Dear Ace

Dear Ace
#79 Keikhlasan Seorang Istri


__ADS_3

Jane terus bercerita mengenai masa kecilnya, dan bahkan saat dirinya bertemu dengan Liam untuk pertama kalinya hingga suatu alasan yang membuat Jane sangat membenci Liam. Jane dahulu sangat membenci Liam karena dia adalah anak yang nakal, apalagi dia sering mencuri beberapa strawberry miliknya yang berada di kebun belakang rumah.


Karena kecintaannya dengan strawberry yang begitu besar, dahulu Mr Kim sampai membuatkan kebun strawberry untuk Jane di halaman belakang rumahnya yang lumayan dekat dengan danau. Keluarga Robinson sering mengunjungi keluarga Kim di Korea Selatan saat musim liburan sekolah, jadi itulah saatnya untuk Liam menjahili Jane sampai menangis. Singkat cerita waktu itu Liam pernah dimarahi oleh Mr Robinson karena selalu membuat Jane menangis, dan Liam hanya duduk termenung di pinggir danau sembari menangis setelah kejadian itu.


Namun tiba - tiba saja Jane menghampiri Liam sembari membawa keranjang anyaman karena dia hendak memetik beberapa buah strawberry. Melihat Liam yang menangis sesenggukan, Jane lalu berusaha untuk menghiburnya dengan memberikan sebuah sapu tangan dan juga mengajaknya untuk memetik buah strawberry di kebunnya.


Sejak saat itu mereka berdua menjadi akrab namun setelah dewasa mereka selalu sibuk dengan urusannya masing - masing, dan sampai tidak mengenali satu sama lain sampai dewasa karena sudah tidak bertemu lagi. Tetapi beberapa tahun kemudian mereka berdua dipertemukan lagi oleh Tuhan, dan sampai akhirnya memutuskan untuk menikah karena dijodohkan.


"Aku rasa ini memanglah sebuah takdir dari Tuhan karena Tuhan ingin melihat kita selalu bersama, benar kan hubby?" tanya Jane tersenyum.


"Entahlah, aku tidak pernah percaya akan hal seperti itu seumur hidupku jadi berhentilah bicara omong kosong seperti itu!"


"Kenapa kamu selalu saja tidak percaya mengenai hal seperti itu?"


"Jadi kamu fikir wajahku bonyok dan bahkan sekarang perut bagian kiri bawah terkena sayatan pisau itu karena sebuah takdir?" tanyanya mulai menaikkam nada bicaranya.


Jane hanya diam dan kemudian dia duduk di bangku sembari menundukkan kepalanya.


"Kenapa sih kamu selalu membenciku dan selalu berteriak kepadaku? aku sudah meminta maaf kepadamu atas semua perbuatanku, dan bahkan aku juga berusaha untuk memperbaiki hubungan kita berdua."


"Sejujurnya aku bukan membencimu namun karena aku tidak ingin kamu selalu susah karena harus mengurusku yang penyakitan ini. Hidupmu masih panjang dan kamu berhak mendapatkan seorang pria yang lebih baik dariku, aku tidak ingin kamu membuang - buang waktumu untuk mengurusku."


"Hubby, aku melakukan semua hal ini dengan sangat tulus dan itu semua karena aku sangat menyayangimu."


"Hentikan omong kosongmu dan pergilah dari sini!! tinggalkan aku sendiri!!" teriak Liam.


"Hubby," ucapnya lirih.


"Pergi Jane, pergi!!! janganlah kamu mencintai seorang pecundang sepertiku!! aku bukanlah pria yang tangguh seperti yang kamu fikirkan."


Mendengar hal tersebut, Jane lalu pergi meninggalkan Liam sendirian di taman tersebut. Liam hanya bisa meruntuki dirinya sendiri atas semua yang terjadi kepadanya.


"Dasar bodohh!!" teriaknya sembari menangis dan memukuli dirinya sendiri.


Tiba - tiba saja langit yang tadinya cerah ceria berubah menjadi langit mendung yang bewarna sangat gelap. Liam lalu memutuskan untuk kembali ke ruangannya dengan mengerahkan semua tenaga yang saat ini dia punya untuk menggerakkan kursi rodanya.


"Haiss sialan, kufikir sangat mudah menggerakkannya sendirian ternyata sedikit sulit."


Namun tiba - tiba saja ada yang mendorong kursi roda milik Liam, dan seketika dia menoleh ke belakang.


"Jane?"


"Mari ku antar sampai ruanganmu."


