Dandelion Kecil

Dandelion Kecil
Bab 80. Malam Minggu.


__ADS_3

Pada malam hari.


Setelah keluar dari kamar Pak Heru, Caca lalu masuk ke dalam kamarnya dan mengitari kembali kamar tersebut. Pandangannya tertuju kepada pintu kaca yang tertutup rapi oleh kain gordeng lengkap dengan vitrase nya.


Caca menyibak gordeng tersebut dan menatap balkon kamar yang berada dihadapannya, dia tersenyum dan berniat untuk menghabiskan malamnya disana dengan merenungi semua kejadian yang terjadi selama ini.


"Srek!"


Caca menggeser pintu pembatas itu kemudian berjalan mendekati pagar besi yang berada di depan sana dan berhenti lalu bersandar. Dengan wajah yang menengadah keatas dia menatap bintang yang bercahaya indah dan bertaburan menghiasi langit di atas sana dengan kedua mata indahnya.


Hari ini hatinya penuh haru, rasa bahagia sekaligus merasakan rindu teramat sangat kepada keluarganya terutama kepada orang tua kandungnya.


Dengan memejamkan kedua mata sambil merangkapkan kedua tangannya Caca mulai berdoa kepada Sang Pencipta bagaimana dia sangat bersyukur, meminta perlindungan dan lain sebagainya.


Setelah selesai berdoa kepada Sang Maha Pencipta, Caca juga tak lupa mencurahkan isi hati kepada kedua orang tua kandungnya yang telah lama tiada dan itulah yang sering dia lakukan ketika hatinya dalam keadaan senang maupun sedang sedih.


Dengan mata yang masih terpejam sempurna dan kedua telapak tangan yang masih menyatu Caca menundukkan kepalanya dan mulai berkata, "Papaku tersayang ... Mamaku tercinta ... dan Ayah Burhan ku yang paling berani ... apakah kalian semua mendengarku? apa kalian semua tahu apa yang aku rasakan sekarang? aku sangat merindukan kalian dan hari ini aku juga sangat bahagia."


"Kalian para penjaga ku, penyelamat dan juga cintaku sesungguhnya di dunia nyata dimana aku selalu merasa aman dan nyaman jika sedang bersama dengan kalian dan setelah kalian semua tiada, aku merasa sangat sedih dan aku sempat takut untuk menghadapi semua kehidupan ini. Akan tetapi seiring berjalannya waktu aku telah menemukan seseorang yang bisa membuatku aman dan nyaman."


Caca mencurahkan seluruh isi hatinya dia terus menerus mengucapkan kata-kata indah penuh haru dan menyentuh hati hingga tanpa sadar seseorang telah mendekati dan telah berdiri disampingnya.


Mata pria itu tak berhenti menatap Caca, senyuman indah dan menawan selalu dia lontarkan entah apa yang sedang dipikirkan oleh pria tampan tersebut, yang jelas dia sangat senang dan bahagia.


"Amin!"


Ucap Nael setelah mulut Caca berhenti bersuara dan dengan cepat Caca membuka kedua matanya lalu menengok ke arah suara tersebut.


"Nael!" teriak Caca karena terkejut.


"Hem."


Nael mengangguk dan mengangkat alisnya beberapa kali sambil menatap Caca.


"Sejak kapan kamu berdiri disini?" tanya Caca sambil melihat ke sekitar balkon dan juga kamarnya.


"Baru datang," jawab Nael sambil menahan tawa karena melihat ekspresi Caca yang berubah menjadi panik dan malu.


Caca melihat kesana kemari karena kebingungan dengan kehadiran Nael yang datang tiba-tiba entah darimana dia bisa menemui Caca padahal kamarnya terkunci rapat. "Lewat mana? pintu kamar kan aku kunci."


Nael terkekeh melihat Caca, lalu dia meraih kepala Caca dan mengarahkan kepala nya itu ke suatu tempat.

__ADS_1


"Nah lewat situ!" seru Nael dengan tangan yang masih menahan kepala Caca.


Caca menepuk jidatnya, dia tak melihat jika balkon kamar nya dan balkon kamar Nael ternyata menyatu.


"Jadi kamu lewat situ!" ucap Caca sambil menunjuk-nunjuk pintu kaca pembatas kamar Nael dan Nael hanya mangut-mangut saja menanggapi perkataan Caca.


"Iya, jadi baguslah kalau begitu sekalian saja kita habiskan malam minggu dengan berduaan disini."


Nael lalu menarik tangan Caca dan mengajaknya untuk duduk di kursi yang berada di dekat kamarnya Nael.


"Nah duduk disini saja ya, dari sini kita bisa lihat bintang-bintang diatas sana!" ucap Nael lalu menatap langit di atasnya dan tak lama kemudian Caca pun melihat langit itu.


"Lihat bintang nya begitu banyak dan begitu indah!" seru Caca sambil menujuk-nunjuk bintang di langit dengan wajahnya yang tersenyum senang.


