Dandelion Kecil

Dandelion Kecil
Bab 72. Isi hati Caca.


__ADS_3

Sementara itu Satya menemui seseorang untuk membantunya melepaskan Sony. Dia menyuap para petinggi kepolisian dan juga pengacara serta hakim agar melepaskan Sony atau setidaknya mengurangi masa tahanan putranya itu.


…………………………………………………………………………………


Di kamar Nael.


Pada tengah malam Caca mengingau, ingatan tentang kejadian tadi dengan Sony membuatnya ketakutan kembali. Caca menangis dan tak terasa kepalanya bergerak kesana kesini, kedua tangannya mengepal dengan kuat hingga kakinya ikut bergerak menendang secara bergantian.


"Tidak ... tolong ... jangan ... hiks ...!"


Caca mengingau dengan mata yang masih tertutup dia selalu mengatakan hal seperti itu dengan berulang kali.


***


Nael terbangun dari tidurnya karena mendengar suara Caca yang sedang mengingau, dengan mata yang masih menyipit karena rasa kantuknya dia melihat Caca yang sudah mulai tersadar dan bergerak.


Nael sontak turun dari sofanya dan bergegas pindah ke kasur untuk menghampiri Caca yang sedang mengingau karena ketakutan. Nael duduk disamping Caca kemudian mencoba membangunkan Caca dengan menepuk-nepuk lembut wajah Caca.


"Carisa, bangun lah. Kamu kenapa? jangan takut, kamu sudah aman."


Nael menggenggam tangan Caca yang masih saja tak berhenti bergerak sesekali mengusap kepala Caca. Nael pun bingung kenapa Caca bisa mengingau hebat seperti ini.


Sedangkan didalam mimpinya Caca, Sony kembali berusaha menggagahinya dan Sony berhasil merebut kehormatan Caca hingga akhirnya dia menjadi milik Sony seutuhnya.


Caca menangis terisak-isak hingga dadanya terasa sangat sesak sekali, diapun mengeluarkan keringat disekujur tubuhnya dan mengingau tanpa henti.


"Tidak ... jangan ... hiks ...."


Hingga akhirnya dia berteriak dengan suara keras dan mulai terbangun.


"Ah Tidaakk!" Caca lalu membuka matanya dan duduk secara tiba-tiba.


Nafasnya tersengal-sengal hingga dadanya naik turun mengatur nafas yang terasa sesak. Keringat mulai membasahi seluruh tubuhnya. Caca menangis kembali dan mulai melihat kesekeliling kamar yang nampak asing baginya, dia lalu duduk dengan memeluk kedua lututnya dan menjauhi siapapun yang berada di dekatnya.


"Jangan! jangan mendekat Sony, jangan!" ucap Caca sambil mengeser tubuhnya menjauhi Nael.


Nael menjadi bingung dan juga serba salah, Nael kembali mendekati Caca lalu berusaha menenangkan nya dan dengan lembut berkata kepada Caca, "Carisa ini saya Nael, bukan Sony."


Caca masih menyembunyikan wajah nya dan tak mau melihat siapapun. Trauma kembali menyerang kepada nya sedangkan Nael merasa sedih dengan keadaan Caca yang sedang ketakutan seperti itu diapun mulai mendekati Caca dengan perlahan dan membujuk Caca untuk melihat dirinya.


"Lihat lah Carisa, ini saya Nael bukan Sony," ucap Nael dan memeluk Caca yang bergetar hebat.


Caca menangis kembali dan berkata dengan suara yang lirih dan terbata-bata, "So..ny ... jang..an ... hiks!"


Nael lalu pindah untuk duduk dihadapan Caca dan meraih wajah Caca dengan lembut lalu mengarahkan Caca untuk melihat wajahnya dengan seksama, Nael kemudian tersenyum dan berkata sekali lagi kepadanya, "Bukalah matamu Carisa, lihatlah ini aku Nael!"


Caca perlahan membuka kedua matanya lalu mulai mengerakkan bola mata nya dan berusaha melihat dengan jelas pria yang sedang berada dihadapannya itu hingga dia tersadar dan mulai berbicara.


"Nael?" tanya Caca lirih.


Nael mengangguk dengan tangan yang masih memegang wajah Caca.


"Nael benarkah itu kamu, bukan Sony?" tanya Caca memastikan kembali.

__ADS_1


"Iya ini aku Carisa!"


