Dandelion Kecil

Dandelion Kecil
Bab 79. Terharu.


__ADS_3

"Sini mana jam dindingnya," ucap Nael sambil merampas hadiah tersebut dari tangan Caca.


"Buat apa? hadiah yang lain lebih bagus daripada ini," balas Caca.


"Sudah tidak apa, aku akan pasang ini didalam kamar biar aku tidak bangun kesiangan."


Caca tersenyum lalu berkata, "Ya sudah baiklah."


"Apa masih ada hadiah yang lain lagi?" tanya Nael.


"Masih sedikit lagi," balas Caca.


"Ya sudah buka lagi sana!" Nael memerintah Caca kembali.


"Bantuin lah!" balas Caca dengan sedikit nada kesal.


"Ah ya sudah." Mereka berdua akhirnya membuka hadiah itu bersama-sama hingga selesai.


***


Tak berselang lama Bi Lila datang menghampiri mereka berdua yang tengah asyik berduaan. Bi Lila berkata sesuatu, "Maaf menganggu Tuan Nael dan Nona Caca. Makan malam sudah siap mari makan dulu."


"Baik lah Bi!" sahut Nael dan Caca bersamaan.


Nael dan Caca berjalan menuju meja makan untuk makan malam bersama dan tak lupa Nael meminta para pelayannya untuk merapihkan dan membawa semua hadiah tersebut kedalam kamarnya.


Tiba di meja makan mereka melihat Pak Heru yang sudah duduk menunggu kedatangan kedua anak muda ini untuk makan malam bersama. Nael menarik kursi dan mempersilahkan Caca untuk duduk terlebih dahulu dan setelah itu Nael duduk disebelah Caca.


"Terima kasih." Caca tersenyum kepada Nael.


"Sama-sama," balas Nael.


Setelah semua berkumpul mereka kemudian memulai ritual makan malam. Sementara itu Bi Lila senantiasa setia menemani dan membantu dikala keluarga itu membutuhkan sesuatu.


"Ca, silahkan makan yang banyak. Ambil saja makanan mana yang kamu suka ya, jangan malu-malu," ucap Pak Heru.


"Ya Pak," balas Caca dengan senyuman manis nya.


Caca lalu mengambil makanan yang berada di hadapannya, mulai dari nasi, sayur mayur dan lauk pauk tak luput dari incarannya hingga nampaklah segunung makanan telah tersaji di atas piring Caca.


Mereka pun mulai makan dengan tenang. Beberapa saat kemudian Pak Heru telah selesai menghabiskan makan malamnya, dia bangkit dari tempat duduk dan sebelum pergi dia mengatakan sesuatu kepada Nael dan Caca. "Kalian berdua lanjutkan makannya, saya sudah selesai dan ingin kembali ke kamar untuk beristirahat, jika butuh sesuatu datang saja ke kamar."


"Baik Pah!" sahut Nael dan Caca bersamaan.


"Eh!" Caca tak tak sengaja menyebut Pak Heru dengan panggilan Pah dan itu sontak membuatnya menjadi malu diapun dengan cepat meralat perkataannya tersebut.


"Maaf, baik Pak Heru." Caca menunduk malu.


Mendengar Caca menyebut Pak Heru dengan kata Pah, itu membuat Nael tersenyum senang apalagi Pak Heru juga tidak mempermasalahkan panggilan tersebut, karena sebentar lagi itu juga akan terjadi.


"Tidak apa Ca, kamu boleh manggil saya Papa." Pak Heru tersenyum lalu berjalan pergi menuju kamarnya.


Mendengar perkataan Pak Heru, Nael merasakan seperti ada sinar yang menyinari kepalanya, dia pun langsung menatap Caca dengan penuh kebahagiaan, sedangkan Caca masih memikirkan perkataannya yang tak sengaja salah sebut itu, tetapi dia merasa lega karena Pak Heru tidak mempermasalahkannya.


Nael tersenyum sambil melihat Caca dengan pikirannya yang melayang kemana-mana, seperti nya Nael sangat yakin kalau Caca akan menjadi miliknya dalam waktu dekat ini.


"Tidak usah malu lah, memang dia sebentar lagi akan menjadi Papa mertua mu dan kau akan menjadi istriku." Nael menyenggol bahu Caca sambil tertawa.


Caca yang semula malu berubah menjadi gugup dan salah tingkah. Dengan terbata-bata dia membalas perkataan Nael, "A..apa istri? a..aku masih muda dan masih harus belajar banyak hal. Sudah ah aku mau lanjut makan lagi."


