
Beberapa saat kemudian Nael berhasil menenangkan amarah Caca, mereka lalu berkumpul bersama. Karena hari sudah malam, Pak Heru dan Pak Tris akan bermalam di Vila sekitar desa tersebut dan akan pulang ke kota pada besok pagi.
Ahmad dan Nael pergi ke Vila bersama Pak Tris dan Papa Heru dan tidak lupa berpamitan kepada keluarga Caca dan berterima kasih atas bantuannya.
***
Nenek melihat para penjaga Caca yang babak belur, dia sedikit kesal karena penjaga tersebut sangat lah lemah. Nenek bermaksud akan mengajari mereka sedikit ilmu bela diri yang biasa dia gunakan untuk menghajar musuh.
Nenek mengingat Burhan putra tertua nya yang telah meninggal, Nenek pun jadi bersedih. Burhan adalah Putra terbaik yang di miliki oleh Nenek, karena kehebatannya dalam bela diri.
………………………………………………………………………………
Keesokan Harinya
Nenek bangun pagi sekali, dia kemudian berjalan menghampiri para penjaga yang masih saja tertidur pulas.
"Bangun! bangun semua nya!" bentak Nenek sambil memukul bokong para penjaga.
Para penjaga kemudian terbangun dengan sedikit mengerjapkan kelopak mata nya dan mereka syok melihat ada sesosok Nenek-nenek di hadapan mereka, dengan membawa setumpuk buku yang lumayan banyak.
"Dasar payah! bagaimana bisa selamat Tuan kalian kalau penjagaan nya lemah seperti begini hah!" ucap Nenek dengan tegas.
Mereka semua terdiam dan tertunduk malu, mereka menyadari kalau mereka sangat lah lemah dan karena mereka juga Nona muda mereka hampir saja celaka. Mereka kemudian bersedih saat mengingat kejadian kemarin itu dan tidak sedikit dari mereka yang meneteskan air mata.
"Jangan menangis! kalian laki-laki tidak pantas menangis!" bentak Nenek.
Nenek lalu meminta para penjaga tersebut untuk berkumpul dan berbaris rapi lalu memulai memberi sedikit tentang ilmu bela diri.
"Saya akan mengajarkan beberapa teknik membela diri dan cara melindungi seseorang. Mohon kalian semua memperhatikan," ucap Nenek dengan bangganya.
"Baik Nek!" teriak para penjaga serentak.
Nenek kesal dengan apa yang di dengarnya, kemudian Nenek mengayunkan tongkat milik nya lalu menghentakkan ujung tongkat milik nya ke tanah.
"Kurang ajar kalian! kenapa memanggil saya dengan Nenek tua hah! panggil saya Suhu, lebih tepatnya "Suhu Rosalinda."
Para penjaga yang mendengar hal tersebut lantas menahan tawa. Tapi karena mereka menghormati Nenek, mereka lalu menurut dengan apa yang diucapkan oleh Nenek.
"Baik Suhu Rosalinda!" seru mereka bersemangat.
"Terima kasih."
***
Kemudian Nenek berjalan tergopoh-gopoh mendekati salah satu penjaga Caca.
"Itu siapa namanya? yang paling muda, tinggi, tampang lumayan sini dekat saya!" teriak Nenek memanggil seseorang.
"Iya Nek! eh maaf maksud saya Suhu. Saya Sandy." Lalu Sandy mendekati Nenek.
"Sandy!" teriak Nenek.
"Ambil tumpukan buku itu lalu bawa kemari dan tolong bacakan juga satu persatu judul buku nya. Saya lupa judul pada buku nya, penglihatan saya juga kurang baik."
"Tolong yah nak muda yang ganteng," kata Nenek dengan tatapan genit. (Bagian yang lumayan aja kupingnya normal, hihihi).
Sandy lalu menuruti kata-kata Nenek. Dia kemudian membantu nenek untuk mencari buku yang di maksud oleh Nenek. Lalu Sandy membacakan nya untuk Nenek.
"BUKU RAHASIA MELANGSINGKAN DIRI" , "CARA JITU MENGGAET BERONDONG", "RESEP AWET MUDA", "TUTORIAL MEMBUAT BOM" (hah?), "JURUS LARI SERIBU BAYANGAN", "JURUS LARI DARI KENYATAAN."
"Bukan! bukan buku itu, coba cari yang lainnya!" kata Nenek menggelengkan kepala nya.
__ADS_1
Sandy menurut, dia mengambil buku yang lainnya.
