
Mereka semua lalu makan malam bersama sembari berbincang, dan Ace sangat antusias sekali menceritakan mengenai pengalaman pertamanya naik helikopter milik ayahnya. Dia juga bercerita bahwa dia belajar berenang bersama ayahnya saat di hotel, dan Ace merasa sangat bahagia karena dia bisa menghabiskan waktu bersama kedua orang tuanya. Melihat cicinya yang merasa sangat bahagia karena dapat berkumpul kembali bersama kedua orang tuanya, grandpa lalu berjanji akan menjaga Liam agar dia tidak kabur - kaburan lagi.
Grandpa merasa sedih saat diberitahu oleh orang kepercayaannya yang menantau Jane dari jauh, bahwasannya Jane menjadi sedikit berbeda saat ditinggalkan oleh Liam. Sikap Jane menjadi dingin dan sangat pemurung, hal itulah yang disampaikan oleh salah satu orang kepercayaannya. Grandpa sebenarnya juga sudah mengetahui bahwa Jane telah berselingkuh karena merasa kesepian, akan tetapi grandpa tidak ingin ikut campur mengenai hal tersebut karena dia merasa yakin bahwa cucunya bisa menyelesaikan permasalahan tersebut.
Benar saja, sepertinya Liam telah berhasil menyelesaikan permasalahan rumah tangganya karena sekarang keluarga kecilnya sudah terlihat harmonis dari sebelumnya. 45 menit kemudian Ace sudah tidur, dan Liam sedang berada di kamarnya untuk bersiap tidur. Liam lalu menatap istrinya yang sedang berdandan di depan cermin riasnya. Liam bingung mengapa Jane juga berdandan meski dia hendak tidur, dan bahkan memakai parfume juga.
"Kenapa kamu berdandan, padahal kamu hendak tidur?"
"Aku berdandan sebelum tidur karena aku ingin melakukannya untuk suamiku, masa aku hanya melakukannya di depan kamera saja."
"Padahal aku nantinya juga akan langsung tertidur dan bukannya terus menatapmu sampai pagi."
"Siapa tahu kamu berniat akan menatapku sampai pagi."
"Tidak!! untuk apa aku menatapmu sampai pagi, kurang kerjaan saja!"
"Hahaha ya sudah. Oh ya aku baru saja membeli parfume baru, harum tidak baunya?"
"Hmm iya," jawabnya malas.
"Ihhh coba dekatkan hidungmu di leherku! kalau seperti itu ya tidak akan tercium dengan jelas baunya."
"Iya deh iya," ucapnya yang langsung mengikuti perintah Jane.
Tiba - tiba saja....
*Deg deg deg.* Jantung Liam berdetak dengan sangat kencang dan dia langsung menelan ludahnya.
*Glup.*
Liam membayangkan betapa nikmatnya leher Jane yang putih dan mulus itu. Jane yang sudah paham akan hal tersebut langsung melancarkan aksinya untuk lebih menggoda suaminya.
"Bagaimana hubby, sangat harum bukan?" tanya Jane yang disertai dengan senyuman liciknya.
"Eh i-iya," jawabnya langsung menjauh dari leher Jane.
"Kamu tidak berniat untuk melakukan sesuatu hal yang akan menjadi kado terindah di hari ulang tahunku bukan?"
"Oh kado, sebentar."
Liam lalu pergi mengambil sebuah kotak kecil di dalam laci mejanya, dan setelah itu memberikannya kepada Jane.
"Ini kado dariku untukmu, aku rasa itu akan terlihat semakin indah saat dipakai olehmu."
__ADS_1
Jane lalu membuka kotak mungil itu dan langsung memunculkan senyuman manis yang terukir di sudut bibirnya. Sebuah kalung dengan liontin bulan dan matahari yang menyatu jadi satu, itulah kado yang dia terima dari suaminya.
"I-ini sangat indah hubby, dan di tengahnya ada sebuah berlian kecil yang memberikan kesan indah di liontin ini."
"Kamu menyukainya?"
"Tentu saja aku sangat menyukainya, bahkan aku menyukai semua pemberianmu."
"Jika aku memberikanmu rumput, apakah kamu tetap akan menyukainya juga?"
"Tentu saja, terima kasih hubby."
"Dasar wanita aneh," gerutu Liam.
"Hubby!"
"Iya Jane, sama - sama. Mmm bolehkah aku memakaikannya dilehermu?"
"Tentu saja, ini kalungnya."
