Dandelion Kecil

Dandelion Kecil
Bab 56. Menyesal


__ADS_3

Tak lama kemudian Ahmad dan Sonia datang ke kantor dan masuk ke ruang kerja nya. Mereka melihat seorang wanita dengan seragam packing berlari keluar dari ruangan kerja Nael sambil menangis dan tidak sengaja menabrak Sonia.


"Bruk!"


"Aw!" teriak Sonia.


"Maaf," ucap Caca membungkukan badan sambil terus berlari dan hilang dari pandangan nya.


Sonia menatap Ahmad.


"Siapa dia Mad? kamu kenal?" tanya Sonia sambil mengusap bahu nya.


"Tidak yakin. Tapi dari suaranya seperti suara Caca," jawab Ahmad menerka-nerka.


"Caca? ada apa dengan nya? kenapa dia menangis" tanya Sonia.


"Nael!" jawab Sonia dan Ahmad bersamaan.


Mereka berdua lalu masuk untuk menemui Nael dan menanyakan tentang apa yang telah terjadi.


"Nael. Apa benar yang berlari tadi itu adalah Caca?" tanya Sonia.


Nael hanya mengangguk dengan raut wajah sedih.


"Terus apa yang terjadi? kenapa dia menangis seperti itu? dan kenapa kamu sedih Nael?" tanya Sonia cemas.


Nael tetap terdiam, dia hanya memegang selembar foto yang tadi dia ambil saat terjatuh dari pegangan Caca tadi. Lalu berjalan masuk ke dalam ruangan nya dan mengunci pintu nya.


Ahmad dan Sonia saling memandang, mereka tak mengerti dengan apa yang terjadi. Ahmad kemudian ingin masuk dan menemui Nael tetapi dengan cepat Sonia menghentikan Ahmad.


"Biarkan Mad. Biarkan Nael sendiri," ucap Sonia.


"Baiklah Sonia."


Ahmad kemudian berjalan keluar dan Sonia duduk sambil menatap pintu Nael yang terkunci dengan rasa penasaran.


***


Caca tidak jadi ke kantin dan memilih kembali ke mess untuk menghabiskan masa istirahatnya. Caca kemudian mengingat kembali saat dia bersama Nael lalu Caca menyentuh lehernya.


"Kenapa? kenapa dia begitu berani?" ucap Caca pelan.


Caca lalu mengusap lehernya itu berkali-kali, dia tidak ingin merusak hubungan Nael dengan Sonia. Caca kembali menangis.


"Kalau tahu begini, lebih baik tidak usah kesana," ucap Caca lirih.


Caca memegang sebuah foto yang tadi dia ambil, lalau mencari-cari sesuatu.


"Kemana foto yang satu nya lagi?" kata Caca sambil mencari nya.


"Ah! apa jangan-jangan terjatuh di jalan atau tertinggal di dalam sana?" tanya Caca dalam hati.


Caca menghela nafas panjang, kenapa dia begitu ceroboh. Caca kemudian keluar dari mess nya dan mencari-cari foto tersebut di sepanjang jalan.


"Kemana ya? semoga tidak ada yang menemukannya, bisa gawat nanti."


Caca tak memperhatikan sekelilingnya, wajahnya selalu menunduk kebawah berharap menemukan sesuatu yang dia cari. Sampai tak sadar pencariannya tersebut membuat dirinya telah berada di depan pintu kantor.


Langkah nya kemudian terhenti melihat sepasang sepatu yang dia kenal.


"Gleg!"


Lalu wajah nya perlahan menengadah ke atas. Terdapat seorang pria paruh baya yang menatap wajah nya dengan marah sambil bertolak pinggang.


"Ah, Pak Tris!" ucap Caca terkejut.


"Cepat Masuk! ada yang mau saya bicarakan" perintah Pak Tris.


Caca hanya mengangguk dan mengikuti langkah Pak Tris hingga sampai ke tenpat tujuan.


"Duduk!" kata Pak Tris tegas.


Caca kemudian duduk begitu juga dengan Pak Tris. Caca sedikit takut dan tegang, apa kedatangannya tadi telah diketahui oleh Pak Tris? atau Pak Tris melihat kejadian tadi? Caca hanya berharap bukan itu yang akan di bicarakan oleh Pak Tris.


"Ca! kamu tahu kan tujuan kamu bersembunyi dan melakukan penyamaran ini?" tanya Pak Tris.


"Tahu Pak." Caca menunduk.


"Lalu kenapa kamu datang menemui Nael?" tanya Pak Tris.


