Dear Ace

Dear Ace
#36 Overthinking


__ADS_3

Liam kemudian lanjut membacakan cerita dongeng untuk Ace sampai dia tertidur. Setelah itu Liam kembali ke kamarnya dan melihat bahwa Jane sudah tertidur nyenyak di atas ranjangnya. Liam kemudian bersandar di sofa sembari memijat dahinya. Dia sekali lagi berfikir bahwa apakah yang dilakukannya ini sudah tepat atau belum, masalahnya Liam rasanya seperti tidak ingin kembali ke titik awal karena dia sudah merasa bahagia dengan kesendiriannya.


Meskipun hanya sebagai tukang ojek online namun Liam merasa senang karena dia terbebas dari tuntutan apapun. Dia kemudian melihat kearah istrinya yang sedang tertidur pulas di atas ranjangnya, dan dirinya masih skeptis dengan apa yang diceritakan oleh Mrs Robinson. Masa iya Jane menjadi seseorang yang seperti itu padahal dahulu dia sangat menyayangi anaknya sendiri, bahkan waktu dirinya memilih untuk memprioritaskan tentang siapa yang diselamatkan namun istrinya tetap saja memilih anaknya.


Liam merasa sangat terheran dengan sikap istrinya kepada Ace apalagi saat beberapa orang terdekatnya mengadu hal yang tidak - tidak mengenai Jane. Setelah itu Liam tertidur di sofa kamarnya sampai pagi, dan setelah jam setengah 6 pagi Liam kemudian bergegas untuk pergi mencari penumpang. Liam duduk sebuah taman sembari memakan sarapannya sekaligus memberi makan hewan - hewan liar. Liam sangat senang seperti ini karena dia bisa bebas pergi kemanapun dan tidak hanya duduk di ruangannya saja.


Meskipun gajinya lebih besar bekerja di perusahaan keluarganya namun entah mengapa sekarang dia justru lebih nyaman seperti ini. Tidak terlalu banyak tekanan yang didapatnya ketika semua hasilnya tidak sesuai dengan ekspetasinya. Liam beranjak dari tempat duduknya dan pergi menjemput customer di rumahnya. Disisi lain Jane yang beru saja terbangun dari tidurnya, langsung pergi mencari suaminya setelah mendapati bahwa dia tidak berada di sampingnya.


"Bi, tahu Liam tidak?" tanya Jane yang baru saja keluar dari kamarnya.


"Oh tuan muda tadi sudah pergi sejak jam setengah 6 pagi."


"Kemana bi?"


"Tidak tahu non, tadi tuan berkata bahwa dia ingin pergi bekerja mencari penumpang."


"Astaga. Terima kasih ya bi."


"Sama - sama non."


Jane lalu pergi ke kamarnya untuk menghubungi Liam namun dia lupa kalau dia belum mempunyai nomor telepon Liam yang baru.


"Rosie, kamu punya nomornya Liam yang baru tidak?" tanya Jane membangunkan Rosie.


"Punya, memangnya eonni tidak punya?" tanya Rosie.


"Liam tidak mau memberikannya kepadaku."


Seketika Rosie langsung terbangun.


"Eh kenapa begitu? perasaan semua orang sudah mempunyai nomor baru Liam."


"Aku belum punya, semalam aku bertanya mengenai hal itu namun Liam tetap tidak mau memberikannya."


"Aneh sekali, masa tidak mau memberikan nomor barunya kepada istrinya."


"Tidak tahu juga, apa aku dahulu membuat suatu kesalahan kepada Liam namun aku tidak menyadarinya?" tanya Jane sedih."


Rosie lalu merangkul Jane.


"Jangan merasa sedih, bisa saja Liam sedang tidak sempat untuk memberikan nomor teleponnya kepada eonni."


"Mudah - mudahan saja begitu, aku takut jika Liam akan meninggalkanku lagi."


"Tidak akan eonni, aku bisa jamin itu. Apalagi sekarang Liam juga sudah bertemu dengan Ace serta dia tidak ingin lepas dari daddynya, pasti Liam akan mempertimbangkan hal itu juga sebelum dia pergi meninggalkan kalian lagi."


"Benar sih Rosie, semoga saja begitu."


"Mmm bagaimana kalau aku akan menghubungi Liam untuk menanyakan keberadaannya?"


"Boleh, coba kamu hubungi Liam."


"Okay."


