
Caca sangat terkejut, ketika mengetahui orang yang telah menganggu nya ada lah Sony.
"Kak, Sony."
"Iya. Ini aku, Sony. Bagaimana, Ca? kamu suka tidak sama aku? besok kita udah nggak bisa ketemu lagi. Caca mau kan jadi pacar aku?" tanya Sony dengan lemah lembut.
Caca hanya terdiam, tidak bisa berkata-kata. Caca masih syok. Sony lalu mendekati Caca dan berusaha memegang tangan Caca.
Caca spontan menghindar agar Sony tak menyentuh tangan nya.
"Maaf. Tapi saya nggak ada perasaan sama Kakak," jawab Caca.
"Kamu nggak usah panggil aku Kakak. Kamu juga nggak usah takut masalah aku di pecat dari sini, itu bukan kesalahan kamu," kata Sony.
"Maaf tapi saya tidak mau, karena saya emang nggak cinta kamu," ucap Caca.
Kemudian Caca berbalik dan berusaha lari. Tetapi Sony berhasil menangkap tangan Caca dan menarik nya untuk masuk ke dalam ruangan kosong tersebut.
"Tolong!" teriak Caca.
Karena tempat tersebut begitu sepi, tidak pernah ada orang satu pun yang kesana pada jam tersebut.
Satpam sedang berjaga di belakang gerbang pabrik. Jadi suara Caca tidak terdengar oleh siapa pun.
Nael yang mempunyai firasat akan terjadi sesuatu pun segera kesana mengingat perkataan Mas Eko yang mengatakan bahwa Sony lah penghuni mess belakang situ.
"Tolong!" teriak Caca kembali.
Sony kemudian mendorong Caca ke dalam ruang kosong dan gelap tersebut, dan mengunci nya dari depan. Pintu rusak tersebut terkunci sendiri nya. Sony lalu berlari pergi ketika ada seseorang yang mendekati tempat tersebut.
Caca menangis dan berteriak.
"Tolong buka pintu nya! Kak Sony tolong buka!" teriak Caca sambil menangis dan menggedor gedor pintu kamar itu.
Caca bergetar ketakutan, dia mengingat kejadian masa lalu nya. Caca berusaha menghilangkan perasaan itu dari pikiran nya tetapi sulit sekali, Caca hanya bisa menangis. Handphone nya pun terjatuh saat dia berusaha melawan Sony.
Nael sudah sampai di tempat tersebut, dia melihat tidak ada siapa pun baik Caca maupun Sony. Nael hanya melihat Handphone milik Caca yang berada di tanah.
Kemudian Nael berteriak memanggil nama Caca, tetapi tidak ada balasan. Nael menjadi begitu cemas.
***
Sesampai nya di depan ruang kosong tersebut, Nael melihat pintu dalam keadaan tertutup dan terkunci. Nael mengingat perkataan Mas Eko kalo disini ada ruang kosong bekas kamar mandi yang rusak.
"Jangan-jangan."
"Carisa!" teriak Nael memanggil nama Caca sambil berusaha mendobrak pintu.
Nael hanya mendengar suara tangisan wanita di dalam ruangan tersebut.
Tanpa pikir panjang Nael lalu mendobrak pintu tersebut sekuat tenaga perjuangan nya berhasil, pintu pun terbuka.
"Carisa," suara Nael memanggil.
Nael menyalakan lampu senter di Handphone nya, dan menemukan Caca yang sedang ketakutan sambil menangis di kamar tersebut. Nael kemudian mendekati Caca.
Caca mengangkat kepala nya dan memeluk Nael secara tiba tiba. Nael membiarkan Caca memeluk nya. Nael juga merasakan tubuh Caca gemeteran karena takut, tak lama Caca pun pingsan.
"Carisa! Carisa! hei bangun! bangun!" kata Nael panik sambil menepuk-nepuk pipi Caca.
Nael segera mengangkat tubuh Caca dan menggendong nya lalu membawa Caca ke dalam kantor.
***
Ahmad melihat Bos nya dari kejauhan sedang menggendong seorang gadis. Ahmad kemudian bergegas menghampiri mereka. Mas eko dan karyawan pabrik yang melihat hal itu kemudian juga datang menghampiri Nael dan Caca.
