
Nael kemudian mencari-cari sesuatu, selimut atau sejenisnya untuk menutupi tubuh Caca agar tidak terlalu terbuka, karena banyaknya sobekan pada baju Caca.
Nael mencari kedalam kamar dan menemukan sebuah kain. Pandangan nya teralihkan dengan selembar kertas penuh dengan air mata. Ya itu adalah surat dari Nael, Caca telah membaca nya.
Nael merasa bersalah, dia hanya bisa menambah kesedihan kepada Caca.
***
Nael lalu datang mendekati Caca, kemudian duduk disamping nya dan menyelimuti tubuh Caca dengan lembut dan berhati-hati, dia lalu memanggil nama Caca.
"Carisa, tenang ya sekarang kamu sudah aman, Sony sudah pergi dari sini," ucap Nael dengan lembut. Caca seperti mengenal suara itu, hanya ada satu orang yang memanggil nya dengan nama Carisa.
"Itu Pak Nael."
Caca membuka mata nya, dia tak percaya ada Nael yang berada di samping nya. Caca hanya diam dan menangis wajah nya telah basah okeh air mata. Nael merasakan ketakutan dan kesedihan yang dialami oleh Caca.
Nael tanpa ragu memeluk Caca dengan erat. Mereka kemudian saling berpelukan. Caca merasa lega dia bisa menangis sepuasnya, dia juga telah terbebas dari paksaan Sony yang bejat.
***
Para warga kemudian bubar untuk kembali ke rumah masing-masing dan telah mengerti setelah Pak Heru dan Paman Caca menjelaskan situasi yang telah di alami oleh keluarga nya.
Ibu dan Nenek kemudian masuk untuk melihat kondisi Caca, mereka kemudian terharu dan menangis karena Caca berhasil selamat dan Nael berhasil menyelamatkan kehormatan Caca.
Caca melihat semua yang hadir untuk dirinya, orang yang melindunginya, keluarga nya, teman nya, dan juga cinta nya, dia mengucapkan terima kasih dan bersyukur kepada semua nya.
"Terima kasih Nael, kamu telah datang tepat waktu untuk menyelamatkan Caca. Jika tidak, entah apa yang akan terjadi kepada Caca. Ibu sudah tidak bisa membayangkan betapa bejatnya Sony. Huhuhu." Ibu menangis dan memeluk Caca.
Caca menangis, dia mengalami trauma mendalam, kenapa semua itu terjadi kepada nya. Kemudian terlintas dalam benaknya dia mengingat setiap kata yang di tulis oleh Nael.
Caca lalu berdiri, dia menangis sambil menutupi tubuh nya dengan kain.
"Iya Ibu, benar kata seseorang. Caca hanya bisa menyusahkan orang lain saja!"
"Caca telah membuat semua orang lain dalam bahaya, itu semua salah Caca Bu."
"Caca harus nya tidak egois, harusnya Caca membiarkan mereka mengambil Caca."
"Caca nggak mau sampai kehilangan orang lain lagi bu. Caca nggak mau sampai kehilangan orang yang Caca sayangi Bu. Caca yang bersalah," ucap Caca sambil menepuk-nepuk dadanya dan berurai air mata.
"Tidak Nak! tidak ada yang berbicara seperti itu. Kamu tidak bersalah Ca," ucap Ibu sambil menenangkan Caca.
Nael memahami kemarahan Caca, seperti nya Caca telah membaca surat balasan dari dirinya.
"Tidak! tidak Ibu! Ibu salah! harus nya Caca tidak berada di sini."
"Lebih baik Caca pergi saja dari sini Bu!"
"Caca tidak pantas berada di sini, semua sudah berkorban banyak cuma demi Caca Bu. Bahkan ada yang kehilangan nyawa cuma untuk melindungi Caca, itu semua tidak adil Bu. Caca sudah berdosa Bu, Caca tidak mau!"
__ADS_1
"Caca sudah tidak kuat Bu, Caca mau pergi saja!"
"Tidak Ca, jangan! kamu anak Ibu, kamu pantas mendapatkan pertolongan. Bukan karena kamu istimewa, tapi karena mereka adalah manusia yang peduli terhadap sesama nya. Mereka tidak ingin melihat manusia jahat tersebut berbuat seenaknya."
