
Liam mengatakan bahwa dia harus memikirkannya terlebih dahulu, dan setelah itu dia pergi ke kamarnya untuk mandi karena ingin menjemput Ace di rumah kedua orang tuannya. Liam yang jarang sekali berendam di bathtub, entah mengapa saat ini dirinya sedang sangat ingin berendam disana. Sesekali dia menenggelamkan kepalanya di dalam sana saat dirinya mulai menangis.
Beberapa kali dia juga menampar wajahnya sendiri sembari melontarkan beberapa umpatan untuk dirinya karena telah gagal dalam semua hal, termasuk dalam hal rumah tangganya seperti saat ini. Dia meruntuki dirinya sendiri atas keputusannya untuk kembali ke tempatnya seperti sedia kala, dan seharusnya dia mengetahui bahwa semua tidak akan sama seperti sedia kala meskipun dia sudah kembali kentempatnya.
Setelah itu barulah dia pergi ke rumah orang tuanya bersama Mrs Robinson begitu dia selesai mandi. Selama diperjalanan Liam hanya terdiam saja dan enggan mengeluarkan sepatah kata apapun, bahkan saat Mrs Robinson mengajaknya berbicara. Melihat putranya yang seperti itu Mrs Robinson lalu mengusap rambutnya dan memberikan kata - kata semangat untuknya.
Dia tahu bahwa jika sudah seperti itu pasti putranya akan sangat sulit untuk bangkit dan selamanya akan terjatuh ke dalam jurang tersebut. Begitu sesampainya disana Liam langsung pergi ke kamar mandi dengan tergesa - gesa karena perutnya terasa sangat mual, dan benar saja Liam langsung muntah begitu sampai di dalam kamar mandi.
"Liam, kenapa sayang?" tanya Mrs Robinson.
"Ti-tidak apa - apa kok mom."
"Mom Liam muntah," ucap Lian.
Mrs Robinson langsung menghampiri Liam dengan perasaan cemas karena dugaannya benar. Mrs Robinson mengusap punggung Liam begitu dia sampai di dalam kamar mandi.
"Ayo keluarkan semua jika itu membuatmu merasa lebih lega."
"Adikmu itu kenapa?" tanya Mr Robinson bingung.
"Tidak tahu dad, sepertinya dia sedang sakit."
"Biar aku hubungi dokter Ben untuk mampir kemari."
"Okay dad."
"Lian."
"Tuh dipanggil mommy."
"Iya mom, kenapa?" tanya Lian menghampirinya.
"Minta tolong bibi untuk buatkan teh hangat sayang."
"Oh iya mom."
Lian berjalan ke dapur untuk meminta bibi membuatkan secangkir teh hangat, dan setelah itu dia kembali ke ruang tengah.
"Uncle Li, daddy kenapa?" tanya Ace bingung.
"Mmm daddy Ace sedang tidak enak badan."
"Daddy sedang sakit?"
"Iya, sini uncle gendong."
Ace lalu naik ke pangkuan Lian dan menonton film kartun bersama.
"Iii uncle tolong ambilkan itu."
__ADS_1
"Oh baiklah, ini ambillah!"
"Makasih uncle."
"Iya," ucap Lian sembari mengusap rambut Ace.
"Ace ayo pulang, kamu sudah dicari oleh eomma."
"Nee daddy," ucap Ace turun dari pangkuan Lian.
"Liam, minum teh hangatnya dulu dan tunggu dokter Ben yang akan datang untuk memeriksamu."
"Tidak perlu mom, aku sudah tidak apa - apa."
"Heh Liam."
Mr Robinson menepuk punggung Liam.
"Turuti ucapan mommy agar dia tidak merasa sangat cemas memikirkanmu."
"Hmm okay dad," ucap Liam yang duduk di atas sofa.
Ace lalu mendekati Liam dan duduk di pangkuannya.
"Daddy, aku merindukanmu."
"Aku juga merindukanmu," ucap Liam memeluk Ace.
Liam tertawa mendengar ucapan Ace.
"Hahaha baiklah. Kamu mau teh?"
"Tidak mau, teh hanya untuk orang dewasa."
"Tidak juga, kamu juga bisa meminum teh jika menginginkannya."
"Aku minum susu saja daddy."
"Disini tidak ada susu, nanti setelah pulang ke rumah baru bisa minum susu."