"Hiks ... hiks ... Nael ... hiks! ... Nael!" Caca menangis histeris lalu Nael memeluk Caca dengan erat.


"Sony dia ... dia ingin mengambil semuanya dari ku, dia mencoba menodaiku ... hiks!" Caca menangis dipelukan Nael.


"Bahkan dia juga berhasil merampas ciuman dari ku, dia memperlakukan ku dengan sangat kasar. Hiks ... Sony juga sangat senang sekali mempermainkan diriku ... dia malah menertawakanku dan dia ..." Caca tak sanggup melanjutkan nya kembali.


Nael kembali geram kepada Sony ketika Caca menceritakan semua yang dialami olehnya, diapun mendengus kesal dan menghela nafas lalu berkata, "Sudah! jangan di teruskan, yang terpenting bagiku kamu sudah aman dan tak terjadi apa-apa denganmu."


Nael lalu menyusap bahu Caca untuk menenangkannya sedangkan Caca hanya menangis sesunggukkan di pelukan Nael. Caca juga mengenggam dan meremas baju Nael dengan sangat kuat, betapa Caca sangat ketakutan dan sedih ketika dia mengingat dan mengalami kejadian yang mengerikan tadi saat menimpah dirinya.


Nael menunggu sampai Caca kembali tenang dengan terus memeluknya dan sesekali mencium puncak kepala Caca dan setelah Caca berhasil tenang, Nael lalu melepaskan pelukannya dan memberikan Caca segelas air minum.


"Terima kasih." Caca kembali duduk lalu minum dan memberikan kembali gelas tersebut kepada Nael.


Nael tersenyum dan kembali mendekati Caca dan duduk disampingnya, Nael menatapi wajah Caca yang begitu datar dan tertekan, diam membisu seperti anak kecil terkena sawan bengong saja.


"Kamu ingin sesuatu Carisa?" tanya Nael mencoba menghiburnya.


Caca hanya menggelengkan kepala nya. Nael lalu mencari cara agar Caca tidak diam saja seperti patung.


"Lihat gara-gara tangisan mu itu baju ku jadi basah begini. Lihat ini air mata dan lendir hidung mu itu ada dimana mana." Nael belagak jijik dan melirik Caca tapi dia masih diam.


Nael menghela nafas, sepertinya dia tidak bisa berlagak romantis seperti Ahmad yang pandai merayu wanita Nael pun akhirnya menyerah, "Baiklah aku mau ganti baju dulu."


Nael lalu bangkit dari tempat tidurnya tetapi saat berbalik dan menurunkan kaki nya, Caca menggenggam tangan Nael dan berkata, "Jangan pergi."


"Jangan pergi," ucap Caca sekali lagi.


Nael mengusap air mata Caca dan membalas ucapan Caca, "Tenang aku tidak akan pergi kemana-mana, aku akan tetap disini menemanimu Carisa."


"Bukan itu maksudku Nael ... maksudku itu ... janganlah pergi dari hatiku." Caca lalu menunduk dia menyampaikan semua isi hati nya, keluh kesah dan semua perasaan nya kepada Nael, betapa takutnya dia saat berjuang mempertahankan semua nya dari Sony dan itu dilakukan semua karena Nael bagaimana Caca berjuang keras dan bertahan karena tak rela jika Sony sampai berhasil mendapatkannya.


Nael yang mendengar isi hati Caca langsung memeluk Caca dengan begitu erat, dia senang Caca menyampaikan semua isi hatinya dan juga perasaannya.


"Jadi kamu bertahan dari Sony hanya demi diriku?" tanya Nael.


Caca mengangguk dia hanya merasa lega setelah menyampaikan semua isi hatinya kepada Nael, sementara Nael hatinya sedang berbunga-bunga dia tersenyum bahagia begitu Caca memeluk nya dengan erat.


"Terima kasih karena telah datang dan menyelamatkan ku," ucap Caca sambil melepas pelukannya.


Nael kemudian mengambil sesuatu dari laci meja nya dan memegang tangan Caca lalu Nael memberikan Caca sesuatu.


Caca melihat cincin yang pernah dipakai di jari manis Sonia. Caca lalu menatap wajah Nael yang sedang tersenyum ke arahnya, Caca tak mengerti dengan maksud dari Nael lalu Caca mulai bertanya kepada Nael, "Apa ini? bukan kah ini cincin pertunangan mu dan Sonia?"


