
Bibi lalu mengetuk pintu kamar utama untuk mengantarkan minum dan camilan yang diminta oleh Ace tadi. Setelah itu Ace langsung memakannya sembari mengajak grandma berbincang mengenai banyak hal termasuk mengenai dinosaurus. Ace juga bertanya mengenai singa yang berada di rumahnya apakah sangat galak atau tidak, dan grandma menjawab bahwa singanya sedikit jinak karena sudah dirawat semenjak kecil. Sekarang singanya sudah sedikit menua jadi butuh lebih banyak biaya serta waktu untuk merawatnya secara telaten, sehingga grandpa merekrut 2 orang yang sudah ahli untuk membantunya merawat singa peliharaannya.
Sebenarnya grandma meminta grandpa untuk menaruhnya di kebun binatang saja namun grandpa sudah terlanjur sangat menyayangi singa itu dan merasa bahwa singa peliharaannya sudah seperti seekor anjing, karena dia sangat dekat serta jinak dengan grandpa. Yupss keluarga Robinson memilih singa sebagai peliharaannya daripada seekor anjing karena ingin sesuatu yang berbeda, meskipun begitu mereka tetap menyayangi semua binatang lain juga.
Singa yang dinamai Petra itu dahulu diberikan kepada Liam sebagai hadian ulang tahunnya yang ke 15 tahun, awalnya itu akan diberikan oleh Lian namun karena takut alhasil Liamlah yang menawarkan diri untuk merawatnya. Sesekali Petra dibiarkan berkeliaran di halaman rumahnya untuk berjalan - jalan agar dia tidak bosan di kandangnya, akan tetapi tetap dengan pengawasan grandpa juga. Mendengar cerita dari grandpa dan grandpa mengenai Petra, Ace menjadi sangat ingin pergi ke Australia untuk bermain dengannya.
"Ace ingin pergi ke Australia melihat Petra."
"Besok kalau daddy sudah sembuh, ajak daddy untuk pergi ke Australia ya?"
"Nee grandmanya daddy."
"Sekarang Ace sudah bisa apa saja?" tanya grandpa.
"Sekarang Ace sudah bisa berhitung, membaca, menulis....."
"Dan bermain," ucap Ace menyela pembicaraan Jane.
Semua orang langsung tertawa dan grandpa lalu mengusap rambut Ace.
"Kalau itu sudah dari dulu hahaha."
"Setelah Ace berumur 2 tahun Jane ingin Ace dimasukkan ke preschool grandpa," ucap Liam memberitahu.
"Lalu kamu bagaimana Li?" tanya grandpa.
"Awalnya aku tidak setuju namun setelah pergi survey mengenai sistem pembelajarannya aku jadi setuju."
"Ya sudah tidak apa - apa kalau kalian berdua sudah sepakat untuk memasukkan Ace ke preschool setelah berumur 2 tahun, yah itu bisa melatih Ace untuk bersosialisasi dengan anak - anak seumurannya."
"Iya benar Liam, grandma juga setuju dengan yang dikatakan oleh grandpa. Yah Ace itukan anak kalian berdua, jadi kami terserah dengan kalian ingin memutuskan bagaimana mengenai Ace, dari dulu kita berdua tidak pernah ikut campur mengenai hal itu."
"Iya dari jaman daddy kamu juga grandpa dan grandma tidak pernah ikut campur mengenai sistem perenting Jonathan. Jadi kami berdua selalu memberikan kebebasan untuk mereka mengurus anaknya masing - masing, kalaupun ada yang salah sampai keterlaluan barulah kami bertindak agar tidak semakin menjadi - jadi."
"Iya grandpa."
Grandpa lalu menepuk bahu Liam.
"Lagipula kalian berdua sudah sama - sama dewasa, aku yakin kalian sudah bisa memutuskan mana yang baik dan mana yang tidak untuk anak kalian bukan?"
"Hehe iya grandpa, meskipun sebenarnya Liam masih belajar juga dari Jane karena Jane lebih lama bersama Ace daripada aku."
__ADS_1
"Jane, mohon bantuannya untuk membimbing Liam ya?" tanya grandma.
Jane tersenyum.
"Iya grandma, dengan senang hati Jane akan membantu Liam agar menjadi ayah yang baik untuk Ace."
"Daddy memang daddy yang baik kok, dia selalu membacakan aku cerita dongeng sebelum tidur dan juga mengajakku bermain bersama apalagi sering membelikan aku ice cream."
"Wah benarkah?"
"Benar grandmanya daddy, dan karena itu Ace sangat sayang dengan daddy."
