Dear Ace

Dear Ace
#30 Teman Baru


__ADS_3

Ibra mengajak Ace bermain bersama di rumahnya sembari memakan donat, sedangkan Gita sedang berbincang dengan Jane mengenai Liam dan juga kehidupannya selama ini setelah tanpa Liam. Jane bercerita bahwa sangat sulit bagi dirinya untuk menyesuaikan diri dengan kehidupannya yang baru, apalagi biasanya Jane selalu mengandalkan Liam di segala hal namun sekarang Jane sudah tidak bisa ngandalkan Liam lagi karena dia telah pergi.


Jane juga bercerita bahwa semenjak saat itu dia jadi sulit sekali mengontrol emosinya dan selalu melampiaskannya kepada Ace. Bahkan Jane juga berkata bahwa dia sempat berfikir akan menitipkan Ace ke panti asuhan jika dia sudah tidak sanggup mengurusnya. Namun waktu itu bisa dicegah oleh Mrs Robinson, dan setelah itu Jane tidak jadi menitipkan Ace di panti asuhan. Jane menceritakan itu semua sampai tidak sadar air matanya mulai menetes membasahi pipinya.


Melihat sahabatnya yang sedang merasa kesulitan, Gita kemudian memeluk Jane dari samping dan mengusap punggungnya untuk menenangkan Jane yang sedang menangis. Gita lalu menatap Ace dari kejauhan yang sedang bermain bersama dengan putranya, dan Gita merasa bahwa Ace tidak seperti anak seusianya yang selalu bermain dengan ceria. Gita merasa sangat iba sekali serta tidak bisa membayangkan jika nanti Jane benar - benar akan menitipkan Ace ke panti asuhan.


Namun Gita tidak bisa berbuat apapun karena dia sudah berjanji kepada Liam bahwa dia tidak akan memberitahukan tentang keberadaannya kepada siapapun, termasuk kepada keluarganya sendiri. Mungkin Gita saat ini hanya bisa memberikan saran serta menguatkan Jane agar dia selalu tabah menghadapi semua ini, dan juga meminta Jane agar tidak menitipkan Ace ke panti asuhan karena bagaimanapun Ace merupakan anugerah dari Tuhan untuknya. Ibra lalu mengambil sebuah mainan lego miliknya dari dalam kamarnya dan membawanya kembali ke depan televisi untuk dimainkan bersama Ace.


"Aku punya lego baru, pemberian papa aku."


"Oh, papa kamu sering membelikan kamu mainan ya?" tanya Ace tersenyum.


"Tentu saja, papa sering membelikan aku mainan."


"Aku juga ingin dibelikan mainan oleh daddy aku, tapi aku tidak punya daddy."


"Tadi kamu berkata bahwa kamu punya daddy."


"Kata eomma aku punya daddy, hanya saja aku tidak pernah bertemu dengan daddy aku."


"Kenapa begitu?" tanya Ibra penasaran.


"Tidak tahu, setiap kali aku menanyakan kepada eomma pasti eomma akan langsung memarahiku. Mungkin sepertinya eomma tidak suka jika aku bertanya mengenai daddy, akan tetapi meskipun begitu grandpa dan grandma selalu bercerita mengenai daddy secara diam - diam tanpa sepengetahuan eomma."


"Lalu daddy kamu seperti apa?" tanya Ibra yang duduknya semakin mendekat ke Ace.


"Mereka berkata bahwa daddy adalah orang yang sangat baik, pekerja keras, dan juga sangat tampan sepertiku haha."


"Jadi mereka berkata bahwa wajahmu sangat mirip dengan daddy kamu?"


Ace mengangguk.


"Nee."


"Kamu sangat tampan karena orang tuamu dari luar negeri, dan karena itu wajahmu bule."


"Kamu juga sangat tampan, tidak kalah jauh dari aku."


"Benarkah?"


"Iya, sekarang kita berteman?" tanya Ace mengulurkan tangannya.


"Okay kita sekarang berteman," jawab Ibra yang menjabat tangan Ace.


"Kamu teman pertamaku disini."


"Benarkah?"


"Nee, eh maksudku kamu teman keduaku disini."


"Kalau begitu siapa teman pertamamu?" tanya Ibra penasaran.

__ADS_1


"Teman pertamaku disini adalah om kumis, dan dia sangat pandai bercerita dongeng karena bisa menirukan suara apapun."


"Siapa om kumis?"


