Dandelion Kecil

Dandelion Kecil
Bab 18. Caca di Pecat


__ADS_3

Caca hanya sedih mendengar perkataan Nael yang memarahi nya. Selalu teringat ucapannya yang begitu marah. Apalagi ketika Nael mengatakan bahwa dia tidak mengerti rasanya kehilangan seorang Ibu dan Nael pun hanya menganggap Caca biasa saja dan bukan siapa-siapa nya.


Dia meminta ijin kepada Pak Tris untuk pulang awal dengan alasan tidak enak badan. Pak Tris yang mengetahui Caca bersedih kemudian mengijinkan Caca untuk pulang cepat.


***


"Tring tring!" Bunyi panggilan masuk dari seluler milik Pak Tris. Dia pun mengangkat nya.


Pak Tris terkejut mendengar berita yang disampaikan oleh seseorang melalui seluler nya. Dia segera menelepon Pak Heru.


"Caca. Kamu lagi tidak enak badan bukan? kamu jangan pulang sendiri ya. Nanti tunggu ayah kamu jemput saja. Kamu ikut saya dulu ya," kata Pak Tris.


"Baik, Pak."


Pak Tris lalu membawa Caca pergi ke suatu tempat yang sepi dan menunggu disana sampai Ayah nya datang.


Tak lama kemudian terlihat Pak Heru dan Pak Budi datang menghampiri Pak Tris.


"Ada apa, Tris?" tanya Pak Heru cemas.


"Tunggu sampai, Burhan (ayah Caca) datang dulu," kata Pak Tris.


Caca sedikit takut dengan muka mereka yang terlihat cemas dan memikirkan sesuatu.


"Budi. Tolong kalo Burhan sudah datang, kamu langsung ajak dia kesini untuk rapat penting. Suruh dia masuk dari pintu belakang dan pastikan tidak ada orang lain yang melihat dia datang ke sini," kata Pak Heru.


"Baik, Pak." Pak Budi lalu menuju keluar menunggu Burhan.


"Mana Caca?" tanya Pak Heru kepada Pak Tris.


"Dia sedang berada di ruang rapat," jawab Pak Tris.


"Oke."


***


Tak lama kemudian Ayah Caca, yaitu Pak Burhan hadir. Dia membawa dua orang bersama nya.


Caca tidak tahu mereka itu siapa, seperti nya itu seorang mata-mata. Kemudian mereka pun masuk. Ayah menyuruh Caca untuk menunggu di depan ruang rapat.


"Caca, sayang. Tunggu di sini ya, kalo bisa jangan ada yang sampai masuk. Nanti habis ini selesai, Ayah antar kamu pulang ya," kata Ayah sambil tersenyum kepada nya.


Caca hanya menurut, entah apa yang mereka diskusi kan. Caca tak bisa mendengar dengan jelas, tetapi Caca berusaha menguping pembicaraan mereka dari balik pintu yang di kunci.


"Apa!" teriak Pak Heru.


"Benar, Pak. Dari info mata-mata kita yang berada di sel tahanan, kalau pak Satya tahun ini akan segera bebas," kata seseorang yang tidak di kenal.


"Bukan kah dia keluar tiga tahun lagi? kenapa dia bisa bebas tahun ini?" tanya Pak Tris.


Caca terkejut, seketika bayangan masa lalu nya kembali muncul, nama tersebut adalah orang yang telah membunuh orang tua kandung nya.


"Dari info mata-mata kita yang berada dilapangan. Kalau identitas Nona Carisa Lie Djuanda (nama asli Caca) juga sudah terbongkar. Mereka telah mengetahui persembunyian Nona Carisa selama ini, dan sudah melakukan pergerakan, dengan meletakan orang kepercayaan nya di perusahaan ini." suara orang tak dikenal.


"Ada yang tahu siapa nama orang-orang tersebut?" tanya Pak Heru.


"Tidak ada yang tahu, Pak. Berkisar tiga orang. Dua pria dan satu orang wanita," suara orang tak dikenal.


"Itu berarti Caca dalam bahaya," suara Pak Burhan.

__ADS_1


"Bukan hanya, Caca. Tapi kita semua juga dalam bahaya. Perusahaan dan keluarga ini. Kita mengetahui sifat jahat Satya, dia pasti akan membalas dendam, karena Djuanda telah menjebloskan dia ke dalam penjara, ditambah lagi mendengar kabar istri nya menjadi gila dan telah mati karena bunuh diri," kata Pak Tris.


