
Sebagai percobaan Jane memutuskan untuk membeli satu kaleng susu formula terlebih dahulu dan ketika Ace sudah mulai menyukainya, baru nanti akan membeli lebih banyak untuk persediaan. Tidak lupa mereka juga membeli botol susu yang lain karena milik Ace sudah usang, dan harus diganti dengan yang baru agar lebih terjamin kebersihannya. Lagi dan lagi Ace lebih memilih botol susu yang bergambar dinosaurus. Setelah selesai barulah mereka bertiga menyempatkan untuk berjalan - jalan sebentar di mall.
Liam merasa heran karena tumben sekali Ace diam saat digendong dan tidak seperti biasanya yang langsung berlarian. Ace digendong di depan dengan menggunakan gendongan anak sembari memakan permen lollipop yang tadi dibelinya di sana. Ace terus menjilati permen itu sembari melihat keadaan sekitar, dan sesekali dia bertanya kepada ayahnya mengenai hal baru yang dia temui di mall tersebut. Jane merangkul lengan suaminya karena ingin mengajaknya pergi untuk membeli sebuah baju dinas di sana.
Liam tidak langsung menyetujuinya karena pada saat itu mereka sedang mengajak Ace yang masih kecil, dan rasanya seperti tidak pantas saja mengajak seorang anak kecil untuk masuk ke toko itu. Karena tidak ingin membuat suasana hati istrinya menjadi jelek, Liam lalu berjanji bahwa besok dia akan menemaninya untuk pergi kesana saat jam makan siang kantor. Mendengar hal itu Jane lalu mengiyakan dan mereka bertiga kembali melanjutkan ke toko lain.
2 jam kemudian Liam telah bersiap - siap untuk pergi ke bar bersama teman - temannya, dan tentunya dia sudah meminta izin terlebih dahulu kepada Jane agar dia tidak mengganggunya saat bersenang - senang.
"Aku pergi dulu muach," ucap Liam dengan sangat antusias.
"Hemm."
"Kamu marah karena hal tadi? aku kan sudah berjanji akan menemanimu saat jam makan siang dan saat tidak ada Ace."
"Tapi permasalahannya apa mungkin Ace mau ditinggal sendirian di rumah bersama bibi? aku yakin dia pasti akan tetap ingin ikut."
"Ya sudah besok aku akan meminta mommy untuk menjaga Ace sebentar selama kita berdua pergi."
"Iya deh."
"Bukankah kamu sudah memiliki banyak yang seperti itu? kenapa beli lagi?"
"Ya tidak apa - apa, biar tidak merasa bosan memakai baju yang itu - itu saja."
"Oh begitu."
"Lagipula kamu juga pasti senang kan jika aku memakai pakaian yang seperti itu?"
"Iya aku senang, tapi hanya saat di depanku saja dan selebihnya tidak boleh."
"Tapi aku mempunyai kontrak kerjasama dengan sebuah brand underwear, jadi otomatis jika aku melakukan pemotretan pasti hanya mengenakan pakaian yang seperti itu."
"Hmm kalau urusan kerja ya tidak apa - apa, kan harus professional bukan?"
"Jadi kamu tidak masalah kan dengan hal itu hubby?" tanya Jane ragu.
"Tidak apa - apa kalau karena pekerjaan."
"Aku heran mengapa kamu tidak memintaku untuk berhenti menjadi model."
"Karena aku lihat kamu merasa bahagia menjadi seorang model, jadi untuk apa aku mengusik kebahagianmu? meskipun aku ini suamimu namun aku juga tidak berhak untuk mengatur hal semacam itu apalagi sesuatu hal yang membuatmu merasa bahagia asalkan jangan sampai diluar batas, mengerti?"
__ADS_1
Jane mengangguk.
"Mengerti hubby."
"Anak pintar," ucap Liam mengusap pipi chubby Jane.
"Ya sudah sana cepat berangkat!"
"Iya sayang."
Liam lalu bergegas pergi ke sebuah bar langganannya, dan sesampainya disana ternyata teman - teman Liam sudah menunggunya datang. Mereka semua langsung berpesta sembari minum.
"Sudah meminta izin kepada istrimu?" tanya Chicko.
