
Liam berniat mengantar Dokter Beni sampai ke depan pintu utama namun setelah sesampainya di ruang tengah, dok Ben menginginkan untuk berbincang sebentar dengan Liam. Dokter Ben bertanya kepada Liam mengenai beberapa hal dan salah satunya tentang masalah yang dihadapinya saat ini. Dia tahu bahwa Liam tadi berbohong dan dia ingin agar Liam dapat bercerita kepadanya tentang hal yang mengganjal perasaannya selama ini.
Liam lalu bercerita kepada dokter Ben bahwa sebenarnya dia sedang tidak diet, melainkan sedang stress semenjak dia pergi dari rumah. Dokter Ben membiarkan Liam bercerita mengenai semua hal yang telah dialami agar tidak ada yang mengganjal, karena dia tahu bagaimana saat Liam sedang stress seperti dahulu. Kalau Liam tidak seperti itu, mana mungkin dia menjadi pasiennya selama bertahun - tahun.
Dari dulu dia selalu rutin bertemu dengan dirinya dengan diantar oleh ibunya, alias Mrs Robinson. Dia menginginkan jika Liam dapat menemuinya secara rutin seminggu sekali seperti dulu, agar dia bisa benar - benar sembuh dan tidak mengkonsumsi sebuah obat yang selalu dia berikan kepadanya. Dia merasa tidak tega dengan Liam jika selalu seperti itu karena mendapat banyak tekanan dari ayahnya, apalagi terkadang keinginan ayahnya yang sampai diluar batas.
"Apa daddy kamu masih menginginkan banyak hal lagi kepadamu?"
"Hufftt entahlah, tapi sepertinya semenjak aku menikah daddy jadi biasa saja. Mungkin itu yang diinginkan oleh daddy selama ini karena memang banyak temannya yang sudah menimang cucu."
"Ya sepertinya begitu, dan hal itu memang wajar saja sih namun yang memaksakan kehendak sampai berlebihan itulah yang menurutku sudah diluar batas seperti kasusmu itu."
"Aku juga berfikir seperti itu, tapi apalah daya diriku yang merupakan seorang anjing peliharaan keluarga Robinson dan harus menurutinya."
Dokter Ben lalu menepuk punggung Liam.
"Hei sudah berapa kali ku bilang, jangan pernah berfikir seperti itu karena kamu ini bukanlah seorang anjing melainkan seorang manusia yang berhak untuk menentukan pilihanmu sendiri."
"Aku bingung dengan semua ini, aku takut jika daddy akan melakukan hal seperti dulu lagi saat aku tidak menuruti keinginannya. Aku takut dan sangat takut sekali," ucap Liam yang mulai menangis saat mengingat kejadian di masa lalu.
"Hei sstt, sudah jangan difikirkan lagi dan kubur saja dalam - dalam semua hal yang telah terjadi di masa lalu. Sekarang kamu harus bisa membalaskan dendammu."
Liam mendongak menatap dok Ben.
"Bagaimana caranya?" tanya Liam penasaran.
"Jadilah ayah yang baik untuk anakmu dan jangan biarkan dia merasakan apa yang kamu rasakan dahulu saat kamu masih kecil."
"Aku kira kamu akan menyarankan untuk membunuh daddy."
"Haiss dasar, balas dendam dengan hal seperti itu justru akan makin memperburuk banyak hal. Bukankah balas dendam dengan hal kebaikan seperti yang ku minta tadi justru akan membuatmu merasa puas serta dapat dengan mudah mengubur semua hal itu dalam - dalam?"
"Tidak juga, dengan cara seperti itu justru tidak akan membuatku merasa puas."
"Memang benar itu tidak akan membuatmu puas namun jika kamu berhasil berbuat seperti itu hanya menimbulkan kepuasan sementara saja, dan selebihnya akan timbul rasa penyesalan."
"Kenapa begitu?"
"Pertimbangkan bagaimana hancurnya perasaan mommy kamu dan grandma kamu ketika mereka ditinggalkan oleh daddy. Kamu tidak ingin kan jika suatu saat Ace akan melakukan hal yang sama dengan apa yang kamu lakukan dengan daddy?"
"Benar juga."
"Jangan terlalu gegabah ketika membuat keputusan."
