Dandelion Kecil

Dandelion Kecil
Bab 47. Rencana Satya


__ADS_3

Ke esokan harinya.


Seperti biasa Nael masuk ke dalam ruangan nya, menaruh tasnya perlahan lalu Nael terdiam sejenak dan berpikir. Dia merasakan ada yang aneh, seperti ada yang kurang di dalam hidup nya.


Nael kemudian mencari-cari seseorang dan bertanya-tanya sendiri, "Kemana Carisa? kenapa jam segini dia belum datang? kopi juga belum ada di meja. Pergi kemana dia?"


Nael kemudian pergi keluar ruangannya dan mulai mencari-cari wanita pujaannya itu setelah mencari cukup lama, Nael akhirnya menemukan Caca yang sedang menangis di depan Pak Tris dan Pak Heru.


Nael melihat Caca yang sedang menangis tersedu-sedu sambil berlutut kepada Pak Tris dan Pak Heru. Karena menangis seperti itu Caca akhirnya menjadi tontonan bagi teman-teman dan karyawan yang lainnya.


Tetapi Nael merasa aneh, mengapa mereka menertawakan Caca yang sedang menangis. Nael akhirnya menjadi cemas sekaligus penasaran, dia tidak tahu kenapa Caca menangis. Nael akhirnya mendekat dan menghampiri mereka untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.


"Tolong lah Pak Tris ... Pak Heru. Caca tidak mau Pak, huaaa!" Caca merengek.


Lista dan Dewi hanya tertawa melihat Caca yang sedang merengek seperti bayi.


"Caca nggak bisa tidur nyenyak Pak, mereka semua datang ke rumah Caca kemarin. Mereka pada mau ngajak jalan semua Pak. Caca bingung Pak, Huaa!" Caca merengek lagi.


Caca yang masih merengek melanjutkan kembali tangisannya, "Mereka semua bawa bunga sama makanan Pak, sampe kamar Caca penuh bunga semua Pak."


"Mereka datang silih berganti Pak. Hiks! ... sampai larut malam pun masih ada yang datang. Kalau tidak percaya tanya Sandy sama Bibi deh!"


"Coba kalo Ayah Burhan masih ada hiks! pasti mereka tidak berani datang ke rumah Pak, huaaa!" Caca malah menangis lebih kencang.


Pak Tris dan Pak Heru hanya tersenyum geli melihat Caca yang merengek seperti anak kecil. Mereka lalu teringat ketika Caca masih kecil, Caca menangis seperti ini ketika Caca meminta Coklat Ayam jago yang pernah dibelikan oleh Pak Burhan kepada Djuanda Papa nya.


Pak Tris yang tidak tega lalu menenangkan Caca dan berkata, "Sudah lah Ca, jangan menangis lagi. Malu dilihatin sama orang-orang."


"Nggak mau! Pokoknya Caca nggak berenti nangis dan nggak mau pulang juga. Huaa! mereka katanya mau balik lagi tiap hari Pak Tris ... Pak Heru tolonglah Caca." Caca mengambek dan merengek kembali.


Lista dan Dewi tertawa geli dan menggelengkan kepala melihat Caca yang bertingkah seperti anak kecil.


"Ah dasar si Caca! kadang dewasa kadang tegar kadang galak, eh sekarang dia bisa merengek kaya bayi. Hihihi."


"Iya Mba, lucu ya liat dia begitu. Hihihi." Lista menyeka air matanya karena tertawa.


Nael yang baru datang dan tidak tahu menahu menjadi penasaran dengan apa yang terjadi, dia kemudian bertanya kepada Pak Tris dan Pak Heru Papa nya, "Kenapa Pak Tris? ada apa ramai-ramai begini Pah, dan ini kenapa si Carisa nangis kaya gini?"


Pak Heru melihat Nael dan dia menjawab pertanyaannya, "Ini Nael. Semenjak rapat kemarin, banyak dari mereka yang datang menemui Caca ke rumah. Mereka mengajak Caca jalan, ngajak Pacaran dan ya begitu lah."


Nael mangut-mangut akhirnya dia mengerti setelah dijelaskan oleh Papa nya dan Pak Tris dan melihat Caca lalu tersenyum.


"Sudahlah Ca, sudah! nanti bapak yang urus biar mereka nggak datang ke rumah lagi ya," kata Pak Tris.


"Iya, biar saya yang bilangin ke mereka semua ya, biar jangan ganggu kamu dulu ya," kata Pak Heru membantu menenangkan Caca.


Mendengar hal tersebut Caca kemudian bangkit dan menghapus air matanya lalu berkata, "Janji ya Pak!"


"Iya ... Iya!" seru Pak Heru dan Pak Tris bersamaan.


Caca kemudian kembali ke ruang kerja nya dengan wajah gembira. Semua orang pun geleng-geleng kepala melihat kelakuan Caca yang manja. Nael tersenyum, dia pun mengikuti Caca kembali ke ruang kerja nya.


