
*Ceklek.*
Jane membuka pintu kamarnya dan diletakannya sebuah cokelat hangat di atas meja. Jane sengaja membuatkan Liam cokelat hangat malam - malam begini untuk menghangatkan tubuhnya karena cuacanya sedang dingin. Bulan - bulan ini sering sekali turun hujan, maka dari itu udaranya pasti berubah menjadi sangat dingin saat malam. Jane tidak bisa membayangkan bagaimana udara di Dieng saat seperti ini, karena waktu bukan musim penghujan saja lumayan dingin bagaimana kalau musim penghujan.
Jane jadi teringat saat tiba - tiba Liam menginginkan untuk bermalam di tenda dan bukannya di dalam villa maupun penginapan. Jujur waktu itu Jane merasa kesal dengannya namun setelah melihat suaminya berjuang agar dia merasa nyaman bermalam di tenda, akhirnya rasa kesal Jane seakan - akan hilang dengan sendirinya. Belum lagi waktu di perjalanan mereka berdua sering berteduh di depan toko atau warung makan, karena mereka hanya mengendarai motor baru Liam yang dibelikan olehnya.
Pada waktu malam hari mereka berdua berbincang di dalam tenda sembari memakan mie instan dan juga melihat pemandangan yang indah. Jika diingat - ingat ternyata dia sudah memiliki kenangan yang unik dan indah saat bersama Liam. Saat sedang melamun tiba - tiba Ace menarik - narik baju Jane. Ace lalu meminta jatah susu kepadanya, dan dia langsung menggendongnya untuk memberikan susu.
"Eomma susu."
"Iya ini minum susu."
"Aku perhatikan sekarang Ace lebih banyak minum susu dari biasanya ya, atau memang sudah dadi dulu dia memang seperti ini?" tanya Liam.
"Dugaanmu itu memang benar hubby, dia sekarang lebih banyak minum susunya."
"Kenapa bisa begitu ya?"
"Entah, mungkin memang baru masanya dia seperti ini apalagi sekarang dia sangat aktif dari biasanya."
"Benar Jane, dia semakin aktif saja."
"Aku terkadang juga kewalahan saat menghadapinya, tapi ya mau bagaimana lagi."
"Apa aku mencari baby sister saja?"
"Jangan hubby, aku ingin mengurus anakku sendiri tanpa bantuan baby sister."
"Oh begitu, rupanya kamu masih berpegang teguh kepada prinsipmu waktu itu."
Liam lalu mendekat ke arah Jane dan merangkulnya.
"Ace saat seperti ini kelihatan sangat lucu."
"Persis seperti kamu bukan?" tanyanya menggoda Liam.
Seketika pipi Liam memerah.
"Ti-tidak, aku tidak seperti itu sayang."
"Tidak seperti itu atau memang seperti ini aslinya?"
"Tidak seperti itu."
"Ckckck hubby-hubby," ucapnya mencium pipi Liam.
"Hehe."
"Diminum cokelat hangatnya, nanti keburu dingin dan tidak enak."
"Iya Jane."
"Aku juga mau dad."
"Kamu kan sudah minum susu."
"Sedikit saja."
Liam lalu menyodorkan cangkir tersebut.
"Ini, sedikit saja ya?"
"Nee."
"Sepertinya aku sudah rindu dengan liburan hubby, bagaimana kalau kita liburan bersama?"
"Baiklah, atur saja seperti biasanya."
__ADS_1
"Dih sukanya terima jadi," gerutu Jane.
"Hahaha masalahnya aku bingung jadi terserah kamu saja mau bagaimana, aku kan hanya tinggal memberimu dana berapapun yang kamu minta."
"Iya, dulu waktu persiapan pertunangan dan acara pernikahan kamu juga hanya seperti itu. Kamu hanya berkata kalau ingin temanya biru putih, padahal aku menginginkan warna merah."
"Merah jelek untuk acara pernikahan, bagus warna biru putih apalagi kita resepsinya di luar ruangan dekat pantai."
"Iya juga sih."
"Oh jadi istrinya om kumis itu eomma?" tanya Ace.
"Eh belum tidur?" tanya Liam heran.
"Belum. Daddy kenapa tidak bilang kalau dulu istrinya itu eomma?"
"Aku saja tidak tahu siapa eomma kamu, kamu tidak menyebutkan namanya."
"Tapi sepertinya waktu itu daddy pernah melihatnya kan?"
"Iya benar."
"Kenapa daddy tidak bilang?"
