
Mr Robinson mengambil air mineral di dalam kulkas dan meminumnya sembari sesekali melirik mereka berdua yang terlihat sangat canggung. Liam kembali memakan mie instannya dengan sangat tenang, sedangkan hanya melihatnya saja. Namun Liam langsung menyuapi Jane mie instan itu agar mereka berdua tidak terlihat canggung di depan Mr Robinson. Setelah menghabiskan semangkuk mie tersebut, Liam lalu mencuci mangkunya sembari mendengarkan cerita dari Mr Robinson yang menceritakan mengenai beberapa perkembangan bisnis perusahaan.
Jane juga masih berada di sana dan ikut mendengarkan cerita dari ayah mertuanya itu, sampai - sampai topiknya berubah menjadi rahasia menciptakan hubungan pernikahan yang awet dan tahan lama. Awet romantisnya, dan lain sebagainya. Cerita itu sebagai ajang untuk menyindir Liam dan juga Jane yang tadi sedang bertengkar di dapur. 1 jam kemudian Mr Robinson lalu kembali ke kamarnya setelah dia dipanggil oleh istrinya, sedangkan Liam dan Jane masih berada di sana.
Namun Liam juga langsung pergi ke kamarnya untuk beristirahat karena dia berencana ingin pergi ke rumah teman lamanya. Hujan semakin deras dan saat ini Jane sedang berbaring di ranjangnya dengan matanya yang masih terbuka lebar. Pada malam itu hujannya disertai oleh angin kencang dan suara - suara petir yang meramaikan langit malam.
Liam jangan ditanya, tentunya dia sudah tertidur lelap meskipun sedang seperti itu, mungkin saat gempa dan lain sebagainya datang Liam tidak akan bangun karena kalau sudah tertidur lelap pasti sangat sulit dibangunkan. Jane semakin merasa sangat takut karena dia hanya tidur sendirian di ranjang suaminya yang luas, dan setelah itu dia memanggil - manggil suaminya untuk minta ditemani tidur.
"Hubby bangun!!" ucap Jane membangunkan suaminya.
"Nggg."
"Ayo temani aku tidur hubby!"
"Apaan sih? aku ingin tidur nyenyak saja rasanya tidak bisa karena kamu terus menggangguku!"
"Aku takut, temani aku tidur hubby."
"Tidak mau, tidur sendiri saja!!"
"Ayolah hubby," ucap Jane terus memohon.
"Haiss ya sudah, ayo tidur."
"Iya hubby," ucap Jane tersenyum.
"Sialan," gumam Liam merasa kesal.
Jane langsung memeluk Liam dan itu menjadi kesempatan untuknya menggoda Liam.
"Jangan menyentuhku!" perintah Liam.
"Kenapa aku tidak boleh menyentuhmu? kan aku ini istrimu."
"Aku sedang tidak ingin disentuh oleh siapapun."
"Bodo amat, aku akan tetap memelukmu seperti ini wlee."
"Hufft ya sudah terserah, asalkan jangan menggagguku saat sedang tidur."
"Hubby aku ingin memasukkan Ace ke sekolah khusus anak kecil alias preshcool, boleh tidak?" tanyanya meminta izin.
"Jangan sekarang, besok saja karena Ace masih terlalu kecil untuk masuk preschool."
"Saat dia umur 2 tahun, bagaimana?"
"Tidak Jane, aku tidak setuju dengan hal itu."
"Kenapa hubby?"
"Aku lebih ingin Ace bermain bebas serta bereskplorasi di lingkungan sekitarnya, daripada memikirkan pelajaran."
"Tapi ini bukan seperti sekolah pada umumnya hubby, kamu ini paham arti preschool tidak?"
Liam menggeleng.
"Tidak."
"Hmm pantas saja. Preschool itu hanya bermain - main kok bermain sembari bereksplorasi serta kegiatan yang dapat melatih motoriknya, jadi bukan diajarkan pelajaran seperti sekolah pada umumnya."
"Oh begitu."
__ADS_1
"Jadi boleh tidak?"
"Aku akan mempertimbangkannya terlebih dahulu."
"Oh baiklah hubby."
"Mmm kamu masih menjadi model?"
"Masih, bahkan sekarang aku semakin banyak menandatangani beberapa brand yang ingin mengajakku bekerja sama."
"Baguslah, karier mu semakin cerah secerah matahari."
"Bukankah aku memang seorang matahari? mataharimu."
"Kenapa bisa begitu?" tanya Liam bingung.
Jane lalu menunjukkan cincin nikahnya yang ada ukiran mataharinya.