"Tolong lah Caca, demi Ibu. Kamu jangan pergi dari sini, jangan tinggalkan Ibu. Kamu jangan menyerahkan diri kamu kepada mereka, Ibu tidak rela Nak, tidak akan pernah rela!" ucap Ibu menangis dan menenangkan Caca.
"Tidak Ibu! tidak! Caca harus pergi." Caca lalu menangis histeris.
Caca kemudian mencari Pak Tris dan Pak Heru lalu menghampiri mereka berdua. Caca berlutut dan memohon kepada kedua orang tua itu sambil menangis dia berkata, "Pak Tris, Pak Heru. Bapak pegang semua harta Caca kan? Bapak juga yang pegang semua dokumennya kan? berikan saja Pak! berikan saja kepada mereka, Caca mohon Pak. Caca hanya ingin keluarga Caca selalu aman Pak."
Pak Heru mengangkat Caca untuk berdiri, dia berusaha menenangkan Caca. Mereka memberikan pengertian kepada Caca bahwa Satya sangatlah berbahaya.
"Tidak Caca! saya tidak akan menyerahkan harta itu kepada mereka, itu adalah masa depan dan hak kamu!" kata Heru sambil memegang pundak Caca.
"Satya, dia memang menginginkan harta Djuanda yang begitu berlimpah. Dia sangat serakah, lagipula banyak orang yang akan terkena imbasnya setelah dia berhasil menguasai nya."
"Banyak perusahaan yang akan bangkrut di tangannya, banyak perusahaan juga yang akan bekerja di bawah tekanan nya."
Caca masih menangis dan memohon kepada Pak Tris dan Pak Heru dengan merangkap kan kedua tangannya.
"Kenapa Bapak tidak mengerti saya Pak? saya hanya ingin hidup seperti orang normal biasa nya. Saya tidak ingin kekuasaan seperti itu, saya hanya ingin bebas."
"Tidak Caca! saya tidak akan merelakannya, karena itu adalah masa depan kamu, dan juga Nael!" kata Pak Heru kebablasan bicara.
Caca tidak mengerti dengan apa yang diucapkan Pak Heru, dia diam sejenak dan mulai bertanya, "Apa maksud Pak Heru? Apa maksudnya itu?"
Nael mendekat, dia mendengarkan setiap pembicaraan antara Ayah nya dan juga Caca. Nael juga penasaran, apa maksudnya masa depan Caca dan dirinya.
"Sebenarnya kalian sudah berjodoh sejak kecil. Ayah mu Djuanda dan saya sudah berjanji akan menikahkan kalian jika umur kalian sudah tepat."
"Saya merahasiakan ini agar kalian berdua tidak dalam bahaya, tetapi mata-mata musuh terlalu handal. Pertama identitas Caca sekian lama yang di rahasiakan telah terbongkar, lama kelamaan pasti mereka akan mengetahui kalo Nael adalah jodoh kamu Caca."
"Saya tidak ingin kalian berdua dalam bahaya. Dan satu lagi Caca, Sony tetap akan mengincar kamu. Dia tidak akan melepaskan mu begitu saja, dia hanya berambisi terhadap diri kamu Caca. Saya tidak akan membiarkan itu terjadi, tidak akan pernah!" ucap Pak Heru.
Caca menangis ketika mengingat kelakuan Sony terhadap diri nya, dia kemudian pergi ke arah dapur untuk mencari sesuatu. Lalu Caca mengambil sebilau pisau dan ingin melukai dirinya sendiri.
Nael melihat Caca yang sedang hilang akal langsung menghentikannya berbuat hal bodoh.
"Berhenti Carisa! kenapa kamu lakukan hal bodoh seperti itu!" teriak Nael sambil menahan tangan Caca yang memegang pisau.
"Lepas! biarkan saya melukai wajah ini, atau lebih baik jika saya mati saja. Itu akan lebih baik, lepaskan!" kata Caca dengan putus asa.
"Jangan Ca!" teriak semua orang yang berada disana.
Nael berhasil merampas pisau dari tangan Caca, dan membuang pisau tersebut sangat jauh agar tak terjangkau oleh Caca kembali. Nael meminta kepada semua orang untuk memberikan waktu untuk mereka berbicara sebentar.
