Dandelion Kecil

Dandelion Kecil
Bab 44. Undangan Rapat Besar.


__ADS_3

Di ruangan Nael.


Nael mengerjakan tugas nya dan sesekali dia melihat Caca yang masih tertidur pulas hingga membuat Nael tersenyum sendiri. Nael juga tidak lupa selalu memberikan kompres di dahi Caca, untuk menurunkan suhu demam nya.


***


Beberapa saat kemudian Pak Tris masuk ke dalam ruangan nya. Mba Dewi dan Lista yang melihat Pak Tris telah datang langsung menghampiri dan menanyakan apa yang terjadi dengan Caca.


"Pak, tadi Ibu Caca telepon kenapa? dari nada nya Ibu Caca kaya nya cemas?" tanya Lista.


Pak Tris menghela nafas lalu menjawab pertanyaan Lista, "Iya, Caca salah minum obat, Nenek kasih obat anti mabuk perjalanan bukannya obat flu."


"Huft! Hihihi." Lista menahan tertawa setelah mendengar jawaban dari Pak Tris.


"Terus Caca gimana Pak?" tanya Mba Dewi.


"Ya lagi tidur, di ruangan nya Nael," balas Pak Tris.


Lista dan Mba Dewi kemudian saling menatap lalu pikiran mereka pun melayang kemana-mana. Mereka kemudian tersenyum dan tertawa satu sama lain.


"Kita jenguk Caca yuk!" ajak Mba Dewi.


"Yuk!" balas Lista


Pak Tris melihat mereka berdua yang ingin pergi dan segera menghentikan nya dan berkata, "Tunggu. Nanti saja jam istirahat melihat Caca, jangan diganggu biarkan saja dia istirahat."


"Ah Bapak, kita kan penasaran mau lihat Caca," kata Lista dengan tampang kecewa.


"Lihat apa? tidak boleh! mana laporan keuangan kamu? cepat kasih ke saya!" perintah Pak Tris.


Akhirnya Mba Dewi dan Lista menurut, mereka pun tidak jadi melihat Caca dan kembali bekerja.


***


Di ruangan Nael.


Nael duduk disamping Caca dan menatap wajah Caca sambil mengompres dahi nya. Caca mulai bergerak kemudian mengingau sambil memegang tangan Nael dan menarik Nael agar mendekat dengan nya. Hal itu sontak membuat Nael terkejut sekaligus senang diapun membiarkan Caca memegang tangan nya.


Caca yang sedang mengingau dengan sedih dia berkata, "Ibu jangan pergi, nanti Caca sama siapa? Caca ikut ya ke desa." Caca lalu menangis dan mengeluarkan sedikit air matanya.


Nael melihat Caca yang sedih tak lantas diam saja, dia pun menghapus air mata Caca dan berkata dengan suara yang cukup pelan, "Maaf, saya cuma bisa bikin kamu sedih."


Nael membelai rambut Caca, kemudian dia mengingat masa-masa bersama Caca sebelum pertunangan nya dengan Sonia terjadi.


***


Jam istirahat telah berbunyi, Mba Dewi, Lista dan Mul yang penasaran sejak tadi datang berbondong-bondong menghampiri ruangan Nael untuk melihat Caca. Mereka tidak ingin melewatkan kesempatan langka.


Tak lama kemudian teman-teman Caca telah sampai, mereka masuk dan mengendap-endap seperti pencuri dan mengintip Nael dan Caca dari balik pintu.


Dugaan mereka ternyata benar, Nael dan Caca ternyata sedang berduaan dan saling berdekatan satu sama lain.


"Hihihihi. Lihat tuh Pak Nael, mencari kesempatan dalam kesempitan," kata Lista menunjuk-nunjuk ke dalam.


"Hihi. Iya, lihat tangan nya Caca, di pegangin terus sama Pak Nael," kata Dewi sambil cekikikan.


"Mana? saya nggak kelihatan!" ucap Mul yang mencoba merangsek masuk lalu berkata, "Oh iya." Mul kemudian tertawa kecil.


Beberapa saat kemudian Ahmad datang membawakan makanan untuk Nael dan memergoki para cewek-cewek yang sedang mengintip di luar ruangan Nael dan Caca sambil tertawa cekikikan.


