Dandelion Kecil

Dandelion Kecil
Bab 102. TAMAT


__ADS_3

Di Rumah Sakit.


Pernikahan Caca dan Nael disiarkan secara langsung di berbagai stasiun televisi, banyak yang menonton acara tersebut termasuk Sony yang berada di rumah sakit.


Sony terpaku melihat Nael dan Caca yang tertawa bahagia bersama, diapun tersenyum dan menghela nafas. Sambil terus menyaksikan acara pernikahan mereka, Sony berbicara kepada dirinya sendiri. "Walaupun aku sangat menginginkanmu, tetapi melihatmu bisa bahagia bersama Nael, aku rasa itu sudah cukup. Kau memang cantik jika sedang tertawa."


Cindy terharu mendengar ucapan Sony, diapun menghampiri Sony dan berkata. "Benar, mereka saling mencintai tidak seharusnya kita menghancurkan atau memisahkan mereka. Aku percaya suatu saat akan ada wanita yang tulus mencintai adikku yang tampan ini." Cindy lalu tersenyum kepada Sony.


Sony mengangguk pelan dan berusaha merelakan Caca. Beberapa saat kemudian pihak polisi datang menjemput Sony untuk kembali ke dalam penjara.


"Pergi lah jalani hukumanmu Sony, aku akan sering-sering mengunjungimu."


"Terima kasih."


Pak polisi membawa Sony kembali ke dalam penjara, sedangkan Cindy kembali ke Kediaman Satya. Dia berencana menjadi orang baik dan melupakan semua dendam, ambisi dan juga sakit hatinya si masa lalu dan menatap masa depan yang lebih baik.


***


Sementara itu Satya telah mendapatkan hukuman setimpal, dia telah melakukan kejahatan besar hingga tanpa ragu Satya dikenakan hukuman berat, yaitu hukuman mati.


……………………………………………………………………………


Di Kediaman Heru.


Pesta tersebut telah usai, para tamu telah meninggalkan kediaman Heru begitu pula dengan teman Caca dan keluarga nya.


Ada kesan tersendiri bagi mereka yang hadir di pesta tersebut, terutama para jomblowan dan jomblo wati. Tak sedikit dari mereka yang menemukan pasangan saat pesta dansa, seperti Anthoni dengan Lista, Mba Dewi dengan Gunawan dan Sonia dengan Sandy.


Mereka telah menemukan pasangan dan akan menjalani kisah asmara mereka masing-masing dimasa mendatang.


***


Sementara itu Caca sedang termangu di aula dansa, dia menangis bahagia ketika melihat ayah dan ibu kandungnya turut hadir dalam pesta pernikahannya. Mereka tersenyum ke arah Caca sambil bergandengan tangan dan terlihat pula sosok Burhan ayah angkat Caca yang setia menemani mereka.


Nael mendekati Caca yang sedang berdiri di aula tersebut lalu mengajak istrinya untuk berdansa satu putaran lagu.


"Temani aku berdansa untuk satu lagu saja," pinta Nael lalu mengulurkan tangan kanannya.


Caca mengangguk kemudian menyambut uluran tangan suaminya dan menoleh ke arah ayah dan ibu nya yang siap juga untuk berdansa.


"Kami akan menemanimu berdansa Dandelion kecil."


Begitulah yang terdengar oleh Caca, dia terharu lalu mengangguk pelan ke arah mereka.


***


Sebuah lagu diputar dan seketika itu Caca mengingat kembali kenangan lamanya bersama Nael.


"Lagu ini ...."


"Kau ingat lagu ini?" tanya Nael menatap Caca.


Caca mengangguk dan tersenyum lalu menatap wajah suaminya itu dan menjawab, "Tentu saja aku ingat, ini adalah lagu saat dansa pertama kita, di pertunangan Valen dan ulang tahun Papa."


Nael tersenyum, mereka memulai berdansa dengan saling menatap mereka mengingat kembali masa-masa di awal pertemuan mereka. Memori lama itu pun terlintas kembali dalam benak mereka.


🎶🎶🎶


Not sure if you know this


(Aku tak yakin kau tahu ini)


But when we first met


(Namun sejak pertama kita bertemu)


I got so nervous I couldn't speak

__ADS_1


(Aku merasa begitu gugup, aku tak bisa berucap)


In that very moment


(Pada saat itu juga)


I found the one and


(Aku menemukan seseorang dan)


My life had found its missing piece


(Hidupku menjadi lengkap)


***


"Oke saya akan panggil kamu Carisa. Saya tidak mau panggil kamu Caca, itu nama kadal peliharaan saya."


"Carisa, sekarang kamu tiap hari siapin kopi untuk saya juga ya."


"Ah itu ruangan Pak Nael! begitu dekat, mengintip juga bisa dari sini."


