Dear Ace

Dear Ace
#58 Sakit 2


__ADS_3

Ace memeluk Liam saat dirinya duduk di pangkuannya, sedangkan Liam mengusap rambut Ace. Liam menduga bahwa sepertinya badan Ace sedang merasa tidak enak karena saat ini dia hanya duduk diam, biasanya dia sudah sangat aktif berlarian kesana kemari. Yunna mendengarkan cerita Jane yang menceritakan mengenai tumbuh kembang Ace saat ini, dan topik itulah yang membuat Yunna merasa betah berbincang dengan Jane.


Menurut Liam hal itu sangatlah bagus lantaran mereka berdua sudah mulai terlihat sangat akrab. Sebenarnya tadi Liam merasa ragu untuk membawa Yunna pulang ke rumahnya karena dia takut jika Jane akan langsung memarahinya, akan tetapi akhirnya malah menjadi seperti ini. Liam menepuk pelan pantat Ace yang sudah mulai mengantuk sembari mendengarkan perbincangan kedua wanitanya.


"Iya sih Jane, aku lihat Ace anaknya memang sangat pintar sekali."


"Aku juga merasa begitu namun ya begitulah, dia terkadang membuatku merasa kesal."


"Kamunya saja yang terlalu galak dan tidak sabaran," ucap Liam menyela pembicaraan mereka berdua.


"Ssttt diam!" perintah Jane.


"Jadi bagaimana? sudah ada rencana untuk yang kedua?" tanya Yunna menggoda Jane.


"Hufftt belum ada Yun, menurutku Ace masih sangat kecil untuk diberikan seorang adik dan aku ingin menambah lagi saat usianya sudah menginjak sekitar 6-7 tahunan."


"Oh begitu, aku kira dahulu kamu akan mempunyai 100 anak hahaha."


Jane merasa terkejut.


"Eh siapa yang akan mempunyai 100 anak? aku tidak pernah sekalipun memikirkan hal seperti itu."


Liam langsung memalingkan wajahnya, dan Jane yang mengetahui hal tersebut langsung memukul tangan Liam.


"Hih kamu kan pasti yang bilang bahwa kita akan mempunyai 100 anak?" tanya Jane mengintimidasi Liam.


"Ti-tidak, mungkin Yunna yang salah dengar."


"Eh dahulu kamu selalu mengatakannya kepadaku seperti itu setelah kamu pulang dari honeymoon."


"Jangan coba - coba untuk berfikiran seperti itu, punya satu anak saja ditinggal pergi apalagi punya 100 anak."


"Ya maaf Jane, meskipun begitu sekarang aku berusaha untuk membayar semua kesalahanku ini kepada Ace."


"Iya deh iya," ucap Jane malas.


Liam beralih menatap Ace, dan ternyata dia sudah tertidur nyenyak di pangkuannya.


"Eh pantas saja dari tadi diam, ternyata sudah tertidur nyenyak rupanya."


"Sudah tidur hubby?"


"Nih sudah, aku tidurkan di kamarnya sekalian aku pergi mandi."


"Oh iya hubby."


Setelah itu Liam pergi menggendong Ace ke kamarnya untuk menidurkan dia.


"Sepertinya Liam memang sangat menyayangi Ace."


"Iya benar Yun, aku baru tahu kalau dia bisa aesayang itu dengan putranya sendiri. Padahal dahulu dia pernah berkata kepadaku bahwa dia akan melajang seumur hidupnya serta tidak menginginkan seorang anak, tapi kenyataannya sekarang berbanding terbalik."

__ADS_1


"Yang aku tahu, sepertinya dia mulai berubah sejak dia menikah denganmu. Aku dahulu juga sering mendengarnya bahwa dia tidak ingin memiliki seorang anak karena merepotkan, tapi setelah beberapa bulan menikah dia menjadi selalu berkata bahwa dia tidak sabar untuk menggendong anaknya sendiri."


"Yang aku lihat memang sepertinya begitu Yun, sekarang dia sangat sayang sekali dengan Ace dan bahkan selalu menuruti keinginannya."


"Benarkah?" tanyanya merasa tidak percaya.


"Iya, dia sekarang pemikirannya jauh lebih dewasa."


"Benar, sekarang aura kebapakannya juga sudah mulai terlihat hahaha."


"Hemm apalagi jika kumisnya sudah mulai tumbuh, semakin terlihat seperti seorang bapak - bapak."


