
Lista dan Dewi pergi menuju ke ruangan Pak Tris untuk memberikan bukti rekaman suara yang mereka telah rekam sebelumnya, sesampainya disana mereka tidak menemukan Pak Tris.
"Mba Dewi, pak Tris nggak ada di ruangannya."
"Oiya ini kan lagi istirahat Lis, mungkin dia lagi ada di mess nya."
"Tunggu Mba. Mending kita ke kantin dulu ya makan. Laper takut nggak kuat jalan," kata Lista sambil mengelus perut buncitnya.
"Ishh dasar! ya sudah, kita makan dulu. Handphone kamu mana? jangan lupa di simpen baik-baik."
"Tenang itu mah aman terkendali."
***
Sesampainya dikantin mereka kemudian makan, Teh Mul yang melihat Lista dan Mba Dewi langsung menghampiri.
"Lis, Dewi mana Cindy? akhir-akhir ini jarang liat makan bareng?" tanya Teh Mul.
"Iya Mul. Kayaknya dia lagi sibuk dengan sesuatu," kata Mba Dewi.
Dewi kemudian menceritakan kepada Mul tentang apa yang dia dengar tadi mengenai Cindy.
"Mul kamu tahu nggak si Cindy itu ternyata penyusup yang di beritahu oleh Ahmad tadi," kata Dewi dengan suara yang pelan.
"Masa sih! kok bisa? berarti dia orang jahat donk?" kata Mul mengikuti Dewi berbicara pelan.
Beberapa saat kemudian terlihat Cindy masuk ke dalam kantin. Lista seketika gelagapan melihat Cindy datang menghampiri mereka yang sedang membicarakan dirinya. Lista lalu menyenggol bahu Dewi tapi mereka masih aja mengobrol mengenai Cindy.
"Siapa Teh yang orang jahat?" tanya Cindy.
Mul dan Mba Dewi terperanjat kaget, sedangkan Lista sudah panas dingin dengan kehadiran Cindy sejak tadi. Alhasil mereka menjawab dengan sebisa nya.
"Eh! anu itu! anu jahat. Eh, bukan maksud teteh Ahmad jahat!" kata Mul kehabisan ide.
Lista dan Dewi bercucuran keringat mendengar pertanyaan Cindy yang mendadak seperti itu.
"Ahmad jahat kenapa teh?" tanya Cindy dan duduk disamping Mul.
Mul kemudian berlagak menangis
"Huuhuuu. Kamu tahu Caca teman baik kita kan? masa Ahmad bilang Caca orang Jahat. Caca kan baik masa dibilang jahat. Ya Ahmad jadi jahat, iya kan?" kata Mul berpura-pura sedih.
Ah jawaban macam apa itu berlibet sekali sampai susah dipahaminya. Kemudian Lista mengganti topik pembicaraan.
"Eh Cindy. Elo habis dari mana? tadi kita cari elo mau ajak makan, tapi elo kok nggak ada di ruangan sih!" tanya Lista sambil mengelap keringat nya.
"Oh itu tadi saya habis ke toilet, biasa lah."
"Oh, begitu."
"Eh kita belom pesen makanan nih! Bu, pesen mie goreng ya. Telornya diceplok, saos nya tambahin satu aja, pakein cabe potong rawit 5 biji tapi jangan pedes-pedes ya Bu. Minum nya es teh manis, batu es nya banyakin, tapi jangan dingin-dingin ya Bu," kata Lista memesan makanan.
(Ah pesenan macam apa itu.)
"Beres, Neng!"
"Itu pesenan apa kereta? Hahaha. Pesenan nya kayak nggak ada logika ya si Lista!" kata dewi tertawa.
Mereka pun tertawa.
__ADS_1
***
Jam masuk telah berbunyi, mereka kemudian kembali bekerja ke tempat masing masing. Mba Dewi dan Lista menunggu Pak Tris masuk ke kantor sambil berjalan mondar mandir.
lima menit kemudian Pak Tris datang. Beruntunglah dia tidak seruangan dengan Cindy, jadi mereka bisa langsung menyerahkan bukti rekaman tersebut tanpa ketahuan Cindy.
Mereka kemudian masuk ke ruangan Pak Tris dan menengok ke kiri kanan sebelum akhirnya mengunci pintu, seperti seorang penjahat yang sedang menculik kakek-kakek.
"Ada apa ini? kenapa pintu nya di kunci? kalian berdua kenapa liat saya dengan muka seperti itu?" tanya Pak Tris.
"Pak, Pak sini deh Pak denger ni rekaman suara dari HP saya," kata Lista.
"Rekaman apa? saya lagi sibuk." Pak Tris lalu menyingkirkan tangan Lista.
"Ya pokoknya denger dulu, Bapak diem aja dulu, ih kenapa sih susah banget dibilanginnya." Lista mengoceh.
"Ih Lista! nggak sopan sama orang tua," kata Mba Dewi.
"Ya sudah ada apa? cepat!"
Lista kemudian memutar rekaman tersebut, dan mulai terdengar suara yang mereka dengar tadi.
"apa ada kabar mengenai Caca?" suara Cindy
"belum ada Non, info mata mata kita, Caca sudah meninggalkan kota ini"
"apa kalian mengikuti Caca pergi ke mana?"
"kami sudah berusaha mengikuti Caca, tetapi penjagaan mereka terlalu ketat, hingga kita kehilangan jejak Caca"
"dasar bodoh!, lalu bagaimana dengan bos besar? apa dia sudah tau kabar ini?"