Nael terus saja menggoda Caca hingga wajah Caca tak berhenti memerah dan Nael tidak memperdulikan hal itu, dia malah makin berani saja mendekati Caca.

__ADS_1


"Sudah ah, aku masih mau makan. Kamu juga habiskan dulu makanan mu itu baru berbicara lagi."


"Haha.. Baiklah setelah ini aku akan terus menggodamu dan tak akan berhenti mendekatimu." Nael tertawa bahagia dan melanjutkan makan malamnya tersebut sambil sesekali dia menyuapi Caca agar makan dari tangannya itu.


"Sudah jangan menyuapi ku terus, nasi dipiringku masih banyak, nanti tidak habis." Caca menolak disuapi Nael.


Nael melihat makanan di piring Caca yang masing menggunung, lalu memperhatikan Caca dengan begitu kebingungan. Bagaimana bisa dia makan sebanyak itu sementara perutnya begitu kecil dan ramping.


"Pantas saja badanmu begitu berat, lihat saja makanmu seperti kuli tetapi anehnya badanmu itu tidak gemuk-gemuk seperti orang cacingan saja."


Caca membalas ucapan Nael dengan mulut yang masih penuh makanan. "Tidak apa yang penting kenyang dan bersyukur karena aku masih bisa makan banyak dan jangan seenaknya bilang aku ini cacingan, asal kamu tahu ya berkat makan banyak inilah aku bisa sanggup bertahan dari Sony."


Nael mangut-mangut dengan ucapan Caca dia kemudian menarik piring nasi Caca dan berkata, "Oh begitu, ya sudah jangan makan banyak-banyak nanti aku akan kesulitan menumbangkanmu dan Carisa sayang, nanti malam boleh bobo bareng lagi?" tanya Nael mulai menggoda Caca dan itu sontak membuat Caca keselek nasi.


"Uhuk! uhuk!" Caca segera mengambil minum yang berada di dekatnya.


"Kamu tidak apa-apa? makanya kalau makan pelan-pelan," ucap Nael sambil mengusap-usap punggung Caca.


Caca langsung menatap Nael dengan tajam lalu mencubit perut Nael hingga Nael kesakitan. "Akh kenapa kamu cubit aku seperti ini, sakit Carisa lepas!"


"Rasakan ini! itu lah akibatnya jika berani mengucapkan itu lagi, apalagi di depan banyak orang begini, dasar tidak tahu malu!" Caca mendengus kesal.


"Baiklah maaf Carisa. Tolong lepaskan cubitan mu ini sakit sekali."


"Tidak! tidak mau."


"Akh Bibi Lila tolonglah aku!"


Bi Lila dan para pelayan yang berada disana pun menahan tawa melihat tingkah laku Nael dan Caca di meja makan.


Akhirnya drama itu pun berakhir setelah Bi Lila berhasil menenangkan Caca yang kesal dengan Nael. Mereka menyelesaikan makan malam lalu kembali kekamar mereka masing-masing.


***


Caca lalu menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan tak lupa mengunci pintu agar Nael tidak menerobos masuk kedalam kamarnya.


Nael pun melakukan hal yang sama dia menuju kamar mandinya untuk menyegarkan diri dengan tersenyum dia berkata pada dirinya sendiri, "Ini kan malam minggu enaknya melakukan apa ya? yang pasti harus menghabiskan malam minggu bersama dengan Carisa."


Nael lalu berniat akan mengunjungi Caca setelah ini dan memghabiskan malam berdua dengan Caca, ya walau hanya sebatas mengobrol atau menonton televisi juga tidak apa bagi Nael yang terpenting adalah berduaan dengan Caca.


………………………………………………………………………………


Di Kediaman Satya.


Sementara itu Cindy tengah memikirkan sesuatu, dia mencari cara agar bisa keluar dari kamarnya tersebut dan melarikan diri sejauh mungkin sebelum Satya menjualnya kepada pria hidung belang.


Sedangkan Satya memikirkan tentang persidangan Sony, dia tidak mau jika Sony dipenjara dalam waktu yang lama, karena dia berpikir tidak akan lagi yang bisa meneruskan bisnis haramnya tersebut.


Satya lalu tersenyum menyeringai setelah anak buahnya datang dan memberi tahu sesuatu kepadanya, entah apa yang akan di rencanakan oleh Satya yang pasti dia tidak akan membiarkan dia kalah dengan semudah itu dan dia telah berhasil menemukan caranya.


