
Liam menjadi sangat bingung sekali dengan semua itu karena dia sangat ingin bertemu sekaligus kembali ke anak istrinya, akan tetapi disisi lain Liam masih merasa malu untuk menampakkan dirinya di depan keluarganya karena dia sekarang hanya berprofesi sebagai driver ojek online. Liam sekarang hanya bisa menyembunyikan identitas aslinya agar tidak diburu oleh beberapa bodyguard keluarganya dan juga keluarga istrinya, sehingga dia sengaja merubah penampilannya agar mereka semua tidak bisa dengan mudah menemukannya.
Namun waktu itu dia sempat hampir ketahuan oleh ibu mertuanya saat secara tidak sengaja membantunya memunguti beberapa buah - buahan yang berceceran di lantai, dan untungnya dia bisa kabur dengan cara bersembunyi di belakang tumpukan kardus minuman air mineral. Yah yang namanya sepandai - pandainya tupai melompat dapat terjatuh juga, akhirnya Liam bisa ditemukan oleh Ricko saat dirinya sedang ingin mengakhiri hidupnya di jembatan yang biasa dia kunjungi.
Liam lupa bahwa Ricko itu sudah seperti saudara kandungnya sendiri yang sudah sangat hafal mengenai dirinya, sehingga Ricko dengan mudah mengenalinya meskipun hampir seluruh wajahnya tertutup kumis dan jenggot. Ricko yang mengetahui bahwa sahabat dekatnya itu sedang bingung, dia lalu merangkulnya dan berusaha menguatkan sahabatnya itu dengan kata - kata semangat serta memberikan saran saat dia meminta saran darinya. Ibra saat ini sedang bermain bola di halaman rumahnya, dan tidak lama kemudian dia menghampiri ayah serta pamannya yang sedang berbincang di teras rumah.
"Papa ayo main bola," ucap Ibra menarik - narik baju Ricko.
"Eh ini sudah hampir mahgrib, jadi besok lagi main bolanya."
"Oh okay."
Liam lalu merogoh saku jacketnya dan menemukan sebuah cokelat dari dalam sana.
"Ini untuk Ibra," ucap Liam memberikan sebuah cokelat.
"Terima kasih om Liam," ucap Ibra menerima cokelat tersebut.
"Papa mau makan ini."
"Iya," jawab Ricko menggendong Ibra di pangkuannya.
"Sepertinya anakku tidak suka bermain bola dan mungkin dia lebih suka bertanya mengenai banyak hal," ucap Liam bercanda dengan Ricko.
Ricko langsung tertawa.
"Hahaha benarkah? berarti sama sepertimu yang selalu menanyakan hal - hal yang tidak perlu," ucap Ricko mengejek Liam.
"Ckckck tidak juga, sekarang aku sudah lebih mendingan. Hufftt aku penasaran apakah aku akan diberi kesempatan lagi untuk menjadi seorang ayah yang baik untuk anakku?"
Ricko menepuk bahu Liam.
"Tentu saja, tidak ada yang tidak mungkin selama Tuhan berkehendak karena Tuhan selalu bisa membolak - balikkan hati manusia sekaligus menetapkan sebuah takdir yang terbaik untuk umatnya."
"Rasanya aku ingin sekali menebus semua dosaku kepada mereka berdua namun aku sekarang tidak mempunyai apapun untuk membahagiakannya," ucap Liam yang sudah mulai putus asa.
"Bagaimana jika aku membelikan kamu sebuah tiket ke Korea Selatan?"
"Hei tidak perlu, sekarang mereka berdua sudah berada di Indonesia."
"Eh benarkah?" tanya Ricko merasa terkejut.
"Iya Ricko, bukankah aku pernah memberitahukan ini kepadamu?"
"Mungkin aku lupa hehe."
"Sepertinya Jane juga sudah menyewa beberapa pekerja untuk merenovasi sekaligus membersihkan rumahku yang dulu."
__ADS_1
"Benarkah? bagaimana kamu mengetahuinya?"
"Aku waktu itu sempat mengunjunginya serta melihatnya dari kejauhan. Ck aku harap dia tidak berniat menempati rumahku bersama dengan pria lain."
Ricko tertawa.
"Mana mungkin dia setega itu kepadamu Liam, dahulu dia sangat tulus mencintaimu bahkan dia selalu diam melihat tingkah lakumu yang sedikit kekanakan itu."