"Kamu tahu kan, kondisi kamu masih dalam bahaya. Untung lah mata-mata dari pihak kita yang melihat kamu. Tapi bagaimana jika itu dari penyusup nya Satya? dan dia bisa mengenali mu, lalu memberitahukan kepada mereka jika kamu masih berada di perusahaan ini? " kata Pak Tris cemas.


Caca sontak menatap Pak Tris, dia pun gemetaran. Caca memejamkan mata nya sebentar lalu menarik nafasnya dalam-dalam kemudian dia mulai menceritakan yang terjadi.


"Maaf, Pak Tris. Saya hanya ingin mengambil sesuatu yang tertinggal di laci meja kerja saya. Saya melihat mobil Pak Nael keluar dari perusahaan. Saya pikir itu adalah Pak Nael dan Sonia yang sedang pergi untuk suatu urusan."

__ADS_1


"Saat saya masuk juga kondisi kantor sedang sepi, tapi saya tidak mengetahui kalau Pak Nael ternyata berada di kantor dan tiba-tiba muncul begitu saja."


"Maaf, Pak Tris. Saya sudah salah, saya menyesal. Saya berjanji tidak akan melakukannya lagi." Caca menundukan kepala nya.


Pak Tris lalu menegadahkan kepala nya ke atas dan memejamkan matanya. Lalu kembali menatap Caca dan memegang kedua pundaknya.


"Baik lah. Lain kali kalau butuh sesuatu tinggal telepon Bapak ya, kita semua di sini mencemaskan kamu."


"Lalu tadi kamu mencari apa?" tanya Pak Tris.


"Cari selembar foto Pak. Tapi saya tidak tahu foto itu terjatuh di mana."


"Ya sudah. Nanti Bapak bantu carikan dikantor, sekarang kamu kembali bekerja."


"Baik Pak Tris. Terima kasih."


Caca kemudian memakai kembali masker dan penutup kepala nya lalu melangkah keluar dari ruangan tersebut.


………………………………………………………………………………


Di Kediaman Satya.


"Lapor Bos!" kata anak buah Satya.


"Bagaimana? apa sudah menemukan orang misterius tersebut?" tanya Satya.


"Maaf Bos! kita kehilangan jejak orang tersebut. Dia--"


"PLAK!!"


Tangan Satya mendarat kencang di wajah anak buah nya tersebut, hingga suaranya terdengar di seluruh ruangan dan membuat yang lain tertunduk takut.


"Dasar kalian semua tidak becus! untuk mengganti uang yang dicuri tersebut maka kalian semua tidak akan menerima gaji sepeserpun selama 1 tahun! mengerti!!"


"T..tapi Bos!"


"PLAK!!" suara tamparan keras terdengar kembali mengisi ruangan.


Membuat bulu kuduk semua orang yang berada di dalam seketika merinding dan bergemetar.


"Berani nya kau! sudah tidak sayang lagi dengan nyawamu itu hah!" bentak Satya sambil mencengkeram kerah baju salah satu anak buahnya.


"Maaf Bos, saya tidak berani."


"Bagus! sekarang pergi kalian semua dari sini!" bentak Satya kembali.


Satya kemudian duduk di bangku kebesarannya sambil menyalakan sebatang rokok lalu menghisapnya.


Karena kejadian tersebut dia menunda rencana besarnya untuk menculik Caca karena kekurangan dana untuk membayar beberapa kelompok penjahat dan membeli persenjataan lengkap.


Dia lalu memutar otaknya memikirkan sesuatu. Rencana nya berubah, Dia akan mencari orang berjubah hitam misterius tersebut terlebih dahulu untuk dihabisi.


***


Sementara itu di sisi kamar yang berbeda Sony tengah menatap brankas miliknya yang sudah terkuras habis oleh Satya Ayah nya.


"Sial! gara-gara orang tersebut tabungan ku selama ini habis terkuras begitu saja. Bagaimana aku bisa menikahi Caca nanti! sial! sial sekali!" Sony berdengus kasar sambil meninju barang di sekitarnya.


Angan-angan memiliki Caca akan tertunda, pernikahan, bulan madu dan lain-lainnya seperti nya dia harus menunggu waktu yang lama untuk itu. Sony kembali frustasi, dia menjambak rambutnya lalu pergi keluar dan menutup pintu dengan keras.


"BRAK!!"


Mendengar suara keras tersebut Cindy keluar dari kamarnya dan bertanya kepada Sony tentang ada masalah apa yang terjadi kepada dirinya.


Sony kemudian menceritakan semua itu kepada Cindy.


"Siapa orang tersebut? dan apa tujuan dia melakukan itu semua?" tanya Cindy.


"Entah lah. Tapi yang pasti jika orang itu berhasil tertangkap akan ku buat pelajaran kepadanya."


