Dandelion Kecil

Dandelion Kecil
Bab 89. Kisah sedih Pak Tris.


__ADS_3

Di Kediaman Satya.


Sementara itu di kediaman Satya, transaksi jual beli sedang berlangsung. Dua pria tidak ber akhlak ini menginginkan sesuatu yang sama-sama menguntungkan bagi diri mereka masing-masing.


Satya menginginkan uang sedangkan pria dihadapannya menginginkan Cindy sebagai kupu-kupu malam penghias klub haramnya.


"Berikan Cindy sekarang!"


"Berikan dulu uangnya!" balas Satya dengan cepat.


"Ck! Kau tidak pernah berubah!" Pria itu menjentikkan jarinya memberi tanda kepada anak buahnya untuk mengambil sekoper uang.


"Lihat lah ini. Semua uang itu ada disini, tidak kurang dan tidak lebih!" ucap pria tersebut sambil membuka koper yang berisi sejumlah uang berwarna merah cap dua Bapak-bapak.


"Berikan kepadaku!" perintah Satya.


Pria itu menutup kopernya dan dengan tegas membalas perkataan Satya. "Perlihatkan dulu wanita itu!"


"Cih! baiklah," balas Satya.


"Hem."


"Rusli bawa Cindy kemari dan suruh dia untuk berdandan yang cantik!" ucap Satya memberi perintah.


"Baik Bos!" patuh orang tersebut lalu berjalan menuju kamar Cindy.


***


"Tok tok tok!"


"Nona Cindy, Bos besar meminta Nona segera menemuinya."


"Baik!" sahut Cindy dari dalam kamarnya.


"Jangan lupa untuk mempercantik diri!" balas Rusli.


"Cih tidak usah memerintahku!" teriak Cindy


"Maaf Nona."


Tak lama kemudian Cindy keluar dari kamarnya dan menemui ayahnya yang jahat tersebut.


***


"Papa aku sudah siap!" ucap Cindy.


"Bagus! mari sini biar Papa kenalkan kamu dengan tamu Papa kali ini," ucap Satya.


Cindy berjalan mendekati Ayahnya dan Pria itu memandang Cindy tiada henti. Satya yang melihat Pria itu memandangi putrinya dengan tatapan tidak biasa segera menghalangi pandangannya.


"Brengs*k! berani curi pandang seperti itu. Kau harus lebihkan uang transaksinya sebagai tambahan!" bentak Satya dan Pria itu pun segera memalingkan wajah.


"Pelit sekali, anggap saja bonus!" balas Pria tersebut tak mau rugi.

__ADS_1


"Sudah cepat serahkan uangnya!" bentak Satya.


"Baik, kemari Cindy sayang!" ucap Pria itu memanggil Cindy.


Cindy pun patuh tanpa berkata apa-apa dia segera mendekati Pria hidung belang dihadapannya.


"Rusli, hitung uangnya dengan benar. Jangan sampai ada yang kurang dan kalau ada lebih jangan dikembalikan!" perintah Satya.


"Baik Bos!" ucap Rusli kemudian mengeluarkan mesin penghitung uang dan disaksikan bersama-sama.


Beberapa saat kemudian mereka telah selesai menghitung uang. Rusli kemudian merapihkan uang tersebut dan memberikannya kepada Satya.


"Si*al dia benar-benar tidak melebihkan uangnya!" ucap Satya tersenyum menyeringai.


Pria pembeli Cindy berdiri kemudian mengatakan sesuatu, "Urusan kita sudah selesai dan sekarang kami pamit pergi. Sekarang aku ada urusan dengan Cindy."


Satya tertawa. "Sungguh tidak sabaran! ya sudah pergi lah bersenang-senang!"


"Ck! ayo Cindy kita pergi, malam ini layani aku lebih dulu sebelum kamu melayani para tamuku besok malam."


Mereka kemudian pergi meninggalkan kediaman Satya dan Cindy berusaha bersabar menunggu waktu yang tepat untuk menjalankan rencananya.