Nael lalu tersenyum dan menjawab pertanyaan Caca, "Ya sekarang Cincin ini milikmu, karena cincin ini memanglah milikmu."


Caca tak mengerti maksud dari Nael kenapa dia melakukan itu kepada Sonia, kenapa dia memutuskan pertunangan nya dengan Sonia.


Nael lalu menjelaskan kepada Caca tentang status pertunangannya dengan Sonia hanya lah sandiwara dan menceritakan kepada Caca bagaimana Sonia telah mengembalikan cincin tersebut kepada Nael.


"Kamu tahu, pertunangan ku dengan Sonia hanyalah pura-pura. Maaf kami semua telah menyembunyikan rahasia ini dari mu, itu dilakukan karena mereka mencemaskan ancaman dari Satya yang ingin menggagalkan pernikahan Peter dan Valen. Satya juga telah mengancam Papa akan melukaiku jika aku mempunyai hubungan dengan mu."

__ADS_1


"Jadi kalian semua telah membohongiku?" tanya Caca sambil melihat Cincin tersebut.


Nael menengok ke Caca dan meminta maaf berkali-kali. Caca sedih dia kemudian menumpahkan isi hatinya kembali saat pertunangan Sonia dan Nael berlangsung, betapa hancur dan terluka hatinya saat itu terjadi tepat dihadapannya, bahkan dia telah berjanji pada dirinya akan melupakan Nael dan berusaha untuk tetap tegar.


Nael mendengarkan semua keluh kesah Caca kepadanya lalu meminta maaf kembali kepada Caca dan membuat janji kembali kalau dirinya tidak akan pernah meninggalkan Caca.


"Maaf Carisa, itu tidak akan terjadi kembali dan sekarang maukah kamu menerima hubungan ini?" tanya Nael dengan wajah yang penuh keyakinan dan keseriusan.


"Maukah kamu menjadi tunanganku?" tanya Nael kembali dengan penuh harap.


Caca tak bisa menjawab dan terdiam sejenak sementara itu Nael masih dengan sabar menunggu jawaban dari Caca hingga matanya kembali mengantuk dan hingga akhirnya Caca mulai menjawab, "Baiklah aku mau menjadi tunangan mu Nael."


Caca menatap wajah Nael dan tersenyum sedangkan Nael jangan ditanya lagi dia begitu bahagia mendengar jawaban dari kekasihnya itu dan tak sadar dia langsung memeluk dan mencium gemas bibir ranum dan mungil Caca.


"Cup ... muach!"


Caca yang terkejut, refleks meninju perut Nael dengan sekuat tenaga.


"Bug!"


"Aw!"


"Ah maaf saya tidak sengaja."


"Akh sakit sekali!" Nael berguling kesana-kesini di atas kasurnya.


"Maaf ... maaf!" Caca mulai panik mendengar dan melihat Nael yang sedang kesakitan seperti itu.


Nael kemudian melirik Caca yang mulai memasang wajah paniknya yang berusaha meminta maaf kepada Nael. Caca memegang tubuh Nael dan meminta maaf kembali.


"Maaf mana yang sakit? saya tidak sengaja."


"Disini!" Nael menunjuk-nunjuk perutnya.


Caca mendekat ke arah Nael dan dengan sigap Nael langsung menarik tubuh Caca agar terjatuh diatas tubuhnya dan segera mendekapnya dengan lembut dan begitu erat sekali hingga Caca syok dengan perlakuan Nael.


"Maaf sayang, aku tidak apa-apa kok," ucap Nael menatap wajah Caca yang berada di atasnya.


Sedangkan Caca hanya terdiam melihat Nael yang begitu dekat dengannya, wajah Caca seketika memerah karena malu. Caca berusaha bangkit dan menjauh dari Nael tetapi Nael tetap menahan tubuh Caca agar tidak pergi kemana-mana.


"Carisa."


"Hem."


"Tolong biarkan kita tidur seperti ini," ucap Nael lalu memeluk Caca seperti bantal gulingnya. Tak lama kemudian Nael memejamkan kedua matanya dan tertidur.


Sementara itu Caca tak bisa bergerak dia tak bisa jika tidur seperti itu, tetapi rasa lelah dan mengantuk yang menerjang dirinya hingga tak tersadar dia pun ikut tertidur dengan kepala yang bersandar diatas dada Nael.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2