Dear Ace

Dear Ace
#06 Pencarian


__ADS_3

Saat Josh berpamitan dan ingin pergi mencari meja lain, Ricko lalu meminta Josh untuk tetap tinggal serta bergabung di mejanya saja. Mendengar hal tersebut Josh merasa senang namun disisi lain Josh juga merasa tidak enak dengan Gita karena Josh takut jika dia telah mengganggu acara makan malam keluarga mereka. Josh menatap Gita untuk meminta izin dengannya, dan setelah diizinkan oleh Gita barulah Josh duduk di samping Ricko. Setelah itu Josh memanggil waiters yang sedang bertugas di meja sebelah.


Saat waiters tersebut menghampiri Josh, dia kemudian memesan menu yang sedang ingin dia makan. Lalu setelah itu Ricko mengajak Josh berbincang karena memang itulah niat Ricko mengajak Josh bergabung di mejanya. Sebagai pembuka percakapan diantara mereka berdua, Ricko bertanya mengenai keadaannya serta keluarganya termasuk tentang Jane dan Ace. Tidak lama kemudian waiters tadi menghampiri meja mereka untuk menyajikan menu pesanan Josh.


Ricko melanjutkan percakapannya dengan Josh sembari menyantap hidangan makan malam masing - masing. Semakin lama Josh mulai terhanyut dalam percakapan tersebut dan bercerita kepada Ricko mengenai keadaan adiknya semenjak ditinggal oleh Liam. Ricko memang sangat pandai memancing seseorang untuk bercerita kepadanya secara sukarela, oleh sebab itu teman - teman dekatnya sangat berhati - hati sekali kepada Ricko agar mereka tidak terhanyut dalam sebuah percakapan yang dibuat oleh Ricko.


Berulang kali Josh juga menanyakan informasi mengenai Liam namun Ricko tidak bisa menjawabnya karena dia memang belum mengetahui informasi memgenai sahabat dekatnya itu. Gita sibuk mengurus serta bermain dengan Ibra meskipun sesekali dia mendengar percakapan mereka berdua dan juga memberikan saran kepada Josh. Selesai makan malam Ricko mengantarkan anak dan istrinya pulang terlebih dahulu ke rumahnya, baru setelah itu dia ikut bersama Josh untuk mencari Liam.


Ricko tidak perlu meminta izin kepada istrinya untuk membantu Josh karena sejak awal justru Gita lah yang meminta Ricko untuk membantu Josh mencari Liam. Gita merasa iba dengan Jane karena Jane adalah temannya, dan begitupun dengan Liam yang juga merupakan teman dekatnya sejak mereka SMA.


"Kamu tidak apa - apa jika aku meninggalkanmu untuk mencari Liam sebentar?" tanya Ricko memastikan.


"Tentu saja aku tidak apa - apa karena Liam juga teman dekatku, aku juga sangat khawatir dengan Liam jika misalnya ada hal buruk terjadi kepadanya karena Liam juga teman dekatku."


"Iya sayang."


"Aku juga tidak bisa melarangmu karena setiap malam kamu selalu sulit tidur karena kepikiran mengenai sahabatmu itu."


"Hehe, mmm kalau begitu aku pergi dulu."


"Iya sayang."


Ricko lalu mencium anaknya.


"Papa tinggal sebentar ya Ibra? jangan nakal saat bersama mama."


"Okay papa."


Setelah Ricko menurunkan Ibra, dia lalu pergi bersama dengan Josh untuk mencari Liam. Selama diperjalanan Ricko terus berbincang dengan Josh agar suasananya tidak terlalu sepi dan juga canggung.


"Ace sekarang sudah bisa apa saja Josh?" tanya Ricko.


"Dia sudah bisa berbicara, berlari, membaca, menulis beberapa kata dan juga menggambar."


"Wah hebat."


"Kalau anakmu sudah bisa apa saja Ric?" tanya Josh sembari menyetir mobilnya.


"Dia juga sama seperti Ace namun sepertinya dia tidak terlalu tertarik menggambar dan hanya senang mewarnainya saja, jadi aku selalu membelikannya buku mewarnai."

