Dear Ace

Dear Ace
#20 Steak untuk Om Kumis


__ADS_3

Sesampainya di tempat bermain, Ace langsung berlari masuk ke dalam dan mencoba semua wahana permainan yang berada di sana. Simon juga ikut bermain bersama Ace untuk mendampinginya serta menjaganya saat Ace sedang asyik bermain, sedangkan Jane hanya mengawasinya dari samping saja. Kali ini Simon berusaha untuk melakukan pendekatan dengan Ace karena Simon berniat untuk mendekati Jane, sehingga dia akan memanfaatkan Ace untuk menarik perhatian Jane.


Namun kenyataannya Ace justru lebih ingin bermain sendiri daripada bersama Simon, oleh sebab itu dia selalu menghindari Simon saat dia hendak mendekati Ace. Beberapa kali Jane terlihat mengambil gambar serta vidio pemdek Ace dan juga Simon saat mereka berdua sedang terlihat bermain bersama. 1 jam kemudian mereka bertiga pergi ke rumah makan steak yang tadi ditunjukkan oleh Jane saat sebelum ke taman bermain, untuk makan siang bersama.


Setelah itu mereka makan siang bersama sembari berbincang santai, dan Simon juga membicarakan mengenai perusahaan barunya yang belum lama ini dia dirikan sendiri. Tentunya sebagai teman lama Simon, Jane merasa bangga karena Simon sudah ada kemajuan serta Simon menjadi seorang pria yang sudah lumayan sukses daripada sebelumnya. Simon semakin merasa percaya diri menceritakan mengenai kemanjuan perusahaan miliknya sendiri, saat Jane mulai menunjukkan ketertarikannya mengenai topik obrolan yang dibuat oleh Simon.


Saat ada waiters yang berjalan di sampingnya tiba - tiba saja Ace berkata kepada waiters itu jika dia ingin memesan satu steak lagi untuk dibawa pulang, dan saat mereka hendak pulang waiters tersebut lalu memberikan pesanan Ace hingga membuat Jane merasa bingung. Ace lalu menjelaskan kepada Jane bahwa dia membeli 1 steak lagi untuk om kumis. Mereka bertiga lalu pulang ke rumah, dan sesampainya di rumah Ace lalu pergi ke taman untuk menemui om kumis idolanya. Namun sepertinya hari masih siang, jadi dia menunggu sebentar di rumah sampai sore hari.


"Sudah sore hari belum grandma Kim?" tanya Ace yang sedang duduk sembari menggoyang - nggoyangkan kakinya.


"Belum sayang, memangnya kenapa?" tanya Mrs Kim penasaran.


"Aku ingin segera bertemu dengan om kumis."


"Oh begitu, sudah ada janji dengan om kumis rupanya ya?"


Ace mengangguk.


"Nee, dan aku ingin memberikan ini untuk om kumis."


"Wah apa itu?" tanya Mrs Kim penasaran.


"Steak untuk makan malam om kumis," ucap Ace tersenyum lebar.


"Jadi tadi siang kamu membungkuskan steak ini untuk om kumis juga?"


"Nee. Grandma Kim sedang apa?" tanya Ace.


"Grandma sedang membaca majalah sayang."


Ace kemudian melihat majalah tersebut dan membaca sebuah kalimat yang terdapat di dalam majalah tersebut.


"Global it girl, eomma!! teriak Ace sembari menunjuk foto Jane yang terdapat di majalah tersebut.


"Iya itu eomma," jawab Mrs Kim sembari mengusap rambut Ace.


"Kenapa grandma Kim membaca majalah mengenai eomma dan bukannya langsung bertanya langsung kepada eomma sendiri?" tanya Ace polos.


Mrs Kim tertawa.


"Tidak apa - apa sayang, lagipula grandma Kim hanya ingin melihat hasil pemotretan putri grandma Kim sendiri."


"Kenapa tidak langsung melihatnya saja?"


Mrs Kim langsung menggendong Ace ke pangkuannya.


"Kamu ini rupanya banyak bertanya ya?" tanya Mrs Kim mencubit hidung Ace dan setelah itu mencium pipinya.

