
Liam beralih duduk di sofa ruang tengah, dan tidak lama kemudian Yunna datang sembari membawa secangkir kopi untuknya. Liam merasa rindu dengan kopi buatan Yunna, karena dahulu setiap hari Yunna selalu membuatkan kopi untuknya saat berada di kantor. Liam meminum kopi itu sembari menatap Yunna, dan setelah itu Yunna bercerita kepadanya mengenai keadaan kantornya setelah dia pergi.
Yunna memgatakan bahwa hari - harinya terasa sangat sepi tanpa kehadiran Liam, karena biasanya dirinya selalu diganggu olehnya dan juga dia selalu memceritakan sebuah lelucon untuk menyemangati harinya yang berat. Yunna sudah merasa tidak betah di kantor karena hal tersebut, dan rasanya ingin sekali resign namun Yunna masih ingat bahwa dia harus berjuang untuk menghidupi keluarganya.
Apalagi dulu Yunna sudah berjanji kepada Liam untuk tetap bekerja di perusahaan dan menjaganya agar tetap seimbang saat dia pergi. Liam bisa berkata seperti itu karena Yunna adalah tangan kanan Liam alias orang kepercayaannya, jadi waktu itu Yunna lah yang menggantikan posisi Liam saat dia pergi. Mr Robinson lebih percaya kepada Yunna daripada kepada Lian karena Yunna dinilai sangat kompeten dalam mengurus perusahaan, apalagi Yunna sudah tahu seluk beluk perusahaan.
"Aku sangat merindukanmu anak nakal," ucap Yunna sembari mencubit pipi Liam.
"Ihh sakit."
"Hahaha pipimu sekarang sudah tidak chubby lagi, jadi terasa sakit saat di cubit seperti itu kan?"
"Tidak, kamunya saja yang terlalu keras mencubit pipiku."
"Oh. Mmm sepertinya aku akan resign dari perusahaanmu."
"Eh kenapa? apa daddy tidak memberikan kamu gaji yang seharusnya atau kamu mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari karyawan lain?"
"Tidak Liam."
"Oh atau mereka masih mengataimu sebagai simpananku lagi?" tanya Liam berusaha menebak.
"Tidak semuanya, aku ingin resign karena di kantor rasanya sangat sepi setelah kamu pergi jadi aku tidak mempunyai teman untuk berbagi cerita ataupun bercanda."
Liam lalu mengusap rambut Yunna.
"Ya ampun ternyata karena itu?"
"Iya, aku jadi tidak semangat untuk kerja."
"Hmm dahulu kamu selalu merasa risih saat aku mengganggumu menonton drakor, sekarang justru kamu malah seperti ini saat aku tinggal."
"Iya juga sih, tapi paling enak kalau ada kamu di kantor hehe."
"Kenapa?"
"Ada yang menceritakan aku sebuah lelucon saat aku sedang badmood."
"Oh begitu. Eh kok mereka lama sekali ke pasarnya?"
"Oh Leon dan mami tadi berkata akan pergi ke rumah nenek untuk membantu memasak setelah dari pasar."
"Ada acara ya di rumah nenekmu?"
"Ada, acara pernikahanku."
"Oh," ucapnya lesu.
Melihat perubahan raut wajah Liam. Yunna langsung tertawa dengan sangat keras.
__ADS_1
"Hahaha aku hanya bercanda Liam."
"Hahaha bercanda rupanya, aku kira kamu benar - benar akan menikah."
"Belum ada rencana untuk menikah."
"Kenapa?"
"Belum menemukan yang cocok saja, lagipula aku masih fokus untuk mengejar karier."
"Ingin menikah denganku?"
"Tidak, kamu sudah punya istri dan anak!"
"Dih, memangnya seperti apa tipe pria idamanmu ha?"
"Baik hati, sayang keluarga, pekerja keras, bertanggungjawab, dan juga tampan."
"Oh tipemu itu adalah aku ya? mengaku saja jika sebenarnya kamu belum bisa move on dariku, iya kan?"
"Dih bukankah yang belum bisa move on itu kamu ya?"
Liam menghela nafasnya kasar.
"Sejujurnya aku belum bisa move on darimu, itu rasanya sulit sekali meskipun aku sudah memiliki seorang istri dan anak. Aku sudah merasa nyaman denganmu, tapi apalah daya karena waktu itu aku sudah terlanjur dijodohkan dengan Jane."