__ADS_1


"Kalau Ace sangat suka sekali menggambar bahkan hampir semua mainannya selalu dia coret - coret dengan menggunakan bolpoint milikku, oleh sebab itu Jane membelikannya buku gambar yang besar sekaligus alat mewarnainya agar Ace menjadi tambah semangat menggambar dan yang terpenting tidak mencoret - coret mainannya."


Ricko tertawa mendengar cerita dari Josh.


"Sepertinya Ace mempunyai bakat menggambar seperti Liam."


"Aku fikir seperti itu, bakat menggambar Liam dia turunkan kepada anaknya."


"Hahaha sudah kuduga."


"Bukan hanya itu saja, ternyata dia juga sering bertingkah sangat absurd seperti Liam hahaha."


"Benarkah?" tanya Ricko sembari menepuk paha Josh.


"Iya Ric, dia sangat menggemaskan sekali meskipun terkadang aku dibuat geram oleh tingkahnya yang nyleneh bin absurd seperti Liam."


"Eh bagaimana kalau kita mulai mencari Liam dari alun - alun kota saja? dahulu dia sangat sering pergi kesana dengan Jane saat malam."


Josh menjentikkan jarinya.


"Nah iya benar juga."


"Aku tidak menemukan keberadaan Liam," ucap Josh dengan ngosh- ngoshan.


"Sama, aku juga seperti itu."


Josh lalu menunduk.


"Kamu ini sebenarnya dimana sih Liam? kami semua mencari keberadaanmu namun tidak pernah menemukanmu, apa kamu tidak rindu dengan anak dan istrimu?"


Ricko mengusap punggung Josh.


"Aku yakin bahwa kita akan segera menemukan Liam."


"Kalau dia tiba - tiba pindah ke luar negeri ataupun ke luar kota bagaimana Ric?"


"Tidak mungkin, aku sangat yakin bahwa Liam masih berada di kota ini."


Ricko meminum es teh yang tadi dia beli.

__ADS_1


"Jika misalnya sekarang kita tidak menemukannya, maka masih ada hari esok untuk mencarinya."


"Kamu benar Ric. Mari kita cari Liam bersama - sama saja," ucap Josh berdiri.


"Kamu yakin akan kembali mencarinya?"


"Tentu saja, semua ini demi adikku sekaligus demi keponakanku dan juga sebagai penebusan dosaku kepada keluarga adikku."


"Baiklah mari kita cari bersama - sama."


"Ah sepertinya aku terfikirkan sebuah ide untuk tempat selanjutnya yang akan kita datangi."


Josh lalu menarik tangan Ricko dengan semangat, setelah itu Josh mengendarai mobilnya menuju ke sebuah club yang biasa Liam datangi dahulu. Sesampainya disana Josh lalu bertanya kepada teman Liam yang bekerja disana.


"Kapan terakhir kali Liam datang kemari?" tanya Josh.


"Aku lupa karena sudah lama Liam tidak pernah kemari, memangnya dia kemana?"


"Aku tidak tahu, makanya aku kemari untuk mencarinya."


"Maaf aku sudah lama tidak melihat Liam kemari dan berfikir bahwa dia pindah ke club lain."


"Tidak mungkin Liam pindag ke club lain karena Liam sudah merasa nyaman disini apalagi dia mendapat banyak teman disini," ucap Ricko menambahkan."


"Benar juga, eh bukankah kamu juga sering kemari dengan Liam meskipun kamu tidak pernah meminum minuman racikanku."


"Benar," jawab Ricko.


Bartender itu lalu menepuk Josh.


"Hei kau, harusnya kamu bertanya kepadanya karena Liam sering pergi berdua bersamanya."


"Aku sudah bertanya dengannya namun dia juga tidak mengetahuinya."


"Hei kamu ini teman macam apa, kenapa bisa - bisanya tidak tahu?"


"Dia menghilang seperti ditelan bumi," jawab Ricko.


"Oh begitu."

__ADS_1


__ADS_2