……………………………………………………………………………


Di Kediaman Heru.


Pak Heru mendatangi dan meminta Bi Lila untuk memanggil Caca dan Nael agar menemuinya di dalam kamarnya karena Pak Heru ingin menyampaikan sesuatu kepada mereka berdua.


"Bi Lila tolong panggilkan Nael dan Caca untuk ke kamar saya ya."


"Baik Tuan."


Bi Lila kemudian bergegas naik ke atas dan menuju ke kamar Nael dan Caca.

__ADS_1


"Tok tok tok!" Bi Lila memanggil Nael terlebih dahulu.


Nael lalu membuka pintu dan bertanya kepada Bi Lila yang tengah berdiri di depan pintunya, "Ada apa Bi?"


"Tuan besar memanggil anda Tuan."


"Oke saya segera turun Bi."


"Baik Tuan."


Nael lalu turun menuju kamar Ayahnya sedangkan Bi Lila pergi menghampiri kamar Caca dan mengetuk pintu kamar itu. Caca kemudian membukakan pintu dan Bi Lila meminta Caca untuk pergi ke kamarnya Pak Heru.


"Baik Bi, terima kasih."


"Sama-sama Nona."


***


Sesampainya disana Caca langsung mengetuk pintu kamar tersebut dengan hati yang terus bertanya-tanya kenapa Pak Heru tiba-tiba memanggilnya.


"Tok tok tok!"


"Masuk Caca!" sahut Pak Heru dari dalam.


Caca kemudian membuka pintu dan melihat Nael ternyata berada didalam kamar Pak Heru juga.


"Sini Ca, duduk sama Nael disini." Pak Heru menepuk bangku sebelah Nael.


"Baik Pak."


Caca kemudian duduk di bangku tersebut yang letaknya bersebelahan dengan Nael. Sebelum menyampaikan sesuatu Pak Heru meraih tangan Caca dan Nael lalu menyatukan tangan keduanya menjadi satu dan berkata.


"Nael ... Caca ... setelah persidangan Sony, Papa akan mengadakan pertunangan untuk kalian berdua dan kita akan mengadakan pesta pertunangan tersebut minggu depan!" ucap Pak Heru to the point.


Nael dan Caca sontak saja terkejut mendengar hal tersebut ternyata Pak Heru menyampaikan berita bahagia kepada mereka.


Pak Heru menatap wajah Caca yang masih terdiam seperti tidak percaya dan berkata, "Iya Caca, saya ingin menyatukan kalian, saya juga sudah berbicara dengan Pak Tris dan beliau pun menyetujui pertunangan kalian. Lalu setelah pertunangan ini kami berdua akan mencarikan tanggal baik untuk kalian."


Caca terharu mendengar perkataan Pak Heru dan tanpa sadar Caca meneteskan air mata bahagianya. Caca memeluk Pak Heru dengan begitu erat dan Pak Heru membiarkan Caca memeluknya untuk beberapa saat sambil sesekali mengusap bahu Caca.


Tak lama kemudian Caca melepas pelukannya dan tersenyum kepada Pak Heru dia pun menangis dan tak bisa mengendalikan emosinya, Caca begitu bahagia mendengar hal tersebut.


"Apa ini benar Pak?" tanya Caca.


Pak Heru menghapus air mata Caca lalu berkata kepada Caca dengan penuh keseriusan. "Ini benar Ca, maaf saya pernah membuat kamu terluka, saya harap kamu mau memaafkan saya dan menerima penyatuan ini."


Caca lalu meraih tangan Pak Heru dan membalas ucapannya sambil menangis Caca berkata, "Tidak apa Pak Heru saya mengerti, itu kalian lakukan karena terpaksa, Bapak tidak perlu meminta maaf."


Pak Heru senang dia pun ikut menangis lalu bertanya kepada Caca, "Bagaimana Caca, apa kamu mau menerima lamaran Nael?"


Caca menatap Nael yang tersenyum kepadanya lalu menatap wajah Pak Heru dan mengangguk setuju dengan permintaan tersebut.


"Terima kasih Ca ... terima kasih!" ucap Pak Heru sambil menangis.


"Sama-sama Pak!" Caca ikut menangis kembali.


Suasana kemudian berubah menjadi haru terlebih Nael dia sangat bahagia karena akhirnya dia bisa memiliki Caca dan akan pendamping hidupnya kelak dimasa depan.


.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2