
Liam mendengus kesal dan langsung pergi keluar rumah untuk mencari udara segar. Jane yang tangannya masih terborgol oleh suaminya, otomatis dia mengikuti kemanapun dia pergi karena belum menemukan kuncinya. Memang seperti itulah saat Liam merasa kesal ataupun marah, dia selalu pergi kemanapun yang dia inginkan tanpa memikirkan keadaan sekitarnya. Biasanya dia pergi untuk merenung ataupun mengusir rasa kesalnya, dan jika dia menetap pasti dia akan marah - marah karena sifat tempramentalnya itu.
Liam duduk di tangga teras rumahnya dan menatap halaman yang sangat luas dengan pepohonan yang ditanam di halaman itu. Liam merasa heran mengapa grandpa tidak mau melepaskan borgol ditangannya dan tangan Jane, padahal ini terasa sangat menyiksa sekali karena dia tidak bisa pergi dengan bebas. Liam lalu berfikir bahwa sebenarnya grandpa sudah mengetahui permasalahan rumah tangganya, dan sekarang dia berniat untuk menyatukannya dengan istrinya sehingga dia meminta Ace untuk melakukan semua ini.
Liam menghela nafasnya kasar dan hal itu membuat Jane menjadi terus memperhatikannya. Tiba - tiba saja perut Liam berbunyi karena cacingnya demo, dan setelah itu Jane mengajak Liam untuk pergi sarapan ke dalam. Saat tengah berjalan bersama Jane, Liam heran mengapa dia tidak merasa kesal atau marah, dan dia hanya diam saja seperti bukan dirinya yang selalu ganas seperti macan betina. Begitu sampai di ruang makan Jane memgambil sepiring nasi yang lumayan banyak dan beberapa lauk.
"Mari makan hubby."
"Kenapa hanya mengambil satu piring saja, mana piringku?" tanya Liam ketus.
Jane hanya diam dan mulai menyendok beberapa nasi dan juga lauk.
"Hei apa kamu tuli ha?" tanyanya semakin menaikkan nada bicaranya.
Jane lalu menyodorkan sendok yang sudah terisi nasi dan lauk di depan mulut Liam.
"Makanlah, aku tahu bahwa kamu lapar dan tangan kananmu sedang terborgol."
Liam menjadi merasa tidak enak hati dengan Jane.
"Lalu bagaimana denganmu?"
"Aku akan makan setelah kamu kenyang."
"Hmmm baiklah."
Jane lalu menyuapi suaminya sesuap demi sesuap sampai dia merasa kenyang, akan tetapi dia langsung meminta Jane untuk ikut makan saja. Alhasil mereka berdua lalu sarapan bersama sepiring berdua sampai mereka merasa kenyang.
"Setelah ini aku akan mengajakmu pergi berjalan - jalan."
"Kemana?" tanya Jane sangat antusias.
"Pelabuhan, seperti janjiku semalam."
"Dengan Ace juga kan?"
"Tentu saja, mana mungkin kita pergi tanpa bocil satu itu."
Liam lalu mendekatkan kursinya dan langsung memeluk Jane.
"Aku senang jika kita mulai bertingkah menjadi orang tua yang normal untuk Ace."
"Benar hubby, mari kita mulai semuanya dari awal."
"Baiklah, maka dari itu kita harus memulainya dengan bersenang - senang dan menata awal kehidupan kita di Australia."
Raut wajah Jane seketika berubah dan dia tidak bergeming satu katapun.
"Eh kenapa Jane?"
"Kamu tidak berniat untuk menjauhkanku dari keluargaku bukan?"
"Eh tentu tidak, keluargamu itu kan keluargaku juga dan mana mungkin aku menjauhkanmu dari keluargamu. Kita berdua hanya tinggal disini selama beberapa bulan saja dan setelah semuanya membaik serta hatiku membaik, kita akan kembali ke rumah kita yang di Indonesia."
"Syukurlah jika seperti itu, aku fikir jika kamu akan berniat seperti itu."
__ADS_1
"Tentu tidak sayang. Setiap aku ke Australia pasti aku sedang berusaha untuk menyembuhkan luka hatiku."
"Maafkan aku hubby, aku salah telah berbuat hal seperti itu kepadamu."
"Tidak apa - apa, mungkin kita bisa jadikan ini sebagai pelajaran hidup agar kita tidak mengulangi kesalahan yang sama."
Liam kembali memeluk Jane dan mencium pipinya.
