Dear Ace

Dear Ace
#31 Rumah Gubuk


__ADS_3

Setelah mendengar semua hal itu Liam menjadi sangat lesu karena dia tidak ingin bahwa suatu saat putranya dititipkan di panti asuhan, akan tetapi disisi lain Liam juga merasa bingung karena sekarang di hanyalah seorang driver ojol dan bukannya pengusaha kaya raya seperti dulu. Liam lalu beralih duduk di teras rumah Ricko dan menatap lurus kedepan sembari memikirkan semua perkataan Gita. Sudah seminggu lebih Liam menginap di rumah Ricko, dan rasanya tidak enak sekali karena telah merepotkan kedua sahabat dekatnya itu.


Setelah itu Liam masuk ke dalam kamarnya dan mengemasi barang - baranganya untuk kembali ke rumah gubuknya itu. Waktu itu Liam membeli sebuah rumah kecil yang berukuran seperempat dari kamar rumahnya yang dulu di sebuah gang kecil. Rumah itu dibeli oleh Liam karena tabungan Liam sudah hampir habis semenjak dia dipecat dari perusahaannya. Tentu saja Liam harus bisa beradaptasi dengan keadaannya yang sekarang karena dari bayi Liam sudah dimanjakan dengan kekayaan.


Setiap hujan deras pasti gentengnya ada saja yang bocor, sehingga Liam harus menadahinya dengan beberapa ember cor agar airnya tidak membanjiri rumahnya. Setelah selesai mengemas semua pakaiannya, Liam langsung berpamitan kepada kedua sahabatnya itu karena dia akan pulang. Awalnya Ricko menolak namun Liam telah berhasil membujuk Ricko, dan alhasil Liam bisa pulang ke rumah gubuknya.


Ricko yang merasa tidak tega sekaligus merasa takut bahwa Liam akan kembali menghilang, Ricko akhirnya mengikuti Liam secara diam - diam untuk memastikan apakah Liam benar - benar pulang ke rumah gubuknya ataukah berniat kabur lagi. 45 menit kemudian Liam telah sampai di rumah gubuknya dan langsung masuk ke dalam rumahnya itu. Kondisi rumahnya sangat kotor karena sudah lama ditinggalkan olehnya, dan setelah itu Liam langsung membersihkan rumahnya agar menjadi sedikit nyaman saat ditempati olehnya kembali.


"Hah akhirnya selesai juga," ucap Liam setelah selesai membersihkan rumahnya.


*Gluduk duarr.*


*Zhrasss.*


"Ah sialan, kenapa harus hujan sih? pasti atap rumah ini akan bocor lagi, apalagi aku belum sempat membenahi atapnya."


Liam bergegas mengambil beberapa ember yang biasa dia gunakan untuk menampung air hujan, dan setelah itu dia meletakkan di titik - titik kebocoran.


"Mudah - mudahan hujannya tidak terlalu deras, ah lebih baik aku membuat mie instan saja karena aku belum sempat makan malam."


Liam melangkahkan kakinya menuju ke dapur dan hendak membuat mie namun ternyata stock mie instannya kosong, jadi Liam pergi ke warung sebentar untuk membeli mie instan. Liam berjalan menyusuri jalan gang yang becek karena air hujan untuk ke warung dengan memakai payung. Rintikan hujan itu semakin lama semakin deras hingga membasahi seluruh payungnya.


Sesampainya di warung Liam membeli 5 mie instan goreng sekaligus dengan rasa yang berbeda - beda, dan ditambah dengan telur mentah untuk membuat mie. Karena melihat sebuah kubis yang masih segar, Liam akhirnya membeli seperempatnya untuk dimasak bersama mie itu. Setelah itu Liam kembali berjalan menuju ke rumahnya, dan sesampainya di rumah Liam langsung membuat mie instan.


*Tes tes tes.*


*Slurppp.*


Liam memakan mie instan buatannya dengan rasa syukur karena meskipun hanya dengan mie instan saja, dia masih bisa makan untuk mengisi perutnya yang kosong.


*Tok tok tok.*


Liam kemudian meletakkan mangkuk mie itu dan pergi membukakan pintu rumahnya.


"Eh Ricko," ucap Liam terkejut.