"Kalau dengan eomma?"
"Ace juga sayang dengan eomma meskipun galak."
Grandma dibuat tertawa dengan pengakuan Ace.
"Mungkin Ace yang sulit diberitahu, makanya eomma jadi galak dengan Ace."
"Iya sih kadang."
"Nah kan," ucap grandma mencium pipi Ace.
Jane lalu mengambilnya dan memberikannya kepada Ace.
"Ini, jangan terlalu banyak memakannya nanti kamu batuk."
"Nee eomma."
Seminggu kemudian Liam sudah mulai membaik serta pelan - pelan sudah bisa melakukan aktivitas seperti biasanya meskipun belum diizinkan masuk kantor. Liam lalu mengajak Jane dan Ace untuk ikut pulang dengannya ke Australia, karena dia ingin istirahat disana sebelum kembali bekerja. Mendengar hal tersebut Jane langsung menyetujuinya namun Jane kemudian mengatakan bahwa dia ingin menyelesaikan urusannya dengan Simon terlebih dahulu. Liam lalu setuju dan langsung membantu Jane untuk packing karena nanti sore mereka akan pergi ke Australia.
"Eh hai babe, bagaimana keputusanmu?" tanya Simon dengan sangat antusias setelah Jane datang menemuinya.
"Keputusanku adalah aku tetap akan melanjutkan sisa hidupku bersama suamiku Liam, dan kami berdua sudah berencana untuk membesarkan Ace bersama - sama."
"Tapi bukankah waktu itu kamu mengatakan kepadaku bahwa hubungan kalian berdua sudah mulai merenggang dan terasa hampa?"
"Itu dulu, sekarang setelah aku mengalami ini semua dan Liam sudah menunjukkan bahwa dia memang benar - benar pantas menjadi ayah Ace maka aku akan memutuskan untuk kembali bersamanya."
"Tapi babe...."
__ADS_1
"Sudahlah Simon carilah wanita lain selain diriku yang sudah bersuami, lagipula tidak ada yang bisa menggantikan Liam sebagai ayah kandung Ace karena di dalam tubuh Ace telah mengalir darah Liam yang merupakan ayah kandungnya."
Simon lalu menggenggam kedua tangan Jane.
"Beri aku kesempatan untuk membuktikan bahwa aku juga mampu menjadi ayah sambung yang baik untuk Ace."
Jane melepas genggaman tangan Simon.
"Maaf, aku tidak bisa memberimu kesempatan itu dan terima kasih telah mencelakai Liam karena dengan itu membuat hubungan kita berdua semakin dekat seperti dulu lagi."
"A-apa maksudmu Jane?"
Jane lalu menampar pipi Simon.
"Aku tahu bahwa kamu yang menyuruh orang untuk menusuk Liam hingga membuatku hampir kehilangan dia selamanya jadi tamparan ini sebagai balasanku untukmu!!" teriak Jane.
"I-ini salah paham babe."
"Sudahlah aku sudah tidak punya waktu untuk meladenimu karena aku akan memulai kembali hidupku bersamanya di Australia," ucapnya lalu pergi meninggalkan Simon dan pergi ke mobil Liam.
*Blam.* Jane menutup pintu.
"Ayo kita pergi sekarang!" perintah Jane.
"Baik nyonya."
Pak supir lalu melajukan kendaraannya menuju bandara karena grandpa dan grandma mungkin sudah menunggunya disana. Mereka berempat, bersama Pak Kang akan pergi menggunakan private jet milik keluarga Robinson. Kemanapun Jane pergi pasti akan selalu ada Pak Kang disisinya sebagai bodyguardnya yang setia, dan Liam tidak pernah keberatan mengenai hal tersebut karena dia sudah sangat percaya kepada Pak Kang. Beberapa jam kemudian mereka telah mendarat di Australia dan pergi menuju kediaman keluarga Robinson.
"Ini hotel?" tanya Jane keheranan.
"Bukan ini rumahku, yah setahuku begitu karena banyak orang yang mengatakan bahwa ini adalah mansion atau apalah itu namun menurutku ini tetaplah rumah."
"Woahh halamannya juga sangat luas."
"Aku akan memasang sebuah gawang karena aku dengar Ace sangat suka bermain bola," ucap grandpa.
"Eh tidak perlu repot - repot grandpa."
"Tidak apa - apa Jane, lagipula ini semua untuk cicitku tersayang oh ya sekalian mengganti rumputnya seperti di stadion."
"Eh grandpa."
__ADS_1
"Sudah biarkan saja Jane."
"I-iya hubby."