"Sudah dong, maka dari itu aku bisa langsung kemari."
"Oh begitu, baguslah aku ikutan senang."
"Ric, tidak mau mencoba minum?" tanya Chicko.
"Sampai kapanpun aku tidak akan pernah mencobanya, lebih baik aku membeli jus buah saja yang tentunya lebih menyehatkan."
"Hahaha benar, kan kamu disini tugasnya mengawasi kita bertiga kan?"
Liam tertawa.
"Hahaha mereka memang seperti itu."
"Kamupun juga seperti itu, apalagi kalau sudah habis banyak minimal satu botol. Jangan aneh - aneh, nanti aku yang dimarahi oleh istrimu."
"Iya Ric iya."
Tiba - tiba saja ada seorang pria yang mendatangi meja Liam dan langsung menyerangnya.
*Bughh.*
"Dasar brengsek, enyahlah kamu!!"
"Aww," rintih Liam.
Teman - teman Liam langsung melerainya.
__ADS_1
"Hei bung apa - apaan kamu ini?" tanya Dio.
"Berani - beraninya kamu menyentuh Liam!!" teriak Ricko.
"Minggir kalian semua!! aku akan menghabisinya agar aku bisa bersama dengan Jane."
"Jane itu sudah menjadi milik Liam seumur hidupnya. kamu ini siapa yang tiba - tiba datang dan langsung memukulnya seperti itu?" tanya Chicko.
"Asal kalian tahu ya? bahwa aku ini sebenarnya...."
Belum selesai berbicara Liam langsung menyeret Simon untuk pergi menjauh agar bisa berbicara 4 mata dengannya.
"Kamu menginginkan Jane bukan? baiklah, aku akan memberikannya kepadamu asalkan Ace tetap bersamaku."
"Baiklah, cepat uruslah perceraian kalian berdua dan ambillah Ace agar anak kecil itu nantinya tidak bisa mengusikku dengan Jane."
"Iya," ucap Liam lesu.
"Lagipula aku lebih menginginkan memiliki seorang anak kandung dengan Jane daripada anak tiri, maka dari itu aku akan langsung berencana untuk memiliki seorang anak setelah menikah dengannya nanti."
"Terserah kau saja," ucapnya langsung melenggang pergi.
Teman - teman Liam langsung mengetahui bahwa rumah tangga temannya itu sedang berada di ujung tanduk karena kehadiran orang ketiga. Rupanya mereka bertiga diam - diam mendengarkan percakapan antara Liam dengan Simon sejak tadi, jadi mereka semuanya langsung tahu.
Liam kembali ke mejanya dan mulai menenggak minuman kesukaannya yang tentunya minuman beralkohol sampai dia mabuk berat. berulang kali teman - temannya menyuruhnya untuk berhenti namun Liam masih saja seperti itu sampai jam 1 malam. Ricko berusaha memapah Liam untuk pulang, tapi Liam menolaknya dan masih ingin berada disana untuk menenangkan diri.
"Ayo Liam pulang, ini sudah jam 1 pagi."
"Tidak mau Ric, aku masih ingin berada disini."
"Ayo pulang, nanti kamu dicari oleh Jane."
"Aku bilang tidak mau ya jangan memaksa!! dasar wanita sialan, Jane wanita sialan!!"
"Hei kenapa?" tanya Ricko berusaha tenang.
"Jane itu wanita sialan, kalau bukan karena dia itu ibu dari anakku sudah pasti akan kubunuh dia!!" teriak Liam dengan mata yang berkaca - kaca.
Mendengar hal tersebut Dio dan Chicko hanya bisa diam, apalagi ikut campur urusan rumah tangga temannya. Hati Liam semakin hancur karena wanita yang dicintainya sudah berani mendua, yah meskipun memang semuanya adalah salahnya namun tetap saja Liam merasa sakit hati.
"Tidak boleh berbicara seperti itu, mau bagaimanapun Jane tetap istrimu dan ibu dari anakmu."
__ADS_1
"Benar Liam, lagipula kamu bisa bersenang - senang disini bersama para wanita itu dan lupakanlah semua hal yang membuatmu stress."
"Hei sstt," ucap Chicko menyenggol tangan Dio.