"Itukan dulu, tidak tahu kalau sekarang. Waktu itu aku melihat dia dekat dengan pria lain, dan sepertinya dia sedang mencari daddy baru untuk Ace."
Ricko yang sedang meminum teh hangatnya seketika langsung menyemburkannya setelah mendengar ucapan Liam.
"Astaga, benarkah? mmm mungkin saja pria itu hanya temannya."
"Tetapi mengapa mereka berdua sangat dekat sekali? apalagi pria itu sepertinya ingin selalu dekat dengan Jane, dasar."
"Kalaupun misalnya pria itu sangat ingin dekat dengan Jane bahkan menyukai Jane, belum tentu Jane menyukai dia juga Liam."
Liam menghela nafasnya kasar.
"Hufftt apa aku ajukan surat cerai saja agar dia bisa bahagia dengan pria lain?"
"Hei jangan seperti itu kita kan belum tahu bagaimana kebenarannya, jangan mengambil keputusan saat kamu sedang seperti ini."
"Memangnya kenapa?"
"Nanti kamu akan menyesal."
*Blam.*
"Liam kenapa tuh?" tanya Gita merasa heran.
Ricko tertawa.
"Hahaha biasalah."
"Ckckck kalian berdua selalu saja bertengkar saat bertemu namun jika berjauhan malah saling rindu."
"Hehe."
5 hari kemudian saat malam hari, keluarga Robinson sedang menikmati hidangan makan malam bersama dan begitupun dengan Ace yang duduk di kursi buatan Mr Robinson karena dia tidak sampai di meja makan. Mungkin lebih tepatnya Mr Robinson meminta salah satu tukang untuk membuatkan kursi khusus agar Ace bisa sampai di meja makan serta dapat menikmati makan malam bersama mereka semua dengan nyaman. Selesai makan malam Ace kemudian di culik oleh Rosie sebentar untuk di ajak berjalan - jalan bersama di alun - alun kota bersama Jane juga.
Sudah lama sekali Rosie tidak pergi berdua dengan kakak ipar kesayangannya itu karena Jane kembali ke Korea Selatan. Mereka bertiga lalu menyusuri sekitar alun - alun tersebut untuk melihat keadaan sekeliling serta membeli crepes. Setelah itu mereka duduk di sebuah bangku yang berada disana untuk berbincang - bincang mengenai keadaan masing - masing setelah ditinggal oleh Liam. Tiba - tiba saja ada dua orang pria yang menghampiri mereka berdua untuk menyapa mereka.
"Eh ini Jane bukan?" tanya salah satu pria itu.
"Mmm Dio dan Chicko?" tanya Jane memastikan.
__ADS_1
"Yupss benar sekali," jawab mereka berdua serempak.
"Kalian berdua apa kabar?" tanya Jane sangat antusias.
"Kami berdua sangat baik namun masih saja jomblo," jawab Dio.
"Hahaha aku fikir kalian berdua sudah menikah."
"Tidak, kami berdua belum mempunyai seorang kekasih sampai sekarang."
Rosie langsung berbisik sembari tertawa.
"Jangan - jangan mereka berdua adalah sepasang kekasih eonni hahaha."
"Hei sembarangan sekali kamu kalau berbicara," ucap Dio menyangkal ucapan Rosie.
Chicko ikut menambahkan.
"Benar, kami berdua masih normal."
Pandangan Dio lalu beralih menatap Ace.
"Eh dia anaknya Rosie?" tanya Dio bercanda.
"Sembarangan, dia adalah Ace yang merupakan keponakan kalian."
Dio langsung menggendong Ace.
"Woahh ternyata jagoannya Liam alias Liam junior ya?"
"Berarti Ace seumuran dengan Ibra ya Jane?" tanya Chicko.
"Ya hampir sih namun mereka berdua selisih 5 bulan," jawab Jane.
Dio lalu mencubit pipi Ace.
"Dari dulu sampai sekarang kamu mirip sekali dengan Liam."
"Liam itu daddy?" tanya Ace bingung.
"Yupss benar, dan dari dulu kamu adalah jagoannya Liam."
"Om ini temannya daddy?"
"Benar, kami berdua temannya daddy Ace."
"Lalu daddy dimana?"
__ADS_1
"Mmm oh ya ayo kita jajan, mau tidak?" tanya Dio mengalihkan pembicaraan.
"Mau," jawab Ace.