
Di Kantor.
Pak Heru dan Pak Tris mengajak Pak Firman untuk berbicara mengenai sesuatu.
"Iya, Heru. Ada apa kalian memanggil saya kesini?" tanya Firman.
"Begini, Firman. Kamu tahu tentang keluarga Djuanda?" kata Heru.
"Keluarga Djuanda? ya saya tahu. Kenapa dengan hal itu, Heru?" tanya Firman kembali.
"Putri nya masih hidup sampai sekarang, dan nyawa nya dalam bahaya," kata Heru.
"Benarkah hal itu Heru? kenapa dia dalam bahaya?" tanya Firman.
Pak Heru kemudian menceritakan kembali tentang masalah yang terjadi pada Caca dan tentang rencana Satya yang ingin menculik Caca.
"Satya, dia memang kejam. Seperti nya hukuman di penjara tidak membuat nya jera," kata Firman.
"Betul, Firman. Apa kamu bisa membantu kami untuk menangkap Satya dan orang-orang di sekitar nya yang terlibat? tanya Heru.
"Cukup sulit, Heru. Penangkapan tidak bisa dilakukan jika tidak ada bukti yang kuat, kalian harus mencari bukti dan saksi-saksi atas kejadian yang terjadi kepada Caca," kata Firman.
"Lalu apa yang harus kami lakukan, Firman? kami tidak tahu harus bagaimana menghadapi kekejaman Satya?" tanya Heru.
"Begini saja. Saya akan menaruh beberapa orang kepercayaan saya di sini, yang juga merupakan anggota kepolisian. Mereka bisa menyamar sebagai karyawan atau petugas keamanan di sini untuk membantu kalian menghadapi para penjahat tersebut."
"Mereka juga akan saya bekali dengan persenjataan yang lengkap, dengan surat ijin resmi dari kantor pusat kepolisian, dan juga kewenangan langsung menangkap para penjahat yang terbukti terlibat di tempat," kata Firman memberi saran.
"Baik lah, Firman. Terima kasih atas bantuan mu," kata Heru.
"Sama-sama, Heru. Mulai besok mereka akan menjaga tempat ini," kata Firman.
Heru dan Tris seperti mendapat angin segar mendengar hal tersebut. Setidak nya mereka mendapat penjagaan lebih untuk Caca.
Perbincangan mereka telah selesai. Mereka lalu berjabat tangan. Firman kemudian pergi dan kembali untuk bertugas.
***
"Oke, Tris. Mari kita menemui Caca dan memberikan kabar baik ini, sekalian kita beri tahu Caca agar dia tinggal di mess ini saja," kata Heru.
"Iya, Heru. Di sini dia pasti aman dari gangguan berandal maupun Satya," kata Tris.
Mereka kemudian berjalan untuk menemui Caca.
…………………………………………………………………………
Di gudang.
Nael dan Caca keluar dari gudang, kemudian mendengar seseorang memanggil nama mereka.
"Caca!"
"Pak, Nael!"
Mba Dewi dan Lista berteriak memanggil nama mereka berdua.
"Itu, Mba Dewi dan Lista," kata Caca kepada Nael.
"Iya. Mari kita kesana," kata Nael menuntun Caca.
Mereka kemudian saling bertemu. Caca memeluk Mba Dewi dan Lista.
"Syukurlah, Ca. Mereka tidak menemukan kamu," kata Mba Dewi menangis.
"Iya, Ca. Kamu sembunyi dimana?" tanya Lista.
"Kita sembunyi di dalam gudang sana, Lis."
Caca menunjuk sebuah gudang yang gelap tersebut. Mba Dewi dan Lista salut dengan keberanian Caca yang berani masuk ke dalam.
"Bagus, Ca. Kamu berani masuk ke sana?" tanya Mba Dewi.
"Iya, Mba. Pak Nael menemani saya masuk ke dalam, kemudian dia menenangkan saya, lalu dia juga ...." kata Caca. Lalu dia terdiam.
__ADS_1
"Kenapa diam? Ca. Pak Nael kenapa?" tanya Lista penasaran.
"Tidak ada apa-apa," jawab Nael dengan cepat.
Mba Dewi dan Lista memperhatikan Caca dan Nael. Mereka curiga seperti ada sesuatu di antara mereka. Terlihat wajah mereka yang tersipu malu sambil mengusap bibir mereka masing-masing. Mba Dewi dan Lista tersenyum kecil.
"Ya sudah tidak usah di bahas," kata Mba Dewi.
***
Tak lama kemudian Pak Heru dan Pak Tris datang menemui mereka.
"Pak Tris!" teriak Caca.
Caca menghampiri dan memeluk Pak Tris.
"Sudah, Ca. Mereka telah pergi," kata Pak Tris.
Caca melepaskan pelukan nya, dia pun berterima kasih kepada Pak Heru dan Pak Tris.
"Terima kasih, Pak Heru. Pak Tris."
"Sama-sama," jawab Pak Heru.
Mereka kemudian kembali ke ruang kerja mereka masing-masing.
………………………………………………………………………………
Di Kediaman Satya.
Cindy berjalan dengan langkah cepat, lalu dia masuk kedalam kamar ibunya.
Cindy lalu mengunci kamar itu dari dalam. Cindy duduk di kamar ibunya dia melihat foto sambil menangis.
"Mama ... " suara Cindy terdengar lirih.
"Mama pasti menderita hidup bersama, Papa."
