
Liam kemudian memeluk Jane karena sedang ingin dimanja oleh istrinya yang sangat cantik jelita itu, dan tentunya juga sexy. Jane hanya tersenyum sembari mengusap rambut Liam, dan setelah itu dia menepuk - nepuk pantatnya karena merasa gemas dengan tingkah Liam yang seperti bayi besar. Setelah itu Jane beralih memijat punggung serta pinggul Liam, karena dia mengeluh bahwa badannya terasa sangat lelah sekali. Jari jemari Jane memijatnya dengan sangat kuat karena suaminya itu akan protes jika dia memijatnya dengan pelan, maklum badannya besar seperti dinosaurus jadi tidak akan terasa jika secara perlahan.
30 menit kemudian Liam langsung membalikkan tubuhnya dan menerkam Jane seperti seorang singa yang kelaparan. Jane menelan ludahnya karena dia sudah hapal akan apa yang terjadi setelahnya. Liam menatap mata kucing Jane dengan sangat dalam dan seketika dia mengecup bibirnya dengan sangat lembut. Setelah itu dia tertidur di atas Jane, dan meletakkam kepalanya di atas dada Jane. Seketika Liam langsung tidur dan mendengkur.
Jane mengusap rambut Liam yang sudah mulai memanjang dan sangat lebat secara perlahan, dan dia juga menatap wajah suaminya yang tampak manis meskipun tengah tertidur. Tiba - tiba saja handphone Jane berdering yang menandakan ada pesan masuk. Jane lalu bergegas mengambil handphonenya untuk memastikan siapa yang mengirimi dia pesan sebanyak itu. Setelah dilihat ternyata yang mengiriminya pesan adalah Simon.
Dia memohon kepada Jane karena menginginkan agar Jane kembali padanya, dan dengan segala janji yang dia tulis untuk menarik simpati Jane. Namun bukannya dia mendapat balasan dari Jane, justru dia mendapatkan sesuatu kejutan yang lebih sakit dari diabaikan yaitu nomornya langsung diblokir oleh Jane. Setelah itu Jane menarik selimut dan menyelimuti tubuh mereka berdua, lalu dia menyusul suaminya tidur. Keesokan harinya Jane sudah duduk di depan cermin untuk berdandan.
"Nggg Jane, sayang."
"Eh sudah bangun? good morning hubby sayang."
"Kamu sedang apa sayang?" tanya Liam yang masih memeluk guling.
"Aku sedang dandan, karena habis mandi. Kamu mandi sana!"
"Nanti, aku malas sayang."
"Dih selalu saja begitu setiap disuruh mandi," gerutu Jane sembari mengoleskan brush di pipinya.
"Hehe mandiin sayang," ucap Liam tersenyum licik.
"Kamu sudah dewasa, masa minta dimandiin."
"Ya tidak apa - apa, ayolah sayang."
"Tidak Liam!!"
"Ya sudah kalau tidak mau," ucapnya merajuk dan menutupi wajahnya dengan selimut.
Jane menggelengkan kepalanya dan duduk di tepi ranjang. Lalu dia mengusap rambut Liam untuk membujuknya.
"Ya sudah ayo mandi, aku mandiin."
Mendengar hal tersebut, Liam langsung menatap wajah cantik Jane dengan senyum sumringahnya.
"Ya sudah ayo mandi!!"
"Iya sayang, makanya ayo bangun!"
"Okay, eh mana morning kiss ku?"
"Hmm dasar ngelunjak."
"Morning kiss," ucapnya memanyunkan bibirnya.
Jane lalu mencium bibir Liam sekilas dan langsung menyuruhnya pergi ke kamar mandi.
"Ayo mandi dulu bayi besarku," ucapnya mengusap dada Liam.
Liam langsung beranjak dari tempat tidurnya dan malah melepas semua pakaiannya di depan Jane hingga membuat Jane merasa sangat syok. Setelah itu Liam berlari ke kamar mandi, sedangkan Jane memunguti semua pakaian kotor Liam untuk dimasukkan di dalam keranjang laundry.
__ADS_1
"Hmm mau balapan nakal sama Ace heum?" tanya Jane sembari berkacak pinggang.
Melihat Jane yang seperti itu, bukannya takut namun dia malah tertawa tanpa dosa.
"Hehe, ayo cepat mandikan aku sayang!"
