Dear Ace

Dear Ace
#73 Pengakuan2


__ADS_3

Ace memakannya sembari mengayunkan kaki mungilnya, dan hal itu membuat Rosie menjadi gemas dengan tingkah laku keponakannya itu. Jika Ace seperti itu maka tandanya dia sangat menikmati makanannya, jadi jangan heran jika dia bertingkah seperti itu saat makanannya terasa sangat lezat sesuai dengan selera lidahnya. Beberapa menit kemudian Ace sudah berada di pangkuan Mr Robinson dan sedang berbincang dengannya.


Semua yang ditanyakan sekaligus diperbincangkan oleh Ace berhasil membuat gelak tawa bagi Mr Robinson dan yang lainnya karena dia sangat menggemaskan. Ace juga kembali menanyakan tentang pabrik ice cream yang ingin dibeli olehnya agar bisa makan gratis sepuasnya. Mr Robinson berulang kali mengatakan kepada Ace bahwa jika dia sedang menginginkan ice cream maka bilang saja kepadanya, pasti akan dibelikan olehnya.


Namun Ace berfikir sejenak untuk memikirkan bagaimana caranya agar Jane mengizinkannya untuk makan ice cream. Tidak lama kemudian Jane datang menghampiri Ace untuk membawanya ke kamar karena ingin memandikannya. Jane menggendong Ace ke kamar dan sesampainya di kamarnya dia langsung memandikan Ace, sedangkan Liam masih tiduran di ranjang dan belum mandi. 30 menit kemudian Ace sudah tertidur di gendongan Jane sembari meminum susunya. Liam keluar dari kamar mandi dengan masih menggunakan handuk, dan bertelanjang dada.


"Jane, kaos barongku yang warna biru langit kamu letakkan dimana ya?" tanya Liam saat menghampiri Jane.


"Eh aku sudah lama tidak melihat kaos itu hubby. mungkin terselip di antara tumpukan beberapa kaos itu karena bahannya yang sangat tipis."


"Oh begitu, ya sudah aku akan mencarinya."


"Pakai yang lain saja hubby."


"Hmm baiklah."


"Aku perhatikan kamu tidak terlalu kurus karena perut kotak - kotakmu masih ada."


Liam langsung melihat ke arah perutnya.


"Ya memang, tapi sepertinya aku akan kembali rutin berolahraga agar badanku bisa sebesar dulu."


"Oh begitu."


Liam lalu mendekati Ace dan mulai mengganggunya.


"Hih Liam, jangan ganggu Ace saat dia sedang tertidur!"


"Memangnya kenapa?"


"Nanti dia rewel lagi."


Liam mencium pipi Ace hingga membuatnya terbangun.


"Nggg tidak mau," ucap Ace.


"Nah kan ckckck."


"Huwaa."


"Eh ssstt sayang jangan menangis."


"Huwaa eomma."


"Ayo beli ice cream," ucap Liam tiba - tiba.


Seketika Ace berhenti menangis.

__ADS_1


"Ice cream?"


Liam mengangguk.


"Heem, beli ice cream."


"Mau daddy, mau ice cream."


"Okay, setelah daddy ganti baju kita langsung beli ice cream."


"Nee," ucapnya tersenyum.


"Good boy," ucap Liam mengusap rambut Ace.


Ace lalu memperhatikan perut Liam.


"Perut daddy kenapa seperti itu? itu dicetak menggunakan cetakan roti milik eomma ya?" tanya Ace polos.


Liam dan Jane tertawa.


"Ini bukan dicetak menggunakan cetakan roti namun karena daddy terlalu banyak berolahraga."


"Oh begitu."


"Iya."


"Perut Ace seperti ini dan aku ingin memiliki perut seperti milik daddy."


"Iya besok kamu berolahraga agar bisa mendapatkan perut yang seperti ini."


"Nee dad."


Beberapa minggu kemudian Jane sedang duduk termenung di halaman belakang rumahnya. Ace sedang diajak pergi oleh aunty Rosie dan grandmom, sedangkan suaminya sedang pergi bekerja. Dia berangkat lebih awal pagi ini karena ada meeting mendadak. Jane bimbang mengenai siapa yang akan dia pilih, apakah suaminya ataukah selingkuhannya. Akhir - akhir ini rumah tangga mereka sudah mulai kembali normal seperti biasanya, jadi hal itu semakin membuat Jane merasa sulit untuk menceraikan suaminya.