"Hahaha iya benar. Jane, aku titip Liam denganmu ya, tolong jangan sakiti pria baik sepertinya karena aku dahulu sudah menyakitinya."


"Iya Yun, aku tidak akan menyakitinya."


Tidak lama kemudian Liam yamg sudah terlihat bersih dan tampan, dia lalu kembali bergabung bersama mereka berdua untuk melanjutkan perbincangan. Beberapa menit kemudian setelah perbincangan tersebut, Yunna langsung berpamitan kepada mereka berdua. Setelah itu Liam berbaring sebentar di sofa untuk beristirahat, dan Jane langsung memijat tubuh Liam. Jane memijat kaki suaminya dengan secara perlahan karena sering kali dia merasa kasihan melihat wajah suaminya yang sudah kelelahan. Apalagi hari Senin, baru duduk sebentar saja Liam langsung tertidur karena merasa sangat lelah.


"Pasti sangat lelah ya hubby?" tanya Jane sembari terus memijat kaki Liam.


"Iya, tadi banyak meeting."


"Oh begitu."


"Tapi tidak apa - apa sih, lagipula aku bekerja juga untuk menghidupi kalian berdua apalagi untuk membeli kebutuhan Ace."


"Terima kasih ya hubby sudah mau kerja keras banting tulang hanya untuk kita berdua."


"Iya Jane. Masih merasa cemburu saat aku dekat dengan Yunna?"


"Eh benarkah? sejak kapapn kamu mempunyai nomor telepon Yunna?"


"Sejak dulu."


"Oh."


"Rasanya aku ingin liburan lagi dengan kalian berdua."


"Denganku dan juga Yunna?"


"Bukan, denganmu dan dengan Ace."


"Oh aku kira dengan Yunna. Mmm rasanya aku juga ingin menikah lagi dengan Yunna," ucapnya bercanda.


Mendengar hal itu Jane langsung mencubit perut Liam yang seperti roti sobek itu.


"Apa kamu bilang? menikah lagi?"


"Aduh Jane sakit, aku hanya bercanda kok."


"Awas saja kalau kamu sampai berani menikah lagi, akan kupotong habis milikmu itu!!" ucapnya mengancam.

__ADS_1


"I-iya sayang."


Jane kemudian pergi ke kamar Ace untuk memeriksa keadaannya karena saat ini dia sedang sakit. Sesampainya disana Jane mendapati bahwa Ace masih tertidur nyenyak, dan saat digendong suhu tubuhnya terasa panas sekali hingga membuat Jane panik. Jane lalu memanggil Liam melalui telepon rumah, dan memang disetiap ruangan di rumah tersebut telah dipasangi telepon rumah yang saling berhubungan satu sama lain seperti di hotel. Dengan cepat Liam langsung memanggil dokter pribadinya untuk datang ke rumahnya agar bisa memeriksa Ace.


"Dok Ben, cepat ke kamar Ace."


"Iya Liam, iya."


Dokter lalu memeriksa kondisi Ace.


"Dia sakit panas dan pilek, nanti diberi obat paracetamol setelah itu dia akan kembali pulih."


"Oh begitu."


"Iya Liam, tidak perlu terlalu panik seperti itu."


"Iya dok Ben.


"Wajah anakmu persis sepertimu haha."


"Iya dok Ben, semua orang juga berkata seperti itu saat bertemu dengan Ace."


"Hahaha memang benar, umurnya berapa tahun?"


"Sudah satu tahun lebih."


"Oh begitu."


"Aku fikir kamu ini dokter multitalenta, bisa jadi psikiater dan bisa menjadi dokter biasa."


"Memang daddymu yang menyuruhku untuk bisa mempelajari semua hal ilmu kedokteran, agar tidak perlu repot memanggil dokter lain hufftt."


Liam tertawa.


"Hahaha mampus, kan aku sudah bilang jangan mau menerima tawaran daddy untuk menjadi dokter pribadi."


"Bagaimana bisa aku menolaknya, kan dia adalah teman dekatku."


"Oh."


"Kamu sekarang kok kurusan?"


"I-iya, aku sedang diet."


"Jangan diet."


"Iya."


Dokter Ben tahu bahwa Liam sedang berbohong kepadanya, karena dia sudah mengenal Liam sangat lama saat dia menangani kasus Liam untuk pertama kalinya namun dia memilih untuk diam saat ini.


"Ya sudah, aku pulang akan pulang dan jangan lupa ditebus resepnya."

__ADS_1


"Iya, terima kasih dok ben."


"Iya."


__ADS_2