
"Sudah Caca jangan menangis. Jangan dilanjutkan lagi ya, Bapak mohon." Pak Tris menenangkan Caca.
Caca menggelengkan kepala, dia menghapus air matanya lalu menatap Nael dan berkata, "Tidak Pak Tris, dia sudah meragukan kesetiaan dan juga telah menghina Bapak, Caca tidak bisa diam begitu saja. Biarkan Caca bercerita Pak, dia harus tahu itu."
Caca lalu berdiri tegak, tetapi Pak Tris terus menahan Caca. "Tidak Ca, jika kamu melanjutkan cerita masa lalu ini lagi, Bapak tidak akan segan-segan memarahimu dan juga tidak mau menemui mu lagi!" bentak Pak Tris.
Caca terdiam lalu menatap wajah Pak Tris yang begitu rapuh. "Pak Tris kau berhati mulia, sampai sekarang pun kau masih setia kepadaku, tapi Pak Tris aku sedih jika ada orang yang sampai harus menghinamu apalagi meragukan kesetiaanmu."
Caca berlalu pergi, sambil menangis dia masuk ke dalam kamar dan tidak mengijinkan siapapun untuk masuk kedalam kamarnya.
Pak Heru menenangkan Pak Tris dan tidak lupa meminta sesuatu kepada Nael, "Nael, minta maaflah kepada mereka."
Nael menatap Pak Tris dengan penuh haru dia benar-benar bersalah, setulus hati Nael mengucapkan permintaan maaf kepada Pak Tris.
"Maaf Pak Tris, saya telah bersalah. Saya tidak bisa menahan emosi, maafkan saya yang bodoh ini." Nael menunduk dan menerima apapun hukumannya.
Pak Tris memegang pundak Nael dan memaafkan ucapan yang menyakitkan hatinya tersebut. "Tidak apa Nael, kau melakukan itu karena memang belum mengetahui apa yang terjadi sebelumnya. Bapak sudah tua hanya bisa berharap kau bisa menjaga Caca dengan baik dan bisa mengendalikan emosi mu, dia telah banyak kehilangan orang terdekat yang dia sayangi. Ingatlah terus kejadian Burhan yang lalu dan jadikanlah sebagai pelajaranmu."
Pak Heru kemudian mengajak Pak Tris. "Tris malam ini beristirahatlah disini, setidaknya kau dan Caca bisa berbincang-bincang."
Pak Tris menggeleng. "Tidak Heru kedatanganku kali ini ingin menyerahkan Caca kepadamu, aku sudah membawa semua barang milik Caca yang tertinggal di mess. Aku masih banyak urusan dan tolong jagalah dia disini dan terimalah Caca dalam keluargamu."
Pak Heru mengangguk dan mengerti dengan keinginan sahabatnya itu. "Baiklah Tris, kamu jangan khawatir. Caca akan aman disini dan aku akan mengurus nya dengan baik."
"Terima kasih, kalau begitu aku pamit dulu." Pak Tris kemudian mendekati Nael. "Tolong jaga Cacaku, tenangkan lah dia."
Nael mengerti. "Baik Pak Tris, sekali lagi saya minta maaf." Nael membungkuk kepada Pak Tris.
"Tidak apa," balas Pak Tris.
"Mari Tris aku antar kamu ke depan." Pak Heru mengantar Pak Tris ke depan dan menunggunya berlalu pergi bersama Sandy.
***
Sementara itu Nael masih terus membujuk Caca agar membukakan pintu.
"Tok tok tok."
Nael mengetuk pintu kamar Caca dan memanggil Caca berkali-kali untuk masuk tetapi dia gagal karena Caca tidak ingin bertemu dengannya.
"Carisa buka pintunya, aku ingin bicara dengan mu. Maafkan lah aku Carisa!" ucap Nael berusaha masuk.
"Pergilah bukankah kita sudah berbicara hari ini. Jangan menganggu ku!" sahut Caca dari dalam kamar.
Nael terdiam dia berpikir wanita satu ini memang sulit sekali untuk dibujuk, dia pun memilih untuk tidak menganggu Caca dan akan kembali lagi setelah wanita itu sudah tenang.
__ADS_1
"Baiklah nanti aku akan minta Bi Lila membawa makanan, setidaknya ijinkan lah Bibi untuk masuk ke dalam." Nael menghela nafas panjang lalu pergi ke kamarnya.
…………………………………………………………………………
Di Kediaman Satya.
Seorang pria berlari menghampiri Satya dengan nafas terengah-engah dia memberikan informasi.
"Bos gawat! Nona Cindy kabur!" ucap Pria itu berusaha mengatur nafasnya.
"Kabur, bagaimana bisa?" tanya Satya.
"Tidak tahu Bos, tapi orang yang membeli Cindy datang kemari dan sedang mengamuk di bawah Bos!"