"Tadi kamu lupa membawa makan malam, padahal Gita sudah memasak banyak untukmu juga."

__ADS_1


"Oh terima kasih, padahal baru saja aku membuat mie instan."


"Oh tidak apa - apa, makanlah yang banyak agar badanmu tidak kurus seperti sekarang."


"Hehe iya, mmm mari masuk ke gubukku maaf ya kalau sedikit berantakan karena biasanya rumahku bocor saat hujan."


"Iya santai saja."


Ricko merasa prihatin dengan keadaan sahabat dekatnya sekarang karena dahulu dia tinggal di rumah yang sangat besar, dan sekarang dia tinggal di rumah gubuk kecil yang mungkin luasnya hanya seperempat dari kamarnya saja.


"Sudah makan?" tanya Liam.


"Sudah," ucap Ricko membukakan sebuah tempat sayur untuk Liam.


"Hujan - hujan enaknya makan mie," ucap Liam dengan tersenyum.


"Nah pakai lauk ini untuk dimakan bersama mie, bukankah kamu sangat menyukai ayam goreng?"


"Tentu saja aku menyukainya, dan sudah lama aku tidak makan ayam goreng hehe."


"Nah habiskan semuanya."


Ricko menggeleng.


"Tidak, makan saja semuanya. Mmm kamu disini tinggal sendirian?"


"Tentu saja, mana mungkin aku tinggal dengan istri dan anakku hahaha."


"Siapa tahu begitu."


Liam tertawa.


"Tidak mungkin aku mengajak mereka berdua untuk hidup susah disini, apalagi setiap hujan selalu saja bocor dan tempatnya ini sangat kotor sekali."


"Siapa tahu Jane mau jika tinggal disini."


"Mungkin kalau Jane sih mau namun aku yang tidak tega untuk mengajaknya hidup susah seperti ini. Oh ya kamu sering mampir di cafe milikku?"

__ADS_1


"Iya aku sering mampir, dan aku sangat rindu saat kita berlima bermain game bersama disana."


"Sebenarnya aku juga sangat rindu bermain game, akan tetapi sekarang aku sudah seperti ini dan sudah tidak mempunyai waktu untuk bermain game karena aku harus terus bekerja keras untuk mencari uang."


*Slurppp.*


Ricko lalu menepuk bahu Liam dan memijatnya.


"Jangan terlalu keras, nanti kamu jatuh sakit jika seperti itu. Berangkat jam 5 pagi dan pulang jam 5 sore bahkan hampir maghrib, dahulu kamu saja sangat santai karena bangun jam 7 pulang jam 4 sore."


"Ya itu dulu saat kerjaanku di ruang ber AC serta hanya ongkang - ongkang kaki saja, tetapi sekarang sudah beda karena aku bekerja di bawah sinar matahari hingga membuat rambutku bau matahari."


"Jujur saja, pasti sekarang sangat sulit untuk bisa beradaptasi dengan semua hal ini bukan?"


Liam menghela nafasnya kasar.


"Ya tentu saja Ric, dahulu aku bisa mendapatkan apapun dengan sangat mudah bahkan selalu bangun siang. Namun sekarang aku sangat sulit membeli apapun yang aku inginkan dan jarang sekali bangun siang, bahkan sulit libur disaat hari Sabtu dan Minggu."


"Yang sabar ya, kalau membutuhkan bantuanku jangan sungkan - sungkan untuk menghubungiku."


"Iya Ric, terima kasih."


"Ayo habiskan makannya, aku tidak ingin kamu terlihat kurus seperti ini."


"Memangnya kenapa begitu?"


"Jujur kamu sangat jelek saat penampilanmu seperti ini hahaha."


Bukannya tersinggung dengan ucapan Ricko, justru Liam malah tertawa.


"Haisss sialan kamu hahaha, ya maklum lah sudah tidak diurus oleh wanita jadinya ya seperti ini hahaha."


"Makanya pulang ke rumah saja apa susahnya sih?"


"Ya susah Ric."


"Susah karena gengsi sekarang kamu tidak punya uang ha?"

__ADS_1


"Bukan gengsi, mungkin lebih tepatnya aku nanti jadi bingung bagaimana harus menghidupi keluargaku jika aku sekarang seperti ini."


"Ck iya sih."


__ADS_2