Dear Ace

Dear Ace
#56 Chef Daddy


__ADS_3

Mr Kim masih tidak percaya kalau yang didepannya sekarang adalah menantunya yang telah lama hilang. Dia merasa bersyukur sekali melihat menantunya itu kembali dalam keadaan sehat dan tanpa kekurangan apapun, meskipun sekarang badannya sedikit kurusan. Padahal dahulu Mr Kim sangat menyukai tubuh kekar Liam yang sangat sehat dan bugar, dan bahkan sampai iri melihatnya karena sedari dulu dirinya tidak bisa mendapatkan postur tubuh yang seperti itu meskipun selalu rutin berolahraga.


Mereka bertiga lalu berbincang bersama sembari melepas rasa rindu, dan tidak lama kemudian Jane menghampiri mereka bertiga sembari menggendong Ace yang sudah mandi. Jane kemudian meminta Liam untuk mandi karena hari sudah mulai malam. 1 jam kemudian Liam saat ini sedang berada di dapur untuk memasak makan malam. Malam ini dia memasak hidangan yang special karena akan dinikmati bersama orang tua Jane.


Liam memasak berbagai hidangan mulai dari makanan pembuka, makanan inti, dan dessert. Liam yang juga merupakan seorang executive chef, tentunya sangat ahli dalam hal memasak berbagai hidangan. Dahulu Liam berguru dengan executive chef di beberapa hotel dan restaurant miliknya, sehingga dia menjadi sangat ahli dalam hal memasak. Ace sampai merasa kagum dengan kemampuan ayahnya yang sedang memasak, karena dia memasak dengan sangat cekatan dan bisa melakukan dua pekerjaan sekaligus.


Bahkan sampai apinya berkobar - kobar seperti di sebuah restaurant. Setelah selesai platting semua hidangan, Liam langsung menatanya sendiri di atas meja. Liam lalu melepas celemek yang dipakainya serta topi chefnya sebagai tanda bahwa semua hidangannya telah selesai dibuat, alias selesai memasak.


"Mari semuanya kita makan bersama," ucap Liam mengajak keluarganya.


"Wah hebat, dan sepertinya semua hidangan ini sangatlah lezat."


"Hehe silahkan dicicipi appa," ucap Liam tersenyum.


"Ya tentu saja aku akan mencicipinya, mana mungkin aku tidak akan mencicipi masakan menantuku."


(Eh bukankah ini kebalik? harusnya yang seperti ini itu kan seorang wanita, dan kenapa ini malah yang pria?).


Mereka semua lalu mencicipi hidangan yang telah dimasak oleh Liam.


"Hmm sangat lezat, so delicious."


"Hahaha terima kasih appa," ucap Liam dengan malu - malu.


"Harusnya aku yang berterima kasih kepadamu, kenapa justru kamu yang malah berterima kasih kepadaku?"


"Liam mengucap terima kasih karena appa telah memuji masakannya," ucap Jane menjelaskan.


"Oh begitu rupanya hehe, sama - sama Liam."


"Ini memanglah sangat lezat Liam," ucap Mrs Kim mulai berkomentar.


"Terima kasih eomma."


"Eomma saja sampai iri saat melihatmu memasak seperti tadi, apalagi cita rasa yang dihasilkan sangatlah lezat."


"Sepertinya kamu harus berguru kepada Liam, hon agar kamu bisa selalu memasakkan aku makanan yang sangat lezat setiap hari."


"Hih iya."


"Masakan eomma juga sangat lezat kok appa, tidak kalah dari masakanku."


"Tuh Liam saja bisa menilai masakanku, masa kamu yang setiap hari makan malah tidak bisa."


"Hufftt mungkin aku sudah bosan hon, apa aku request saja denganmu mengenai menu masakan?"

__ADS_1


"Jangan, nanti kamu justru akan request masakan yang sangat susah."


"Tidak hon."


Selesai makan malam bersama, mereka kembali berbincang dan juga bermain dengan Ace. 30 menit kemudian kedua orang tua Jane lalu berpamitan untuk pulang, dan setelah itu Liam menggendong Ace ke kamarnya untuk menceritakan dongeng sebelum tidur.


"Disuatu hari yang cerah hiduplah seorang kancil yang sangat cerdik."


"Daddy, aku tidak mau dibacakan dongeng yang itu."