"Ahmad tolong buka kan pintu."
Nael kemudian berlalu begitu saja sambil membawa Caca yang masih pingsan.
"Eko tolong ambil kan minum."
__ADS_1
"Tolong panggil satpam kemari."
Keadaan kantor yang sedang sepi mendadak ramai. Mereka penasaran dengan apa yang terjadi. Satpam yang telah datang berusaha mencegah mereka masuk ke kantor dan memerintahkan untuk bekerja lagi ke pabrik.
Pak Tris yang mendengar Caca pingsan, lalu keluar dari mess nya dan segera menuju ke kantor.
***
Nael meletakan tubuh Caca yang masih pingsan di atas sofa di ruang kerja nya. Tangan Caca masih menggenggam baju Nael seakan akan tak ingin melepaskan nya. Wajah Caca pucat dan air mata terlihat membasahi mata dan pipi nya.
Pak Tris datang dengan wajah cemas.
"Ada apa Nael? kenapa Caca bisa seperti ini?" tanya Pak Tris.
"Tidak tahu, Pak. Saya menemukan Caca di ruang kosong tak terpakai dekat mess belakang," jawab Nael.
"Ruang kosong yang gelap dan rusak itu?" tanya Pak Tris.
Pak Tris terkejut mendengar nya. Pak tris pun mulai berlinang air mata.
"Ya, Tuhan. Cobaan apa lagi yang telah engkau berikan kepada Caca? kasihani lah dia," kata Pak Tris sambil mengelus kepala Caca.
Nael yang melihat itu menjadi keheranan, ada apa sebenar nya.
****
Teh Mul datang ke kantor, dia membawakan minyak kayu putih dan berusaha menghangatkan tangan dan kaki Caca.
Caca masih belum sadarkan diri, tetapi air mata nya masih terus keluar. Nael meninggalkan Caca dengan teh Mul berdua.
Kemudian Nael bertanya kepada Pak Tris mengenai Caca yang takut dengan gelap, dan perhatian Pak Tris kepada Caca.
"Maaf, Pak Tris. Apa Bapak tahu sesuatu tentang Carisa? mengapa dia seperti ini?" tanya Nael penasaran.
Pak Tris ingin menceritakan segala nya, tetapi dia telah berjanji tidak akan memberitahukan kepada siapa-siapa.
"Maaf Nael, saya tidak bisa bercerita kepada siapa pun tentang Caca. Saya sudah berjanji kepada seseorang" jawab Pak Tris.
"Kepada siapa, Pak Tris? saya bingung dengan semua ini, misteri apa yang ada sebenar nya?" tanya Nael yang sangat penasaran.
"Iya,Pak Tris. Tapi alasan nya kenapa?" kata Nael kebingungan.
"Sudah! sudah nanti juga kamu akan tahu. Saya akan telepon Ayah nya Caca untuk datang menjemput nya," kata Pak Tris sambil menepuk bahu Nael.
***
Caca perlahan membuka mata nya, dia terbangun dan memeluk teh Mul yang berada di samping nya, dan menangis dengan keras.
Mendengar Caca menangis. Nael, Ahmad dan Mas Eko langsung masuk kedalam dan melihat keadaan Caca.
"Sabar ya, Ca. Sudah jangan menangis lagi tidak terjadi apa-apa kok," kata teh Mul sambil mengusap-usap tubuh Caca.
Nael kemudian berterima kasih kepada teh Mul yang telah membantu menyadarkan Caca.
Teh Mul lalu permisi pamit bekerja kembali.
"Bruk!"
Teh Mul dan Ahmad bertabrakan.
"Aduh!" teriak Teh Mul.
"Maaf," kata Ahmad.
Ahmad dan teh Mul saling meminta maaf. Ahmad lalu menyingkir dan mempersilahkan Teh Mul untuk jalan terlebih dahulu.
***
Nael melihat Caca yang sedang duduk termenung. Seperti ada beban berat dalam diri nya, tapi dia tidak mengetahui apa itu.
Mas Eko mengantarkan segelas air kepada Caca. Caca pun berterima kasih.