***


Caca tiba di ruang kerja nya, dia pun kembali bekerja dengan hati yang gembira. Nael yang melihat Caca sengar sengir lalu meminta sesuatu yang dilupakan oleh Caca.


"Carisa, bikin kopi!"


"Oiya lupa!" Caca yang lupa menepuk jidatnya itu dan bergegas pergi ke dapur untuk membuatkan kopi racikannya untuk Nael dan setelah selesai Caca langsung menuju ke ruangan Nael.


"Tok tok tok!"

__ADS_1


"Masuk!"


Caca kemudian berjalan masuk kedalam lalu meletakkan kopi di atas meja kerja Nael dan segera berbalik untuk bekerja.


"Cih dasar anak manja banyak drama!" ucap Nael menyindir Caca.


Caca yang mendengar ucapan Nael seketika membalikkan badannya dan menatap wajah bos nya dengan tatapan mautnya itu lalu berkata, "Apa maksudnya itu?" tanya Caca.


Nael menghela nafas lalu menatap Caca kemudian membalas perkataan Caca, "Tidak apa, cuma heran saja. Banyak yang suka dan penggemar kok malah tidak mau, sampai nangis-nangis di depan Pak Tris dan Pak Heru, dasar tidak tahu malu!"


Caca tersinggung dengan ucapan Nael dan mendengus kesal lalu membalas perkataan Nael, "Terus, apa hubungannya sama Bapak? suka-suka saya lah mau suka atau tidak."


"Oh saya tahu, itu alasan kamu aja ya kan, mungkin semua penggemar kamu itu pria tua atau yang berwajah jelek, makanya kamu nggak suka, iya kan?" Nael mulai mengejek Caca.


"Huh! ingat ya, mau jelek atau tampan dan ganteng kayak kamu juga saya nggak bakal mau!" Caca berbalik badan sambil berjalan keluar.


Nael tersenyum lalu dengan secepat kilat dia menarik tangan Caca yang ingin pergi dari hadapannya. Caca yang melihat tangan Nael mencekal pergelangannya lalu berkata kepada Nael, "Kenapa? lepas!"


"Tadi kamu bilang saya apa? Tampan dan ganteng?" tanya Nael sambil tersenyum.


Caca bingung harus menjawab apa, dia pun berubah menjadi panik dan berusaha melepaskan genggaman Nael.


"Sudah lepas, saya masih banyak pekerjaan!"


Caca lalu menuju meja kerjanya dengan mulut yang terus mengerutu sedangkan Nael, dia senang dengan Caca yang berkata bahwa dirinya itu tampan dan ganteng.


……………………………………………………………………


Di Lokasi berbeda.


Satya dan para penjahat telah berkumpul, mereka adalah Para Mafia, penjahat kelas teri sampai kelas kakap.


"Kita semua ini berteman lama, santai sedikit lah. Apa kalian tidak rindu dengan aku yang baru keluar dari penjara ini," jawab Satya sambil menyeringai.


"Hahahahaha!" Mereka semua tertawa.


"Lihat bos besar kita telah kembali, dia sama sekali tidak berubah," seru mereka sambil memeluk bos besar mereka tersebut.


"Oke kita ke inti, kalian ingat dengan keluarga Djuanda?" tanya Satya menatap semua orang tersebut.


"Tentu saja kita ingat, siapa yang tidak mengingat hal tersebut, iya kan. Haha..." jawab Para penjahat tersebut sambil tertawa.


"Kenapa? ada apa dengan keluarga Djuanda, bukan kah mereka telah tiada?"


Satya menarik nafas lalu perlahan membuangnya dan berkata, "Putri nya Djuanda ternyata masih hidup sampai sekarang."


Mereka yang mendengar berita tersebut sontak heboh dan tidak menyangka. "Apa Satya! apa benar begitu?"


"Benar, dia sudah tumbuh cantik seperti Felicia, ah Felicia yang cantik," jawab Satya lalu memejamkan kedua mata nya.


Cindy yang mengikut pertemuan tersebut heran dengan tingkah laku ayahnya jika mengingat Felicia Ibu kandung Caca.


"Haha, Benar. Felicia begitu cantik, tak heran banyak sekali yang tergila-gila kepada nya."


"Benar! Aku ingin kalian menculik Putri mereka bagaimana pun cara nya dan beri dia kepadaku, maka kalian akan mendapatkan kekayaan," kata Satya sambil mengepalkan kedua tangannya dan tertawa.


"Kalian boleh ambil semua kekayaan tersebut, tapi dengan satu syarat, Caca harus menjadi milik ku, jangan ada yang berani menyentuh atau menodai nya!" kata Sony yang tiba-tiba muncul dari balik kerumunan.


Mereka yang belum tahu Sony dan belum pernah melihatnya langsung bertanya dengan senyum menyeringai, "Siapa dia?"


"Dia adalah Sony Satya, putra ku," jawab Satya sambil memperkenalkan Sony kepada semua penjahat yang berada disana.

__ADS_1


"Dia seperti mu, sangat berambisi terhadap Felicia. Haha." Para panjahat semua tertawa.