Mereka mengangguk setuju dan membiarkan Caca dan Nael untuk berbicara empat mata lalu menunggu di luar rumah sambil membereskan sisa-sisa kekacauan tadi.
***
__ADS_1
Caca menatap Nael, dia masih tidak menyangka kalau Nael telah dijodohkan dengannya. Setelah Caca mendapat surat balasan dari Nael yang berkata kasar terhadap nya. Caca merasa kalau Nael tidak mencintai nya. Caca hanya menangis.
"Kenapa, kenapa kamu menghalangi saya? apa pedulinya kamu sama saya? kamu benar, saya hanya menyusahkan orang lain saja. Lebih baik saya tiada tapi, kenapa kamu masih saja menyelamatkan saya berkali-kali hah!" bentak Caca.
Nael mengerti, hati Caca terluka karena dirinya. Nael mencoba menenangkan Caca, Nael memegang wajah Caca. Nael lalu mengarahkan wajah Caca agar menatap wajah nya yang terlihat serius.
"Maaf, saya tidak bermaksud membuat hati kamu terluka. Saya hanya terpancing emosi, itu karena Cindy yang telah mengubah surat kamu menjadi surat kebencian."
"Cindy? kenapa dia melakukan hal itu?" tanya Caca penasaran.
"Cindy adalah putri nya Satya," jawab Nael.
Caca syok mendengar hal tersebut, tetapi dia masih terlihat emosi. Dia masih menatap Nael dengan wajah penuh amarah.
"Baik! Cindy telah mengganti surat saya, terus apa surat dari balasan kamu itu di tulis juga oleh Cindy?" tanya Caca.
Nael terdiam lalu dia menundukkan kepala dan menyesal. "Maaf itu saya sendiri yang menulisnya, maaf Carisa saya benar-benar menyesal."
Caca seketika memalingkan wajahnya dan berkata, "Baiklah, setidak nya saya sudah tahu perasaan kamu terhadap saya. Untung saja Cindy mengganti surat tersebut, kalau tidak mungkin saya sudah malu."
Nael bingung dengan maksud Caca. Dia kembali meyakinkan Caca dengan tatapan yang serius.
"Ingat Ca, tidak penting apa isi dari surat kamu itu. Saya cuma ingin mengutarakan perasaan saya dengan jujur. Kalau saya mencintai mu Carisa."
Caca masih tidak percaya dengan ucapan Nael dia hanya diam tidak mau berbicara, tetapi Nael masih terus berusaha meyakinkan Caca.
"Iya Carisa, saya berkata dengan jujur. Seharusnya saya menyampaikan perasaan ini setelah pulang dari rumah sakit, tetapi tidak sempat karena kamu sudah keburu pergi."
"Bagaimana dengan kamu Carisa? apa kamu mau menerima saya?" tanya Nael dan melihat wajah Caca namun Caca hanya terdiam.
"Tidak apa, kamu bisa memberikan jawaban di lain waktu."
Nael kemudian memberikan sebuah kecupan lembut di kening Caca dan memeluk nya dengan erat, entah kenapa Caca tidak bisa menolak hal itu. Caca kemudian masuk ke dalam kamar nya untuk berganti pakaian.
………………………………………………………………………………
Sementara itu.
"Si*al! padahal tinggal sedikit lagi rencana kita berhasil. Ini semua gara-gara kamu Sony! harusnya kamu lebih bersabar, kamu bisa menikmati tubuh Caca setelah kita berhasil! dasar bodoh!"bentak Satya dan memarahi Sony.
Sony terlihat kesal dan terlihat mengusap wajah nya yang lebam karena menerima pukulan dari Nael dan juga Ahmad.
"Maaf Pah. Sony hilang kendali, Sony sangat bernafsu jika melihat Caca. Ah padahal tinggal sedikit lagi Caca akan menjadi milik Sony. Itu semua gara-gara Nael, dia mengacaukan segala nya."
Satya terlihat geram, gigi atas dan bawah nya mengancing kuat. Lalu mengeraskan kepalan tangannya.
"Nael dan Heru. Tunggu saja belasan dari Satya si kejam ini!"
"Bos kita hampir sampai!" ucap sang supir.
__ADS_1
"Bagus. Kita akan atur rencana kembali, sementara itu Papa ingin beristirahat sejenak."
Bersambung.