Ahmad tersenyum dan mengeluarkan tawa jahatnya sambil mengusap kedua tangannya, diapun mendekati para cewek yang sedang mengintip dengan diam-diam.


Ahmad menjulurkan kedua tangannya kedepan dan dengan santainya dia mendorong kawanan cewek-cewek itu sambil berkata, "Kalau mau masuk, masuk aja!"


Mereka ber tiga pun terjatuh.

__ADS_1


GUBRAKKK!!!


"Aw! Aduh! Eh Copot!" teriak mereka bersamaan.


"Hahaha ... hahaha!" Ahmad tertawa puas sambil menunjuk nunjuk ketiga cewek yang terjatuh tersebut.


Nael langsung terkejut dengan suara mereka yang terjatuh, diapun spontan melepaskan genggaman tangan nya dari Caca dan mendengar Ahmad juga para cewek bertengkar di depan ruangannya.


***


Beberapa saat kemudian Caca mulai membuka matanya karena mendengar suara ribut dia pun terbangun dengan memegang kepala nya yang masih pusing.


Caca melihat ada yang aneh. Kenapa dia tertidur di Sofa? kenapa dia memakai selimut? dan kenapa dia ada di ruang kerja Bos nya? Kepala nya pun bertambah pusing dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut.


Caca membuka selimut nya. Nael yang melihat Caca terbangun kemudian membantunya untuk duduk.


"Terima kasih. Tapi kenapa saya tidur di sini?" tanya Caca.


Nael kemudian menjelaskan tentang apa yang terjadi kepada dirinya.


"Oh, pantas saja," balas Caca.


Ahmad dan para cewek berhenti bertengkar ketika melihat Caca sudah terbangun, mereka lalu berbondong-bondong masuk ke dalam.


"Gimana Ca? kamu sudah baikkan?" tanya Mba Dewi.


"Ya saya sudah baikkan," balas Caca sambil tersenyum.


"Bagus lah!" ucap Teh Mul.


"Gimana rasanya bobo di temenin sama Pak Nael?" tanya Lista dengan santainya.


Caca yang mendengar pertanyaan Lista lalu dia menatap Nael sementara itu Nael dengan cepat memalingkan wajah nya.


"Ya maaf keceplosan." Lista mememegang kepala dan menyengir.


Caca kemudian berdiri dan berkata kepada mereka semua yang berada disana, "Terima kasih ya, sudah perhatian sama saya."


"Sama-sama. Kamu mau kemana Ca?" tanya temannya dengan kompak.


Caca tersenyum lalu membalas pertanyaan mereka, "Mau kerjain kerjaan."


Nael yang melihat Caca berdiri dan terlihat masih lemas kemudian menahan Caca yang ingin pergi untuk bekerja dengan mencekal pergelangan Caca lalu berkata, "Tidak usah. Kamu belum sehat, setidaknya makan dan minum obat dulu."


"Ehem ehem!" Semua berdehem, seperti tidak melihat sesuatu.


"Ya sudah Ca, kita mau ke kantin dulu ya, kamu makan dulu ya, jangan dipaksain kerja, kerja melulu kaya kagak," kata Lista.


"Eh Caca mah udah kaya dari lahir."


Caca hanya terdiam mendengar semua itu, dia pun tersenyum kepada teman-temannya lalu berkata, "Iya semua terima kasih."


Mereka kemudian pergi ke kantin meninggalkan Caca berdua dengan Nael kembali.


Nael membuka makanan yang tekah dibeli Ahnad tadi, dia lalu menatap Caca dan mengajaknya makan bersama. "Sini mari duduk, kamu makan dulu. Habis itu minum obat yang bener nih dari dokter."


Caca melihat nasi padang dihadapannya, dengan menelan ludah dia pun tidak dapat menolak permintaan dari bos bawel nya tersebut dan berkata, "Iya terima kasih."


Caca duduk dihadapan Nael dan mulai memakan makanan nya sementara Nael terlihat senang dengan semua itu dan akhirnya mereka pun makan bersama.


………………………………………………………………………


Sementara itu.