"Lalu kamu ingin dibacakan yang mana sayang?"


"Yang tadi dibaca oleh daddy."


"Eh tidak mau ah nanti kamu tidak bisa tidur."


"Memangnya kenapa dad?" tanya Ace bingung.


"Karena itu cerita horor, jadi daddy tidak mau menceritakannya kepadamu karena ceritanya sangat menyeramkan."


"Oh begitu, ya sudah lanjutkan saja."


"Kancil yang cerdik sedang berjalan - jalan di kawasan hutan dan mencari sebuah sungai karena ingin minum."


"Haii sedang apa kalian berdua?" tanya Jane dari pintu kamar Ace.


Mendengar hal tersebut, seketika hati kedua orang tua Ace menjadi trenyuh.


"Ayo dad ceritakan lagi!!"


"Oh iya. Mmm sampai mana tadi?" tanya Liam.


"Sampai di sungai karena ingin minum," jawab Ace.


"Oh okay. Lalu saat dia sedang minum di sungai, tiba - tiba saja dia melihat pohon yang berbuah sangat banyak dan terletak di seberang sungai itu. Namun disaat yang bersamaan, tiba - tiba saja datanglah segerombolan buaya yang hendak memangsa kancil."


"Lalu kancilnya bagaimana dad?" tanya Ace semakin penasaran.


"Lalu buaya berkata, hei kancil jangan coba - coba kamu kabur dariku. Kancil menjawab, aku tidak mencoba kabur darimu namun aku ingin memberitahukan suatu hal kepadamu. Sejujurnya kancil merasa sangat takut dengan segerombolan buaya tersebut namun dia mencoba untuk tetap tenang dan memikirkan bagaimana caranya untuk menyebrang ke seberang sungai."


"Caranya bagaimana dad?"


"Kancil lalu kembali berkata, ada seseorang yang akan mengadakan sebuah hajatan dan aku sebagai utusan beliau hendak menyempaikannya kepada kalian semua. Buaya yang merasa sangat antusias itu lalu bertanya, dimana hajatanya? kancilpun...." Belum selesai bercerita, Ace ternyata sudah tertidur nyenyak.


"Hmm jagoan daddy rupanya sudah tidur. Selamat malam sayang," ucap Liam mencium pipi chubby Ace.

__ADS_1


"Goodnight and sweet dream my baby bear," ucap Jane yang juga mencium pipi Ace.


Setelah itu Jane menyelimuti Ace dan mematikan lampu utama, karena Ace biasanya menggunakan lampu tidur yang berbentuk bulan. Mereka berdua lalu pergi ke kamar dan bersiap untuk tidur.


"Goodnight hubby," ucap Jane tersenyum.


"Goodnight my baby girl."


"Ehem, ada yang kurang."


"Apa yang kurang?" tanya Liam bingung.


"Ciuman sebelum tidurnya mana?"


Liam lalu membanjiri Jane dengan ciuman.


"Sudah kan? mari tidur, aku besok harus kerja."


"Baik hubby."


Keesokan harinya adalah hari Senin, dan tentunya merupakan hari yang sibuk untuk Liam karena biasanya dia akan dibanjiri oleh jadwal meeting bersama dengam client. Jane saat ini sedang memakaikan sepatu Liam dan setelah selesai barulah dia mengikat dasi Liam. Jane sangat merindukan hal tersebut, dan akhirnya dia bisa melakukan hal seperti ini setelah sekian lama tidak melakukannya. Liam memperhatikan Jane yang sedang mengikat dasinya, dan seketika jantung Liam berdebar dengan sangat cepat.


"Sudah hubby, mari kita sarapan bersama."


"Eh iya Jane," jawabnya canggung.


"Kenapa hubby?"


"Tidak apa - apa, hanya saja kamu terlihat sangat cantik hari ini."


"Terima kasih hubby," ucapnya dengan tersipu malu.


Beberapa menit kemudian setelah selesai sarapan, Liam langsung pergi ke kantornya.


"Morning cantik," sapa Liam kepada Yunna yang sedang sibuk dengan ipad.


"Morning CEO ku yang nakal."


"Eh eh, kok begitu?"


"Terserah aku."


Liam mencubit hidung Yunna.


"Eh eh dasar kamu ini."

__ADS_1


"Sakit Liam hih."


__ADS_2