"Jangan sampai kejadian belasan tahun lalu terulang kembali. Caca satu-satu nya peninggalan Djuanda (ayah kandung Caca) sahabat kita, kita juga sudah berjanji untuk melindunginya. Caca juga salah satu pewaris tunggal kekayaan sahabat kita, jangan sampai Caca jatuh ke tangan mereka," kata Pak Heru


"Benar, Heru. Kita sudah banyak berhutang budi kepada Djuanda. Saat nya kita melindungi Caca dan membalas kebaikan sahabat kita. Caca masih terlalu muda, dia masih belum siap untuk memimpin perusahaan besar ayah nya. Mengingat juga peninggalan orang tua Caca yang begitu banyak. Caca juga masih muda, dia belum siap untuk menikah dengan jodohnya dia masih sangat rentan akan bahaya," kata Pak Tris.


"Burhan! tolong jaga Caca sekali lagi, jangan ragu menghubungi kami jika terjadi hal yang mencurigakan," kata Pak Heru.


"Jangan khawatir, Pak. Caca sudah seperti anak saya sendiri, saya juga banyak berhutang budi kepada orang tua Caca," kata Ayah Caca.


"Terima kasih."


Tak lama kemudian mereka semua keluar. Caca memeluk Ayah nya.


"Ayah. Apa semua itu benar? apa di..dia si jahat telah keluar?" tanya Caca sambil menangis.


"Tenang, Caca. Ayah akan selalu menjaga kamu," kata Ayah menenangkan Caca.


"Iya, Caca. Kita sudah buat penjagaan ketat disini. Untuk sekarang kamu bersikap biasa saja ya. Kita juga akan mencari siapa orang yang telah menyusup ke dalam sini," kata Pak Tris.


"Oiya. Maaf, saya harus segera pulang saya masih ada acara."


"Baik, Heru."


Caca mengingat hari ini Nael sedang memperingati malam tiga tahun kematian ibu nya. Dia pun kembali sedih mengingatkan perkataan Nael yang telah menyakiti hati nya.


Caca dan Ayah nya pulang ke rumah bersama.


…………………………………………………………………………………


Sementara itu.


"Baik. Sisa nya akan saya bereskan."


Panggilan tersebut berakhir. Cindy pun tertawa, dia senang sekali.


……………………………………………………………………………


Ke esokan harinya.


Caca ke kantor bersama Ayah nya, dia pun menjalani hari seperti biasa. Sebenarnya Caca tidak ingin masuk kerja, tapi dia harus masuk. Karena disini dia bisa aman dan banyak penjagaan untuk Caca.


Setibanya di kantor, diapun segera membuat kopi untuk Nael. Caca mendapat pesan dari Cindy, bahwa dia hari ini sedang sakit jadi tidak masuk bekerja.


Dia juga mendapat pesan dari Pak Tris. kalau Pak Tris dan Pak Heru tidak akan ke kantor, karena akan pergi ke luar kota selama beberapa hari.


***


Caca menuju ruang kerja Nael, terlihat ruangan nya masih kosong. Caca meletakkan kopi di atas meja nya.


Tak lama kemudian Nael datang bersama Ahmad. Caca takut Nael masih memarahinya, dia mengingat amarah nya kemarin. Caca hanya tertunduk takut tak mau bicara.


Nael masuk ke ruangan nya, dia mengambil laporan yang Caca buat kemarin karena dia baru sempat membaca nya hari ini.


Nael terlihat sangat dingin, entah apa yang terjadi, kemudian Nael berteriak memanggil nama Caca.


"Carisa!" teriak Nael.


Caca tersentak kaget, dia juga menjawab dengan gugup, "I..iya, Pak."

__ADS_1


"Kesini kamu! laporan apa ini? kenapa salah semua? kamu ingin membuat perusahaan ini bangkrut, hah? lihat ini lihat! angka yang kamu masukin salah semua!" bentak Nael sambil menunjuk-nunjuk laporan tersebut dengan sangat marah.


Caca mengambil dan melihat laporan nya, dia bingung dengan laporan nya yang telah berubah.


"Tidak, Pak. Laporan ini, saya tidak tau kenapa angka nya bisa berubah, Pak. Saya sudah masukin angkanya dengan benar."


