Dandelion Kecil

Dandelion Kecil
Bab 40. Hati Batu


__ADS_3

Nael marah kepada Ayah nya Heru, Heru kemudian meminta Sonia untuk menemui keluarga nya terlebih dahulu.


"Pa, kenapa papa lakukan semua ini? bukan kah Papa bilang kalo Nael dan Caca telah di jodohkan?" tanya Nael sambil bersedih.


Heru melihat Nael bersedih dia hanya bisa meminta maaf kepada Nael dan menjawab pertanyaan Nael dengan hati yang diliputi kesedihan, "Maaf Nael papa melakukan itu agar Satya tidak melukai kamu Nak, Satya telah mengirim ancaman agar kamu tidak bersama dengan Caca."


Nael merasa kesal dengan jawaban dari Ayahnya itu, dia merasa tidak puas. "Tapi Pa, lihat Caca dia telah sangat terluka dia merasa di khianati, hanya karena takut dengan Satya kita telah menyakiti nya. Caca begitu berani menghadapi keluarga Satya seorang diri dan kita seharusnya mendukung Caca. Harusnya kita bersama dengannya Pa, Nael malu melihat Papa menjadi lemah seperti ini."


Heru menangis mendengar ucapan dari Nael laku Heru berkata kepada Nael, "Nael. Papa ini adalah Ayah kamu, Ayah mana yang ingin melihat anaknya dalam bahaya. Papa mohon agar kamu mengerti Nak."


Nael kesal dan marah dia pun pergi meninggalkan ayahnya dan akan menemui Caca. Valen pun merasa sedih dengan hal tersebut diapun kecewa dengan Suami dan Ayahnya, mereka telah melakukan hal yang tidak benar.


…………………………………………………………………………


Caca telah pergi, dia tak henti-hentinya menangis, Pak Tris kemudian memeluk dan berusaha menenangkan Caca.


"Jangan bersedih Ca, Bapak tau perasaan kamu, Bapak tidak menyangka Heru tega melakukan itu kepada kamu. Bapak juga tidak akan memaafkan perbuatan mereka terhadap kamu Ca."


Caca tak sanggup berkata-kata hati nya sudah terlalu sakit, dia hanya bisa memeluk Pak Tris yang selama ini menyayangi nya dengan tulus. Pak Tris dan Sandy lalu mengantar Caca hingga pulang kerumahnya


***


Ketika Caca telah sampai dirumah betapa terkejutnya Ibu ketika melihat Caca yang pulang sambil menangis. Caca lalu bergegas lari masuk ke dalam kamar nya dan tak mau berbicara dengan siapapun.


Pak Tris kemudian menjelaskan kepada Ibu Caca tentang apa yang telah terjadi kepada Caca saat di pesta tersebut. Ibu kemudian marah dan bersedih, kenapa putri nya harus mengalami hal menyedihkan seperti ini.


Sementara itu Caca yang sedih masuk ke dalam kamar lalu bercermin, dia menatap gaun pemberian dari Nael dan dengan segera dia kemudian membuka dan mengganti nya. Caca juga melepas kalung pemberian dari Nael dan membuang buket bunga dari Nael.


Caca kembali menangis dengan kencang, Caca mengingat kejadian kemarin malam, dia menyesal. Harusnya dia tidak memberikan ciuman itu kepada Nael dia pun menangis kembali.


Ibu tak tega melihat Caca yang mengurung diri di dalam kamar sambil menangis, Ibu berusaha meminta Caca untuk membuka pintu tetapi usaha Ibu gagal karena Caca tidak mau membukakan pintu nya. Ibu sangat khawatir dengan keadaan Caca dia pun ikut menangis.


***


Tak lama kemudian Caca akhirnya keluar dari kamarnya. Dia kemudian berjalan ke arah Sandy dan meminta kepada Sandy untuk tidak ada yang boleh menemui dirinya termasuk Nael. Sandy mengerti diapun menunggu di pintu luar rumah.


Caca menghampiri Ibu dan Pak Tris yang sejak tadi menunggu nya keluar dari kamar. Wajah Caca begitu datar sakit hati telah membuat hatinya menjadi batu.


Ibu menangis lalu memeluk Caca yang masih mengeluarkan air mata. Nenek dan bibi juga menghampiri Caca dan berusaha menghiburnya.


"Tenang Ca, masih ada kami di sini, kita tidak akan pernah meninggalkan kamu."


