
Pak supir lalu memberhentikan mobilnya tepat di depan teras kediaman Robinson. Sebuah rumah yang sangat besar untuk seukuran rumah dan mungkin lebih layak disebut sebagai hotel bintang 5, bahkan semua hotel milik keluarga Robinson yang tersebar di beberapa negara kalah mewah dari rumah pemiliknya di Australia. Halamannya sangat luas sekali seperti sebuah lapangan sepak bola dengan beberapa pohon yang rindang sebagai pemanisnya.
Maka tidak heran jika dari luar gerbang lebih tampak seperti sebuah hutan wisata. Di beberapa titik terlihat seperti ada beberapa bodyguard yang menyamar untuk menjaga kawasan rumah itu agar tetap aman dari penyusup. Begitu masuk ke dalam rumah, Jane dibuat kagum dengan interior rumah tersebut yang tampak seperti kerajaan era victoria dengan beberapa hiasan yang klasik.
Meskipun begitu sepertinya rumah ini sudah jauh lebih modern dari kelihatannya karena grandpa bercerita bahwa cucu kesayangannyalah yang merubah sedikit detail rumah tersebut menjadi lebih modern. Ternyata Liam juga pintar dalam hal mendesign rumah termasuk dekorasinya, mengingat rumahnya yang ditempatinya di Indonesia itu dahulu dirancang sendiri oleh Liam meskipun masih membutuhkan saran dari seorang arsitek. Para pelayan lalu datang menyambut mereka semua sembari membawa beberapa face towel serta minuman sebagai welcome drink seperti di hotel - hotel.
"Hamsterku mana dad?" tanya Ace pertama kali setelah dia tiba di rumah keluarga ayahnya.
"Sebentar ya daddy carikan terlebih dahulu," ucap Liam yang langsung memanggil bodyguard untuk mencari hamster milik Ace di mobil tadi.
Tidak lama kemudian bodyguard tadi lalu kembali menghampiri Liam sembari membawa sebuah kandang hamster.
"Ini tuan muda hamsternya."
"Terima kasih."
Liam lalu memberikannya kepada Ace.
"Ini hamstermu."
"Yeay hamsterku," ucap Ace merasa senang.
Yah, Ace memang akan membawa hamsternya kemanapun dia pergi terutama saat dia berada di luar negeri karena dia takut jika tidak ada yang mengurusnya dirumah. Bahkan sebelum berangkat ke bandara harus ada drama terlebih dahulu karena Ace masih ngotot sembari menangis ingin membawa hamsternya ke Australia. Akhirnya Ace bisa membawa hamster itu setelah Liam berunding dengan grandpa di telepon.
"Ace istirahat dulu ya, kamu pasti lelah setelah terbang dari Indonesia ke Australia."
"Tapi Ace ingin bermain dengan hamster, grandpanya daddy."
"Mainnya nanti saja, sekarang kamu istirahat dan nanti grandpa buyut akan memberi sebuah kejutan untukmu."
"Kejutan apa?" tanya Ace penasaran.
"Rahasia, namanya kejutan kan tidak boleh diberitahukan oleh siapapun."
"Nee, titip Coco dan Cici ya grandpanya daddy?"
"Sudah diberi nama hamsternya?" tanya grandpa.
Ace mengangguk.
"Sudah. Yang ini namanya Coco dan yang ini namanya Cici karena betina," ucapnya sembari menunjuk hamsternya satu persatu.
"Wah bagus sekali namanya, siapa yang memberinya nama?" tanya grandma.
"Ace sendiri yang memberinya nama hehe."
"Pintarnya," puji grandma sembari mengusap rambut Ace.
__ADS_1
"Thank you."
"Your welcome sayang. Liam, antar anakmu ke kamarnya ya? dan untuk Jane tidur di kamarnya Liam yang berada di pojok sendiri."
"Baik grandma. Mmm pojok mana ya?" tanya Jane bingung.
"Naik tangga ini nanti belok ke kanan, nah kamarnya berada di pojok sendiri eh maksudku kedua dari pojok."
"Oh baik grandma."
Setelah itu Jane pergi terlebih dahulu ke kamar Liam, sedangkan Liam dan Ace masih mengurus hamsternya terlebih dahulu. Jane mengikuti arah yang dijelaskan oleh grandma namun begitu sesampainya di sebelah kanan, Jane merasa bingung karena banyak sekali kamarnya dan tidak mungkin dia menghitungnya.