Setelah pergulatan di dalam hati dan fikiran Jane, akhirnya dia mengirimkan pesan kepada Simon bahwa mulai saat ini hubungan mereka berdua sudah berakhir dan Jane tetap memilih suaminya yang sudah menemaninya selama hampir 4 tahunan. Setelah menyampaikan hal tersebut, Jane lalu menghubungi suaminya untuk memintanya pulang sebentar karena dia ingin menceritakan semuanya kepadanya agar tidak semakin merasa bersalah kepadanya. 1 jam kemudian Liam sudah pulang ke rumah dan dia segera menemui Jane di kamarnya.


"Kenapa Jane?" tanya Liam.


"Aku ingin mengatakan suatu hal kepadamu hubby."


"Mengatakan apa?" tanyanya semakin penasaran.


"Se-sebenarnya aku dan Simon..."


"Oh tentang itu aku sudah mengetahuinya sejak lama, kalian berdua diam - diam berselingkuh di belakangku bukan?" tanyanya berusaha tenang.


Jane lalu menggenggam kedua tangan Liam.

__ADS_1


"Hu-hubby maafkan aku, sebenarnya aku tidak bermaksud seperti itu...."


"Tidak ada yang perlu dijelaskan Jane, aku sudah mengetahui semuanya beserta alasannya sebelum kamu memberitahuku. Mmm sudah tidak ada yang dibicarakan kan? kalau begitu aku akan kembali ke kantor karena pekerjaanku masih banyak," ucapnya dengan tangan yang gemetar.


"Hubby maafkan aku," ucap Jane sembari menangis.


Liam langsung pergi meninggalkan Jane dan mengendarai mobilnya. Selama diperjalanan Liam menangis sembari mengumpat dengan kata - kata kasar serta mengutuk dirinya sendiri.


"Dasar bodohh!! harusnya kamu tadi langsung memarahinya dan mengakhiri hubunganmu dengan wanita itu namun kamu malah bersikap tenang seperti itu haiss bodoh!!" ucap Liam memukul - mukul stir mobilnya.


Liam lalu menghubungi seseorang.


"Liam ingin bertemu sekarang bisa kan?"


"Iya Liam datang saja ke rumah, kebetulan aku sedang tidak pergi kemanapun."


*Sesampainya disana.*


"Eomma," ucapnya langsung sujud di hadapan ibu mertuanya sembari menangis.


Mrs Kim dibuat bingung mengapa tiba - tiba menantunya datang ke rumahnya sembari menangis.


"Eh Liam kenapa?" tanyanya sembari mengusap rambut Liam.


"Ternyata selama ini dugaan Liam benar eomma, bahwa Jane telah berselingkuh di belakangku. Jane baru saja menceritakannya kepadaku, dan jujur hatiku merasa sakit eomma."


Mrs Kim dibuat terkejut dengan pernyataan menantunya itu dan tidak menyangka bahwa putrinya tega melakukan hal seperti itu kepada suaminya yang selama ini sudah mencintainya dengan tulus. Mrs Kim merasa bahwa mereka berdua hanya sekedar teman dekat sejak duduk di bangku sekolah, akan tetapi ternyata hubungan mereka lebih dari itu.


"Liam ssstt maafkan putri eomma ya? eomma nanti akan membicarakannya kepada Jane mengenai hal tersebut," ucapnya duduk di samping Liam.


"Menurut Jane selama ini Liam bukan pria yang baik ya eomma?"


"Liam adalah pria yang baik, mana mungkin Jane berfikir bahwa Liam bukan pria yang baik? kamu ini menantu kita yang paling baik."


Liam lalu menatap Mrs Kim dan menggenggam kedua tangannya meskipun tangannya terasa sangat gemetar.


"Eomma tolong jangan beritahukan hal ini kepada keluarga Liam, karena aku tidak ingin mereka semua menjadi benci kepada Jane. Aku tidak ingin Jane menjadi jelek dimata mereka semua, terutama mommy dan Rosie."


Mendengar hal tersebut hati Mrs Kim menjadi trenyuh, karena meskipun Jane berbuat hal yang sangat menyakiti hati Liam namun dia tetap berusaha untuk melindungi reputasi Jane dihadapan keluarga besarnya.


"Rosie sudah sangat senang memiliki kakak perempuan, jadi aku tidak ingin dia merasa sangat kecewa dengan Jane."


"Iya Liam, sekali lagi eomma meminta maaf kepadamu atas kelakuan putri eomma."


"I-iya eomma."


Setelah itu Liam berdiri dan hendak kembali ke kantornya namun tiba - tiba saja.

__ADS_1


"Eh Liam bangun!!" teriak Mrs Kim berusaha menyadarkan Liam yang tiba - tiba jatuh pingsan di depan pintu rumahnya.


__ADS_2