
Hari demi hari Jane lalui tanpa kehadiran suaminya disisinya. Setiap hari Jane disibukkan dengan mengurus Ace serta melakukan pemotretan ataupun syuting iklan untuk memenuhi kehidupannya, meskipun setiap awal bulan selalu mendapat tunjangan dari suami ghaibnya serta dari orang tua suaminya namun tetap saja Jane masih ingin bekerja sendiri. Alasan Jane masih bekerja karena dia ingin hidup mandiri serta untuk menghibur hati kecilnya yang sedang rapuh.
Jane menyibukkan dirinya dengan bekerja bukan karena ingin melupakan suaminya, hanya saja Jane tidak ingin terus menerus terlarut dalam kesedihan serta kesepian. Jane harus terus melanjutkan hidupnya sekaligus membesarkan putra kecilnya. Setiap hari Jane selalu menerima pertanyaan kritis putranya mengenai ayahnya yang membuatnya merasa muak dengan pertanyaan tersebut, dan bahkan Ace selalu pergi ke taman yang sama setiap harinya untuk menunggu kedatangan om kumis idolanya.
Ace selalu menunggu kedatangannya dengan sangat sabar meskipun om kumis sudah tidak pernah datang lagi ke taman itu, dan hal itu selalu saja berakhir dengan tangisan saat Ace pulang ke rumah. Jane berusaha sangat sabar untuk mengurus Ace yang sekarang sedang lagi aktif - aktifnya, meskipun dia terkadang juga melampiaskan emosinya kepada Ace. Pada hari ini Ace sedang mengunjungi cafe milik ayahnya yang telah dikelola oleh teman dekatnya.
Ace pergi bersama Jane, Mrs Robinson, dan juga Mrs Kim untuk berbincang santai sembari memantau kondisi terkini cafenya setelah lama ditinggalkan oleh ayah Ace. Tiba - tiba saja Mrs Robinson memanggil Dio yang sedang senggang untuk menghampiri mejanya, dan tidak lama kemudian Dio melangkahkan kakinya menuju ke meja mereka berempat.
"Ya tante, ada apa memanggil Dio?" tanyanya begitu sampai di meja mereka berempat.
"Duduk Dio!" perintah Mrs Robinson.
Seketika Dio merasa deg-degan saat menghadapi Mrs Robinson, karena pasti dia akan bertanya - tanya mengenai keberadaan putranya saat ini.
"Aku ingin bertanya kepadamu, apa benar kamu tidak mengetahui tentang keberadaan Liam sama sekali?" tanya Mrs Robinson langsung ke intinya.
"Tidak tante, jujur saya juga bingung sekaligus mencari - cari dimana keberadaan Liam untuk saat ini."
"Oh begitu, aku juga bingung mengapa Liam tidak bisa ditemukan padahal kami semua sudah mengerahkan hampir semua bodyguard kami untuk mencari keberadaan Liam."
"Benar tante, rasanya Liam seperti hilang di telan oleh bumi karena tiba - tiba saja menghilang tanpa jejak. Semua nomor bahkan media sosial milik Liam sudah tidak ada dan juga tidak bisa dihubungi."
"Apakah kamu sudah melacak melalui kartu kredit atau semacamnya?" tanya Mrs Kim.
"Sudah Anne, bahkan kami sudah melakukan upaya untuk mengetahui keberadaan Liam namun tetap saja hasilnya nihil sampai sekarang. Yang paling aku butuhkan saat ini adalah kabar mengenai Liam, karena dengan mendengar kabarnya bahwa dia sehat mungkin itu akan membuatku merasa lega."
"Sepertinya dengan menggunakan metode pelacakan tetap saja Liam akan sulit ditemukan, karena kita tahu sendiri bahwa Liam sangat pandai sekali mengenai masalah itu dan mungkin Liam sudah menutup semua akses yang membuatnya berisiko ketahuan."
"Semua yang dikatakan oleh Dio memang benar mom, Liam sangat pandai sekali mengenai hal tersebut."
"Mmm mungkin saja Liam sudah memikirkan matang - matang mengenai hal itu untuk menutupi jejaknya, sehingga tidak ada seorangpun yang dapat menemukan Liam."
Tiba - tiba Ace lari menuju ke pintu keluar Cafe hingga membuat konsentrasi mereka teralihkan.