Sesekali mereka tersenyum dan tertawa kecil saat mengingat kembali masa-masa pertemuan mereka, begitu kaku dan saling tak mengenal. Sambil terus berdansa dan berbincang sedikit Nael dan Caca mulai mengingat saat mereka jatuh cinta, hingga akhirnya mereka bisa bersama saat ini.


"Maaf jika aku pernah mengucapkan kata kasar atau perbuatan yang melukai hatimu Carisa. Selamanya aku akan selalu mencintaimu."


Tak terasa air mata Caca berguguran saat mengalami kepedihan di masa lalu hingga akhirnya terganti dengan kebahagian bersama orang yang dicintainya.


"Aku juga mencintaimu Nael ...."


***


🎶🎶🎶


So as long as I live I love you.


(Jadi selama aku hidup, aku mencintaimu)


(Aku akan memiliki dan memelukmu)


You look so beautiful in white.


(Kau terlihat begitu cantik dengan gaun putih)


And from now 'til my very last breath.


(Dan mulai sekarang sampai nafas terakhirku)


This day I'll cherish.


(Hari ini akan selalu kuingat)


You look so beautiful in white.


(Kau terlihat begitu cantik dengan gaun putih)


Tonight.


(Malam ini)


***


Lagu telah selesai diputar Nael memberi kecupan manis pada Caca sebagai penutup dansanya.


"Berbahagialah putri kecil ku! selamat atas pernikahanmu. Kau telah tumbuh dewasa, sekarang kami harus pergi, janganlah menangis."


Ayah dan ibu Caca tersenyum sambil melambaikan tangan mereka pergi menghilang dan hanya menyisakan sebuah kenangan saja.

__ADS_1


"Terima kasih Papa ... Mama dan Ayah ... Selamat tinggal."


Nael menghapus air mata istrinya tersebut dan bertanya. "Kau sedang memikirkan apa?"


"Tidak ada." Caca menggeleng pelan.


Nael merangkul pinggang Caca sambil terus memandangi wajah istrinya, Nael tersenyum dan berkata. "Oke sekarang kita masuk kamar, aku menginginkanmu malam ini."


"A-apa h-harus sekarang? nanti saja saat kita pergi bulan madu." Caca terlihat gugup sekali.


Nael menggeleng, dia lantas tersenyum jahat dan menatap istrinya penuh damba lalu mengangguk dengan mantap.


"Harus, sekarang!" balas Nael singkat jelas dan padat.


"Oh tidak! ... jangan! ... No! ... Nehi!"


Nael secepat kilat menarik pergelangan tangan Caca yang ingin kabur dari nya, lalu dengan gagah dia membopong istrinya ala bridal style menaiki anak tangga satu persatu. Sambil terus tersenyum penuh arti dia tidak mau mendengar apapun atau penolakan dari Caca.


"Aku belum mandi." Caca memelas.


"Kita bisa mandi bersama!" balas Nael dengan cepat.


"A-aku belum makan." Caca meneguk ludahnya.


"Nanti aku suapi di dalam kamar!" balas Nael.


"A-aku sedang haid." Caca berusaha kembali.


"Tidak percaya!"


"Bagaimana jika ada yang mendengar."


"Kamarku kedap suara!"


Begitulah kira-kira penolakan dan jawaban cepat dari Nael hingga akhirnya mereka telah sampai di pintu kamar.


"Brak!"


Nael membuka pintu kamar yang berada di hadapannya lalu menutup dengan cepat pintu tersebut dengan menggunakan satu kaki.


Sesampainya di dalam, mereka terdiam sejenak menatapi kamar tersebut yang telah dihias dengan indah.


"Cantik sekali," ucap Caca lalu tertegun.


"Benar."


Nael perlahan menurunkan tubuh Caca diatas kasur empuk miliknya lalu mendekapnya dengan lembut.


"Ku mohon jangan menolak." Nael menciumi Caca tanpa henti.


Sedangkan wanita ini tengah berdebar hebat, tetapi setelah dirayu begitu lama akhirnya diapun menurut dan membuat Nael begitu bahagia saat Caca menuruti keinginannya kemudian tanpa ragu lagi Nael membuktikan cinta dan kesetiaannya malam itu.


Sebuah penyatuan manis dan indah dimana mereka hanyut terbawa suasana, membiarkan diri mereka mengikuti naluri masing-masing dengan penuh kehangatan dan kemesraan.


.


.


...TAMAT...


…………………………………………………………………………………


Hai semuanya, para pembaca setia. Akhirnya setelah cukup panjang Novel ini tamat.


Terima kasih kepada kalian yang sudah bersedia mampir, sudah membaca dan juga memberi dukungan kepada karya pertama ku ini.


Mohon maaf jika ada salah-salah kata atau hasil yang kurang memuaskan..

__ADS_1


Sekali lagi penulis ucapkan terima kasih banyak. Dandelion Kecil ... Caca dan Nael mohon pamit jangan lupa meninggalkan Like, Komen, Vote Hadiah dan juga Favoritnya ya.


🤗🤗🤗🙏🙏🙏🙏


__ADS_2