__ADS_1


"Ace suka bertanya mengenai banyak hal supaya Ace menjadi semakin pintar."


"Oh begitu rupanya."


Tiba - tiba Simon menghampiri Mrs Kim setelah berbincang dengan Jane di taman belakang.


"Tante, Simon pulang dulu ya?"


"Oh iya Simon, hati - hati dijalan."


"Jane, aku pulang."


"Iya Simon, besok kabari aku jika jadi pergi."


"Okay."


Setelah Simon pergi dari rumah Jane, Ace lalu bertanya kepada Mrs Kim.


"Ini sudah sore grandma Kim?"


"Iya sudah, kalau kamu ingin pergi menemui om kumis sebaiknya kamu mandi dulu ya?"


"Nee, ayo eomma kita mandi."


"Baiklah," ucap Jane menggendong Ace ke kamarnya.


"Hai om kumis," sama Ace tersenyum.


"Hai, eh kamu membawa apa?" tanya om kumis saat matanya tertuju pada sebuah bingkisan yang sedang dioangku oleh Ace.


Ace lalu memberikan steak itu kepada om kumis.


"Ini steak untuk om kumis."


"Eh kenapa repot - repot sekali?"


"Tidak kok, aku memang membelikan ini untukmu."


"Benarkah? terima kasih."


"Sama - sama."


"Mmm tadi pagi yang menjemputmu ke taman ini itu ayah dan ibu kamu?"


"Pria tadi itu uncle Simon, sedangkan yang satunya itu eomma. Tadi om kumis pergi kemana?"


"Oh aku pergi karena ada orderan masuk."

__ADS_1


"Oh begitu."


Om kumis lalu membuka bingkisan itu dan mencium aromanya.


"Hmm wangi sekali, dan kelihatannya sangat lezat."


"Om kumis pernah makan steak?"


"Pernah, dulu aku sering makan steak dan juga aku bisa membuatnya."


"Benarkah? aku ingin mencoba steak buatan om kumis."


"Baiklah besok kapan - kapan aku akan membuatkan kamu steak special, untuk eomma kamu juga."


"Benarkah?"


"Tentu saja."


"Yeayy asik!!" teriak Ace bersorak gembira.


Om kumis lalu mencoba mencicipi steak tersebut di taman, dan sesekali dia juga menyuapi Ace untuk ikut memakan steak tersebut bersamanya. Jane ternyata diam - diam sedang memperhatikan interaksi antara Ace dan om kumis dari kejauhan. Jane melakukan hal tersebut karena dia merasa penasaran mengenai sosok om kumis itu serta penyebab mengapa Ace menjadi sangat dekat sekali dengan om kumis. Saat Jane melihat wujudnya, Jane menjadi bertanya - tanya mengapa Ace tidak takut bersama dengan pria yang penampilannya menyeramkan seperti itu. Penampilannya itu sedikit lusuh serta tumbuh jenggot dan kumis yang sangat lebat sekali, pantas saja Ace selalu mengatakan bahwa om kumis itu seperti pohon beringin.


"Sepertinya aku akan mempunyai daddy baru," ucap Ace secara tiba - tiba.


Seketika om kumis berhenti mengunyah makanannya karena merasa terkejut dengan pernyataan Ace.


"Ke-kenapa begitu?"


"Karena eomma sangat dekat sekali dengan uncle Simon dan juga dia selalu berusaha untuk mendekatiku karena ingin merebut perhatian eomma."


"Siapa tahu mereka berdua hanya berteman saja."


"Aku merasa bahwa mereka berdua lebih dari sekedar teman."


"Hei kamu masih kecil, bagaimana kamu bisa mengetahui semua itu dan berbicara layaknya seorang anak remaja berusia 17 tahun?"


"Tidak tahu."


"Aku menjadi sangat curiga kepadamu."


"Curiga kenapa?"


"Jangan - jangan cara berfikirmu sudah lebih jauh seperti orang dewasa."


"Tidak tahu juga, tiba - tiba aku ingin mengatakan hal seperti ini kok."


"Hmm baiklah."

__ADS_1


__ADS_2