"JURUS BELA DIRI AMPUH TIADA TANDINGANNYA!"
"Nah buku yang itu, bacakan tolong!" ucap Nenek.
Sandy membuka buku tersebut, lalu mulai membacakannya. Nenek memejamkan kedua matanya lalu menghirup udara sekitarnya dengan dalam-dalam, kemudian mulai mengajari mereka bela diri.
Semua orang yang melihat Nenek sontak berdecak kagum bahkan ada yang sampai meneteskan air mata nya dengan kehebatan sang Nenek. Pantas saja Nenek dipanggil "SUHU" karena kehebatan nya dan itu semua tidak diragukan lagi.
***
Caca dan Ibu terbangun mendengar ada suara ribut-ribut bersemangat di halaman depan rumahnya. Caca senang melihat Nenek dan para penjaga yang sedang berlatih bela diri dengan bersemangat.
Tak lama kemudian latihan mereka terhenti karena Pinggang Nenek tiba-tiba encok. Nenek pun menjerit kesakitan.
"Wadau! sakit pinggang saya, aduh tolong!" teriak Nenek sambil memegang pinggangnya.
Mereka semua sontak tertawa dan segera membawa Nenek untuk beristirahat. Caca tertawa geli melihat tingkah Nenek. Nenek kemudian duduk dengan di tuntun oleh para penjaga.
Nenek kemudian memberikan buku tersebut untuk di pelajari.
"Saya sudah tua, sudah tidak kuat lama-lama bergerak, ini buku kalian bawa. Terus di foto copy dan di praktekkan ya, untuk nanti di kota," kata Nenek sambil bersandar di bahu Sandy.
Mereka terharu dengan kebaikan sang Nenek, mereka juga berjanji akan berlatih dan menjadi lebih baik. Mereka juga tak lupa mengucapkan terima kasih kepada suhu nya tersebut.
"Siap! Suhu Rosalinda! terima kasih banyak!" teriak para penjaga sambil menundukkan badan.
***
Caca masih melanjutkan tawa nya membuat para penjaga menoleh ke arah Nona mudanya itu. Mereka senang melihat Nona Muda nya kembali tersenyum, mereka berjanji kepada Caca agar menjadi lebih baik dan kejadian serupa tidak akan terulang kembali.
Caca terharu melihat para penjaga nya yang begitu setia dan menghormati nya. Caca tak lupa mengucapkan terima kasih kepada mereka semua.
***
Semua penjaga akhirnya bubar dan melakukan tugasnya kembali menjaga keamanan sekitar.
Caca kemudian membawa kan Nenek obat sakit pinggang dan kemudian tertawa geli melihat Nenek yang genit sambil menahan sakit.
Tak lama kemudian Paman Barhan datang menjemput Nenek untuk pulang ke rumah. Mereka meledek dan menertawakan Nenek yang terkena encok karena terlalu bersemangat melatih bela diri.
Sebelum Nenek pulang kerumah dia memberikan buku yang cocok untuk Caca pelajari nanti.
"Titik kelemahan laki laki." dan "Jurus melarikan diri."
"Ini buku buat kamu Caca, jangan lupa di pelajari ya," kata Nenek sambil see u good bye dengan semua para penjaga lelaki nya Caca.
"Terima kasih Nek," balas Caca.
***
Nael datang dan melihat Caca dari kejauhan. Nael senang karena Caca sudah terlihat ceria dan tersenyum kembali. Nael lalu menghampiri Caca dan Ahmad juga mengikuti Nael dibelakang nya.
Nael menyapa dan memberi salam kepada semua orang termasuk Caca. "Pagi semua nya, pagi Carisa."
Caca menjawab salam dari Nael, "Pagi, Pak Nael."
Caca kemudian tersenyum malu mengingat Nael adalah jodohnya. Nael lalu berjalan menghampiri Caca dan tersenyum lembut kepada Caca.
"Carisa."
__ADS_1
Caca lalu menatap wajah Nael dengan sedikit gugup.
"Bikinin saya kopi ya," ucap Nael dan tersenyum.
Caca membalas senyuman Nael, dia bergegas menuju dapur untuk membuat kopi dan tak lupa juga membuatkan kopi untuk Ahmad.
Ibu melihat Nael dan Ahmad yang datang dan menyuruh mereka untuk masuk ke dalam.
"Eh Nael, Ahmad. Sini masuk, tumben pagi-pagi sudah datang? mana Pak Tris dan Pak Heru?" tanya Ibu sambil memasak.