………………………………………………………………………………


Di Kediaman Heru.


"Lepas Nael, tanganku sakit!" teriak Caca berusaha melepaskan tangannya.


Nael tidak memperdulikan Caca yang berusaha melawannya, pria itu terus menarik Caca hingga masuk ke dalam kamar.


"Apa-apaan ini? kenapa kamu kasar sekali. Lepas Nael!" teriak Caca menyentak tangannya dengan sangat kuat.


Nael melepas tangan Caca kemudian berbalik memegang kedua pundak Caca dan menatap Caca dengan penuh amarah. "Mana mungkin aku bisa melepaskanmu begitu saja kepada orang jahat itu!"


Caca bergidik ketakutan dia belum pernah melihat Nael semarah ini.


"Kau kenapa? melepaskan apa, kepada siapa?" tanya Caca dengan nada bergetar.


Nael mengernyitkan dahi dan mengertakan giginya. "Kau masih tidak mau jujur juga kepadaku? apa kau memang ingin diambil oleh Satya si jahat itu!" Nael mencengkram bahu Caca.


Caca terdiam, dia terkejut mendengar ucapan Nael yang seperti mengetahui sesuatu.


"Kenapa diam, apa ucapan aku itu benar? apa orang jahat itu ingin memilikimu sepenuhnya. Jawablah aku Carisa." Nael tak melepaskan dan menatap Caca.


"Kau tahu dari mana?" tanya Caca tak menyangka.


Nael menghela nafas, dia melonggarkan sedikit cengkramannya. "Aku mencari tahu sendiri. Kenapa kau tidak memberitahuku tentang masalah besar ini. Apa kamu tidak percaya kepadaku Carisa bahwa aku juga bisa melindungimu."


Caca menunduk, dia tidak menyangka jika Nael bisa mengetahui masalah ini dengan begitu cepat.


"Maaf aku merahasiakannya darimu, aku hanya takut jika kamu sampai mengetahui masalah ini maka kamu akan lepas kendali dan membahayakan diri kamu sendiri menghadapi Satya sendirian. Aku tidak ingin itu sampai terjadi, aku tidak ingin mereka mencelakai kamu Nael."


Caca lalu meraih tangan Nael dan berkata, "Berjanjilah Nael jangan melakukan hal yang dapat mengancam keselamatanmu, kita harus mempercayakan masalah ini kepada Pak Tris."

__ADS_1


Nael menatap Caca lalu meraih wajah Caca dengan kedua tangannya. "Kenapa kamu begitu percaya kepada Pak Tris, dia bahkan tidak ada hubungan darah dengan mu. Harusnya kau percaya kepadaku bahwa aku juga bisa menyelamatkan mu dari orang jahat itu Carisa!"


Caca menatap wajah Nael yang penuh keraguan. "Jangan berkata seperti itu, Pak Tris begitu penting bagiku," balas Caca dan menahan tubuh Nael yang mendekat kepadanya.


Nael menaikan satu alisnya dan membalas perkataan Caca. "Kenapa begitu sangat penting? yang aku lihat dia hanya mengekangmu agar mengikuti kemauannya. Apa dia punya maksud tertentu kepadamu? atau menginginkan kekayaanmu juga!"


Caca menatap Nael dengan gusar lalu menepis tangan Nael dengan begitu kuat dengan menahan amarah dia berkata kepada Nael, "Jangan bicara seperti itu mengenai Pak Tris, kau tidak tahu apa-apa mengenai dia!"


Suasana mereka yang sedikit damai akhirnya kembali memanas.


"Aku memang tidak tahu apa-apa tentang dia, kenapa kamu marah seperti itu? apa keyakinan mu kepada Pria itu ada alasannya? sampai kau tidak mempercayaiku kalau aku juga bisa menjagamu." tanya Nael begitu heran.