"Tidak apa - apa malas."
"Daddy menyebalkan sekali haum!!"
"Aduh sakit," rintih Jane karena spontan digigit Ace, lalu Jane juga langsung menonjok wajah Liam.
"Anjir sakit," rintih Liam juga.
"Hubby ini apa - apaan sih?"
"Kamu ini juga apa - apaan main tonjok wajah orang!!"
"Kan sedari awal kamu yang salah, iyain saja apa susahnya?"
"Oh begitu? maksudmu hal seperti ini masalah sepele?"
"Si-siapa yang menyepelakan hal itu, kamunya saja yang terlalu baper."
Jane lalu menurunkan Ace dari gendongannya, dan setelah itu dia mulai menyerang Liam seperti seorang pegulat professional.
"Memangnya aku tidak bisa melawanmu mentang - mentang aku ini perempuan ha?"
"Siapa yang berkata seperti itu? aku dari tadi diam dan tidak menantangmu."
Jane langsung mengunci leher Liam dengan jurus alakadarnya saja.
"Nah rasakan ini!! akhirnya aku bisa membalaskan dendamku selama ini."
"Kamu ini ingin membunuhku di depan anak kita ha?"
"Hahaha." Jane tertawa jahat dan mengeluarkan khodam macan betinanya.
"Rasakan ini, jurus ayam berkokok!!" teriak Liam sembari membalikkan tubuh Jane, dan sekarang keadaan berbalik menjadi Jane yang berada di bawah Liam.
Ace mengedipkan matanya melihat kedua orang tuanya yang seperti sedang memerankan sebuah adegan di komiknya.
"Wah keren," ucap Ace.
"Kau pikir aku menyerah begitu saja? jangan mimpi Liam!!" ucap Jane menantang Liam.
"Cih berani - beraninya kamu menantang seorang panglima di geng motor."
"Kau pikir aku takut denganmu meskipun kamu ini panglima? rasakan ini, jurus cakaran macan betina!!" teriak Jane yang langsung mencakar tangan Liam.
__ADS_1
"Ihh dasar macan betina. Rasakan ini, jurus seribu bayang!!"
*Swoss.*
*Krak krak krak.*
*Brughh.*
"Ahhh sialan," ucap Jane yang berhasil dijatuhkan oleh Liam di atas ranjang.
"Hahaha kau tak akan bisa lepas dariku macan betina."
"Hanya segitu kemampuanmu? hahaha cih."
"Eh," ucapnya kaget.
Ternyata Jane langsung menendang perut Liam hingga dia terpental. Jane kemudian berlari menghampiri Liam dan langsung menonjok wajahnya.
*Swoss.*
*Bugghh.*
"Menyerahlah Chicken."
Liam kemudian bangkit dan langsung menarik tali piyama Jane hingga dia terjatuh di pelukan Liam, lalu Liam memegangi pinggul Jane. Setelah itu Liam langsung mencium bibir Jane hingga membuat pipinya memerah, sedangkan Ace lalu bertepuk tangan karena dibuat takjub dengan sebuah adegan yang dimainkan oleh kedua orang tuanya.
"Wahh keren!! eomma dan daddy sangat keren, seperti bermain film sungguhan."
Liam lalu melepaskan ciumannya.
"Ah itu hehe, keren kan kita berdua bermain dramanya?"
Ace mengangguk.
"Nee daddy, kalian berdua sangat keren."
"Sudah ya Ace, mari tidur."
"Nee eomma."
Jane lalu menggendong Ace ke kamarnya, dan tidak lama kemudian dia kembali ke kamarnya.
"Ace sudah tidur?" tanya Liam sembari membaca bukunya.
"Sudah hubby."
"Baguslah."
"Hubby, besok sibuk tidak?"
"Sepertinya tidak, kalaupun sibuk masih bisa ku usahakan."
"Oh begitu."
"Kenapa memangnya?"
"Besok temani aku membeli susu untuk Ace, sebentar lagi dia akan lepas ASI."
"Baiklah, tumben sekali minta ditemani."
"Iya hubby, aku kan membutuhkan saran darimu juga mengenai Ace karena dia anak kita berdua."
"Oh begitu, okay."
"Mmm jadi bagaimana keputusanmu mengenai sekolah Ace?"
"Aku masih memikirkannya."
__ADS_1
"Begini saja, bagaimana kalau kita pergi ke sana untuk melihatnya secara langsung bagaimana sistemnya?"
"Boleh."