Dandelion Kecil

Dandelion Kecil
Bab 59. Gosip dan Tatapan Sinis.


__ADS_3

Caca kemudian berjalan menuju ke tempat packing dan di temani oleh Sandy dengan bibir yang masih terus mengerutu karena kesal.


"Harusnya kamu jangan menghalangi aku, Sandy! dia begitu menyebalkan sekali. Huh!"


"Maaf Nona, tapi itu tidak benar."


"Oh jadi kamu membela lelaki itu? kamu suka Nona muda mu ini di goda oleh dia? benar-benar kau juga sama saja, Huh! ya sudah pergi sana saya bisa jalan sendiri!" ucap Caca kesal.


Caca pergi dengan kesal karena Sandy tidak membela diri nya, dia berjalan dengan cepat sambil menendang apa pun yang berada di sekitarnya.


"Nona, tunggu! bukan itu maksud saya," ucap Sandy mengejar Caca.


"Sudah kamu jangan ikuti saya! sana dekati saja si Nael itu!" umpat Caca.


***


Kejadian tersebut mengundang beberapa perhatian karyawan yang berada disana.


"Itu siapa sih? kenapa marah-marah seperti itu? apa ada masalah ya dia?"


"Tidak tahu. Dari penampilannya seperti karyawan Packing," jawab salah satu karyawan pabrik.


"Iya benar dia karyawan Packing, seperti nya anak baru masuk kemarin ya?"


"Iya betul dia baru masuk kemarin kelihatan dari seragam nya yang masih baru."


Mereka masih melanjutkan pembicaraan tersebut hingga Caca dan Sandy masuk ke kawasan Packing. Disana Caca tak luput dari pembicaraan karyawan wanita disana. Mereka membicarakan komentar negatif mengenai Caca.


"Eh May, bukannya itu si Linda ya anak baru kemarin?" tanya cewek packing bernama Shinta.


"Sepertinya iya dia Linda," jawab Maya.


"Lihat gaya nya sudah seperti Nona besar saja. Dan itu siapa cowok yang berada di sampingnya? kenapa bisa bersama dia? sayang banget cowok tampan begitu mengejar cewek packing seperti dia."


"Tidak tahu."


Caca kemudian menjadi pergunjingan disana sini oleh karyawan packing. Teh Mul kemudian datang menghampiri Caca lalu meminta kepada Caca dan Sandy agar berhenti berdebat.


"Ca, tolong jangan membuat keributan di sini, mereka pada membicarakan kamu yang bukan-bukan."


Caca lalu melihat sekitarnya, para wanita tersebut memandang Caca dengan tatapan tajam dan sinis. Caca kemudian mengerti.


"Baik lah Teh, makasih sudah mengingatkan."


"Ya sudah cepat kembali ke tempat kamu ya."


"Ya Teh. Sandy cukup sampai sini mengantarnya. Kamu kembali ke tempat kamu ya."


"Baik Nona."


Para Wanita itu terkejut karena Teh Mul yang terkenal galak tidak memarahi Caca. Mereka bertambah kesal dengan Caca.


"Kenapa Teh Mul tidak memarahi dia? pilih kasih sekali! memangnya siapa dia sampai Teh Mul saja tidak berani memarahi nya?"


"Benar Shinta, lihat dari kemarin dia pergi dan datang sesuka hati nya. Sudah begitu dia mendapat pekerjaan yang mudah, sangat santai dan tidak berat sama sekali. Dan sekarang dia malah datang bersama cowok asing. Seperti bukan wanita baik-baik saja?" ucap wanita bernama Febi.


"Huss! jangan bicara seperti itu, nanti terdengar oleh dia dan Teh Mul," Maya menyela pembicaraan mereka.

__ADS_1


Mereka berhenti membicarakan Caca, lalu mereka sibuk merapihkan pekerjaan nya karena sebentar lagi jam pulang akan berbunyi.


***


5 menit kemudian.


Jam pulang telah berbunyi. Semua pekerja packing telah bubar untuk pulang, karena bagian packing hanya bekerja 1 shif saja tinggal lah Caca yang masih di pabrik membereskan pekerjaan nya yang tertunda tadi.


"Teh. Kerjaan Caca belum beres, bagaimana donk?" tanya Caca.


"Ya sudah Ca, kerjain sebisa kamu aja, besok di teruskan lagi."


"Teh Mul mau kemana? mau pulang duluan ya?" tanya Caca.


"Iya Teteh ada urusan mendadak di rumah."


"Ya sudah Teh, hati-hati."


"Ya."


Caca lalu mengerjakan pekerjaan nya dengan cepat dan ingin segera pulang ke mess lalu beristirahat karena merasa lelah, bukan lelah karena pekerjaan nya tetapi lelah menahan emosi dengan kelakuan Nael tadi siang.


"Cih kepikiran terus dari tadi! kalau tangan ini belum melayang kewajah nya itu rasanya belum puas hati ini, seperti nya malam ini aku tidak akan bisa tidur dengan nyenyak!" umpat Caca.


