
Semenjak ada anak - anak yang ikut nongkrong bersama di cafe, mereka sudah tidak berani merokok lagi karena takut jika akan membuat kedua anak kecil itu sakit. Liam yang biasanya merokok dan minum minuman alkohol sekarang dia sudah tidak melakukannya lagi di depan anak kecil. Bahkan Liam sudah berhenti merokok sejak dia memiliki seorang anak. Kedua temannya itu terus memperhatikan Liam yang sedang menyuapi Ace dan juga selalu menjawab beberapa pertanyaan darinya dengan sabar.
Padahal mereka berdua sangat tahu bahwa Liam memiliki kesabaran setipis tissue, dan pasti emosinya akan selalu terpancing saat ada yang berusaha menyalakan bara api. Namun sekarang Liam justru bersikap sangat sabar menghadapi anaknya, dan itu membuat mereka berdua bisa bernafas dengan lega bahwa sepertinya Liam sudah berubah. Mereka berdua juga menyadari bahwa Liam sangat sayang sekali dengan anaknya, padahal dahulu dia berniat tidak ingin memiliki seorang anak.
Ricko kemudian menghampiri meja mereka dan duduk di sebelah Liam karena Ibra yang menginginkan duduk di dekat Ace. Ibra dan Ace kemudian bermain bersama, sedangkan keempat orang dewasa itu sedang bermain game. Namun meskipun begitu Liam dan Ricko masih tetap mengawasi anakanya masing - masing agar tidak pergi kemanapun. Untung saja mereka berdua duduk diam bermain permainan papan bersama.
"Kamu besok jadi datang ke acara ulang tahunku kan?" tanya Ibra.
"Tentu aku akan datang, masa aku tidak datang padahal kamu sudah mengundangku."
"Siapa tahu kamu begitu."
"Aku tidak seperti itu, kata daddy tidak sopan."
"Oh begitu."
"Sniff, daddy ininya keluar."
Liam lalu meletakkan handphonenya dan mengambil tissue.
"Jangan minum es terus nanti pilekmu tidak sembuh," ucap Liam mengusap hidung Ace.
"Nee daddy."
"Kamu pilek?" tanya Ibra.
"Iya, aku habis sakit."
"Oh begitu."
1 jam kemudian mereka berempat sudah selesai bermain game.
"Bagaimana Li, masih doyan tidak?" tanya Dio bercanda.
"Doyan apa?"
"Doyan sama istri hahaha."
"Masih. tapi sekarang jarang."
"Kenapa jarang?" tanya Chicko bingung.
"Haiss pasti karena anak tuh," jawab Dio.
"Tidak, aku sekarang sedikit malas karena takut disalahkan jika tiba - tiba Ace mempunyai adik."
Sontak mereka bertiga langsung tertawa.
"Memangnya kamu ingin mempunyai anak lagi saat Ace menginjak usia berapa tahun?"
"Kata Jane saat Ace berusia 6 atau 7 tahunan Ric."
"Oh sama dong dengan Gita, dia juga sudah membicarakan hal tersebut denganku."
"Enak tidak memiliki anak?"
"Kadang ada enaknya dan kadang juga tidak, Dio."
"Oh begitu."
"Tumben Chicko sekarang sedikit pendiam," ucap Ricko menatap Chicko.
Dio menepuk punggung Chicko.
"Dia sedang patah hati karena Rosie lebih memilih Leon daripada dirinya hahaha."
__ADS_1
"Sudahlah Chic. masih banyak ikan dilautan."
"Benar tuh yang dikatakan oleh Liam, jadi lebih baik mengikhlaskannya saja dan cari yang lain."
"Tapi aku masih memiliki sisa rasa untuk Rosie, dan sulit sekali untuk menghilangkannya."
"Jadi bagaimana tanggapan anda sebagai kakaknya Rosie, bapak Liam?" tanya Dio menyodorkan botol minuman soda ke mulut Liam.
"No comment, kalau itu pilihannya aku bisa apa?"
"Liam bantulah aku," ucap Chicko memelas.
"Hufttt aku harus bagaimana lagi Chic? waktu itu aku sudah memberimu kesempatan untuk mendekati Rosie, eh kamu tidak kunjung menyatakan lerasaanmu kepadanya dan akhirnya dia bersama Leon."
"Iya tuh, sebenarnya semua ini juga salahmu yang tak kunjung menyatakan perasaanmu dan akhirnya keduluan orang lain."