Rosie lalu menghubungi Liam untuk menanyakan dimana keberadaannya. Setelah Liam menjawab bahwa dia sedang bekerja, Rosie lalu menutup teleponnya.

__ADS_1


"Dia sedang bekerja mengantarkan penumpang, jadi dia tidak bisa menjawab telepon terlalu lama."


"Oh begitu, ya sudah terima kasih ya Rosie."


"Iya sama - sama eonni."


Setelah itu Jane keluar dari kamar Rosie.


"Eh Jane, dari mana saja?" tanya Mrs Robinson.


"Aku dari kamarnya Rosie, ada apa mom?"


"Ace mencarimu, katanya ingin susu."


"Oh ya, sini sayang eomma gendong."


"Eomma, aku ingin minum susu."


"Ingin minum susu?"


"Nee. Daddy kemana eomma?"


"Daddy kerja sayang."


"Jadi tukang ojek lagi?" tanya Ace berusaha menebak.


"Iya sayang, ya sudah yuk minum susu dulu."


"Nee."


Beberapa jam kemudian saat sore hari Liam bertemu dengan Ricko di alun - alun kota. Mereka berdua berbincang sembari memakan gorengan dan juga ice kopi badday yang dibeli di angkringan dekat sana.


"Masih."


"Apa daddy kamu sudah tidak ingin menunjukmu untuk menjadi CEO di perusahaannya lagi?"


"Lebih tepatnya mungkin aku yang sudah lelah menjadi CEO sih, aku lebih senang seperti ini karena bebas dan tidak terlalu banyak tekanan. Jika ada masalah di hal lain, pasti selalu aku saja yang dimarahi dan semakin lama rasanya lelah batin."


"Yang sabar saja, semuanya itu memang ada masanya. Ada masanya kita selalu bahagia, dan juga ada masanya kita sedih sekaligus stress."


"Benar Ric, kalau aku tidak mengingat putraku juga pasti aku memilih untuk pergi selama - lamanya dari dunia."


"Jangan dong, Ace dan Jane sangat membutuhkan kamu."


"Habisnya rasanya melelahkan sekali."


"Ayo semangat Liamm," ucap Ricko


"Huffttt terima kasih "


"Weh siapa tuh?" tanya Dio dan Chicko yang terkejut melihat Liam.


"Maaf tidak kenal," ucap Liam malas.


Mereka berdua menghampiri Liam dan memeluknya.

__ADS_1


"Aku rindu sekali denganmu," ucap Dio.


"Iya, kamu kemana saja selama ini?" tanya Chicko.


"Pergi mencari uang lebih."


"Liam sekarang menjadi tukang ojek online karena capek kerja di perusahaan banyak tekanan," ucap Ricko menjelaskan.


"Sekarang tidak perlu jadi tukang ojek, lebih baik kamu kembali mengambil alih cafemu saja bagaimana? lagipula kamu juga punya 3 cabang di kuar kota."


"Benar kata Dio, lebih baik begitu saja."


"Baiklah besok aku akan kembali ke cafe."


"Nah begitu dong."


Mereka berempat terus berbincang - bincang mengenai banyak hal dan Dio juga menjelaskan tentang perkembangan cafe selama ditinggal oleh Liam. Saat jam 5 sore, Liam telah sampai di rumah dan langsung di sambut oleh teriakan Ace yang berlari menghampirinya. Liam lalu menggendong Ace dan mencium pipinya yang persis seperti milik Jane.


"Daddy baru pulang kerja?"


"Iya, oh ya ini ada donat untukmu."


"Terima kasih daddy."


"Iya, makan donat ini bersama aunty Rosie."


"Nee. Nanti malam ceritakan mengenai dinosaurus lagi."


"Iya daddy akan menceritakannya untukmu."


"Yeayy."


"Hubby, diminum dulu tehnya."


"Oh iya Jane. Ace mau teh?"


"Tidak mau, maunya susu."


"Ya sudah nanti minta eomma."


"Nee dad."


"Tadi main kemana?"


"Main di taman belakang rumah, dan juga di depan rumah bersama aunty."


"Kalau main di belakang rumah tangannya jangan nakal ya?"


"Memangnya kenapa dad?"


"Nanti kalau bunganya rusak kan jadi jelek tamannya, maka dari itu jangan memetik bunga atau apapun di taman."


"Nee dad."


"Pintarnya jagoan daddy."

__ADS_1


"Ace kan selalu pintar, iya kan eomma?"


"Iya sayang."


__ADS_2