Semua para pemimpin perusahaan telah mendengar bahwa kabar Putri Djuanda ternyata masih hidup dan telah mengetahui dia sedang bekerja di perusahaan Pak Heru. Berita tersebut kemudian menjadi heboh di sejagad dunia perbisnisan.

__ADS_1


Semenjak saat itu Pak Heru menjadi yang paling sangat sibuk dengan berbagai pertanyaan dari para pemimpin perusahaan. Oleh karena itu, Pak Heru pun diundang oleh semua para pengusaha untuk mengadakan rapat penting mengenai hal tersebut.


Pak Heru yang sedang kepusingan kemudian menemui Pak Tris untuk meminta pendapatnya.


"Tris."


"Iya Heru, ada apa?" tanya Pak Tris.


Heru mendekati Tris kemudian dia duduk di samping sahabatnya itu dengan wajah yang sedikit cemas.


"Tris, semenjak mereka tahu bahwa Putri Djuanda masih hidup, saya selalu di cecar banyak pertanyaan dari para pemimpin perusahaan. Mereka sampai mengadakan rapat penting besok siang dan mengundang para pengusaha dari seluruh negeri ini."


"Ah itu lah yang saya takutkan Heru, mereka pasti mempunyai maksud tersembunyi. Hadapi saja Heru jangan takut, setidak nya mereka masih berada di pihak kita. Mereka adalah para pengusaha yang telah dibantu oleh Djuanda," balas Tris kepada Heru.


Heru menganggukkan kepalanya kemudian dia bermaksud mengajak Tris untuk ikut bersamanya. "Baiklah Tris, kamu ikut ya."


"Ajak Nael saja, sekalian biar dia belajar dan mengenal para pengusaha lainnya," ucap Tris.


Heru mangut-mangut dengan saran dari sahabat nya tersebut lalu berkata, "Kamu benar, besok siang saya akan ajak Nael kesana."


Tris merasa senang karena Heru menanyakan pendapat kepadanya lalu Heru berjalan keluar dari ruangan Tris dan tak lupa dia mengucapkan terima kasih kepada sahabatnya itu.


****


Di ruang Nael.


Nael dan Caca telah selesai makan, Nael kemudian memberikan obat dari dokter untuk Caca minum dan berkata, "Ini cepat di minum! lain kali jangan salah lagi minum obat. Baca yang teliti makanya."


Caca sedikit dongkol dengan ucapan bosnya itu tetapi karena dia sudah mau perhatian dan menolongnya akhirnya Caca menurut.


"Iya."


"Gluk gluk!" Caca meminum obat dengan disaksikan oleh kedua mata Nael.


Caca lalu mengelap sisa air dibibirnya dan Nael hanya memandang Caca dan tersenyum lalu berkata, "Bagus!" dengan jempol yang ditunjukan kehadapan Caca.


Setelah meminum obat Caca kemudian berdiri dan membereskan bekas makannya tadi, kemudian Caca menuju dapur untuk mencuci tangan.


***


Tak lama kemudian Pak Heru datang dan berbicara mengenai acara rapat besar besok siang dan berkata, "Nael, besok siang kamu ikut Papa ya. Ada rapat besar, Para pemimpin bakal berkumpul besok. Temenin papa ya, sekalian kamu bisa kenalan sama pengusaha yang lain."


"Baik Pah. Besok Nael akan ikut," balas Nael.


Setelah selesai berbicara dengan Nael, Pak Heru kemudian pergi bersama dengan Pak Budiman untuk ke suatu tempat.


***


Beberapa saat kemudian Caca kembali ke meja kerja nya, dia pun mulai mengerjakan pekerjaan nya yang setumpuk itu. Caca menghela nafas nya, gara-gara tertidur tadi, pekerjaan nya jadi tidak berkurang.


Nael melihat Caca yang sedang sibuk mengerjakan setumpuk laporan yang tertunda hal itu membuat Nael menjadi iba. Nael kemudian berjalan mendekati Caca untuk memberikan bantuan dan berkata, "Sini saya bantu!"


"Tidak usah, terima kasih."


Nael kemudian duduk disamping Caca walau Caca menolak nya.


"Sudah geseran sana cepat jangan membantah!" perintah Nael lalu menggeser tubuh Caca.


"Huh!" balas Caca mendengus kesal.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2