
Sepeda yang dipilih oleh Ace adalah sepeda model bmx bewarna biru muda, dan yang masih memakai roda 4 karena itu untuk pemula. Setelah itu Liam membawa Ace untuk memilih sebuah bel sepeda yang akan dipasang di samping stang sepedanya. Ada berbagai macam bentuk bel sepeda yang bentuknya sangat lucu - lucu, dan Ace kemudian memilih sebuah bel berbentuk bola karena dia juga menyukai bola. Kalau mencari yang bentuk dinosaurus tentu saja tidak ada, jadi Ace lebih memilih bel yang berbentuk bola.
Setelah semuanya sudah selesai Liam langsung membayarnya, dan setelah itu memasukkannya ke dalam bagasi mobil. Mereka bertiga lalu memutuskan untuk pulang agar Ace bisa beristirahat setelah ini. Saat di tengah - tengah perjalanan ternyata Ace sudah tidur, jari begitu sampai di rumah Liam langsung menidurkannya di kamar. Kini saatnya mereka berdua alias Liam dan Jane untuk ikut beristirahat setelah menidurkan Ace di kamarnya. Namun karena merasa tidak tega akhirnya Liam menggendongnya dan memindahkannya agar Ace bisa tidur dengan mereka berdua.
Keesokan harinya Liam bekerja seperti biasanya dan harus bersikap professional meskipun perasaannya sedang tidak baik karena putranya yang sedang sakit. Liam saat ini sedang mengerjakan beberapa laporan dengan sangat cepat agar semuanya bisa cepat selesai, dan setelah itu dia bisa segera pulang ke rumah menemui putranya. Untungnya Yunna adalah seorang sekretaris yang bisa sangat diandalkan, jadi dia bisa membagi tugas dengannya agar cepat selesai. Tiba - tiba saja Mr Robinson masuk ke dalam ruangan Liam.
"Daddy dengar Ace sedang sakit ya?" tanya Mr Robinson begitu memasuki ruangan Liam.
"Iya dad hanya panas biasa kok," jawabnya berusaha tenang.
"Daddy tahu jika sebenarnya kamu sedang mengkhawatirkannya, maka dari itu sejak tadi pagi kamu sudah sangat sibuk sekali menyelesaikan pekerjaanmu."
"Heem."
"Pulanglah, biar Yunna yang menggantikanmu."
"Tidak apa - apa dad, ini sebentar lagi sudah selesai kok dan lagipula juga masih jam 2 siang."
"Ya sudah kalau begitu, yang penting daddy sudah menyuruhmu untuk pulang."
"Iya."
Tiba - tiba handphone Liam berbunyi, dan dengan cepat Liam langsung mengangkatnya.
"Kenapa Jane?" tanyanya khawatir melalui telepon.
"Daddy nanti ajari aku naik sepeda ya?"
"Eh kamu ternyata, iya nanti daddy akan mengajarimu naik sepeda. Memangnya kamu sudah sembuh heum?"
"Sudah sembuh, karena kalau tidak sembuh nanti daddy tidak mau mengajariku naik sepeda."
"Oh begitu, sudah makan dan minum obat?"
"Sudah dad."
"Pintarnya jagoan daddy, eomma dimana?"
"Eomma sedang tidur disampingku, jadi aku mengambil handphonenya untuk menghubungi daddy."
"Eh sudah bisa memainkan handphone rupanya."
"Sudah dong, maka dari itu belikan aku handphone juga daddy."
"Nope, daddy tidak akan membelikanmu handphone sampai kamu berumur 15 tahunan."
"Kenapa begitu daddy?"
"Tidak apa - apa, kebanyakan main handphone nanti bisa menjadi bodoh."
"Daddy juga kebanyakan main handphone, berarti daddy juga bodoh ya?" tanyanya polos.
"Eh bu-bukan begitu, astaga pokoknya daddy tidak akan memberikan kamu handphone sampai kamu besar nanti."
"Ya sudah yang penting nanti daddy akan mengajariku mengendarai sepeda."
"Iya daddy janji bahwa setelah pulang kerja akan langsung mengajarimu naik sepeda sampai kamu bisa balapan."
"Hmm baiklah daddy."
__ADS_1
"Ada pesanan tidak?"
Ace berfikir sejenak.
"Aku ingin takoyaki daddy, yang gurita dan keju double."
"Lho kok kamu bisa tahu takoyaki?"
"Dahulu om teman daddy yang membelikan aku takoyaki."
"Siapa namanya?"