Caca menatap semua orang yang berkumpul bersama nya. Mereka adalah orang-orang yang tulus menjaga nya. Caca kemudian memeluk mereka semua.


Beberapa saat kemudian Caca menghapus air mata nya lalu dia berkata kepada semua orang yang berada di sampingnya, "Tenang Bu, Caca tidak akan menangis lagi. Terima kasih untuk semuanya, mulai hari ini Caca akan menjadi kuat. Caca sudah besar dan tidak boleh cengeng, Caca harus meneruskan perjuangan Papa dan juga Ayah."


Mereka terharu mendengar ucapan Caca yang berusaha untuk tegar padahal mereka tahu benar keadaan hati Caca yang sedang hancur.


***


Setelah kondisi telah tenang Pak Tris meminta ijin kepada keluarga Caca untuk pulang, dia akan memikirkan hal terbaik untuk Caca.


Ibu mengantar Pak Tris sampai depan rumah sementara Caca berlalu masuk ke kamar dengan wajah dinginnya.


………………………………………………………………………………


Sementara itu.


Nael sampai di rumah Caca, diapun ingin bertemu dengan Caca. Sandy yang melihat Nael kemudian menghalangi Nael untuk masuk ke dalam karena perintah dari Nona muda nya. "Maaf Nona Caca tidak ingin bertemu dengan siapapun."


Tetapi Nael tidak mengindahkan perkataan Sandy, dia terus menerus memanggil Caca sambil berteriak dari luar rumah, "Carisa, Carisa! tolong keluar, dengerkan aku dulu Carisa."


Caca tak bergeming dia hanya menutup telinga nya dan tidak ingin mendengar suara Nael yang sedang berteriak memanggil namanya.


***


Tak lama kemudian Ibu membuka pintu dan keluar dari rumah lalu menyuruh Nael untuk pergi dari sini dan berkata, "Tolong mengerti! Caca tidak ingin bertemu dengan siapa pun." Ibu lalu menutup pintu membiarkan Nael sendirian diluar.


Nael akhirnya pergi dengan hati hampa, dia mengingat kejadian indah kemarin dan kenapa hal tersebut bisa berubah dalam sekejap mata.

__ADS_1


Caca kemudian merebahkan tubuhnya lalu menarik selimut nya dan mulai menangis.


………………………………………………………………………


Dikediaman Satya.


Satya, Sony dan Cindy tak menyangka jika Caca bisa berkata dengan begitu tegas dan berani.


"Caca, dia seperti Djuanda ayahnya yang tegas. Kecantikan dari Ibu nya dan keberanian dari Burhan. Hem cukup menarik," ucap Satya.


Cindy yang masih tidak menyangka dengan keberanian Caca kemudian membalas perkataan Ayahnya, "Caca bisa saja melawan kita suatu hari nanti Pa. Apa kita harus diam saja, kenapa kita tidak melakukan sesuatu?"


Satya menarik nafas dalam dan membalas pertanyaan dari Cindy, "Kita tidak boleh terburu-buru, Papa tidak ingin masuk penjara kembali. Papa harus melakukannya dengan hati-hati."


Sony yang diam saja mendengarkan percakapan Ayah dan Cindy lalu mengucapkan sesuatu dengan kesal. "Selalu saja gagal mendapatkan Caca! kenapa wanita itu sungguh sulit di taklukan? sungguh berbeda dengan gadis-gadis di luaran sana yang begitu mudah di dapatkan."


Sony lalu memainkan cincin yang di tolak Caca tadi. Satya memandang Sony dan tersenyum lalu berkata, "Begitu lah, sama seperti Felicia Ibu nya yang sangat sulit didapatkan."


Cindy dan Sony saling memandang ketika Ayahnya mengaitkan dengan Ibunya Caca, mereka tak mengerti dengan maksud Ayahnya itu.


………………………………………………………………………………


Ke esokan harinya.


Dikantor ramai sekali orang yang membicarakan mengenai masalah yang terjadi kemarin. Mereka semua baru mengetahui kalo Caca adalah anak seorang konglomerat Djuanda.


Mereka merinding mendengar perkataan Caca yang tak gentar menghadapi keluarga Satya. Mereka ikut bersedih dan terharu dengan perjuangan Caca yang sendirian menghadapi keluarga Satya yang kejam.


Ahmad, Mul Lista dan Mba Dewi merasa kesal dengan Nael dan Pak Heru. Ahmad sampai tak ingin bicara dengan Nael.