"Yang dikatakan oleh Dio itu benar, kamunya saja yang apa - apa terlambat. Kalau misalnya kamu tidak terlambat waktu itu pasti Rosie juga akan menjadi milikmu, iya kan Li?"
"Benar sekali Ric, aku setuju dengan ucapanmu. Apalagi dahulu sepertinya Rosie juga tertarik kepadamu."
"Benarkah?"
"Iya tapi ya begitulah, kamunya kurang sat set."
"Daddy," ucap Ace yang minta digendong.
"Kenapa? sudah mengantuk heum?"
Ace mengangguk.
"Hoamm iya daddy."
"Ya sudah kita pulang saja, pamitan dulu sama om - omnya."
"Iya Ace," ucap mereka serempak.
"Aku juga mau pulang karena kelihatannya Ibra juga sudah mengantuk," ucap Ricko menggendong Ibra.
"Oh iya Ric."
"Jangan lupa kalian semua besok Minggu datang ke rumahku."
"Siapp Ricko."
"Kamu juga ya Li? ajak Jane sekalian."
"Pasti Ric."
Liam lalu menggendong Ace menuju ke parkiran, dan setelah itu dia mengendarai mobilnya untuk pulang ke rumah. Saat di tengah perjalanan ternyata Ace sudah tertidur nyenyak di kursi belakang. Tidak lama kemudian sampailah mereka berdua di basement rumah, dan setelah itu Liam menidurkan Ace di kamarnya. Liam melepas sandal Ace dan menyelimutinya agar semakin tertidur nyenyak. Begitu sesampainya di kamar ternyata Jane juga sudah tertidur, jadi dia langsung menyusul Jane untuk tidur.
"Hmmm hubby," ucap Jane memeluk Liam.
"Sedang mengigau ternyata."
"Mmmhh suamiku yang paling tampan jangan pergi lagi ya, aku sangat kesulitan saat tidak ada kamu."
"Iya sayang," ucap Liam mengiyakan.
Jane lalu membuka matanya.
"Sudah pulang ternyata, Ace dimana?"
"Dia sudah tidur di kamarnya."
"Oh begitu."
__ADS_1
"Besok kita diundang ke acara ulang tahunnya Ibra, jadi kita datang bersama - sama."
"Oh iya hubby. Mmm sejujurnya sekarang perasaanmu kepadaku ini bagaimana sebenarnya?"
"Masih biasa saja."
"Apa Yunna masih menempati hatimu?"
"Tidak juga, memang sekarang hatiku sedang kosong dan tidak ada siapapun yang menempatinya."
"Kalau begitu biarkan aku saja yang mengisi di hatimu."
"Silahkan saja kalau kamu bisa menempatinya."
"Lalu perasaanmu selama kita berhubungan suami istri di malam hari bagaimana?"
"Ya begitulah, bukankah aku hanya menjalankan sebuah perintah darimu?"
"Perintah apa hubby sayang?"
"Waktu itu aku bersedia untuk melakukan apapun yang kamu inginkan agar kamu bisa memperlakukan Ace dengan baik serta tidak akan menitipkannya di panti asuhan."
"Hubby, tapi..."
"Sstt sudah mari kita tidur, aku sudah sangat mengantuk."
*Keesokan harinya.*
"Ayo bangun jagoan, mari kita pergi ke mall."
"Ngg aku masih mengantuk dad," ucap Ace sembari mengucek kedua matanya.
Liam lalu menggelitiki perut Ace.
"Come on buddy."
"Hahaha geli daddy."
"Ayo jadi mencari kado untuk ulang tahunnya Ibra tidak?"
"Eh jadi dong dad."
"Mandi, sarapan, lalu kita berangkat."
"Memangnya daddy tidak pergi bekerja?"
"Hari ini hari Sabtu, jadi daddy libur kerja."
"Apa kita akan bermain di timezone juga?"
"Tentu saja, kenapa tidak?"
Ace lalu berdiri dan melompat - lompat di atas ranjangnya, begitu juga dengan Liam yang mengikuti Ace sampai rasanya rumah mau roboh.
"Yeay!!" teriak mereka berdua secara serempak sembari terus melompat - lompat di atas ranjang.
"Ehem sedang apa kalian berdua?" tanya Jane yang bersandar di gawang pintu.
Seketika mereka berdua langsung berhenti dan berpura - pura tidur.
"Hei jangan berpura - pura, aku sudah melihat tingkah kalian berdua yang membuat rumah serasa mau roboh."
Mereka berdua tertawa.
"Hahaha."
__ADS_1