"Maaf permisi, kamarnya Liam berada di sebelah mana ya?" tanya Jane kepada salah satu pelayan yang sedang menyapu.
"Mari saya antarkan anda ke kamar tuan muda Liam."
"Terima kasih sebelumnya."
"Sama - sama nona."
Jane berjalan mengikuti pelayan tersebut dan begitu sesampainya di depan pintu kamar Liam, Jane memastikannya terlebih dahulu dengan mengitungnya. Ternyata memang benar itu kamar Liam karena ada dua pintu di sebelah kanan pintu kamar Liam.
"Ini kamarnya nona, kalau begitu saya permisi."
"Terima kasih."
"Baik."
Setelah pelayang itu pergi, Jane lalu masuk ke dalam kamar Liam. Ternyata di dalam kamarnya terdapat beberapa komputer gaming yang terlihat sangat mahal dan beberapa peralatan gaming lainnya. Sepertinya Liam memang sangat dimanjakan oleh grandpa maupun grandma setelah menyebutnya sebagai cucu kesayangan.
*Beberapa menit kemudian.*
"Jane!" panggil Liam.
"Aku sedang berada di kamar mandi hubby!" teriak Jane dari arah kamar mandi."
"Oh baiklah," ucapnya lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
"Hai hubby, ada apa?" tanyanya setelah keluar dari kamar mandi.
"Eh kamu memakai kemejaku?"
"Heem, kopernya masih dibawah kan?"
"Iya, nanti akan diantarkan kemari oleh bodyguard. Eh kamu tidak memakai celana?"
"Hanya celana pendek saja, kemejamu terlalu besar untukku hingga sampai di atas lutut."
__ADS_1
Liam lalu menghampiri Jane dan menggendongnya.
"Kamu terlihat menggemaskan jika berpakaian seperti ini namun jangan didepan grandpa dan grandma, okay?"
"Okay hubby."
"Aku merasa tidak enak jika kamu berpakaian terlalu sexy di depan mereka berdua, aku rasa itu tidak sopan meskipun mungkin mereka melihatmu di sampul majalah."
"Iya hubby," jawabnya mengusap pipi Liam.
Liam mencium bibir Jane sekilas.
"Sudah tidur sana, istirahat nanti makan malam bersama dibawah."
"Iya hubby, kamu mandi dulu sana!"
"Okay."
Liam lalu pergi mandi dan tidak lama kemudian dia mendapati Jane yang sudah tertidur di atas ranjangnya itu. Liam mendekati Jane dan memandangi wajahnya yang tengah tertidur. Seketika Liam merasa bahwa mungkin memang ini bukan sepenuhnya kesalahan Jane namun kesalahannya juga, kalau saja dia tidak pergi mungkin ini semua tidak akan terjadi.
"Nggg hubby," paggil Jane lirih.
"Iya Jane, kenapa?"
"Kamu tidak akan pergi lagi kan? atau menyuruhku untuk pergi bersama pria lain?" tanyanya menatap Liam.
"Sepertinya tidak, memangnya kenapa?"
"Aku sangat takut kehilanganmu apalagi setelah aku hampir kehilanganmu untuk selamanya, dan setelah itu aku menjadi tersadar bahwa aku benar - benar takut akan kehilangan sosokmu yang berhasil membuat hidupku jauh lebih bermakna."
"Akupun juga merasa begitu, apalagi setelah selama ini kamu membuat hidupku menjadi jauh lebih bewarna dan bahkan kamu sampai membuatku bisa tersenyum kembali seperti dulu."
"Aku tidak akan pernah lupa saat melihatmu tersenyum untuk pertama kalinya, dan saat itulah aku merasa bahwa aku memang benar - benar tertarik untuk memiliki versi kecil dari dirimu hahaha."
"Doamu itu sudah dijawab oleh Tuhan, sekarang Ace sangat mirip sekali denganku dan bahkan mungkin sampai tingkah lakunya juga."
"Benar hubby hahaha. Aku bahkan berdoa seperti itu saat aku mulai memutuskan siap untuk memiliki seorang anak."
"Saat malam itu juga?"
"Tentu saja, tepat saat malam itu juga."
Liam mencubit pipi chuby Jane.
"Sudah tidur lagi, ini masih sore."
"Ayo tidur bersama."
__ADS_1
"Hmm baiklah."