Sementara itu Nael sedang gelisah di ruang kerja nya. Dia menantikan Caca yang tak kunjung datang, Nael berharap Caca datang dan ingin menghapus semua kesalah pahaman ini.


Nael juga akan segera membatalkan pertunangan nya dengan Sonia walau Nael tahu Ayah nya akan menolak hal itu.


***


Hari sudah semakin siang tetapi Caca belum menampakan wujudnya, Nael pun sedih dia berpikir Caca pasti tidak akan kesini.


Mereka melihat aura berbeda dari Caca. Caca terlihat dingin, sedingin es, tak ada tawa atau senyum diwajah nya. Caca lalu melangkah masuk ke dalam kantor. Dia tak menyapa semua orang, dia terus menuju meja kerja nya.


Nael berdiri di depan Caca, tapi Caca berjalan terus tanpa bicara. Caca kemudian mengambil kunci dan mengambil isi dari laci meja kerja nya. Caca memeluk kenangan itu dan memasukannya kedalam tas dan berlalu keluar kembali.


Nael menghentikan langkah Caca yang ingin keluar dari ruangannya. Nael tidak ingin Caca pergi dan ingin Caca untuk mengikutinya masuk ke ruangannya untuk menjelaskan sesuatu. Caca kemudian memanggil Sandy dan memberikan barang yang tadi dibawa oleh nya.


Nael senang Caca ingin ikut dengannya. Caca kemudian duduk di ruangan Nael, kemudian memberikan semua hadiah yang Nael berikan kepada Caca. Sebuah gaun dan kalung emas pemberian dari Nael, Caca memberikan itu kepada Nael lalu berkata, "Ini, semua saya kembalikan."


Nael menolak pemberian Caca lalu membalas perkataan Caca. "Tidak Carisa, ini punya kamu, saya memberikan ini khusus untuk kamu."


Nael kemudian menggenggam tangan Caca namun Caca menolak untuk disentuh, dia kemudian memberikan surat pengunduran diri nya kepada Nael. Nael bersedih, dia merasa Caca akan pergi jauh dari nya.


"Maaf, saya harus pergi dari sini," ucap Caca kepada Nael.


Nael berdiri dan menghadang Caca yang ingin pergi dari nya. "Kamu akan pergi kemana Carisa? tidak, kamu tidak boleh pergi. Maaf kan aku dan Pak Heru."


"Tolong minggir ..." ucap Caca dengan suara yang sedikit lirih. Caca menahan tangisnya.


Nael menatap Caca yang mulai bersedih, dia tahu Caca sangat terluka. Nael kemudian tanoa ragu memeluk Caca dengan erat hingga Caca tak bisa bergerak, Caca yang tak tahan akhirnya kembali menangis dipelukan Nael.


Nael memandang wajah Caca, kemudian dengan cepat Caca mendorong Nael dan berkata, "Tolong biarkan saya pergi dari sini."


Heru datang menghampiri Nael dan Caca. Kemudian Heru menyuruh Nael untuk melepaskan Caca karena Sonia akan datang ke sini.


Tris yang mengetahui Caca datang kekantor, dia langsung menghampiri Caca dan mengajak nya pergi dari sana.


Tak lama kemudian Sonia masuk dan menghampiri Nael. Dia melihat Caca dia mengingat Caca kemarin dipesta, diapun turut bersedih. Caca tak bergeming, diapun berlalu meninggalkan Nael dengan Sonia. Caca berhenti sebentar dan melihat Sonia dan Nael sebelum akhirnya berpaling. "Selamat untuk pertunangan kalian."


Tris dan Heru sama-sama tidak bersapa, Heru mengerti hal tersebut. Mereka kemudian keluar dan pergi dari perusahaan itu.


***

__ADS_1


Sonia melihat Nael yang sedang sedih, dia merasa seperti ada sesuatu hubungan spesial diantara mereka, Sonia kemudian mulai bertanya kepada Nael, "Apa kamu mencintai gadis itu?"


Nael hanya mengangguk sambil melihat barang yang telah dikembalikan oleh Caca. Sonia mengerti, diapun berbicara kepada Nael, "Tolong jangan bersedih, aku tidak ada maksud untuk mengambil mu dari Caca, ini semua hanya rencana Pak Heru dan Peter agar Satya tidak mengincar kamu."


Nael menatap Sonia dan membalas perkataan Sonia, "Apa itu benar?"