"Lalu kenapa bisa berubah? dan siapa yang merubahnya? komputer kamu di kunci bukan? siapa yang tahu kata kunci nya selain kamu, Cindy? dia masih baru, mana mungkin dia bisa ngerjain dan tahu laporan yang sulit seperti ini!" kata Nael memarahi Caca lagi.


"Memang cuma saya saja yang tau, Pak. Tapi saya berani sumpah, bukan saya yang merubah angka angka itu," kata Caca membela diri.


"Sudah cukup! kesalahan kamu sudah sangat besar sekali, kamu sengaja memalsukan laporan ini agar perusahaan ini bangkrut bukan. Untung laporan ini belum sampai ke Pak Tris maupun Pak Heru. Jika tidak, bisa rugi perusahaan ini," kata Nael sambil melempar laporan tersebut ke wajah Caca.


"Tidak, Pak. Saya --" ucap Caca terputus. Perkataan nya di potong oleh Nael dengan cepat.


"Cukup! saya tidak mau mendengar apa-apa lagi dari kamu. Saya tadi nya ingin meminta maaf karena saya memarahi kamu kemarin, tetapi saya salah, kamu malah ingin balas dendam dengan ingin merugikan perusahaan ini. Saya tidak bisa memaafkan kamu, sekarang kamu saya pecat! kamu boleh pergi dari sini," kata Nael sambil menunjuk pintu keluar.


Caca menahan tangis nya, dia berusaha membela diri.


"Tapi, Pak. Saya tidak berbohong, kenapa saya disalahkan? saya sendiri tidak tau, Pak."


"Bohong atau jujur saya tidak tahu mana yang benar tentang kamu. Yang saya lihat adalah Fakta ini. Keluarga kamu saja saya tidak tahu itu benar atau palsu! mereka seperti pembohong semua!" Nael memaki Caca dengan menghina keluarga nya


Caca kesal dan marah mendengar perkataan bos nya tersebut, dia tak menyangka bos nya tega berkata kasar seperti itu. Apalagi telah berani menghina keluarga nya.


Caca kemudian mendekati Nael, wajahnya memerah karena marah. Sambil menangis Caca melayangkan tangan nya ke wajah Nael.


"PLAK!" suara tamparan yang begitu keras.


Nael terkejut dan menatap Caca. Nael syok Caca berani melakukan itu kepada nya. Caca menampar Nael dengan sangat keras, hingga pipi Nael pun tertanda cap lima jari nya Caca.


"Tolong! kamu jangan menghina keluarga saya. Kamu juga tidak tau apa-apa tentang saya dan juga mereka. Jadi tolong berhenti menghina mereka!" kata Caca sambil menunjuk wajah Nael dengan wajah gusar.


"Kamu ingin saya keluar dari sini bukan. Oke saya akan turuti, mulai sekarang saya tidak akan menginjakan kaki saya lagi disini!" bentak Caca sambil pergi dan menangis.


***


Caca berlari sambil menangis, hati nya sangat hancur, perasaan nya terluka. Mba Dewi dan Lista yang melihat Caca pergi dan menangis pun berusaha menghentikan Caca, tapi usaha mereka gagal.


Mba Dewi dan Lista kaget mendengar Caca berhenti bekerja karena dipecat oleh Nael. Mereka pun bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi dan bagaimana bisa terjadi.


Caca kemudian berlalu tanpa ada yang mengetahui dia pergi kemana. Mba Dewi berusaha menelepon Caca, tapi dia tidak mengangkat nya.


Mba Dewi menelepon Pak Tris, tetapi Pak Tris pun tidak bisa di hubungi. Ternyata Pak Tris berada di dalam pesawat bersama dengan Pak Heru.


Mba Dewi masih berusaha menghubungi seseorang. Dia menelepon ayahnya Caca dan memberi kabar kalo Caca di pecat dan keluar dari kantor ini. Ayah Caca langsung terkejut mendengar hal tersebut.


"Apa! Caca dalam bahaya sekarang."


Telepon terputus. Mba dewi bingung dengan apa yang dikatakan oleh ayahnya Caca.


Ayah Caca segera melesat mencari Caca secepat mungkin, dia khawatir dan mempunyai firasat jika Caca akan berada dalam masalah besar.


***


Nael memerintahkan tidak ada yang boleh menahan Caca untuk tetap berada di sini. Karena keputusan nya sudah bulat.


Nael tidak tahu kalo keputusan nya itu akan berdampak buruk bagi semua nya.


"Oke target sudah terlihat, siap laksanakan!"

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2