Mrs Robinson datang dan memberikan botol susu milik Ace.
"Ini susu Ace."
"Bilang apa sama grandmom?"
"Terima kasih grandmom," ucap Ace setelah menerima botol susu itu.
"Iya sama - sama sayang."
__ADS_1
"Daddy kenapa rasa susunya berbeda dari biasanya?" tanyanya setelah mencicipi susu itu.
"Mmm mungkin kamu meminum susu formula, bukan yang dimiliki oleh eomma. Kenapa, tidak enak ya?"
"Rasanya aneh daddy, lebih enak milik eomma."
Liam tersenyum.
"Iya lebih enak enak milik eomma," gumam Liam.
"Kenapa daddy bisa tahu bahwa milik eomma lebih enak?"
Mendengar hal tersebut seketika membuat Lian tertawa terbahak - bahak, sedangkan Liam sedang menyusun sebuah rangkaian kata untuk memberikan Ace jawaban yang memuaskan.
"Hooo kenapa daddy bisa tahu bahwa milik eomma lebih enak?" tanya Lian menirukan pertanyaan Ace tadi.
"Iya daddy, kenapa?"
"Tadi kamu kan yang berkata seperti itu, jadi aku hanya mengulangi ucapanmu. Dokter Ben sudah datang dan aku akan pergi untuk diperiksa olehnya, kamu disini bersama uncle Li sebentar."
"Nee daddy."
Liam kemudian masuk ke dalam kamarnya dengan didampingi oleh Mrs Robinson, dan selain pemeriksaan fisik ternyata Liam juga melakukan konsultasi seperti biasanya. Mrs Robinson yang menginginkan hal tersebut karena dia merasa bahwa kondisi putranya sedang tidak baik - baik saja. Dokter Ben meminta Liam untuk kembali rutin melakukan konsultasi seperti dulu, mengingat bahwa kondisinya semakin menurun. Disisi lain sekarang Jane sedang disidang oleh kedua orang tuanya di kediaman Mr Kim, setelah Pak Kang diperintahkan untuk membawa Jane pulang.
"Bagaimana bisa Jane? selama ini Liam itu kurang apa ha? dia sudah mengurusmu serta Ace dengan sangat baik, bahkan dia tidak pernah menuntut hal yang berlebihan kepadamu. Dia selalu menuruti keinginanmu bahkan saat kamu menginginkan untuk menunda setahun memiliki seorang anak, dan dia yang memberanikan diri untuk berbicara kepada keluarga besarnya!!"
"I-iya appa, Jane masih ingat mengenai hal tersebut."
"Appa tidak habis fikir denganmu, mau taruh dimana muka kita berdua ha? jujur appa malu dengan perilakumu yang seperti itu, dan kami berdua sangat malu untuk bertemu dengan orang tua Liam setelah mengetahui perilakumu yang menjijikkan itu!!"
Jane mulai menangis saat dimarahi oleh Mr Kim.
"Maaf appa, maafkan perilaku Jane."
"Lebih baik minta maaf dengan keluarga Liam terutama dengan Liam yang kepercayaannya telah dikhianati olehmu."
"I-iya appa."
"Appa merasa heran denganmu karena kamu diberikan suami yang baik seperti Liam malah kamu selingkuhi, sedangkan dahulu waktu mendapat pria brengsek seperti Kyle malah sangat kamu cintai sampai berani menjadi anak durhaka. Sebenarnya yang salah ini pemikiran appa atau kamunya saja yang kurang merasa bersyukur ha?" tanya Mr Kim yang mulai menaikkan nada bicaranya.
"Jane yang salah appa, Jane kurang bersyukur."
"Nah itu paham!! mulai saat ini appa akan meminta managermu untuk mengosongkan semua jadwal kegiatanmu selama sebulan, dan appa ingin agar kamu bisa menjadi ibu rumah tangga sungguhan."
Jane lalu berlutut.
"Jangan appa, jangan begitu karena aku pasti akan merasa bosan dirumah jika tidak ada jadwal kegiatan."
"Appa tidak mau tahu, pokoknya itu sudah menjadi keputusan appa untuk membuatmu hiatus dari dunia hiburan agar kamu menyadari bahwa betapa sulitnya menjadi seorang suami yang bekerja keras dari pagi sampai sore untuk memenuhi kebutuhanmu."
__ADS_1
"Baik appa," jawabnya pasrah.