"Papa sama Pak Tris sudah jalan duluan di jemput sama Pak Budiman tadi. Ada urusan katanya," jawab Nael sambil menyeruput kopi nya.
'Oh, terus kamu kenapa belum balik?" tanya Ibu kembali.
Nael menggaruk kepalanya yang tak gatal dan melirik Caca. Caca juga melirik Nael, mereka jadi saling melirik dan tersenyum sambil menundukkan kepala.
Ibu melihat perilaku mereka yang seperti itu dan mulai menggoda mereka. Wajah mereka berdua seketika memerah karena tersipu malu. Lalu Nael memberanikan diri bertanya kepada Ibu.
"Ya Bu. Sebenarnya saya mau ajak Caca kembali ke kota bersama dengan Ibu dan Handi. Bagaimana Bu? Apa Ibu mau ikut?" tanya Nael.
"Ibu nggak bisa ikut Nael. Handi kan sudah sekolah di sini, baru juga masuk masa pindah lagi. Di tambah Nenek juga suka gampang sakit."
Nael mengerti, itu berarti Caca juga tidak akan bisa ikut bersama nya ke kota. Ibu melihat wajah Nael yang terlihat murung. Ibu mengerti, Nael menginginkan Caca untuk ikut bersama nya.
Tak lama kemudian makanan sudah tersaji dihadapan mereka lalu mereka kemudian sarapan bersama. Ibu melihat Caca dan Nael yang tak bersemangat, akhirnya Ibu mengijinkan Caca untuk ikut bersama dengan Nael.
"Ca. Mending kamu ikut ke kota, disana kamu bisa belajar atau kuliah dan bisa bekerja juga kan. Ibu tahu kamu pasti ingin ikut ke sana kan? banyak kenangan kamu disana, teman-teman kamu juga."
Caca terharu mendengar ucapan Ibu, dia lalu mengingat semua kenangan tersebut. Kenangan manis bersama dengan teman dan kenangan yang lainnya.
***
Akhirnya setelah berdebat lama dengan diri nya sendiri Caca memantapkan hatinya untuk ikut Nael ke kota. Dia akan tinggal di komplek perumahannya yang dulu. Di sana Caca akan di temani oleh Adik dari Ibu nya.
"Hati-hati ya Ca, jaga diri kamu baik-baik. Nael jaga Caca ya," kata Ibu berpesan sambil menangis.
"Ya Bu Caca akan jaga diri." Caca lalu memeluk Ibunya.
"Ya Bu, saya juga akan menjaga Carisa."
Nael tersenyum bahagia karena Caca akan ikut bersama nya ke kota. Mereka kemudian masuk ke mobil dan pergi menuju Kota tujuan.
………………………………………………………………………………
Sementara itu di mobil yang berbeda, Pak Tris dan Pak Heru sedang membicarakan Nael dan Caca.
"Tris, saya senang Nael dan Caca sudah mengetahui tentang perjodohan mereka. Saya juga melihat Nael terlihat senang mendengar hal itu."
"Tetapi Tris, selain tanggung jawab saya kepada Caca, tetapi saya juga seorang Ayah. Saya sangat mencemaskan keselamatan Nael. Apa yang harus kita lakukan Tris?" tanya Pak Heru terlihat cemas.
"Kita tidak bisa menebak apa yang akan terjadi pada hari esok Heru, lebih baik kita menjalani saja dahulu. Sekalian kita akan merencana kan sesuatu untuk keselamatan mereka berdua," jawab Pak Tris.
"Satya dan kedua anak nya akan membuat hidup Caca dan Nael menjadi tidak tenang, kita harus rahasia kan identitas Nael sebagai jodohnya Caca dan Caca juga harus melakukan penyamaran kembali," ucap Pak Heru.
"Tetapi Heru, itu akan membuat mereka bersedih, karena mereka harus terpisah kembali."
"Demi keselamatan mereka, kita harus menunggu waktu yang tepat untuk menyatukan mereka. Setidak nya sampai Caca dewasa, agar Caca bisa sah secara hukum mendapatkan Hak waris dari Djuanda Ayah nya dan menunggu Nael telah siap memegang tanggung jawab perusahaan, oleh karena itu mereka harus banyak bersabar."
Pak Tris lalu terdiam, dia juga berusaha untuk mengerti. Tak lama kemudian mobil mereka pun melesat jauh hingga memasuki Kota.
*
__ADS_1
Bersambung.