Dear Ace

Dear Ace
#78 Yang Terbaik?


__ADS_3

Jane menatap Liam dengan sendu sembari mengusap pipinya yang sudah babak belur karena dihajar oleh orang tak dikenal. Jane lalu duduk di sebelah Liam, dan terus menggenggam tangannya karena dia hampir saja dibuat jantungan olehnya saat dia dinyatakan tidak dapat diselamatkan oleh dokter. Diluar ruangan Mr Robinson merasa tak habis fikir mengapa putranya itu sering mendapat serangan dari orang asing, padahal sepertinya dia tidak ada urusan dengannya.


Oleh sebab itu Mr Robinson memerintahkan beberapa bodyguardnya untuk memperketat penjagaan Liam agar hal seperti ini tidak kembali terjadi. Meskipun Liam dari dulu sering membuatnya jengkel namun dia tetaplah putranya yang akan selalu disayang olehnya juga, sama seperti kedua saudaranya yang lain. Dengan ditemani oleh Mr Kim, Mr Robinson memasuki ruangan Liam untuk menengoknya dan setelah itu dia mencium kening putranya sembari mengusap rambutnya.


Sontak hal itu membuat beberapa orang termasuk Liam merasa terkejut dengan perlakuan Mr Robinson, karena dia tidak pernah bersikap seperti itu sebelumnya. Saat tengah malam dan semua orang tengah tertidur, tiba - tiba saja Liam terbangun dari tidurnya. Dia selalu saja begitu saat sedang dirawat di rumah sakit, yah Liam dari dulu selalu langganan rumah sakit karena banyak hal yang dialaminya.


"Jane," panggilnya lirih.


"Eh iya hubby, ada apa?" tanyanya saat terbangun.


"Aku haus, bisa minta tolong ambilkan aku air minum?"


"Oh iya hubby."


Jane lalu menyodorkan segelas air minum kepada Liam.


"Terima kasih."


"Sama - sama."


*Gluk gluk.*


"Aku selalu sakit dan menjadi langganan rumah sakit, jadi lebih baik kamu pulang saja ke Korea Selatan lalu lupakanlah aku."


"Tidak mau hubby, aku akan tetap disini dan merawatmu sampai sembuh."


"Jangan, dari dulu aku sudah merepotkanmu untuk merawatku serta menemaniku pasca kecelakaan. Aku tidak ingin terus membuatmu susah seperti ini Jane."


"Aku tidak pernah sama sekali direpotkan olehmu hubby, aku benar - benar tulus mencintaimu dan aku akan selalu menemanimu saat bahagia bahkan saat keadaan sulit sekalipun."


"Jangan keras kepala seperti itu, ini semua demi kebaikan kalian berdua karena aku tidak ingin membuatmu susah."


Jane mengepalkan kedua tangannya di atas pahanya.


"Kumohon jangan terus mendesakku untuk meninggalkanmu karena aku akan tetap pada pendirianku, kamu tahu kan bahwa aku ini wanita yang tetap teguh pada pendirian? jadi sia - sia saja kamu terus mendesakku seperti itu."


"Jane, kumohon..."


Jane mengusap air matanya yang perlahan mulai jatuh membasahi pipinya.


"Sudah tengah malam lebih baik kamu beristirahat saja hubby," ucap Jane saat menyelimuti suaminya.


"Kamu pantas mendapatkan seorang pria yang lebih baik dariku. Mmm maksudku ada seorang pria yang sangat mencintaimu, dia sehat, dia pintar, dia mapan, dan juga tampan sehingga aku menginginkan kamu untuk menikah dengannya serta hidup bahagia."


Jane langsung berbalik membelakangi Liam.

__ADS_1


"Baik untukmu belum tentu baik juga untukku," ucap Jane menahan tangis karena hatinya terasa sangat sakit.


Setelah itu Jane kembali tidur, dan keesokan harinya Jane sedang berjalan menuju ruangan inap Liam setelah dia dari rumah mengurus Ace. Untung saja Mrs Kim bersedia untuk membatu menjaganya selama sementara, jadi Jane tidak perlu khawatir.


"Pagi sus," sapa Jane setelah memasuki ruangan Liam.


"Pagi bu, saya kemari untuk membawakan sarapan."


"Oh begitu, terima kasih sus."


"Sama - sama," ucapnya melenggang pergi.


"Kenapa kamu kembali kesini? lalu siapa yang akan mengurus Ace jika kamu selalu disini?"