"Eh Ace!!" teriak Jane yang mengejar Ace.
"Om kumis!!" teriak Ace dari pintu depan.
Jane lalu menangkap Ace dan langsung menggendongnya.
"Eh jangan seperti itu lain kali, nanti kalau hilang eomma tambah repot karena harus mencarimu juga!!"
"Tadi ada om kumis, eomma."
"Mana?" tanya Jane melihat sekeliling cafe.
"Itu yang sedang naik motor," ucap Ace menunjuk ke arah parkiran.
__ADS_1
Jane melihat hal itu Jane langsung berlari menuju ke mobilnya dan terus mengikuti kemana om kumis itu pergi, sedangkan Dio serta yang lainnya juga ikut pergi mengikuti Jane. Tidak berselang lama motor yang dikendarai oleh om kumis tiba - tiba berhenti di sebuah rumah.
"Ini untuk Ibra," ucap Liam memberikan sebungkus makanan dari cafe.
"Eh kenapa repot - repot sekali Liam?" tanya Gita.
"Tidak kok, kebetulan aku baru saja mendapat tip yang lumayan jadi aku ingin memberikan makanan ini untuk Ibra sebagai ucapan rasa syukurku."
Gita yang menyadari bahwa ada yang mengintai mereka berdua sejak tadi, dia langsung memberi kode kepada Liam.
"Kalau begitu aku pamit."
"Masih mau narik pelanggan lagi?" tanya Gita.
"Masih, sekarang justru lebih semangat."
"Sudah makan siang?"
"Sudah, kalau begitu aku pergi."
"Okay hati - hati dijalan."
"Siap."
Setelah itu Liam kembari mengendarai motornya menuju ke suatu tempat agar dia tidak terus menerus diikuti. Jane lalu berhenti di depan rumah Ricko, sedangkan Dio terus mengejar Liam kemanapun dia pergi. Jane dan Ace lalu turun dari mobil dan langsung mengetuk pintu rumah Ricko.
"Mmm hai sudah lama tidak bertemu, apa kabar?" tanya Jane basa basi.
"Aku baik, mari masuk! sudah lama kita tidak berbincang bersama."
"Iya Git."
"Ini Ace? wah sudah besar ya ternyata."
"Ibra juga sudah besar ya."
"Ibra, ayo kenalan dulu dengan Ace."
"Mereka berdua siapa mah?" tanya Ibra bingung.
"Mereka berdua teman papa dan mama."
"Oh begitu. Hai kamu siapa namanya?" tanya Ibra mendekati Ace.
Ace tersenyum.
"Aku Ace, kalau kamu?"
__ADS_1
"Aku Ibra."
"Kalian berdua bermain disana dulu karena mama ingin berbincang dengan tante Jane."
"Okay mah," jawab Ibra yang langsung menggandeng tangan Ace untuk mengikutinya.
Setelah mereka berdua pergi menjauh, Jane langsung bertanya kepada Gita.
"Mmm tadi sepertinya ada yang mengantarkan sebuah bingkisan saat aku hendak kemari."
"Oh itu tadi cuma driver ojek yang mengantarkan makanan karena Ibra menginginkan camilan."
"Oh begitu."
Jane terus berbincang dengan Gita, karena siapa tahu Gita mengetahui sesuatu tentang suaminya. Disisi lain Ace sedang bermain bersama Ibra sembari memakan donat yang diberikan oleh om kumis.
"Kamu ini pasti bule ya?" tanya Ibra sembari memakan donatnya.
"Bule itu apa?" tanya Ace bingung.
"Orang luar negeri."
"Oh iya, kata eomma aku orang Korea Selatan dan Australia."
"Pantas saja wajahmu sangat tampan seperti bintant iklan yang berada di televisi."
"Kata orang - orang aku mirip sekali dengan daddy."
"Daddy kamu orang mana?"
"Daddy dari Australia."
"Oh begitu, ayo dimakan donatnya."
"Terima kasih."
"Kamu punya mainan apa?"
"Aku punya truck dan juga boneka."
"Boneka itu mainan perempuan ya?"
Ace menggeleng.
"Aniyo, boneka yang aku punya adalah boneka dinosaurus dan bukannya boneka perempuan."
"Oh, mmm aku punya mainan ini dan ayo kita bermain bersama."
__ADS_1
"Nee."