Sony kemudian berjalan dengan wajah kesal meninggalkan Cindy dan ketika Sony sudah hilang dari pandangannya, Cindy kemudian tersenyum kecil.


…………………………………………………………………………


Di Kantor.


"Cekrek!" suara pintu Nael terbuka.


Nael membuka pintunya yang terkunci, Sonia yang melihat Nael sudah keluar diapun senang dan menghampiri Nael.


"Syukurlah hati mu sudah mulai baikan," ucap Sonia.


Nael hanya mengangguk dan tersenyum tipis, lalu mereka melanjutkan kembali pekerjaan nya.


***

__ADS_1


"Tok tok tok!"


"Iya masuk!" kata Nael dengan wajah serius nya.


"Ini Nael laporan nya sudah selesai. Fiuhh! cukup sulit juga laporannya dan banyak sekali, entah bagaimana Caca bisa melakukan itu semua sendiri?" ucap Sonia keheranan.


Nael tersenyum lembut dan mengingat Caca yang masih bekerja dulu.


"Betul, saya juga sempat kebingungan dengan semua itu."


"Kau tahu, pekerjaan itu semua membuat kepala ku terasa pusing, ditambah banyak nya tugas tersebut, seperti nya aku akan pingsan," kata Sonia tertawa.


Nael kembali mengingat Caca yang pingsan dan tertidur di atas sofanya kemudian melamun.


"Tok tok tok!"


Lamunan Nael seketika buyar. Nael dan Sonia serempak melihat seseorang yang datang dan telah berdiri di depan pintu masuk ruangannya.


Nael sumringah dia mengenal orang tersebut lalu mendekat dan langsung bertanya tanpa menyuruhnya masuk atau duduk terlebih dahulu.


"Sandy!" teriak Nael dan menjabat tangan Sandy.


"Ada perlu apa datang kesini? oiya saya lupa, mari duduk dulu di dalam," kata Nael menarik tangan Sandy.


Sandy mencari-cari seseorang tapi tidak menemukannya.


"Maaf, tapi dimana ya Nona Caca? saya ada bawa kabar baik untuk nya," tanya Sandy.


"Caca bekerja beda divisi sekarang, dia di tempatkan dibagian packing untuk bersembunyi dan melakukan penyamaran," jawab Nael menjelaskan.


"Ah benar saya lupa tentang itu. Maaf! sepertinya saya telah salah tempat," balas Sandy.


"Tidak apa. Oiya ada kabar apa?" tanya Nael penasaran.


"Bibi sudah sampai di desa dengan selamat," kata Sandy.


"Oh syukurlah," balas Nael.


"Iya."


Sonia menatap Sandy dengan tatapan tak biasa pada umumnya, dia terkagum-kagum melihat pria itu dengan pakaian casual nya. Sandy terlihat tampan sekali, tapi Sonia mengingat-ingat kembali seperti pernah ketemu dan mendengar nama nya, tapi entah dimana dia lupa.


Nael melihat Sonia yang daritadi diam saja tak bersuara.


"Sandy, kenalkan dia adalah So---"


"Sonia," jawab Sandy cepat.


"Deg!"


Sonia tersentak kaget ketika Sandy menyebut namanya. Ternyata dia tahu nama Sonia, seketika jantung Sonia berdegub dengan cepat dan tak kalah cepat juga dia membalas perkataan Sandy.


"I..iya saya Sonia," jawab Sonia gugup.


"Oh kamu sudah tahu?" tanya Nael.


"Iya, kita pernah bertemu di acara pertunangan kalian," jawab Sandy.


Benar! Sonia kembali mengingatnya, sewaktu Sandy datang tepat waktu menggagalkan pertunangan Sony dan Caca. Karena jarak dan juga kerumunan orang, Sonia tak melihat jelas wajah Sandy.


"Aishh! ternyata rupa nya Sandy seperti ini," gumam Sonia dalam hati.


Nael tertunduk sedih mendengar hal tersebut, dia mengingat hati Caca yang terluka karena peristiwa saat itu.


***


Tak lama kemudian terdengar langkah kaki yang datang menghampiri mereka.


"Pak Tris! silahkan masuk," ucap Nael.


Tetapi Pak Tris tidak bergeming, dia kemudian menoleh kebelakang dan berkata sesuatu.


"Mari masuk! tidak apa-apa," kata Pak Tris.


Mereka yang di dalam penasaran dengan Pak Tris kenapa dia menoleh kebelakang dan siapa yang dia ajak untuk masuk.


Nael dan Sandy langsung berdiri dan tersenyum ketika melihat seseorang yang muncul perlahan dari belakang Pak Tris.


Siapa itu?


*


*


*

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2