__ADS_1
"Iya."
"Oh ya, kamu rutin meminum obatnya kan?"
"Vitamin."
"Ah iya maksudku, apa kamu rutin meminumnya?"
"Iya, tenang saja."
"Apa Jane sudah mengetahui tentangmu, ah maksudku tentang itu?"
"Sepertinya belum."
"Kamu tidak menceritakan hal tersebut kepadanya?"
"Tidak, maksudku belum."
"Kenapa begitu? bukankah sepertinya dia harus mengetahui hal ini?"
"Aku takut jika dia akan meninggalkanku dan menjauhkanku dari Ace ketika dia tahu semua tentangku."
"Aku lihat dia wanita yang benar - benar tulus mencintaimu, jadi sepertinya dia tidak mungkin akan meninggalkanmu jika kamu memiliki penyakit itu."
"Aku juga berfikir seperti itu namun aku masih belum mempunyai keberanian untuk bercerita, dan ditambah aku tidak sanggup membayangkan respondnya setelah mengetahui semuanya."
"Iya sih, itu sangat berat dan aku hanya bisa berharap yang terbaik untuk kalian berdua."
"Terima kasih."
"Aku pulang ya."
"Eh iya hati - hati."
Disisi lain ternyata Jane sudah mendengar semua perbincangan antara suaminya dan juga dokter pribadinya. Dia merasa penasaran mengenai apa yang dibicarakan oleh mereka berdua, dan dia sangat penasaran dengan penyakit yang sedang diderita oleh suaminya. Dia lalu pergi ke kamar Ace setelah mendapati bahwa suaminya akan pergi ke atas, dan benar saja ternyata tidak lama kemudian dia sudah berjalan menghampiri ranjang Ace.
Liam mengusap rambut serta mencium pipi Ace yang masih tertidur nyenyak. Liam merasa sedih melihat putranya yang selalu berlarian kesana kemari, sekarang terbaring lemah di atas ranjang. Beberapa menit kemudian Jane menyuapi Ace makan malam agar setelah itu dia bisa minum obat. Liam datang ke kamar Ace sembari membawa beberapa mainan dan juga camilan agar putranya segera sembuh.
"Daddy membawa apa tuh?" tanya Jane sembari menyuapi Ace.
"Hai jagoan, daddy membelikanmu beberapa camilan kesukaanmu serta mainan agar kamu bisa segera sembuh."
"Terima kasih dad," ucapnya dengan lemah.
__ADS_1
"Iya. Habis ini minum obat dan segera beristirahat agar besok bisa sembuh, lalu kita bermain bersama lagi."
"Aku ingin main bola dad."
"Iya besok kita main bola lagi, asalkan kamu harus bisa sembuh terlebih dahulu."
"Nee dad."
"Ayo makan yang banyak agar segera sembuh."
"Nee. Daddy, aku ingin sepeda."
"Ingin sepeda? baiklah daddy akan membelikanmu sepeda, apa kamu menginginkannya sekarang heum?" tanya Liam dengan antusias.
"Memang tokonya belum tutup?"
"Sepertinya belum, ini masih jam setengah 7 malam."
"Oh begitu."
"Jika kamu ragu - ragu bagaimana jika sekarang kita coba pergi ke tokonya, dan jika tutup kita kembali besok?"
"Boleh."
"Ya sudah siap - siap, pakai sweater yang hangat."
"Ayo eomma, aku ingin beli sepeda."
"Iya, minum obat dulu ya? dan setelah ini eomma ambilkan baju ganti."
"Biar aku saja yang mengambilkannya baju ganti, dan kamu memberikan Ace obat."
"Okay hubby."
Tidak lama kemudian mereka bertiga lalu pergi ke sebuah toko sepeda terdekat untuk membelikan Ace sepeda. Begitu sesampainya disana ternyata tokonya masih buka dan hampir tutup. Liam langsung berlari dan memohon kepada pemilik toko agar jangan menutupnya terlebih dahulu.
"Kamu ingin sepeda yang mana?" tanya Liam yang sedang menggendong Ace.
"Yang warna biru itu," ucapnya menunjuk ke sebuah sepeda bmx.
"Oh baiklah, mau dikasih bel?"
"Mau daddy."
__ADS_1