Dear Ace

Dear Ace
#90 Jane Day


__ADS_3

Jane hanya tersenyum setelah mendengar ucapan grandma, dan setelah itu dia masih membujuk Ace agar dia mau mandi sore. Sebenarnya tadi grandma hanya bercanda saja karena ingin menggoda Jane setelah melihat sebuah tanda yang bewarna merah keunguan di leher Jane. Grandma tidak pernah sekalipun memaksa mereka untuk segera menambah seorang anak, apalagi saat dahulu cucunya itu memilih untuk menunda memiliki anak selama setahun setelah menikah.


Saat itu grandma tidak pernah sekalipun menanyakan Jane mengenai kapan dia akan memiliki anak dan lain sebagainya, bahkan Liam juga pernah mengancam grandma dan juga grandpa agar jangan bertanya mengenai hal semacam itu kepada Jane. Saat itu Liam merasa yakin bahwa jika waktunya telah tiba, Jane pasti akan memberinya seorang anak dan benar saja setelah akhir tahun akhirnya Jane mengandung Ace saat mereka sedang berada di Korea Selatan.


Sesuai permintaan Jane dahulu bahwa dia ingin seorang anak yang sangat mirip sekali dengan Liam jika anaknya adalah laki - laki, dan benar saja bahwa Ace sangat mirip sekali dengan Liam. Tiba - tiba saja seorang pria yang memiliki postur tubuh yang tinggi dan besar seperti Liam, masuk ke dalam rumah itu. Dia juga tampan seperti Liam, dan dia adalah sepupu Liam yang bernama Arthur. Dia sengaja datang kemari setelah pulang kerja karena ingin menemui Liam dan juga keponakannya, yaitu Ace.


"Hai grandma."


"Hai Arthur kenapa hanya datang sendiri, kemana Jenia dan Daisy?"


"Oh mereka berdua sedang dirumah grandma, aku tidak mengajak mereka karena aku langsung kemari setelah pulang kerja."


"Oh begitu rupanya."


"Hai Jane, bagaimana kabarmu?" tanya Arthur tersenyum.


"Kabarku baik Arthur."


"Wahh ternyata keponakanku sudah besar rupanya, ini uncle membawakan mainan khusus untukmu."


"Thank you uncle," ucap Ace menerima mainan tersebut.


Arthur lalu menggendong Ace.


"Wahh semakin lama kamu semakin mirip sekali dengan Liam rupanya."


"Ace belum mandi sore Arthur," ucap Jane memberitahu.


"Tidak apa - apa Jane, aku juga belum mandi kok hehe."


"Sekarang Arthur bisa tersenyum semenjak memiliki seorang anak," ucap grandma berbisik di telinga Jane.


"Wah benarkah begitu grandma?"


"Iya benar, dia seperti memiliki semangat hidup yang baru dan persis seperti Liam setelah menikah denganmu haha."


"Ti-tidak juga grandma, dia masih seperti dulu suka marah - marah dan cemberut terutama jika aku dekat dengan pria lain."


"Itu tandanya dia sudah sangat menyayangimu Jane, dan dia tidak ingin kehilanganmu."


"Benar juga."


"Uncle ini tubuhnya sangat besar dan tinggi seperti daddy."


"Karena kita masih saudara, meskipun beda marga."


"Beda marga?"


"Iya, daddy kamu itu memiliki nama belakang Robinson sedangkan aku memiliki nama belakang Wilson."


"Berarti namanya itu bukan saudara, kan nama belakangnya beda."


"Meskipun beda kita masih saudara."


"Oh begitu. Kalau aku nama belakangnya Kim, jadi kita bukan saudara."

__ADS_1


Arthur tertawa.


"Wah wah sepertinya kamu juga mewarisi bakat melawak dari daddy kamu ya rupanya. Nama belakangmu kan Robinson, kalau Kim itu nama belakang mommy kamu."


"Mommy aku siapa?"


Arthur menunjuk ke arah Jane.


"Itu mommy kamu, Jane Charlotte Kim."


"Itu bukan mommy."


"Lalu?"


"Itu eomma."


"Itu sama saja Ace."


"Bukan uncle itu beda, beda huruf dan penyebutannya."


"Iya deh terserah kamu saja."


"Namaku Ace Kim kan eomma?" tanya Ace menatap Jane.


"Namamu yang sebenarnya itu Ace Bryan Robinson sayang," jawab Jane.


