
Mereka lalu memasuki rumah tersebut secara bersamaan untuk menemui grandpa dan grandma. Ace lalu berlari menuju ke arah Jane karena sedang ingin duduk dipangkuannya. Jane sangat senang sekali bertemu dengan Jenia, apalagi dengan bayi perempuannya yang terlihat sangat cantik dan menggemaskan. Rasanya Jane sangat ingin sekali memiliki anak lagi namun kali ini sepertinya Jane lebih menginginkan anak perempuan. Menyadari jika Jane sangat gemas dengan putrinya, Jenia lalu memberikan putrinya untuk digendong oleh Jane.
Putrinya Jenia alias Daisy memperlihatkan senyumannya yang manis hingga membuat hati Jane meleleh melihat senyuman Daisy. Grandma lalu menggoda Liam dengan memintanya untuk segera memberikan Ace seorang adik perempuan, karena Jane terlihat sangat menginginkannya. Mendengar hal tersebut Liam tersenyum dan membalasnya dengan mengiyakan permintaan grandma. Jane hanya bisa tersipu malu dengan pipinya yang sudah memerah seperti kepiting rebus.
Memang dari dulu Jane sangat menginginkan anak perempuan namun mungkin salah posisi eh maksudnya karena Liam terlihat sangat menginginkan anak laki - laki, oleh karena itu Jane menuruti keinginan suaminya serta sebagai hadiah atas kesabarannya selama ini. Saat Ace mendekat ke arah Daisy, Liam sudah siap siaga jika terjadi hal - hal yang diluar dugaan. Liam memegangi perut Ace saat dia sedang mencoba berbicara kepada Daisy.
"Adiknya kenapa tidur dad?" tanya Ace menatap Liam.
"Adiknya sedang mengantuk, makanya dia tidur."
"Oh begitu, namanya siapa dad?"
"Daisy."
"Woahh daisy itu kan bunga favorite eomma, iya kan eomma?"
"Iya sayang."
"Adiknya cantik seperti bunga daisy."
"Terima kasih oppa tampan," jawab Jenia.
"Aku sudah oppa - oppa ternyata woahh," ucap Ace sangat senang.
"Besok adiknya dijaga ya oppa?" ucap Jenia mengusap rambut Ace.
"Nee, besok aku akan mengajaknya bermain bola."
"Tapi adiknya cewe, masa diajak bermain bola?" tanya Liam.
"Ya tidak apa - apa. Eomma aku mau susu."
"Iya sebentar," ucap Jane memberikan Daisy kepada Jenia dan setelah itu dia pergi untuk mengambil susu Ace.
"Ace sekarang sudah bisa apa saja Li?" tanya Jenia sembari menimang Daisy.
__ADS_1
"Dia sudah bisa membaca, menulis, berhitung yah meskipun belum sepenuhnya lancar melakukan semua hal tersebut."
"Oh begitu, hebat dong nanti juga semakin lama Ace akan lancar melakukan semua hal itu sabar saja."
"Iya Jenia."
"Ini sayang susunya," ucap Jane memberikan sebotol susu kepada Ace dan langsung memangkunya.
"Bagaimana Josh mengenai perusahaan entertaiment milikmu?" tanya Arthur memulai topik pembicaraan dengannya.
"Yah lancar - lancar saja dan kami sedang bersiap untuk mendebutkan boygrup baru."
"Woahh hebat sekali, apakah Liam masuk ke dalam line boygrup yang akan debut itu?" tanya Arthur mengejek Liam.
"Jangan mengejekku, aku tahu jika kamu berniat seperti itu kepadaku."
"Hahaha habisnya kamu ini juga aneh, dulu aku dengar kamu hampir debut namun malah mengundurkan diri."
"Benar namun tiba - tiba keinginanku berubah, apalagi setelah aku tidak bisa melakukan sebuah gerakan dance secara maksimal akibat kakiku pernah patah parah."
"Benar Josh, suaranya sangat merdu dan aku sangat senang melihat Liam bernyanyi sembari memainkan sebuah piano."
"Haiss kalian ini jangan seperti itu, aku kan jadi malu."
Mereka semua langsung tertawa bersama.
"Ayo Li, cepat mainkanlah sebuah lagu sembari bermain piano untuk kita berdua."
"Hmm baiklah," ucap Liam yang mulai bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke arah sebuah piano.
Liam kemudian duduk dan jari jemarinya mulai memainkan sebuah tuts piano tersebut. Liam menyanyikan sebuah lagu favoritenya, dan setelah selesai menyanyikan lagu tersebut Liam justru diminta untuk bernyanyi lagi oleh Arthur. Beberapa jam kemudian Liam sedang berjalan - jalan santai bersama Arthur untuk membahas negosiasi bersama mafia dari Spanyol. Tiba - tiba saja Liam ditabrak oleh seseorang secara tidak sengaja.
"Heii tunggu!!" teriak Liam.
"Maaf tuan, aku tidak sengaja!!" teriak pria itu sembari terus berlari karena sepertinya dia sedang terburu - buru ingin melakukan sesuatu hal.
__ADS_1
Karena merasa penasaran Liam langsung mengejar pria itu dan tidak lama kemudian dia berhasil menangkap pria itu.
"Aku minta maaf tuan, aku tidak sengaja menabrak anda."
"Kamu terlihat seperti bukan orang sembarangan, mmm maksudku apa kamu sedang membutuhkan sebuah pekerjaan?"
"Apa anda mempunya sebuah pekerjaan untukku?"
"Aku mempunyai sebuah pekerjaan untukmu."
"Pekerjaan apa tuan?"
"Besok akan kujelaskan jika kamu bersedia menerima tawaranku."
"Berapa bayaran yang akan ku dapatkan ketika aku berhasil menjalankan tugasku?"
"Berapapun yang kamu mau, benar begitu Arthur?" tanya Liam menatap Arthur.
Arthur mengangguk.
"Benar, kami berdua akan memberikan berapapun jumlah nominal uang yang kamu minta asalkan kamu berhasil menjalankan tugas dari kami berdua."
"Baiklah aku akan menerima pekerjaan ini," ucapnya sangat antusias.
"Besok temui kami di taman ini tepat pada pukul 10 pagi," ucap Arthur.
"Baik tuan."
"Siapa namamu?" tanya Liam.
"Ebert," jawabnya menjabat tangan Liam.
"Panggil aku Liam, dan dia Arthur.
"Baik tuan."
__ADS_1