*Prok prok prok.*
"Baguslah jika kalian berdua sudah mulai kembali akur lagi, dan grandpa berharap bahwa kalian berdua akan selalu menjadi orang tua yang baik untuk Ace."
Liam melepaskan pelukannya dan menatap ke arah grandpa.
"Apakah semua ini ulah grandpa, dan apakah grandpa sudah mengetahui semuanya?"
"Tentu saja, grandpa selalu mengetahui semua hal meskipun kalian tidak memceritakannya kepadaku. Liam, jaga selalu keluarga kecilmu itu dan jika kamu mengalami kesulitan jangan sungkan untuk meminta bantuan kepada grandpa."
"Baik grandpa, jadi lepaskan borgol ini karena aku akan mengajak mereka bersenang - senang di pelabuhan."
"Hahaha baiklah, tapi jika kalian bertengkar lagi maka grandpa tidak segan - segan akan kembali memborgol tangan kalian agar tidak bertengkar lagi."
"Iya grandpa."
Grandpa lalu mengambil sebuah kunci kecil dari sakunya dan membuka borgol yang mengikat tangan mereka berdua. Setelah itu mereka berdua pergi menuju ke sebuah pelabuhan terdekat untuk berlibur.
"Wahh hubby, disini banyak sekali yacht yang terparkir dan kira - kira milik siapa ya karena terlihat keren sekali?"
"Silahkan pilih yacht mana yang ingin kalian naiki! ujung sana sampai sini milik keluargaku semua."
"Tentu saja, pilihlah mana yang kamu suka."
"Kelima yacht ini sangat bagus, sehingga aku menjadi bingung. Eh namun yang tengah itu bagus, aku ingin yang itu saja hubby."
"Baiklah mari kita naik!" ajak Liam sembari menggendong Ace.
"Kita naik kapal ya dad?" tanya Ace melihat sekeliling.
"Tentu saja sayang."
"Ini punya daddy semua?"
"Tentu saja, kamu bebas ingin menaiki yang mana."
"Kalau mengendarai ini boleh tidak?"
"Besok kalau kamu sudah besar maka daddy akan mengajarimu cara menyetir yacht."
"Okay dad."
Mereka bertiga lalu berlibur di atas yacht yang bernilai milliaran rupiah itu, dan bersenang - senang disana. Liam tidak mengatakan bahwa mereka akan berlibur mengelilingi perairan yang luas, andaikan saja dia mengatakannya pasti Jane sudah membawa pakaian bikininya dan bukannya sebuah dress panjang bewarna hijau. Liam yang mengetahui bahwa istrinya terlihat sedikit kesal karena salah kostum, alhasil dia berbincang dengan nahkoda untuk berhenti di sebuah taman yang terletak di sebuah pulau dan tidak jauh dari tempatnya sekarang.
*Beberapa menit kemudian.*
"Kita sudah sampai, mari turun!" ajak Liam.
__ADS_1
"Dimana hubby?"
"Sekarang kita akan berjalan - jalan di sebuah taman yang tempatnya lumayan bagus."
"Yeayy jalan - jalan di taman," ucap Ace bersorak gembira.
"Let's goo buddy!!" ucapnya menggendong Ace.
"Aku jalan saja dad."
"Tapi jangan berlarian terlalu jauh."
"Nee daddy."
Ace lalu berjalan terlebih dahulu, sedangkan Liam berjalan santai karena Jane menggandeng tangannya. Jane lalu menyodorkan handphone miliknya.
"Ini, tolong ya hubby."
"Hmm kebiasaan," ucap Liam malas.
"Tolong, masa malas dimintai tolong oleh istri."
"Iya deh iya."
Liam lalu mengambil beberapa foto Jane dan juga Ace dengan sangat bagus. Tidak lupa Jane memgambil sebuah foto selfi bersama Ace dan Liam juga.
"Ayo hubby senyum."
"Nihh udah."
"Ck yang tulus dong. masa begitu sih."
"Iya deh iya."
"Nanti aku akan memajangnya di rumah seperti biasanya."
"Iya Jane."
"Kamu tampan jika memakai shirt bewarna biru, apalagi celana putih."
Liam tersenyum.
"Nah dapat fotonya."
"Eh."
"Eomma mau susu, cepat eomma!"
"Eh iya sayang, tapi jangan disini."
"Ayo kita kembali ke yacht saja dan kamu bisa menyusui Ace di sebuah kamar."
"Okay hubby."
__ADS_1