Nael bukannya menjawab pertanyaan Caca, dia malah menerobos masuk ke dalam kamar dan merebahkah dirinya di atas kasur Caca sambil senyum-senyum sendiri, sedangkan si Caca hanya bingung dengan tingkah laku si Nael.


"Kenapa kamu datang kemari?" tanya Caca menatap Nael.


"Kenapa, memangnya aku tidak boleh datang mengunjungimu?" Nael balik bertanya.


Caca menghela nafas kemudian menjawab pertanyaan Nael, "Ya boleh, cuma bukannya kamu akan mengunjungi ku malam nanti, tapi kenapa sekarang sudah datang kesini? ini masih sore, mahgrib saja belum lewat."


Nael si kepala batu ini lalu bangkit dan duduk di atas kasur Caca sambil berkata, "Aku kangen, rasanya pengen berduaan terus sama kamu!"


"Deg!"


Caca ketar ketir mendengar ucapan Nael tersebut, lalu dia mencari alasan agar Nael pergi dari kamarnya itu.


"Bukankah kita baru bertemu beberapa menit yang lalu dan kau sekarang malah sudah merindukanku dasar aneh. Pergi lah, aku sedang konsentrasi belajar!"


Nael tersenyum dia juga tidak tahu kenapa itu bisa terjadi kepada dirinya, "Entah lah mungkin efek jatuh cinta kepada mu."


Ucapan Nael sontak membuat hati Caca klepek-klepek tetapi dia harus menyadarkan Nael si kepala batu agar menjaga perilaku dan sikapnya.


"Kita masih bisa bertemu nanti, sekarang pergilah! Aku takut Pak Heru akan memergoki kita yang sedang berduaan di dalam kamar ini."


Nael yang tampan itu membenarkan ucapan Caca, tetapi itu bukan berarti dia harus menyerah begitu saja, dia pun memutar otak dan memikirkan sesuatu agar bisa tetap berduaan dengan kekasihnya itu.


"Begini saja ikutlah dengan ku ke taman!" ajak Nael.


"Mau apa kesana?" tanya Caca.


"Sudah ikut saja jangan banyak tanya!"


Nael menarik tangan Caca agar ikut bersamanya, mereka menuruni anak tangga dan berjalan cepat menuju taman belakang rumahnya yang luas tersebut.


Sesampainya ditaman Nael meminta Caca untuk duduk di gazebo yang berada di tengah tamannya dan meminta Caca untuk menunggunya sebentar disana sementara Nael pergi untuk mengambil sesuatu.

__ADS_1


"Tunggu disini aku tidak akan lama dan kamu jangan pergi kemana-kemana!"


"Baiklah."


Caca mangut-mangut saja dengan perintah Nael dan duduk manis menunggu si kepala batu itu datang lagi kepada nya.


***


Tak lama kemudian Nael datang bersama beberapa pelayan rumahnya sambil membawa sesuatu yang begitu banyak di tangan mereka.


"Ya sudah taruh semua nya disini. Terima kasih, sekarang kalian boleh pergi dari sini dan jangan mengganggu kami berdua oke!"


"Baik Tuan!" Para pelayan meninggalkan Nael dan Caca berdua di taman.


"Apa ini? apa semua ini kado ulang tahun mu?" tanya Caca.


Nael mengangguk dan meminta Caca melakukan sesuatu terhadap hadiah nya tersebut.


"Oke Carisa sekarang bantu aku untuk membuka semua hadiah ini ya, aku malas membukanya."


Caca menatap Nael lalu menarik nafasnya dalam-dalam dan mengerutu di dalam hati sambil memasang wajah cemberut.


"Dia selalu memerintahku seperti bos, tetapi di bilang Pak dia tidak mau. Dasar egois Huh."


Nael menatap wajah Caca yang sedang cemberut. "Kenapa menatapku seperti itu, sudah kerjakan saja perintahku!"


"Baik Pak!" ucap Caca kesal.


Caca menarik paksa sedikit kedua ujung bibir nya agar membentuk sedikit lengkungan pada wajahnya itu.


"Oke bagus! ayo sekarang mulai buka hadiahnya!" perintah Nael.


"Iya."


Nael memperhatikan Caca yang sedang sibuk membuka hadiah pemberian dari orang-orang saat ulang tahun nya dan Nael tidak henti-hentinya menatap Caca dari ujung kaki hingga ujung kepala sambil senyam-senyum sendiri.


"Ah aku tidak menyangka bisa jatuh cinta kepada gadis ini dan dia itu ternyata adalah cinta pertamaku saat kecil. Bukankah itu sungguh aneh jatuh cinta kembali pada orang yang sama yaitu cinta pertamaku. Hihihi!" ucap Nael kebingungan sendiri dalam hati.