Sonia kemudian menjelaskan dan menjawab pertanyaan Nael lalu kembali meyakinkannya.


"Benar, untuk sementara kita jalani dahulu hubungan seperti ini, Ayah mu Heru putus asa dengan ancaman dari Satya yang akan menghancurkan pernikahan Valen dan juga dirimu, dia berusaha mencari cara agar itu tidak terjadi, Peter mendatangi ku dan meminta tolong kepadaku untuk membantunya, aku pun setuju demi kalian."


Nael lega mendengar hal itu, ternyata hati Sonia sangat baik. Tapi bagaimana cara nya menjelaskan kepada Caca tentang ini semua, melihat Caca yang berubah dingin. Nael takut Caca tidak akan mempercayai nya.


………………………………………………………………………………


Di sisi lain.


Pak Tris kemudian mengajak Caca untuk berkeliling dengan mobil butut nya. Caca kemudian tersenyum.


"Eh jangan meledek, walau butut ini mobil kesayangan saya. Mesin nya sangat bagus dan tak kalah dengan yang baru," kata Pak Tris dengan bangga.


Caca hanya tersenyum, mereka pun pergi dengan mobil tua tersebut hingga Pak Tris mengajak Caca ke suatu tempat.


Caca mengenal tempat itu, yah itu adalah rumah Caca yang dulu bersama Papa Djuanda. Caca senang karena bangunannya masih bagus dan terawat.


Pak Tris kemudian mengajak Caca kedalam. Pak Tris berpikir mungkin bisa membuat hati Caca menjadi lebih baik membiarkan Caca berkeliling rumahnya tersebut.


Caca berjalan masuk ke kamar nya waktu kecil. Dia melihat kamar nya masih tersusun rapi, dekorasi seorang putri kerajaan masih ada disana. Kamar orang tua nya pun tidak berubah. Caca kemudian mengingat masa kecil nya yang bahagia.


Dia pun berterima kasih kepada para penjaga dan pelayan yang telah merawat rumahnya.


***


Pak Tris kemudian mengajak Caca kembali berjalan-jalan, kali ini dia mengajak ke salah satu perusahaan besar ayahnya.


Caca melihat perusahaan tersebut masih berdiri kokoh walau tak ada aktivitas produksi, tapi kehebatan nya tak pernah roboh.


Caca masuk keruangan dimana ayahnya bekerja memimpin sebuah perusahaan besar, dari situ dia menjalankan sebuah tugas dan beberapa kegiatan amal lainnya.


Caca tersenyum, dia mendekati kursi kebesaran ayahnya, dan menyentuh kursi besar berwarna hitam tersebut.


"Kursi yang nyaman, hangat dan empuk," kata Caca dalam hati.


Caca memandang ke sekeliling ruang kerja ayahnya, dia melihat banyak foto keluarga nya. Caca kemudian bersedih kembali, tapi dia ingat dia harus kuat menghadapi semua nya.


Caca berterima kasih kepada Pak Tris karena telah mengajak nya kesini. "Terima kasih Pak Tris, karena telah mengajak saya ke sini."


"Sama-sama Ca, nah lihat ruangan itu," balas Pak Tris.


Caca menengok kearah ruangan yang ditunjuk oleh Pak Tris, lalu Caca berjalan mendekati lalu bertanya, "Ruangan siapa itu Pak Tris? ruangannya begitu dekat dengan ruang kerja Papa."


"Itu ruangan kerja Mama mu, Felicia," jawab Pak Tris.


"Ruangan Mama, wah benar, dia bisa melihat Papa yang bekerja dari sini," balas Caca lalu tersenyum.


Kemudian Caca mengingat ruangan kerja dia yang dekat dengan ruang kerja Nael, sama seperti Mama yang bisa melihat Papa dengan jelas di sini.


Beberapa saat kemudian Pak Tris memberikan kunci rumah dan kantor tersebut kepada Caca.


"Ini semua kunci, Bapak serahkan kepada kamu, suatu saat kamu harus menjalankan sebuah perusahaan besar ini."


"Terima kasih Pak Tris, saya akan berusaha," balas Caca.


"Tapi sebelum itu kamu harus banyak belajar, kamu harus kuliah demi bisa menambah ilmu, nanti sisa nya bapak yang akan bantu kamu menjalani perusahaan ini."


"Baik Pak Tris." Caca mengangguk setuju.


Mereka kemudian pergi dari tempat tersebut dan kembali ke rumah.


*

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2