"Andai saja malam itu kau berhasil, pasti Felicia yang cantik itu sudah pasti menjadi milik mu. Hahaha," ucap salah satu penjahat.


"Benar, Akh! Andai saja," ucap Satya seperti kesal lalu meninju udara disekitarnya.


Mereka meledek Satya lalu tertawa bersama, sambil meminum minuman keras dan merokok sepuasnya sementara itu Cindy penasaran dengan apa yang terjadi dan apa hubungannya dengan Ibu kandung Caca. Dia pun akan mencari tahu tentang sesuatu yang terjadi di masa lalu ayahnya.


……………………………………………………………………


Dikantor.


Suasana di kantor sangat lah ramai, mereka adalah orang-orang yang diundang oleh Pak Heru secara rahasia untuk membahas mengenai Satya. Para pemimpin juga banyak yang diundang untuk datang dan memberikan pendapat dan kekuatan.


Tak lupa mereka mengajak putra mereka untuk bertemu seseorang. Yap siapa lagi kalau bukan Caca. Mereka penasaran bagaimana dengan rupa dan wajah dari putri Djuanda, mereka mendengar dari orang orang yang sudah bertemu dengan Caca, kalau putri Djuanda sangat lah cantik.


Tak heran mereka sampai rela datang jauh-jauh hanya untuk melihat Caca, bahkan ada yang membatalkan pertemuan bisnis hanya untuk melihat putri Djuanda tersebut.


Caca sangat gelisah sekali melihat para Pria dari anak pengusaha yang datang ke kantor dan mencari dirinya. Caca kemudian mencari tempat untuk bersembunyi.


Dengan wajah panik Caca lalu mencari tempat untuk sembunyi. "Ampun deh, mulai lagi. Sembunyi dimana ya?"


Caca mencoba bersembunyi di kolong meja kerja nya tetapi dia keluar lagi karena kolong mejanya itu terlalu sempit. Caca pun berkeliling kembali mencari tempat untuk persembunyiannya.


Tak berselang lama Caca kemudian tersenyum lebar dia mendapatkan tempat yang cocok untuk dia bersembunyi dan itu adalah meja kerja Nael. Meja kerja Nael cukup besar dan tidak akan ada yang bisa melihat jika dia bersembunyi disana.


Nael melihat Caca yang datang ke ruangan nya dan bersembunyi di bawah meja kerja dengan cepat dia menghampiri Caca lalu berkata, "Hei Carisa! mau apa kamu disana? cepat keluar!" Nael lalu berusaha menarik Caca.


"Ssttt.. Pak tolong sebentar saja pinjam kolong mejanya. Tolong sembunyikan saya di sini ya Pak dan jangan beritahu orang-orang itu kalau saya ada di sini ya Pak. Please!" kata Caca sambil merangkapkan kedua tangannya dan memohon kepada Nael.


Nael kemudian jongkok dan menatap Caca. Nael tertawa geli melihat ekspresi wajah Caca yang panik dan bersembunyi di bawah kolong meja nya.


Nael memikirkan sesuatu kemudian sambil berlagak cuek dia mulai menggoda Caca, "Tidak mau, saya tetap akan kasih tahu mereka, kalau kamu bersembunyi di sini."


Caca mengerucutkan bibirnya dia kesal sekali dengan Nael yang tidak ingin membantunya lalu dengan wajah memelas Caca berusaha memohon kembali. "Tolong lah Pak sekali saja bantu saya."


Nael memalingkan wajahnya sambil menggelengkan kepala tertanda tak setuju. Nael lalu mulai menakuti Caca dan berkata sesuatu yang membuat Caca semakin panik.


"Tidak! Tidak mau. Biarkan saja mereka melihat kamu dan jika mereka melihat kamu, terus mereka terpana dan itu akan membuat mereka menggoda kamu sepanjang hari selamanya."


Caca lalu membayangkan semua ucapan Nael tersebut didalam pikirannya lalu dengan cepat Caca menggelengkan kepalanya untuk mengusir itu semua dan berkata, "Jangan! Hm begini saja, Bapak boleh minta apa saja dari saya, nanti saya kabulkan. Tapi tolong ya, jangan kasih tau mereka saya ada disini."


Nael tersenyum dan menatap wajah Caca yang sudah pasrah dengan keadaan. Nael lalu menjulurkan tangannya kepada Caca dan berkata, "Oke Deal ya, jangan ingkar janji."


"Glek!" Caca menelan ludahnya susah payah.


Caca lalu menyambut tangan Nael dengan ragu-ragu lalu Nael dengan cepat menangkap tangan Caca dan berjabat tangan tertanda setuju. "Ya Deal aja deh."


Nael lalu tersenyum dan menyengir sambil mengeluarkan tawa jahatnya.


"Hehe." Begitulah tawa jahatnya Nael.


"Ya sudah geseran kesana sedikit, kaki saya tidak muat!" kata Nael sambil duduk dan mengeser Caca dengan Kaki nya.


"Oh! baiklah."


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2