"Om kumis adalah pria dewasa yang sering memberi makan hewan liar di taman dekat rumahku dulu, dan aku sering bermain dengannya namun setelah uncle Josh bertengkar dengannya jadi dia tidak pernah menemuiku lagi."


"Kenapa bertengkar?"


Ace menggeleng pelan.


"Tidak tahu."


"Orang dewasa memang sering bertengkar mengenai banyak hal, jadi tidak heran jika mereka akan bersikap seperti itu."


"Benar, orang dewasa sering bertengkar dan aku sering melihat eomma bertengkar dengan uncle Josh ataupun dengan grandma."


"Kenapa ya orang dewasa sering bertengkar?" tanya Ibra bingung.


"Tidak tahu, mungkin mereka sering kelelahan karena terus bekerja."


"Kamu benar."


"Apa kamu punya banyak teman?" tanya Ace sembari menyusun lego.


"Aku punya banyak teman disini, kalau kamu?"


"Aku juga punya namun semua teman - temanku berada di Korea Selatan sekarang."


"Terkadang aku merasa iri kepada mereka karena mereka selalu bercerita bahwa banyak hal menyenangkan yang mereka lakukan bersama ayahnya, dan aku juga ingin seperti itu."


"Tenang saja suatu saat pasti kamu juga bisa melakukan hal menyenangkan bersama daddy kamu, seperti yang dilakukan olehku bersama papa."


"Kamu sering bermain apa saja dengan papa kamu?"


"Bermain bola, menyusun lego, dan masih banyak hal lainnya yang kita lakukan bersama."


"Oh begitu," ucap Ace lesu.


"Bagaimana kalau sekarang kita bermain bola saja di halaman rumahku?"


"Boleh."


Ibra lalu mengambil bola kesayangannya dan mengajak Ace untuk keluar rumah bermain bola. Ace merasa senang karena dia mendapat teman baru di Indonesia namun disisi lain Ace merasa sedih karena dia sudah tidak bisa bertemu dengan om kumis lagi. Saat menjelang sore, Jane lalu mengajak Ace untuk pulang karena dia harus mandi sore dan ikut dia pergi ke supermarket. Setelah 1 jam kemudian Ricko sudah sampai di rumah dan langsung menggendong putra kesayangannya itu. Ricko duduk di sofa untuk meminum teh hangat buatan istrinya sembari mendengarkan Ibra bercerita mengenai teman barunya, begitu dia selesai mandi.


Tiba - tiba saja Liam pulang ke rumah Ricko.


"Hai Ric," sapa Liam.


"Baru pulang jam segini?"


"Iya tadi banyak pelanggan, jadi sayang sekali jika aku tidak mengambil orderannya."

__ADS_1


"Oh mandi dulu sana."


"Iya."


Setelah Liam masuk ke kamarnya, Gita lalu menemui Ricko.


"Liam sudah pulang?" tanya Gita.


"Sudah, ada apa?"


"Aku ingin berbicara dengannya."


"Oh dia baru mandi. Mmm apakah tadi Jane kemari?"


Gita mengangguk.


"Iya yang, nanti aku akan menceritakan sesuatu kepada kalian berdua."


"Baiklah."


*Beberapa menit kemudian.*


"Liam ada yang ingin aku bicarakan kepadamu," ucap Gita.


"Kenapa Git?" tanya Liam penasaran.


"Ibra sayang, kamu bermain di kamarmu dulu ya?"


"Okay mah."


"Jadi ada apa Git?" tanya Liam kembali.


"Sepertinya kamu harus segera pulang ke keluargamu."


"Maaf ya jika aku merepotkan kalian berdua, besok aku akan pulang ke gubukku."


"Tidak, bukan pulang di rumahmu yang sekarang namun pulang ke keluargamu!! Ace akan dititipkan di panti asuhan jika kamu tidak segera kembali ke tempat asalmu!!"


"Bagaimana bisa?" tanya Liam terkejut.


"Yang, jangan bercanda."


"Aku tidak bercanda Ricko, Jane benar - benar akan menitipkan Ace di panti asuhan jika dia sudah tidak sanggup mengurusnya. Mental Jane sekarang sedang tidak stabil setelah ditinggalkan oleh Liam, dan untungnya mommy kamu bisa mencegahnya."


"Apa Jane tinggal bersama mommy?"


"Benar."


"Li dengarkan kata - kataku, lebih baik kamu segera kembali sebelum semuanya terlambat."


"Hufftt baiklah."

__ADS_1


__ADS_2