"Hmmpp eomma berarti berbohong kepadaku, kenapa eomma merubah namaku?" tanyanya cemberut.


"Eomma tidak merubahnya, memang sejak kamu lahir namamu ya memang seperti itu."


"Oh begitu."


"Wihh baru pulang kerja Thur?"


"Iyaa, tadi pagi jalanan lumayan padat dan aku harus pergi meeting jadi aku berangkat naik helikopter."


"Aku tidak tanya, lagipula bukankah kamu setiap hari selalu pergi naik helikopter?" tanyanya sinis.


"Sok tau, aku juga sering naik mobil kok."


"Lebih enak di Indonesia, berangkat naik motor udaranya masih sejuk di daerah Yogyakarta dan kalau di daerah Dieng mungkin kamu bisa melihat kabut."


"Benarkah begitu?"


"Iya benar, kapan - kapan pergi ke Yogyakarta nanti aku akan mengajakmu pergi ke Dieng untuk melihat kawah belerang hmmm baunya sedapp."


"Iya deh besok, kalau aku libur panjang."


"Okay."


"Daddy, aku boleh berganti daddy tidak? aku lihat uncle lebih tampan dari daddy."


"Hei mana bisa begitu?" tanya Liam menaikkan nada bicaranya.


"hmmpp ya sudah."

__ADS_1


"Ya sudah, daddy tidak mau membelikanmu mainan lagi!"


"Tidak masalah, lagipula uncle ini punya helikopter."


Perdebatan ayah dan anak itu berhasil membuat semua orang tertawa. Setelah itu Liam pergi mengambil sebuah kunci yang berada di laci dan pergi ke sebuah tempat untuk menghampiri helikopternya. Ternyata Liam juga memiliki sebuah helikopter, sama seperti Arthur karena dahulu dia mendapatkan itu sebagai hadiah ulang tahunnya yang ke 17 tahun. Liam mendaratkan helikopternya tepat di depan rumah untuk pamer kepada Ace bahwa dia juga memiliki sebuah helikopter.


"Lihat, aku juga punya helikopter."


"Ya sudah dad, ayo ajak aku jalan - jalan naik helikopter."


"Dih tidak mau, katanya kamu sudah tidak mau menjadi anakku."


Ace lalu turun dari gendongan Arthur dan berlari menghampiri Jane.


"Eomma, daddy nakal huwaa."


"Kan kamu sendiri yang mencari masalah dengan daddy," ucapnya menggendong Ace ke pangkuannya.


"Ta-tapi aku hanya bercanda saja."


"Minta maaf dulu ke daddy."


"Daddy mianhae," ucapnya memelas.


"Hmm ya sudah aku mau pergi jalan - jalan dulu, ayo Arthur kita berbincang di lounge hotel milikku!"


"Okay, pergi naik heli milikmu?"


"Tentu saja. aku yang menerbangkannya."


"Daddy ikut."


"Mandi dulu, nanti baru ikut."


"Nee, ayo eomma kita mandi!"


"Iya."


Begitu sesampainya di kamar, tiba - tiba terdengar suara helikopter Liam yang hendak pergi dan sontak hal itu membuat Ace menangis dengan sangat keras karena ditinggal pergi oleh Liam. Jane hanya tersenyum dan berusaha menenangkan Ace yang tengah menangis itu. Dia lalu memandikan Ace yang masih saja menangis dan setelah itu menidurkannya di atas ranjang. Beberapa jam kemudian saat tengah malam, tiba - tiba saja Liam membangunkan Jane yang sedang tertidur nyenyak sembari menyanyikan sebuah lagu selamat ulang tahun. Rupanya tepat pada hari ini Jane sedang berulang tahun, dan Liam sudah menyiapkan sebuah kejutan untuknya.


"Happy birthday to you, happy birthday to you, happy birthday, happy birthday, happy birthday to my wife."


Mendengar nyanyian Liam, Jane langsung tersenyum manis meskipun dia masih mengantuk.


"Thank you hubby."


"Make a wish lalu tiup lilinya!"


Jane menyatukan tangannya dan memejamkan matanya, setelah itu dia meniup lilinya.


"Aku fikir kamu lupa."


"Mana mungkin aku melupakan hari yang penting untuk istriku yang paling manis dan cantik."


Jane langsung mencium bibir Liam sekilas.

__ADS_1


"Hmm terima kasih banyak."


"Iya sayang."


__ADS_2