"Ini cincin nikah kita yang merupakan hasil rancanganmu dulu, dan bahkan sampai sekarang aku masih tetap memakainya."
"Kenapa kamu masih memakai cincin jelek itu?"
Jane langsung memukul Liam.
"Ih masa hasil rancangan suamiku dibilang jelek? ini cincin bukan sembarang cincin, karena ini memiliki makna yang lebih mahal dari apapun bahkan dari harga cincin ini sendiri."
"Oh begitu."
Jane lalu mengambil tangan kanan Liam.
"Kamu juga masih memakainya, cincin berukiran bulan ini sangat cocok dipakai di jari manismu."
"Aku memakainya karena cincin ini sudah sulit dilepas."
"Aku kan memang pembohong, kalau bukan karena aku berbohong kepadamu mana mungkin kita mengalami semua hal ini."
"Mmm tidak apa - apa anggap saja ini ujian di pernikahan kita, lagipula kita juga sudah bisa berkumpul bersama lagi meskipun sekarang terasa sedikit renggang."
"Oh."
"Tapi itu bukanlah masalah besar karena aku akan berusaha untuk memperbaiki hubungan kita agar kembali seperti dulu."
"Oh."
Jane kembali memukul Liam.
"Kenapa respondmu hanya oh saja? ini sangat menyebalkan sekali!"
"Ya sudah kalau menyebalkan akua akan kembali tidur di sofa."
"Jangan dong, aku masih membutuhkamu dan bahkan selalu membutuhkanmu."
"Iya."
"Hubby cium," ucapnya manja.
"Hmm dasar ngelunjak."
"Ayolah, aku sangat merindukanmu."
"Tidak Jane, tadi kan sudah."
__ADS_1
"Mau lagi."
Karena Liam tidak mau memberikannya, alhasil Jane mengambilnya sendiri. Setelah itu Liam malah berbalik menindih Jane dan memberinya pelajaran karena dia telah melanggar syarat yang telah dirinya berikan. Malam semakin larut, dan hujan semakin deras mengguyur permukaan bumi namun mereka berdua masih saja sibuk dengan urusannya. 1 jam kemudian Liam sudah tertidur nyenyak di atas ranjangnya, dan keesokan harinya Jane yang terbagun dari tidurnya langsung memunguti pakaian mereka yang berserakan di lantai. Setelah itu dia pergi mandi dan begitu selesai langsung menghampiri Ace di kamarnya.
"Pagi eomma," sapa Ace dengan tersenyum.
"Pagi anaknya eomma yang paling tampan."
"Eomma, aku ingin ice cream."
"Eh cuacanya sangat dingin, lagipula ini masih pagi jadi kamu tidak boleh makan ice cream."
"Hmpphh ayolah eomma, beli ice cream."
"Tidak!! sudah ayo mandi."
"Nee."
Setelah mandi pagi, Ace lalu berlarian di halaman rumah dan kembali masuk ke dalam rumahnya.
"Daddy!!" teriak Ace.
"Kenapa heum?" tanya Liam menggendong Ace.
"Sini, ayo ikut aku."
"Baiklah."
Ace lalu turun dari gendongan Liam dan menarik tangan Liam untuk mengikutinya pergi ke suatu tempat.
"Buka ini dad!" perintah Ace.
"Baiklah," ucapnya langsung membuka pintu kulkas.
"Sekarang gendong aku!"
Liam langsung menggendong Ace, dan kemudian dia mengambil ice cream dari dalam kulkas.
"Ayo dad kita pergi!"
"Eh kenapa kamu mengambil ice cream? nanti dimarahi eomma."
"Tidak akan dad, tenang saja hehe."
Liam lalu menutup pintu kulkasnya dan pergi ke ruang tengah. Saat di ruang tengah, mereka berdua lalu bertemu dengan Jane.
"Haiss astaga, sudah kubilang jangan makan ice cream!!"
"Hih tadi katanya tidak apa - apa, kenapa kamu malah dimarahi oleh eomma?" tanya Liam.
"Siapa yang memberikan izin untuk makan ice cream?"
"Daddy hehe," jawab Ace sembari tertawa.
"Eh bu-bukan, tadi katanya dia sudah dibolehkan makan ice cream jadi aku membiarkannya saja."
"Oh begitu ya rupanya, sudah kembalikan ke kulkas!"
Liam langsung mengambil ice cream itu dari tangan Ace.
"Sudah sini, nanti kamu dimarahi eomma."
__ADS_1
"Hmmpp."