__ADS_1
"Tin tin tin!" suara klakson motor berbunyi.
Ayah Caca sudah datang dan segera masuk untuk menemui Caca dengan wajah yang sedikit cemas.
Caca memeluk Ayah nya sambil menangis, kemudian sang Ayah menenangkan Caca.
"Sudah tenang ada Ayah di sini."
Pak Tris mengajak Ayah Caca untuk berbicara sebentar, entah apa yang mereka bicarakan, tidak ada yang tahu karena pintu di kunci dari dalam.
Nael tidak bisa mendengar pembicaraan mereka.
"Nael tolong temenin Caca sebentar ya," kata Pak Tris.
"Oke, Pak."
Nael menemani Caca di ruang kerja nya, Caca terlihat masih sedih. Nael tidak berani menggangu Caca apalagi menanyakan sesuatu kepada nya.
Tak lama kemudian kepala Satpam pabrik datang dan memberikan laporan.
"Bagaimana, Pak Supri? apa Sony ketemu?" tanya Nael.
"Maaf, Pak Nael. Sony sudah tidak ada di kawasan perusahan ini, tapi sebelum nya ada seorang kayawan kita yang melihat Sony keluar perusahaan lewat gerbang belakang Pak," jawab Pak Supri.
"Oke, Pak. Terima kasih. Beri perintah kepada seluruh Satpam dan penjaga kawasan ini, supaya tidak mengijinkan Sony masuk kembali ke perusahaan ini," kata Nael dengan tegas.
"Dan satu lagi Pak Supri, buat kan Pos penjaga di daerah mess belakang sana, dan tolong betulin juga kamar mandi yang rusak itu ya."
"Baik, Pak. Siap laksanakan!"
Pak Supri segera kembali bekerja menjaga pabrik agar tetap aman.
***
10 menit kemudian Pak Tris dan Ayah Caca keluar dari ruangan. Ayah kemudian mengajak Caca pulang dan berpamitan kepada semua yang ada di sana.
Nael masih panasaran dengan misteri tersebut, ada apa sebenarnya. Nael kemudian berjalan pergi ke arah ruang kosong tadi sendirian, dan mengambil telepon genggam Caca yang tertinggal jatuh di sana.
"Tring tring," suara pesan masuk.
Nael membuka pesan tersebut, banyak sekali pesan yang belum terbaca, dari nomor tanpa nama. Mata nya terbuka lebar membaca pesan tersebut.
"Hai Ca, maaf ya, aku telah mengunci kamu di ruang gelap."
"Aku tahu kamu punya trauma dengan itu, tapi aku terpaksa."
"Besok kita tidak bisa bertemu, tapi aku akan selalu mengawasi mu dari kejauhan."
"Tidak ada yang bisa mengambil kamu dari ku walau itu Pak Nael sekalipun, dia boleh menggambil seragam maupun pekerjaanku, tapi tidak dirimu."
Pak Nael mengingat kembali saat dia datang pertama kali di sini, ternyata seragam yang dia ambil itu adalah punya Sony.
"Nit nit!" suara Handphone low.
Handphone Caca habis baterai. Nael kembali ke kantor sambil membawa handphone milik Caca yang sudah mati.
"Habis dari mana aja Bos?" tanya Ahmad yang dari tadi mencari cari Nael.
"Oh tidak penting, Mad. Beres-beres yuk kita pulang," kata Nael
"Siap, Bos!" kata Ahmad semangat.
Nael meletakan Handphone Caca di lemari meja nya, dan mengembalikan kepada Caca besok.
Ahmad mengendol tas hitam milik Nael. Nael berjalan perlahan keluar dari ruang kerja nya dan melihat meja Caca yang masih menjadi misteri bagi diri nya.
***
Di perjalanan pulang Nael masih bertanya-tanya dalam hati tentang kejadian tersebut.
"Kenapa Sony seperti itu? kenapa? bagaimana dia bisa tahu Caca takut dengan gelap? apa dia tahu sesuatu?" ucap Nael dalam hati.
__ADS_1
Kepala Nael di penuhi pertanyaan-pertanyaan yang masih belum bisa di pecahkan oleh diri nya.
Bersambung.