Nael yang melihat langit lalu menurunkan wajah nya untuk melihat wajah Caca dan berkata, "Iya sangat indah, indah sekali!" Nael lalu terdiam dia terus memandangi Caca tanpa henti sedangkan Caca wajahnya masih mengarah keatas dan masih terus menatap langit malam yang dihiasi oleh bintang.


Suasana seketika hening hingga Nael bertanya kepada Caca, "Apa yang kamu pinta dalam doa mu tadi dan siapa pria yang telah kamu temukan yang berhasil membuat kamu aman dan nyaman?"


Pertanyaan Nael kepada Caca tersebut sontak membuat Caca menurunkan wajah nya lalu melihat kearah Nael.


"Hem tidak ada."


Caca tak berani menjawab pertanyaan Nael lalu menunduk karena malu.


"Percaya diri sekali dia, tetapi itu memang benar," ucap Caca dalam hati.


"Carisa."


"Iya."


"Papa mu sangat benar! dia memberikan julukan Dandelion kecil kepada mu. Itu karena dia merasa kamu sangatlah kuat dan ternyata itu terbukti. Kekuatan Dandelion ada pada dirimu, kesedihan dan kesulitan yang telah kamu alami dalam hidupmu dan kau berhasil menghadapinya dengan senyuman. Kau begitu tegar, aku sampai tak menyangka dan bertanya-tanya bagaimana bisa kau bisa menghadapi itu semua sendirian."


Caca tersenyun lalu membalas perkataan Nael, "Aku tidak sekuat itu. Aku kadang menangis dan mereka yang selalu mendukungku lah yang membuatku kuat. Ayah Burhan dan keluarganya, Pak Tris ... Pak Heru serta teman-teman ... para penjagaku dan juga ...."


"Juga siapa?" tanya Nael.


"Juga dirimu."


Caca lalu meraih tangan Nael dan melanjutkan kembali perkataannya. "Terima kasih karena kamu telah menjaga ku dan menyelamatkan ku berkali-kali, kau juga yang membuatku semangat dalam menjalani hari-hari."


Nael terharu kembali dengan perkataan Caca yang ditujukan untuk dirinya. Dia mengenggam tangan Caca dan berkata, "Kau Dandelion Kecil yang hebat, kau kesayangan semua orang dan juga kesayanganku, aku sangat mencintai mu Carisa."

__ADS_1


Nael mengutarakan perasaannya kembali kepada Caca dengan wajah serius dia berkata, "I Love you! kau segalanya bagiku dan takkan ada yang bisa mengantikanmu dihatiku selamanya aku akan menyayangi dan mencintaimu dengan setulus hatiku."


Mata Caca seketika berkaca-kaca, perkataan Nael seketika menggema dihati Caca dengan sambil menatap Nael lalu Caca tak tahan lagi, dia pun menangis dihadapan Nael karena dia sangat bahagia mendengar perkataan Nael yang begitu indah untuk didengar.


Pria ini sekali lagi berhasil membuat hati Caca luluh, sehingga rasa sakit yang pernah pria ini ciptakan kepada nya yang lalu pun sirna begitu saja. Mereka berdua saling memuji dan berbicara satu sama lain hingga tak terasa malam minggu ini telah mereka habiskan berdua sepanjang malam.


……………………………………………………………………………


Di Kediaman Satya.


"Lapor Bos!"


"Iya ada apa?"


"Kita sudah mendapatkan orang yang mau membantu kita Bos."


"Bagus! kasih uang muka kepada orang tersebut dan jika dia berhasil baru sisanya kita kasih penuh!"


"Baik Bos!"


"Rusli!" teriak Satya.


"Iya Bos ada apa?" tanya Rusli.


"Apa sudah ada pria yang mau dengan Cindy?" tanya Satya.


"Sudah ada yang mau Bos, pria tersebut menjanjikan harga yang sangat tinggi untuk Nona Cindy."


"Bagus sekali! beritahu pria itu, dia boleh membawa Cindy pergi jika dia telah membawa uangnya kepadaku!"


"Baik Bos!"


"Hahahaha .... hahahaha!"


"Setelah Cindy ku hancurkan, maka bersiaplah kalian semua yang melindungi Caca akan tiba waktunya untuk kehancuran kalian semua dan juga kehancuranmu Caca!"


Satya memandangi foto Wina dan Felicia, lalu mengusap wajah Felicia dengan wajah sangarnya lalu dia berkata, "Ah Feliciaku yang cantik, Felicia ku tersayang kau telah lama tiada. Bagaimana caranya kamu dan kekasihmu si Djuanda itu bisa melindungi putri mu Caca jika kalian sudah berada diatas sana."


Satya lalu meremas foto Wina dan Felicia yang berada ditangannya, sambil tersenyum menyeringai Satya berjanji kepada dirinya sendiri akan berhasil menangkap Caca dan jika itu berhasil dia tidak akan melepaskan Caca dari genggamannya.


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2