Sementara Nael sedang melamun dan senyam-senyum sendiri beda halnya dengan Caca yang terbelalak melihat hadiah pemberian dari Sandy untuk Nael. Matanya membola dan ekpresinya seketika berubah, rasa malu kesal dan marah bercampur aduk menjadi satu dan itu terlukis jelas di wajah Caca.


"Si Sandy itu benar-benar, dia malah memberikan jam dinding ini kepada Nael, awas saja dia nanti!"


Caca mulai mengerutu dan membuat lamunan Nael akan Caca jadi berhenti, Nael meluruskan badannya lalu dia bertanya kepada Caca, "Ada apa Carisa? kenapa kamu mengerutu seperti itu?"


Caca lalu menyembunyikan hadiah tersebut agar Nael tidak melihatnya. "Ah tidak apa-apa, lebih baik kita buka yang lainnya."


Nael melihat hal yang aneh kepada Caca, dia pun mengambil sesuatu yang disembunyikan dibelakang tubuh Caca.


"Sini aku mau lihat!" Nael lalu menggeser tubuh Caca dengan mudahnya.

__ADS_1


Caca tertunduk malu melihat Nael yang tersenyum melihat hadiah dari Sandy apalagi saat Nael mulai membacakan isi kartu ucapan tersebut.


"Selamat ulang tahun untuk Nael semoga panjang umur dan selalu bahagia, mohon terima lah hadiah dari Nona Muda kami yang sangat miskin ini. Tertanda Sandy."


Setelah membaca isi kartu ucapan dari Sandy, Nael lalu menatap wajah Caca yang memerah karena malu. Caca yang malu lalu berkata kepada Nael, "Maaf aku tidak sempat membelikan hadiah untukmu dan untuk hadiah ini aku benar-benar tidak tahu kalau Sandy ternyata telah membelinya."


Nael tersenyum senang, dia kemudian menerima hadiah tersebut dan menjawab perkataan Caca, "Tidak apa Carisa, aku sangat senang karena bagiku hadiah terindah untukku adalah dirimu. Kau sangat berharga dalam hidupku, hanya dengan bersamamu aku sangat bahagia dan merasa nyaman. Tidak ada hadiah yang istimewa di dunia ini bagiku selain dirimu."


"Hah!"


Caca seketika tertegun dan mulutnya menganga lebar lalu dengan cepat Caca menutup mulutnya itu dengan kedua tangan. Jantung Caca berdebar kuat dan hatinya meleleh seperti mau menangis rasanya dia mendengar apa yang diucapkan oleh Nael.


Terlihat sekali wajah Nael yang begitu bersinar dan Caca merasa kalau perkataan Nael yang keluar tulus dari dalam hatinya yang membuat Caca semakin terharu.


"Benarkah itu Nael?" tanya Caca.


"Benar." Nael mengangguk.


"Kau belajar menggombal dari mana?" tanya Caca masih tidak percaya.


"Dari Ahmad!" jawab Nael dengan polos.


"Pantas saja!" balas Caca.


"Tidak lah Carisa itu benar-benar tulus ku ucapkan dan itu memang benar keluar sendiri dari dalam hatiku ini Carisa."


Caca mengedipkan matanya berkali-kali, dia senang dengan ucapan Nael dan Nael juga senang karena bisa mengungkapkan nya langsung kepada Caca.


Mereka berdua kemudian terdiam hingga Caca kemudian mengucapkan sesuatu kepada Nael. "Selamat ulang tahun, maaf aku telat mengucapkannya kepadamu."


Nael senang dia kemudian mendekati Caca dan memeluknya dengan lembut lalu membalas perkataan Caca, "Terima kasih."


"Sudah lah lepaskan pelukanmu, bagaimana jika ada yang melihat," ucap Caca sambil mendorong tubuh Nael.


"Biarkan saja!"


"Janganlah seperti itu."


Nael tidak menggubris perkataan Caca, dia terus memeluk Caca hingga membuat pelayan yang berada disana merasa malu melihat tingkah laku Tuan Mudanya yang tak tahu malu itu.


***


Pak Heru menggelengkan kepalanya setelah melihat kelakukan anaknya tersebut dari kejauhan, walaupun tingkah Nael memalukan tetapi dia tetap senang dan tersenyum melihat anaknya begitu bahagia bersama Caca.


Pak Heru lalu memejamkan kedua matanya dan berbicara, "Lihat lah Djuanda putrimu sudah tumbuh dewasa dia juga terlihat bahagia bersama dengan Nael. Apakah ini saatnya kita menyatukan mereka? apakah aku boleh meminta Caca kepadamu untuk putraku Nael?"


Seketika itu pula entah darimana muncul angin segar berhembus dan mengenai wajah Pak Heru. Pak Heru senang dia merasa seperti mendapat persetujuan dari Djuanda yang sedang berada di atas sana. Pak Heru pun mengucapkan terima kasih dan akan membicarakan hal ini kepada sahabatnya Pak Tris.


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2