Jane lalu menyibakkan rambutnya agar suaminya dapat dengan mudah memakaikan kalung tersebut di lehernya. Setelah kalung tersebut berhasil terpasang di lehernya, Liam dibuat kagum karena istrinya terlihat sangat cantik dari yang dibayangkan. Setelah itu Jane beralih membuka sebuah kotak perhiasan yang merupakan kado dari grandpa dan grandma.
"Wahh perhiasan ini pasti harganya sangat mahal, aku menjadi merasa tidak enak karena grandpa dan grandma memberikanku hadiah yang mahal."
"Oh begitu."
"Aku membelikanmu hadiah yang mahal untuk berjaga - jaga jika grandma bertanya mengenai kado apa yang kamu dapatkan dariku. Aku tidak ingin mendengarkan ocehan grandma jika aku tidak memberikan kado apapun untukmu," gumam Liam.
"Kamu bilang apa hubby?"
"Eh tidak ada apa - apa kok, memangnya aku mengatakan apa?"
"Oh begitu, aku tadi merasa bahwa kamu mengatakan sesuatu."
"Ti-tidak, mungkin yang kamu dengar tadi adalah suara cicak ngobrol."
"Cicak?"
"Haiss sudah lupakan, mari kita tidur!!"
"Eh kenapa kamu tidak sabar ingin cepat - cepat tidur bersamaku?"
"Argghh."
__ADS_1
"Aku hanya bercanda hubby, tidak perlu sampai salah tingkah seperti itu."
"Haiss."
Keesokan harinya Liam sedang berolahraga di halaman rumahnya sembari menemani Ace bermain bola. Halaman rumah itu rumputnya sudah diganti dengan rumput yang biasa digunakan di stadion, dan disana juga sudah ada sebuah gawang yang sangat kokoh untuk Ace bermain bola. Saat ini Liam sedang berlari mengejar bola yang sedang ditendang Ace, dan dia ingin menendangnya ke arah gawang yang sedang dijaga oleh Pak Kang.
Namun tiba - tiba saja ada sebuah kegaduhan di depan pintu gerbang, dan ada salah satu bodyguard yang berkata bahwa ada seorang penyusup yang ingin masuk ke dalam rumah. Pak Kang lalu diminta oleh Liam untuk menjaga Ace, sedangkan Liam langsung berlari ke arah gerbang depan karena penasaran dengan penyusup itu. Saat para bodyguard itu hendak memukul orang asing itu, Liam tiba - tiba berteriak agar para bodyguardnya menjauh dari orang tersebut.
"Hentikan!!! jangan ada yang berani menyentuhnya, dia adalah kakak iparku!!" perintah Liam.
Seketika para bodyguard itu langsung menjauhi Josh.
"Liam," panggil Josh lirih.
"Hai sudah lama tidak bertemu hyung, selamat datang dirumahku."
"Terima kasih."
"Kamu pasti ingin bertemu dengan Jane dan Ace ya? tanya Liam berjalan di samping Josh.
"I-iya, kemarin hari ulang tahun adikku. Sebenarnya aku kemarin ke rumahmu namun ternyata kalian sudah pergi ke Australia, jadi aku kemari untuk bertemu dengan kalian."
"Oh begitu, kamu kemari dengan siapa?"
"Sendiri."
"Oh, mmm menginaplah disini nanti aku akan meminta bibi untuk menyiapkan kamarmu."
"Terima kasih banyak. Aku heran denganmu, harusnya kamu membiarkanku dihajar oleh para bodyguardmu seperti waktu aku menghajarmu dirumahku."
"Haha mana mungkin aku menghajar kakak iparku, seorang pria yang sangat disayangi oleh istri dan juga anakku."
"Sebenarnya hatimu ini terbuat dari apa sih kok kamu orangnya sangat baik sekali? bahkan saat adikku menyelingkuhimu, kamu masih mau menerimanya serta memaafkannya."
"Hahaha hatiku sudah mati sejak dulu, jadi ya menurutku biasa saja sih lagipula untuk apa balas dendam? toh itu hanya membuang - buang energi saja."
"Tapi tolong jika kamu benar benar ingin balas dendam maka lampiaskan saja kepadaku dan jangan kepada adik yang sangat aku cintai."
"Iya Josh, aku kan sudah berkata bahwa aku tidak ingin balas dendam karena yang lalu biarlah berlalu."
"Terima kasih hanyak."
"Iya."
__ADS_1