Yunna menepuk - nepuk punggung Liam.
"Andaikan waktu itu aku jujur dengan mommy pasti ini semua tidak akan terjadi, dan mungkin sekarang kita juga sudah mempunyai seorang anak berumur 2 tahun karena kamu tidak ingin menunda memiliki anak."
"Tidak tahu juga sih akan bagaimana jika waktu itu kita menikah, tapi yang terpenting sekarang kita masih berteman baik dan aku ingin kamu bisa menyayangi mereka berdua sebagaimana mestinya."
"Iya Yunna."
"Oh ya sebentar," ucapnya langsung pergi ke kamar.
Tidak lama kemudian Yunna kembali menghampiri Liam sembari membawa sebuah bingkisan. Yunna kemudian memberikannya kepada Liam.
"Ini untuk anakmu, aku ingat jika anakmu sekarang sudah berusia satu tahun dan sampaikan ucapan maafku karena tidak dapat menghadiri acara ulang tahunnya."
"Eh terima kasih banyak," ucap Liam menerima bingkisan tersebut.
"Sama - sama, mmm mau makan siang bersama? aku akan memasak makanan jika kamu menginginkannya."
"Boleh, kebetulan aku juga sangat lapar sekali."
Yunna kemudian pergi ke dapur untuk memasak makan siang, sedangkan Liam masih berada di ruang tengah dan sedang berbaring disana menonton televisi. Karena semakin lama merasa bosan, akhirnya Liam menyusul Yunna yang sedang memasak di dapur. 45 menit kemudian mereka berdua sedang menyantap hidangan makan siang bersama sembari berbincang. Saat sore hari Liam sudah pulang ke rumahnya untuk menemui Ace, anaknya.
Rumahnya terasa sepi dan hanya ada beberapa asisten rumah tangga saja yang sedang membersihkan rumah. Betapa terkejutnya Liam saat dia sampai di kamarnya karena ternyata Ace sedang dihukum di dalam kamar mandi oleh Jane, dan bahkan pintu kamar mandinya juga dikunci. Liam langsung bergegas untuk membuka pintu kamar mandi dan membawa Ace keluar dari sana. Liam memeluk Ace yang masih terus menangis karena merasa ketakutan saat dikunci di dalam kamar mandi.
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan kepada Ace ha?" tanya Liam penuh emosi.
"Dia selalu saja berulah hingga membuatku merasa sangat pusing, semakin hari dia semakin nakal saja!"
"Bu-bukan begitu caranya!!" ucapnya dengan nada tinggi.
"Aku pusing dan sangat stress menghadapi Ace yang sangat aktif seperti itu, apalagi ditambah dengan sikapmu yang seperti itu kepadaku!!"
"Huwaa eomma sangat menyeramkan seperti monster," ucap Ace yang masih menangis sembari menutup kedua telinganya.
"Ssstt cup cup jangan takut, kan ada daddy."
Liam langsung memeluk Jane.
"Aku sangat lelah Liam!!"
"Baiklah, berapa yang harus ku lakukan atau ku bayar agar kamu bisa memperlakukan Ace sebagaimana mestinya?"
Jane langsung mengusap air matanya.
"Perlakukan aku seperti dulu saat sebelum kamu pergi, maka aku akan kembali lagi seperti dulu."
"Okay tidak masalah, aku akan memulainya darimana?"
"Pulang ke rumah dan kembali ke perusahaan!" perintah Jane.
"Baik, aku akan lakukan apapun demi Ace namun kita akan kembali besok minggu depan."
Setelah perbincangan tersebut, Liam langsung membawa Ace keluar dari kamarnya dan berbincang dengan Mr Robinson.
"Daddy, aku akan kembali ke perusahaan mulai minggu depan."
"Benarkah Liam? syukurlah jika seperti itu."
"Iya dad, dan aku juga akan pulang ke rumahku."
"Baiklah jika seperti itu."
Liam lalu membawa Ace ke taman belakang rumah untuk menghirup udara segar.
"Daddy akan melakukan semua yang diperintahkan oleh eomma?"
"Benar."
"Itu semua demi Ace ya? maaf ya kalau Ace membuat daddy susah."
"Hei jangan berbicara seperti itu, aku tidak pernah merasa direpotkan olehmu kok."
"Tenang saja dad, kita akan menghadapinya bersama - sama."
__ADS_1
"Hahaha baiklah buddy," ucap Liam mencium rambut Ace.