Ternyata sedari tadi Jane tidak pernah benar - benar menjauh dari Liam, karena dia selalu saja tidak tega meninggalkan suaminya sendirian dimanapun dia berada saat dia tengah sakit. Sesamapinya di ruangannya Jane lalu membantu Liam untuk naik ke atas ranjangnya.


"Awas hati - hati hubby."

__ADS_1


"Bisa tidak Jane?" tanya Mrs Robinson.


"Bisa mom."


"Oh baiklah. Mmm Jane, setelah ini pulanglah karena Ace pasti merindukanmu dan mommy yang akan bergantian menemani Liam disini bersama grandma juga."


"Baik mom, kalau begitu Jane pamit."


"Iya hati - hati sayang."


"Iya mom. Hubby aku pamit pulang dulu," ucapnya sembari mencium Liam.


"Hmm."


"Kamu jangan galak - galak dengan Jane, dia sangat sayang sekali denganmu."


"Aku hanya ingin dia pergi saja mom, maksudku aku ingin dia pergi mencari kebahagiaannya di tempat lain bersama pria lain."


"Kenapa begitu sayang?"


"Entahlah, rasanya dari dulu aku merasa tidak pantas untuk dicintai oleh siapapun."


"Jangan bilang seperti itu sayang," ucapnya sembari mengusap pipi Liam.


"Sudahlah mom, aku lelah."


"Liam, mommy pergi ke cafetaria untuk mencari minun dulu."


"Iya mom."


"Kamu mau titip apa?"


"Baru tidak ingin apapun."


"Oh baiklah."


Setelah Mrs Robinson pergi, tidak lama kemudian Ricko datang ke ruangan Liam.


"Heii tebak aku membawa apa?"


"Memangnya kamu membawa apa?"


"Tada, aku membawa ayam bakar kesukaanmu."


"Wahh baguslah, aku sudah merasa lapar."


"Sini aku suapi."

__ADS_1


"Tidak perlu, aku bisa makan sendiri."


"Heh, jangan ngeyel jadi orang!"


"Hmm baiklah."


Ricko lalu menyuapi Liam sedikit demi sedikit, dan hal tersebut membuat Ricko merasa senang karena Liam bisa makan dengan sangat lahap sekali. Beberapa hari kemudian Liam sudah berada di rumahnya, karena Liam lebih menginginkan untuk rawat jalan saja. Liam merasa tidak suka jika dia berada di rumah sakit dengan waktu yang cukup lama. Saat ini Liam sedang menonton televisi di kamarnya sembari menunggu Ace selesai mengurus hamsternya.


"Hubby, mandi dulu yuk sudah sore."


"Tidak mau, malas."


"Eh ayo mandi dulu sebentar, aku lap - lap menggunakan tissue basah agar bersih dan wangi."


"Namanya itu bukan mandi, tapi tayyamum. Eh tapi tayyamum menggunakan debu dan bukan menggunakan tissue basah sih hehe."


Jane hanya tersenyum mendengat ucapan Liam.


"Dibuka dulu bajunya," ucap Jane membantu Liam membuka bajunya.


"Tutup dulu jendelanya, dan kunci pintunya!"


"Baik hubby."


"Kenapa aku tidak mandi sungguhan saja?"


"Lukamu belum sepenuhnya kering, jadi aku tidak berani untuk memandikanmu secara sungguhan."


"Ini sudah 3 hari Jane, masa belum kering."


"Lukamu cukup besar dan dalam, jadi lumayan sulit keringnya."


"Oh begitu rupanya."


Jane lalu mengusap tubuh Liam secara perlahan dengan menggunakan tissue basah. Setelah semuanya telah selesai, Jane lalu memakaikannya baju dan menyiapkan teh hangat untuk suaminya.


"Ini teh hangatnya hubby, aku juga sudah menyiapkan beberapa camilan kesukaanmu agar kamu tidak perlu turun ke bawah. Aku ingin kamu full istirahat di atas ranjang saja dan jangan banyak bergerak agar lukamu cepat sembuh."


"Iya. Aku heran mengapa kamu mau repot - repot mengurusku seperti ini?"


"Karena aku sangat mencintaimu," ucap Jane sembari menata beberapa camilan dan minuman di atas meja dekat ranjang.


"Aku saja tidak pernah mencintai diriku sendiri."


Jane menatap Liam dan mencium pipinya.


"Cepatlah sembuh agar kita bisa pergi liburan lagi," ucapnya mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


"Hmm."


__ADS_2