"belum non, yang tahu kabar ini baru bos muda"
"baik non"
"apa rencana kamu sekarang Cindy?"
"krucuk! krucuk!" suara asing terekam.
"Suara apa itu Lis?" Pak Tris bertanya.
"Ah maaf suara perut Lista ternyata ke rekam Pak, aduh jadi malu."
Pak Tris menggelengkan kepala nya. Mereka kemudian melanjutkan kembali memutar rekaman tersebut.
"Caca sudah pergi dari sini, kita lupakan dulu masalah dia, target kita sekarang adalah merebut perusahaan ini terlebih dahulu, kita akan menaruh lebih banyak lagi orang orang kepercayaan kita dengan menyamar menjadi karyawan di sini, Caca sudah di pecat, Pak Nael akan menjadi karyawan baru lagi, om harus mencari orang yang dapat di andalkan, nanti kita akan membuat karyawan lama di sini di pecat semua satu persatu dan mengganti mereka dengan orang orang kepercayaan kita, dan itu adalah tugas om"
"baik lah Cindy, serahkan saja semua sama om"
"Tamat!" ucap Lista setelah rekamannya habis.
Pak Tris tidak menyangka, ternyata Cindy sangat berbahaya, wajah cantiknya tak selaras dengan hatinya.
"Terima kasih Lista, Dewi saya setidaknya menemukan sebuah petunjuk dari semua ini, baru 2 orang yang terungkap, sisa 1 lagi yang harus kita cari. Saya harus segera memberitahu Pak Heru tentang masalah ini."
"Boleh saya pinjam HP kamu untuk membawa rekamannya?" tanya Pak Tris.
"Baik, Pak. Tapi saya hapus dulu bagian suara perut saya yang kerekam ya Pak. Malu hihi."
__ADS_1
Lista kemudian mengedit rekamannya. selesai mengedit Lista salah menekan tombol, harusnya tombol simpan, malah tombol hapus.
"Jah kehapus Mba. Pak rekamannya kehapus bagaimana ini?" kata Lista panik.
"lu sih kebanyakan gaya!"
"Maaf! maaf!"
Pak Tris mengeleng-geleng kepala melihat Lista yang ceroboh. Pak Tris pun menjuluki mereka dengan sebutan "Mata Mata Amatir"
"Tidak apa Lista. Terima kasih banyak ya," Kata Pak Tris sambil bergegas ke ruang Pak Heru.
***
Pak Tris masuk ke ruang Pak Heru, disana juga ada Nael yang sedang membahas sesuatu tentang laporan produksi.
"Heru."
"Iya Tris. Sini masuk, ada apa?"
Pak Tris menengok ke kiri dan ke kanan lalu dia masuk dan mengunci pintu agar tidak ada yang mengintip pembicaraan mereka.
"Heru saya punya berita penting, masalah penyusup diperusahaan ini," kata Pak Tris.
"Katakan Tris. Apa yang kamu tahu?" tanya Pak Heru dengan serius.
"Cindy dan Tono adalah penyusup tersebut, tinggal 1 nama lagi yang belum kita ketahui."
"Cindy?" tanya Nael.
"Apa kamu yakin Tris? kamu tahu dari mana penyusup itu adalah mereka?"
"Dari Lista dan Dewi, mereka melihat Cindy yang datang keruang Tono dan berbicara mengenai Caca dan perusahaan ini. Cindy berencana untuk menguasai perusahaan ini dengan cara membuat semua karyawan lama disini dipecat satu persatu dan meminta Tono untuk memasukan orang-orang kepercayaan mereka," kata Pak Tris menjelaskan dengan rinci.
"Kurang ajar! itu kah tujuan para penyusup tersebut datang kesini? untuk menjatuhkan dan merebut perusahaan ini!" kata Heru geram.
"Benar Heru, Lista punya rekamannya saya sudah mendengarkan rekaman tersebut, tetapi rekaman itu terhapus oleh Lista karena kecerobohannya"
Nael terdiam, dia mengingat kembali kejadian saat Caca dimarahi olehnya karena laporan produksi yang salah dan memecatnya karena dituduh merugikan perusahaan. Akhirnya dia mengerti itu adalah ulah Cindy dan bukan kesalahan Caca."
Nael memejamkan mata nya dan dia menyesal telah menyakiti hati Caca dengan kata-kata kasar nya. Nael berdiri dan ingin pergi menemui Cindy.
"Nael, mau kemana kamu?" tanya pak Heru.
"Menemui Cindy Pa!" kata Nael dengan emosi.
"Jangan Nael! duduk! kamu harus tenang, sepertinya Cindy termasuk orang yang pandai dan licik, karena ulahnya dia bisa mengeluarkan Caca dengan mudah." kata Pak Tris menahan Nael.
"Kita juga tidak tahu siapa Cindy sebenarnya. Dari gaya berbicara nya dia sepertinya termasuk orang penting."
"Benar! kita harus sabar dan menyusun rencana terbaik agar kejahatan mereka dapat dibongkar."
Nael pun kembali duduk dan menenangkan emosinya.
"Jadi apa rencana kita selanjutnya Tris?" tanya Heru.
"Kita bersikap biasa dahulu, kita ikuti saja permainannya saya akan meminta tolong teman-teman Caca untuk membantu memata-matai Cindy kembali" jawab Tris.
"Oke! Nael kamu bantu memata-matai mereka juga oke! jangan sampai ada yang curiga, kita masih belum mengetahui 1 nama penyusup itu, jaga ucapan dan sikap!"
__ADS_1
"Baik, Pah." kata Nael menurut.
Bersambung.