Dear Ace

Dear Ace
#99 Mainan


__ADS_3

Josh mengangguk yang artinya dia menyetujui ucapan adiknya itu. Josh tau jika adiknya sudah berbicara seperti itu. pasti dia memang benar - benar sudah merasa nyaman bersama suaminya, hatinya sudah benar - benar terkunci untuk Liam. Josh kemudian menatap langit malam yang terdapat beberapa bintang dan juga sebuah bulan sabit. Seketika Josh teringat mengenai sebuah lambang yang terdapat di cincin nikah Liam.


Ya, di cincin nikah Liam terukir sebuah gambar bulan sabit dan di cincin Jane terukir sebuah gambar matahari. Josh merasa sangat penasaran mengapa keduanya memilih gambar bulan sabit dan matahari di cincin mereka masing - masing. Tidak lama kemudian teriakan dari Ace langsung membuyarkan lamunan Josh. Seorang anak kecil yang berlari ke arahnya dan juga adiknya dengan senyuman lebar yang terukir dibibirnya. Sembari menenteng sebuah paper bag, anak tersebut lalu mendekati Jane dan langsung memeluknya.


Ternyata dia ingin menunjukkan isi di dalam paper bag tersebut kepada Jane, dan dengan senyum sumringahnya dia lalu mengeluarkan sebuah box mobil - mobilan untuk ditunjukkan kepadanya. Bukan hanya satu box saja namun ternyata ada 5-8 box yang sama namun tentunya dengan jenis mobil - mobilan yang berbeda. Ace duduk di depan Jane sembari membuka box tersebut satu - persatu, sedangkan Josh hanya diam mengamati keponakan kecilnya itu.


Dirinya tadi mendengar bahwa Liam hanya akan membelikan satu jenis saja namun ternyata dia membelikan beberapa jenis mobil - mobilan untuk anaknya. Liam memang sangatlah loyal kepada anaknya bahkan dengan istrinya, jadi dia tidak merasa keberatan sama sekali untuk menuruti semua keinginan mereka berdua.


"Eh kenapa kamu membeli banyak sekali mobil - mobilan sayang?" tanya Jane sembari mengusap rambut Ace.


"Karena aku menyukai semuanya eomma, dan daddy berkata bahwa aku bisa membeli semua yang aku inginkan."


"Tapi kamu sudah memiliki terlalu banyak mobil - mobilan, nanti rumah akan semakin berserakan jika kamu memainkan semuanya."


"Hhmmppp, eomma."


"Tidak apa - apa Jane, biarkan saja nanti aku yang akan membereskan semua mainannya jika dia tidak ingin membereskannya."


Liam lalu duduk disamping Jane, dan seketika Jane mencubit perut Liam.


"Aku bilang belikan saja satu namun kamu malah membelikannya sangat banyak," bisik Jane sembari mencubit Liam.


"Hehe masalahnya aku tidak tega dengan ekspresinya yang sangat memelas saat meminta mainan lebih," ucap Liam sembari menggaruk pelipisnya.


"Ckckck dasar," gerutu Jane.


"Eomma, aku tidak hanya membeli mobil - mobilan saja namun membeli sesuatu hal yang lainnya."


"Kamu membeli apalagi sayang?" tanya Jane menatap wajah mungil anaknya.


Ace lalu mengeluarkan sebuah pistol mainan dengan peluru karet, dan mengarahkannya ke arah Jane.


"Angkat tangan! polisi Ace akan menangkap eomma hahaha."


Jane lalu mengangkat kedua tangannya ke atas, dan setelah itu Jane menggelitiki perut Ace sampai dia tertawa terbahak - bahak.


"Ampun eomma hahaha," ucapnya memohon agar Jane berhenti menggelitiki Ace.


"Iya asalkan jangan nakal."

__ADS_1


"Hahaha tidak eomma, Ace janji tidak akan nakal lagi."


Jane lalu menggendong Ace ke pangkuannya.


"Dari dulu kamu terus saja berjanji untuk tidak nakal, tapi tetap saja dilakukan."


"Ya tidak apa - apa, nanti kalau nakal lagi ya tinggal berjanji lagi eomma."


"Eh!! siapa yang mengajarimu seperti itu heum? yang namanya janji itu harus ditepati sayang."


Ace menunjuk Liam.


"Daddy yang mengajari."


"Eh aku tidak pernah mengajarimu seperti itu," ucap Liam menyangkal pernyataan Ace.


"Huwaaa!!" tiba - tiba Ace menangis.


"Eomma tahu bahwa kamu menangis bohongan Ace."


Ace lalu berhenti menangis dan menggigit jarinya.


"Hehe," ucapnya sembari tersenyum.


"Ckckck sekarang putra eomma sudah bisa berbohong rupanya."


"Mianhae eomma."


"Iya tapi besok jangan diulangi," ucapnya mencium rambut Ace.


"Nee eomma."


"Ace ayo bereskan mainannya dan bawa masuk ke dalam rumah!" perintah Liam.


"Nee daddy," ucapnya yang langsung turun dari pangkuan Jane dan mulai membereskan mainannya.


Sekarang Ace menjadi anak yang lebih penurut semenjak diasuh oleh Liam juga, karena meskipun Liam orangnya sedikit nyeleneh dan suka bercanda namun dia juga bisa menjadi seorang pria yang tegas. Jika dia sudah dalam mode serius pasti semua orang akan menunduk ketakutan karena takut menjadi santapan Liam, bahkan Jane juga merasa takut jika suaminya berubah menjadi mode serius. Setelah Ace selesai membereskan semua mainannya dan memasukkanya ke dalam paper bag tadi, dia lalu membawanya masuk ke dalam rumah dengan diikuti oleh kedua orang tuanya termasuk Josh.


"Eh grandma belum tidur?" tanya Liam.

__ADS_1


"Belum, grandma belum bisa tidur."


"Oh begitu."


"Eh si kecil beli apa itu? kok sampai tasnya besar sekali bahkan rasanya lebih besar dari badannya."


"Daddy membelikanku mainan, grandma buyut."


"Wahh mainan apa sayang?"


"Mobil - mobilan."


"Oh begitu. Sini grandma buyut gendong."


"Nee."


Grandma lalu menggendong Ace dan mencium pipi chubbynya.


"Sekarang pipinya makin chubby dan perutnya makin ndut."


"Karena sering diajak jajan sama daddy dan eomma."


"Oh begitu, besok jajan lagi ya dengan grandma dan grandpa buyut?"


Ace lalu menatap Jane.


"Iya boleh."


"Yeayy, sekalian pergi ke taman bermain tidak?"


"Boleh, Ace ingin pergi ke taman bermain?"


"Ingin."


"Baiklah, besok kita pergi ke taman bermain jadi Ace sekarang pergi tidur karena sudah malam."


"Nee grandma buyut."


Grandma lalu mencium pipi Ace lagi.

__ADS_1


"Anak pintar, good night anda sweet dream."


"You too," jawab Ace.


__ADS_2