Caca memarahi Nael yang telah menghina dan tidak mempercayai Pak Tris. "Apa yang kamu pikirkan itu salah Nael, Pak Tris tidak menginginkan harta keluarga ku sepeserpun, dia juga tulus menjagaku! dia---"


Nael dengan cepat menyela pembicaraan Caca. "Omong kosong! di dunia ini mana ada orang yang berbuat baik tanpa alasan!" bentak Nael dan seketika itu juga air mata Caca berguguran.


Caca meremas baju Nael dengan menangis Caca kembali memarahi Nael.


"Apa kau tahu kenapa Pak Tris sendirian sekarang ini dan bagaimana dia bisa kehilangan keluarganya? apa kau tahu bagaimana keluarga ku yang telah dihabisi oleh Satya dan betapa bersalahnya Pak Tris ketika saat itu terjadi, dia merasa gagal menjaga keluarga ku dan hampir putus asa saat melihat keluarga ku yang telah tiada!"


"Kenapa kau tidak berpikir sedikit saja kenapa semua itu bisa terjadi, kenapa dia begitu menjagaku? itu karena dia tidak ingin sampai kejadian lalu terulang kembali!"


Caca terdiam berusaha mengatur nafasnya yang sesak karena marah sedangkan Nael tertegun dia belum pernah melihat Caca se emosi ini.


Caca menangis tersedu-sedu kemudian berkata, "Saat itu Pak Tris dibuat tidak berdaya oleh Satya. Orang-orang jahat itu telah menculik putri dan juga istrinya dan saat itu terjadi, Pak Tris tidak ada bersama dengan mereka. Dia sibuk mengatur penjagaan pesta ulang tahun pernikahan kedua orang tua ku agar aman"


"Tetapi Papa ku mengetahui jika keluarga Pak Tris dalam bahaya dan juga melihat kecemasan Pak Tris. Papa meminta Pak Tris untuk membawa sebagian penjaga keluarga Djuanda untuk menyelamatkan keluarga Pak Tris yang sedang diculik."


"Pak Tris mengetahui rencana Jahat Satya yang ingin menghancurkan keluargaku dengan cara membuat penjagaan di rumah kami menjadi lemah tetapi Papa memaksa Pak Tris untuk menyelamatkan keluarganya."


"Dengan berat hati Pak Tris membawa sebagian penjaga keluarga Djuanda untuk menyelamatkan putri dan juga istrinya padahal dia tahu apa resikonya jika dia pergi membawa para penjaga itu. Dan benar saja kecemasan Pak Tris terbukti, para penjahat itu datang untuk menghabisi seluruh keluargaku."


"Pak Tris berhasil membawa Putri dan istrinya dengan selamat tetapi tidak dengan keluarga ku. Dia sangat syok dan merasa bersalah ketika datang kembali dan melihat kondisi keluarga ku yang sudah tak bernyawa."


Caca terdiam kembali dia menangis terisak dan berusaha menceritakan kembali kejadian pilu yang sudah berlalu itu. "Nael kau tahu kenapa putri dan istrinya meninggal?" tanya Caca menatap sedih wajah kekasihnya itu.


Nael menggeleng pelan. "Tidak."


"Itu karena mereka menyelamatkan ku." Caca lalu menangis histeris di pelukan Nael.


"Mereka ---" Pembicaraan tersebut terhenti ketika seseorang tiba-tiba membuka pintu kamar Nael.


Caca menoleh dan memilih tidak melanjutkan ceritanya itu lalu menatap pria tua yang tengah berdiri tegar di depan kamar tersebut.


"Caca sudah jangan dilanjutkan lagi," ucap Pak Tris sambil menangis haru.


"Pak Tris ..." ucap Caca dengan nada bergetar.


Caca berlari dan memeluk Pak Tris, mereka bersama-sama menangis pilu. Pak Tris dan Caca memiliki kesedihan yang sama, sama-sama kehilangan keluarga yang dicintai oleh penjahat yang sama.


.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2