Cindy melihat wajah nya dicermin, hati nya membara, dia sangat marah dengan Satya ayahnya sendiri.
Cindy kemudian menghapus air mata nya dan berjanji kepada diri sendiri dan juga kepada mendiang ibunya.
…………………………………………………………………………
Di kantor.
Nael dan Caca kembali ke ruang kerja mereka. Caca kemudian membereskan meja kerja nya karena dia tahu mulai besok diri nya tidak akan bekerja di tempat itu lagi.
Nael melihat Caca, dia pun tak bisa berbuat apa-apa lagi. Dia juga mengerti itu semua demi kesalamatan orang yang dia cintai.
Pak Heru dan Pak Tris datang menemui Caca. Pak Tris kemudian memberikan Caca sesuatu.
"Ini, Ca. Kamu ambil ini," kata Pak Tris.
"Apa ini, Pak?" tanya Caca.
"Ini seragam untuk kamu bekerja di tempat baru," kata Pak Tris.
"Baik, Pak. Besok saya akan memakai nya," kata Caca.
Caca lalu membuka seragam tersebut, terdapat sebuah baju lengkap dengan penutup kepala dan juga masker. Caca mengerti.
"Dan satu lagi, Ca. Ini kunci mess kamu. Sekarang kamu akan tinggal di mess. Di sini tempat yang aman untuk kamu," kata Pak Heru.
"Terima kasih." Caca lalu menerima kunci tersebut.
Pak Heru dan Pak Tris pergi ke ruangan mereka kembali untuk bekerja.
***
Nael menatap Caca, dia kemudian mendekati Caca. Nael berusaha menghibur Caca.
"Ah. Besok saya akan kerja sendiri lagi," kata Nael melirik Caca.
__ADS_1
"Kan ada Sonia di sini yang menggantikan saya," balas Caca.
"Oiya betul. Setidak nya ruangan ini akan damai, karena saya tidak akan bertengkar dengan Sonia. Sonia itu baik, dia tidak akan membuat saya menjadi kesal, dan tidak ada juga wanita yang suka marah-marah disini," kata Nael.
"Apa maksud nya itu? jadi saya tidak baik ya? memangnya saya itu orang yang suka berkelahi?" tanya Caca dengan kesal.
Nael tersenyum, dia senang sekali menggoda Caca.
"Oke. Baik, selamat menikmati hari-hari mu bersama dengan Sonia," kata Caca sembari pergi.
Nael menahan Caca, dia tertawa melihat wajah Caca yang kesal.
"Maaf. Saya hanya bercanda," kata Nael.
"Oke, saya maafkan. Sekarang tolong minggir," kata Caca.
Nael mulai menggoda Caca kembali.
"Tadi di tempat gelap kamu mau nya dekat-dekat saya. Sekarang minta saya untuk minggir," kata Nael tersenyum.
Wajah Caca seketika memerah, dia mengingat kembali kejadian tadi. Caca kembali memarahi Nael dan Nael hanya tertawa melihat wajah Caca yang memerah.
***
Sandy dan Bibi datang ke kantor dan menemui Caca.
"Caca," kata Bibi.
"Bibi. Bibi tidak kenapa-napa kan?" tanya Caca khawatir.
"Tidak, Ca. Kamu juga kan?" balas Bibi bertanya.
"Tidak, Bi. Caca baik-baik saja," kata Caca
Mereka kemudian berpelukan.
Pak Tris kemudian datang setelah mendengar kedatangan Sandy dan Bibi.
"Bibi minarsih, lebih baik kamu pergi dari Kota ini dan kembali ke desa bersama Ibu dan Handi, disana adalah tempat yang aman untuk kalian," kata Pak Tris.
"Caca disini biar kami yang menjaga. Sandy tolong antar Bibi sampai ke desa ya," kata Pak Tris kepada Sandy.
Sandy mengangguk. "Baik, Pak."
Caca menangis, dia kembali sendirian.
"Jangan menangis, Nak. Walau jarak kita jauh, tetapi kami semua akan selalu berada di hati mu," kata Bibi ikut menangis.
"Benar, Ca. Di Mess juga kan ada Bapak, yang akan menemani kamu. Kamu boleh mampir ke mess bapak kalau ingin sesuatu," kata Pak Tris.
Caca mengerti, dia pun mengangguk. Mereka kemudian pamit kepada Caca dan juga Pak Tris.
"Hati-hati, Bi."
"Kamu juga ya, jaga diri."
Mereka kemudian berjalan keluar dari perusahaan dan akan menuju ke desa.
……………………………………………………………………………
Di Kediaman Satya.
"Maaf, Bos! Nona Caca tidak berada di perusahaan Pak Heru," kata salah satu berandal.
"Tidak mungkin! apa kalian sudah mencari di tiap sudut perusahaan dan tempat-tempat yang tersembunyi?" tanya Sony.
"Sudah Bos! memang masih ada beberapa tempat yang belum sempat di kunjungi. Kami segera pergi dan lari dari sana, karena ada polisi yang datang ke perusahaan itu, Bos!"
"Dasar! kenapa susah sekali menangkap wanita itu!" teriak Sony kesal.
Sony terlihat menelepon seseorang, dia adalah salah satu penyusup di dalam perusahaan yang masih belum tertangkap.
"Cari dia ada di mana, dan bawa kesini jika bertemu dengan nya," kata Sony menutup telepon nya.
__ADS_1
Bersambung.