"Eomma telah bersedia menjaga Ace selama sementara, jadi aku bisa kemari untuk menemanimu."


"Haiss jangan repotkan eomma, lebih baik pulanglah dan jangan Ace karena aku bisa menjaga diriku sendiri!!"


Jane menghela nafasnya kasar.


"Ayo sarapan dulu, aku suapi."


"Tidak mau!! makanan seperti itu rasanya sangat buruk."


"Ayo sayang, makan sesuap."


"Iya."


Jane lalu menyuapi Liam sedikit demi sedikit, dan begitu selesai Jane langsung keluar dari ruangan Liam untuk duduk di kursi depan. Tidak lama kemudian grandpa dan grandma telah tiba di ruangan Liam untuk menjenguknya.


"Jane, sedang apa disini?" tanya grandma.


"Sedang mencari angin grandma, oh ya kapan grandma datang?"


"Tadi pagi jam 6 an."


"Oh begitu."


"Liamnya sedang tidur?"


"Tidak grandma, tadi dia habis sarapan dan sedang beristirahat."


"Oh, kalau begitu grandma dan grandpa masuk ke dalam dulu ya?"


"Iya grandma."

__ADS_1


Grandpa dan grandma lalu masuk ke dalam ruangan Liam, lalu setelah itu mereka berbincang sebentar dengannya. Grandma merasa sangat sedih karena sekali lagi dia melihat cucu kesayangannya kembali terbaring di ranjang rumah sakit. Grandma mengusap rambut Liam dan menciumi pipinya.


"Apa Jane masih diluar grandma?"


"Masih, dia ada diluar untuk mencari angin katanya."


"Liam boleh minta tolong tidak?"


"Minta tolong apa Liam?"


"Tolong buat Jane menjauh dari Liam untuk selamanya."


Mereka berdua langsung dibuat terkejut dengan permintaan cucunya itu.


"Kenapa begitu Liam? nanti anak kalian berdua bagaimana?"


"Liam merasa tidak pantas untuk Jane karena selalu merepotkannya, dan Liam rasa Jane berhak hidup bahagia bersama pria lain yang dapat mencintainya dengan sangat tulus. Semalam aku juga sudah membicarakan hal ini kepadanya namun dia selalu kekeh ingin merawatku serta mengurusku seperti dulu pasca kecelakaan."


"Kalau begitu berarti Jane sangat tulus mencintaimu serta menyayangimu Liam, bukankah itu bagus karena kamu mendapatkan seorang wanita yang baik seperti Jane?"


"Iya grandma, tapi Liam merasa tidak enak hati dengan Jane terutama dengan kedua orang tuanya karena aku selalu merepotkannya."


Grandpa hanya diam saja, dan setelah itu dia pergi keluar untuk duduk di sebelah Jane.


"Bagaimana kabarmu Jane?" tanya grandpa.


"Baik grandpa."


"Kalau Ace bagaimana? berapa umurnya sekarang?"


"Ace juga baik dan beberapa bulan lagi dia akan berumur 2 tahun. Aku berencana untuk kembali merayakan ulang tahunnya, dan pasti dia akan merasa sangat senang karena dapat merayakan ulang tahunnya bersama ayahnya."


"Iya grandpa juga mengerti akan hal tersebut, namanya juga anak kecil pasti dia akan merasa sangat senang dapat merasakan kasih sayang dari kedua orang tuanya di hari specialnya."


"Benar grandpa," ucap Jane tersenyum.


Tidak lama setelah perbincangan tersebut, grandma keluar dari ruangan dan meminta Jane untuk mengajak Liam pergi jalan - jalan dengan menggunakan kursi roda. Grandma yakin bahwa Liam akan selalu menuruti perintahnya, dan dia memerintahkan Liam untuk berjalan - jalan di taman rumah sakit bersama Jane sembari berbincang santai guna mempererat hubungan mereka kembali. Jane lalu mendorong kursi roda secara perlahan menuju ke taman, dan selama di perjalanan Liam hanya diam saja.


"Hari ini sangat cerah dan warna langitnya seperti warna kesukaanmu," ucapnya memulai percakapan.


"Iya."


"Kamu ingat tidak kalau aku dulu sering memanggilmu dengan sebutan blue karena kamu selalu memakai pakaian warna biru?"


"Aku lupa, itu sudah sangat lama sekali."

__ADS_1


"Hmm iya sih."


__ADS_2