"Iya deh hufftt."
"Aku sayang kamu," ucap Liam manja.
Jane lalu duduk di sebelah bathtub dan mengusap rambut Liam.
"Aku heran padahal dulu kamu tidak seperti ini karena kamu terkesan seperti seorang pria yang dingin dan arogan, akan tetapi sekarang kamu sangat manja sekali."
"Mmm entahlah kenapa aku bisa menjadi seperti ini, mungkin kamu yang terbiasa memanjakanku makanya aku menjadi berubah."
"Benar juga sih."
"Jane, kamu tidak akan pergi dengan pria lain dan menjauhkan Ace dariku kan?" tanyanya menatap Jane memelas.
"Tidak sayang, aku sudah nyaman bersamamu jadi aku akan tetap disini menghabiskan waktu bersamamu sampai kita tua."
"Janji?"
Jane menangkup kedua pipi Liam dan mencium bibirnya.
"Janji sayang."
"Kamu tidak sayang kepadaku?"
"Eh tentunya aku juga sayang denganmu juga hehe, kalian berdua adalah alasanku mengapa masih ingin bertahan di dunia ini. Aku ingin melindungi kalian berdua sebagaimana mestinya sebagai seorang kepala rumah tangga."
"Iya sayang."
2 jam kemudian Liam sedang duduk di teras rumah bersama dengan Ace juga, dan mereka berdua sedang mengamati keadaan sekitar sekaligus pergerakan para bodyguard.
"Berapa banyak daddy mencintai eomma?" tanya Ace tiba - tiba.
"Eh kenapa kamu tiba - tiba bertanya hal seperti itu? tau apa kamu tentang cinta, kan kamu anak kecil."
"Aku tahu banyak mengenai cinta."
"Dih kamu ini. Rasanya sangat aneh sekali karena terkadang aku seperti berbincang dengan pria seumuranku, saat aku berbincang denganmu."
"Aku tahu semuanya daddy!!"
"Menurutmu berapa banyak aku mencintai eomma?" tanya Liam menantang Ace.
"1 triliun persen."
"Dih mengada - ngada."
__ADS_1
"Aku senang karena eomma sekarang lebih banyak tertawa serta tersenyum karena daddy, dan aku tahu bahwa ternyata yang eomma lebih butuhkan itu adalah kehadiran daddy di setiap harinya daripada sebuah harta."
"Benarkah begitu?"
Ace mengangguk.
"Iya daddy, jadi jangan tinggalkan eomma dan aku lagi karena kalau daddy pergi aku jadi tidak bisa membeli lebih banyak mainan lagi hahaha."
Liam lalu menggendong Ace ke pangkuannya.
"Hmm baiklah, daddy akan memberikan apapun yang kamu inginkan asalkan kamu menjadi anak yang baik."
"Okay daddy."
"Wah kalian sedang membicarakan hal apa, sepertinya sangat seru sekali?" tanya grandpa.
"Ah ini grandpa, kami sedang membicarakan mengenai beberapa bodyguard itu."
"Apa ada yang salah dengan mereka?"
"Tidak ada, semuanya baik kok maka dari itu aku senang karena merasa aman."
"Baguslah, menetaplah disini jika itu yang kamu inginkan Liam."
"Mungkin aku harus membicarakan ini dengan Jane terlebih dahulu."
"Baiklah."
Setelah itu Liam mengajak Ace untuk berkeliling dengan menggunakan mobil mininya di sekitar rumah, dan tidak lupa merwka juga mengunjungi Petra yang sedang bersantai di kandangnya. Beberapa menit kemudian mereka berdua kembali ke rumah namun tiba - tiba saja Arthur datang bersama dengan Jenia.
"Wah sedang apa kalian berdua?" tanya Jenia sembari menggendong seorang bayi mungil.
"Kami berdua habis jalan - jalan melihat Petra," jawab Liam.
"Oh begitu, eh ini anakmu Li? tampan dan menggemaskan sekali."
"Terima kasih aunty," jawab Ace.
"Namanya siapa?"
"Acee!" jawab Ace sangat antusias.
"Oh begitu.
"Anak kalian berdua juga sangat cantik sekali."
"Terima kasih Liam."
"Sama - sama, mmm kamu mau bertemu Jane?"
"Iya, aku ingin berbincang dengannya."
__ADS_1
"Mari masuk."