"Baik suruh dia kesini!" perintah Satya.
"Baik Bos!"
Tak berapa lama pria hidung belang tersebut masuk dan memarahi Satya.
"Hei kembalikan uang ku! Cindy pasti kabur karena dibawa oleh orangmu, dasar kau orang yang tidak bisa dipercaya! cepat kembalikan!" bentak pria itu mengacungkan pistol ke kepala Satya.
Satya marah dia berdiri dan merebut pistol itu dari tangan pria tersebut. "Sial berani mengancam dan juga mengertakku! urusan kita sudah selesai, masalah Cindy kabur atau tidak itu bukan lagi tanggung jawabku! harusnya kau yang disalahkan karena tidak bisa menjaga barang milikmu sendiri!"
Pria itu berdelik dia mendengus kasar. "Baiklah! jika Cindy benar di ambil oleh orang mu, maka terima lah akibatnya nanti!" ucap Pria itu dan meludah di atas kaki Satya lalu pergi meninggalkan rumah Satya karena takut nyawanya terancam.
"Bos ada yang membawa Cindy kabur dia memakai baju serba hitam!" ucap Rusli.
"Baju hitam? jadi orang misterius itu lebih dari satu?" balas Satya.
"Seperti nya begitu Bos, mereka berkomplot!" balas Rusli.
"Hebat juga si Cindy itu. Tahu begini harusnya aku ajak kerjasama saja. Cih! sudah terlanjur begini." Satya berpikir kembali lalu memerintahkan kepada Rusli dan seluruh penjahat yang berada di rumahnya. "Jangan sampai Cindy masuk kesini lagi! kalau ketemu langsung habisi ditempat!"
"Baik Bos!" patuh orang tersebut.
"Siall! harusnya aku tidak meremehkan Cindy. Suatu saat nanti dia pasti memberontak kepadaku." Satya terdiam lalu menyelidiki siapa komplotan yang berani membawa dan membantu Cindy.
……………………………………………………………………………
Sementara itu.
Pria misterius berbaju hitam membuka penutup wajahnya, dia menyetir mobil dan bertanya kepada Cindy. "Cindy sekarang kita mau kemana?"
"Antar aku ke Perusahaan Heru, Om Tono!" balas Cindy.
__ADS_1
Tono terkejut mendengar permintaan Cindy. "Baiklah Cindy kau ada urusan apa kesana? apa tidak berbahaya?" tanya Om Tono.
Cindy menghela nafas "Jangan takut Om mereka orang baik. Biarkan kita kesana dahulu aku akan mengajak Pak Tris bekerja sama!" balas Cindy.
Tono mengangguk pelan. "Begitu, baiklah!"
Cindy terdiam mengingat kejadian tadi, jika saja Om nya itu tidak datang tepat waktu maka dia akan terjebak di lingkaran maksiat.
"Om, terima kasih telah menyelamatkan Cindy," ucap Cindy dengan mata berkaca-kaca.
"Sama-sama, jangan seperti itu kamu keponakan Om, mana mungkin tega membiarkan hal itu sampai terjadi," balas Tono.
Cindy pun kesal mengingat Satya yang tega melakukan itu kepadanya berbeda sekali dengan Om nya, diapun kembali ingin membalaskan perbuatan Satya suatu saat nanti.
Tono menacap gas, lalu bergegas pergi menjauh dari tempat kejadian dan menuju perusahaan Heru untuk menemui Pak Tris.
***
Di Mess Pak Tris.
"Tok tok tok!"
"Masuk!" sahut Pak Tris dari dalam mess nya.
"Pak Tris!" ucap Sandy lalu mendekat kepada Pak Tris.
Melihat Sandy terlihat cemas Pak Tris pun bertanya, "Ada apa kamu kesini? apa ada hal yang penting?"
Sandy menatap Pak Tris lalu menjawab pertanyaan itu, "Cindy dia datang kesini."
Pak Tris terkejut dengan jawaban Sandy, kemudian dia berdiri dan berkata, "Apa, Cindy! mau apa dia kesini?" tanya Pak Tris.
"Tidak tahu Pak Tris, dia memaksa bertemu anda!" balas Sandy.
Pak Tris menghela nafas, "Baiklah kalau begitu, suruh dia masuk lewat jalan rahasia ya dan awasi dia baik-baik. Dia orang jahat!" perintah Pak Tris kepada Sandy.
"Baik Pak Tris, saya mengerti!" patuh Sandy.
Sandy kemudian bergegas menghampiri Cindy yang sedang menunggu diluar perusahaan Heru sedangkan Pak Tris sedikit cemas dengan kedatangan Cindy.
"Mau apa dia kesini? apa yang akan direncanakan olehnya?" gumam Pak Tris dalam hati.
.
.
__ADS_1
Bersambung.