"Lupa daddy."
"Oh ya sudah nanti akan daddy belikan setelah pulang kerja, ada hal lainnya lagi?"
"Minuman di minimarket yang bewarna biru dan bergambar pororo, aku juga ingin itu daddy."
"Eh tidak mau, kamu baru saja sakit kok minum minuman seperti itu."
"Hmppp daddy."
"Besok saja kalau sudah benar - benar sembuh."
"Ya sudah bye."
"Bye."
Setelah mendengar perbincangan antara Liam dengan Ace, hal tersebut berhasil membuat Mr Robinson merasa iri karena dahulu dia tidak pernah menyempatkan waktu untuk berbincang dengan anak - anaknya saat disela - sela dia sedang bekerja. Sepertinya putranya itu sekarang sudah menjadi ayah yang baik bahkan lebih baik dari dirinya.
Namun meskipun begitu dia merasa sangat senang bahwa putranya tidak seperti dirinya. Disisi lain Jane lalu terbangun dan merasa terkejut bahwa putranya itu sudah bisa menghubungi ayahnya dengan menggunakan handphone.
"Eh kamu baru saja menghubungi daddy?"
"Nee eomma, aku ingin meminta daddy untuk mengajariku mengendarai sepeda nanti sore."
"Memangnya kamu sudah sembuh?"
"Uhuk uhuk sudah eomma."
Jane tersenyum.
"Tapi kamu masih batuk dan pilek sayang."
"Tidak apa - apa eomma, aku ingin cepat bisa naik sepeda. Ayo eomma kita ke bawah."
"Ya sudah ayo, kamu belum memberi makan hamster juga kan?"
"Benar eomma, kasihan hamsternya pasti kelaparan."
"Iya, ayo."
Jane lalu menggendong Ace menuju ke ruang tengah, dan begitu sesampainya disana ternyata tempat makan hamster sudah penuh.
"Kok sudah penuh eomma?"
"Eh eomma juga tidak tahu, mungkin bibi yang memberinya makan."
Ace lalu berjalan menghampiri bibi di dapur.
__ADS_1
"Bi Ijah, apakah bibi yang memberi makan hamsternya?"
"Iya tuan muda, tadi bibi yang memberinya makan karena biasanya jam 12 tuan muda sudah memberinya makan."
"Oh begitu, terima kasih bibi."
"Sama - sama tuan muda, apakah anda sudah sembuh?"
"Sudah bibi."
"Wah hebat."
"Iya bibi."
Ace kembali menghampiri Jane yang sedang membaca majalah di ruang tengah. Ace mendekati Jane dan duduk di sebelahnya sembari ikut memperhatikan beberapa gambar yang terdapat di majalah tersebut, termasuk ada foto Jane yang terpampang jelas di majalah tersebut. Menyadari hal tersebut, Jane lalu menatap Ace dan menggendongnya ke pangkuannya.
Sesekali dia menciumi rambut putranya itu disela - sela dia sibuk membaca majalah. Saat sore hari dan kebetulan Ace sudah mandi, dia sedang duduk di ruang tengah sembari menatap sepeda barunya. Dia merasa tidak sabar ingin segera menaiki sepeda barunya itu, dan tidak lama kemudian Liam pulang ke rumah.
"Daddy jadi mengajariku mengendarai sepeda bukan?"
"Tentu saja."
"Biar daddy beristirahat sebentar ya? ini hubby teh hangatnya diminum dulu."
"Iya terima kasih Jane."
"Daddy diminum tehnya," ucap Jane mempersilahkan Mr Robinson.
"Iya Jane, terima kasih."
"Grandpa Jo bisa naik sepeda?"
"Bisa dong. Eh kamu sudah sembuh heum?"
"Sudah grandpa Jo, aku tidak sabar ingin belajar naik sepeda."
"Whahaha keren."
"Hanya batuk dan pileknya yang belum sembuh dad."
"Oh kalau itu sebentar lagi pasti juga sembuh kok."
"Iya dad."
"Jane, aku tinggal mandi dulu ya?"
"Oh iya hubby, tadi aku juga sudah mempersiapkan semuanya."
"Okay."
"Grandpa Jo, Ace juga punya hamster lho."
"Benarkah? coba sini grandpa Jo lihat."
Ace lalu menarik tangan Mr Robinson dan menunjukkan hamsternya.
"Ini grandpa Jo, lucu kan?"
"Iya benar sangat lucu seperti kamu."
__ADS_1
"Hehe, dan itu sepedaku."
"Wah keren."