"Ah kesal, kerjaan jadi salah terus dari tadi, mana sudah sepi begini, di tinggal sendirian lagi."


***


Nael rupanya memperhatikan Caca dari jauh sambil senyam senyum sendiri. Nael menunggu sampai kondisi benar-benar sepi lalu melihat ke sekeliling kanan kiri nya supaya tidak ada orang yang melihatnya mendekati Caca.


Nael lalu berjalan mendekati Caca dengan perlahan dan berhenti lalu berdiri tepat dibelakang Caca. Nael kemudian mendengarkan semua ocehan Caca yang masih kesal dengan nya.


"Siapa bos bawel nya?" tanya Nael.


"Itu si Nael!" jawab Caca dengan santai nya.


Caca lalu terdiam, dia mengingat kalau ruangan tersebut sudah sepi dan tak ada orang karena pekerja packing sudah pulang semua.


"Eh!" Caca mulai sadar.


"Ya ampun, itu tadi suara siapa? tidak ada orang kan disini, terus yang nanya tadi siapa? apa dia hantu? tapi suara nya kek kenal," kata Caca bertanya-tanya.


Nael terkekeh mendengar Caca yang berbicara sendiri.


"Hihihihi."


"Akh! siapa itu?" teriak Caca lalu memutar balik badan nya ke arah datangnya suara.


"Ci luk Ba!"


"HUA!!!"


Caca kaget setengah mati melihat Nael yang telah mengejutkan nya secara tiba-tiba. Muka nya langsung pucat dan badannya mendadak lemas seperti orang tanpa tulang.


Caca segera menepuk-nepuk dada nya karena sawan yang di alaminya. Jantungnya seperti ingin lepas saat itu juga. Dia pun refleks memukul bahu Nael.


"BUG!"

__ADS_1


"Auw!" Nael mengusap usap bahu nya.


"Dasar! kenapa mengagetkan orang seperti itu! jantung ku rasanya mau copot tau! Hadehh manget-manget!"


***


Sandy mendengar suara Nona muda nya berteriak, diapun tanpa pikir panjang langsung berlari secepat kilat ke arah Nona Muda nya itu.


"Ada apa Nona? apa Nona dalam masalah? kenapa wajah Nona pucat seperti itu? dan kenapa Pak Nael berada di sini?" tanya Sandy.


"Sudah Sandy jangan banyak tanya, tolong ambilkan saya minum dulu di tempat Teh Mul disana. Saya Syok Sandy, cepat ya!" pinta Caca.


Caca lalu duduk karena masih syok dan lemas, lalu dia menatap wajah Nael dengan tatapan tajam, setajam silet! sedangkan Nael hanya tersenyum melihat itu semua, dia sangat senang menjahili Caca.


"Kenapa? kenapa kamu di sini?" tanya Caca.


"Maaf Carisa, saya kebetulan lewat sini dan tak sengaja bertemu kamu," jawab Nael.


"Bohong! pasti kamu sengaja bukan. Ah Tuhan demi Dewa orang ini benar-benar menyebalkan sekali."


Nael hanya terkekeh melihat Caca yang menggerutu seperti itu.


"Ah kamu memang ngangenin!" ucap Nael dalam hati.


***


Beberapa saat kemudian Sandy datang membawa minum untuk Caca. Caca lalu membuka masker nya dan menghabiskan minumnya tanpa sisa.


"Ah segar, setidak nya syok saya sedikit berkurang. Ini semua gara-gara dia!"


Caca lalu bangkit dari tempat duduk nya dan mulai menceramahi Nael, tetapi Nael senang dan menganggap Caca semakin manis jika marah-marah seperti itu. Sandy memijat pelipis kepala nya karena pusing dengan tingkah mereka berdua, lalu Sandy menengahi mereka.


"Sudah Nona ayo kita pergi dari sini, pakai kembali masker anda takut nanti ada yang mengenali anda dan Pak Nael saya mohon lebih baik menjaga jarak seperti yang telah di perintahkan oleh Pak Tris."


"Baik Sandy, kamu benar."


"Ayo Sandy kita pergi dari sini." Caca lalu menarik tangan Sandy dan berjalan pergi meninggalkan Nael.


Nael tersenyum melihat Caca yang masih saja ngedumel, dia merasa tak sanggup harus berpisah terlalu lama dengan Caca.


***


Tanpa disadari dikejauhan sana ada sepasang mata yang telah melihat kejadian tersebut. Pria itu tersenyum lalu menelepon seseorang.


"Halo!"


"Halo Bos! saya sudah berhasil menemukan Nona Caca."


"Bagus! ada dimana dia sekarang?"


"Dia masih berada di sini."


"Bagus, awasi terus jangan sampai lepas."


"Baik Bos!"


Panggilan berakhir, pria tersebut berjalan melaksanakan tugasnya kembali.

__ADS_1


*


Bersambung.


__ADS_2