
Ricko lalu memeluk Liam dengan sangat erat sembari menangis sejadi - jadinya, karena jika dia terlambat satu menit saja pasti dia sudah kehilangan sahabat dekatnya. Namun disisi lain Ricko sedikit merasa kecewa dengan Liam karena dia tidak menepati janjinya yang dahulu pernah dia buat, jika dia tidak akan melakukan hal seperti ini. Gita langsung keluar dari mobilnya dan menghampiri mereka berdua. Gita merasa sangat terkejut ketika pria yang sedang dipeluk oleh suaminya itu adalah Liam, yang merupakan teman dekatnya sejak masih SMA.
Gita merasa sedih sekaligus merasa lega karena sekarang Liam telah ditemukan dengan keadaan yang sehat, meskipun penampilannya telah berubah 180 derajat. Liam langsung meminta mereka berdua untuk jangan mengatakan tentang dirinya kepada siapapun termasuk dengan keluarganya sendiri. Ricko lalu mengiyakan permintaan Liam dan dia langsung mengajak Liam ke rumahnya. Sesampainya di rumah Ricko, Gita langsung membuatkan Liam teh hangat serta menyediakan beberapa camilan untuknya.
Disamping itu Ricko masih tidak percaya dengan penampilan Liam saat ini, karena dahulu penampilan Liam sangat rapi sekali apalagi semenjak dia menikah. Namun sekarang penampilannya ini sangat menyedihkan sekali. Ricko yang sedang memangku Ibra masih saja terus memperhatikan Liam yang sedang bingung serta merasa canggung karena sudah lama dia tidak bertemu dengannya. Tidak lama kemudian Gita datang ke ruang tengah sembari membawa teh hangat dan camilan untuk mereka berbincang.
Sejujurnya Liam merasa malu kepada Ricko karena keadaannya yang sekarang, apalagi dahulu Liam terkenal sebagai pria yang kaya raya. Namun sekarang sepertinya uang tabungan Liam saja sudah hampir habis karena pengeluarannya yang lebih banyak dari pendapatannya, apalagi setiap bulan Liam tetap mengirim sejumlah uang kepada istrinya dengan nominal yang sama seperti dahulu untuk menutupi keadaannya. Ricko lalu pergi ke kamarnya sembari menggendong Ibra, dan dia lalu kembali ke ruang tengah dengan membawa sebuah gunting serta pencukur kumis.
"Mau apa?" tanya Liam berteriak.
"Sini aku akan memotong kumis serta merapikan rambutmu."
Liam langsung menghindari Ricko.
"Tidak mau!! biarkan saja tetap seperti ini!"
"Jujur kamu sangat jelek sekali jika penampilanmu seperti itu, sini aku rapikan agar terlihat sangat tampan seperti dulu."
"Tidak mau Ric, aku sekarang sudah merasa nyaman seperti ini."
"Kenapa begitu?" tanya Ricko penasaran.
"Agar tidak ada orang yang mengetahuiku, karena memang selama ini aku sedang bersembunyi."
Ricko menghela nafasnya kasar.
"Dahulu kamu sudah berjanji untuk tidak melakukan hal seperti itu serta kamu akan selalu bercerita kepadaku, akan tetapi kenapa kamu sekarang melanggar janji yang kamu buat?"
"A-aku hanya merasa tidak enak kepadamu dan aku takut jika aku akan merepotkan kamu."
Ricko langsung merangkul Liam.
"Hei aku tidak pernah merasa direpotkan olehmu, karena kita sudah bersahabat sangat lama sekali sekaligus aku sudah menganggapmu sebagai saudaraku sendiri Li."
"Benarkah begitu?" tanya Liam memastikan.
Ricko mengangguk.
"Tentu saja sobat, memangnya kapan sih aku berkata bahwa kamu itu selalu merepotkanku?"
"Ya siapa tahu kamu merasa seperti itu, jadinya aku memilih untuk diam saja."
Gita langsung menepuk bahu Liam.
"Jadi sekarang kalau ada apa - apa jangan sungkan untuk bercerita kepada kita karena kita bertiga kan sahabat sejati," ucap Gita merangkul mereka berdua.
__ADS_1
"Benar Li, janganlah dipendam sendiri."
"Eh tapi kamu tidak apa - apa jika Gita merangkulku seperti ini? aku takut jika kamu marah denganku."
Ricko tertawa.
"Tentu saja tidak, mengapa aku marah kepadamu? bukankah dulu kamu tidak mempunyai perasaan dengan Gita meskipun Gita sangat menyukaimu ha?" tanya Ricko sembari menaik - naikkan alisnya.
"Ckckck selalu saja di bahas," ucap Gita kesal.
Mereka bertiga langsung tertawa bersama.
"Eh diminum dulu," ucap Ricko.
"Oh iya terima kasih," ucap Liam lalu meminum teh hangatnya.
"Jadi selama ini kamu tinggal dimana?" tanya Gita penasaran.
"Aku selama ini tinggal di kontrakan kecil dekat pasar yang X itu, aku tidak berani tinggal di rumah yang dulu karena pasti biayanya sangat mahal untuk diriku yanh sekarang hanya sebagai driver ojek online."
"Oh begitu."
"Malam ini lebih baik menginap saja disini," ucap Ricko tiba - tiba.
"Eh jangan, nanti aku akan merepotkan kalian berdua."
"Mmm baiklah tapi hanya malam ini saja ya?"
"Eh jangan, menginaplah disini minimal selama seminggu."
"Kenapa begitu Ric?" tanya Liam merasa terheran.
"Aku masih ingin berbincang banyak denganmu karena aku sangat merindukanmu."
"Iya Li, setiap malam Ricko selalu menangis karena memikirkanmu hahaha."
"Eh ternyata kamu bisa menangis juga heum?"
"Ya mana mungkin aku bisa santai saat sahabatku tiba - tiba menghilang, aku sangat cemas jika terjadi hal buruk kepadamu."
"Hehe terima kasih sudah mengkhawatirkan aku."
"Iya."
Gita lalu pergi ke kamar tamu untuk membersihkannya karena nanti akan dipakai oleh Liam, sedangkan Ricko terus berbincang dengan Liam sembari bertanya kabar masing - masing untuk basa basi. Liam merasa bersyukur sekali karena dia mempunyai seorang sahabat yang sangat baik sekali kepada dirinya. Disisi lain saat ini Ace sedang bermain dengan beberapa mainan dinosaurusnya bersama Jane dan juga Rosie di ruang tengah. Tidak lama kemudian datanglah kedua orang tua suaminya yang lansung bergabung bersama mereka bertiga.
__ADS_1
"Mau main yang ini lagi," ucap Ace sembari menunjuk sebuah puzzle.
"Mau main puzzle lagi?" tanya Jane.
Ace mengangguk.
"Nee."
Setelah itu Ace langsung menyebar semua kepingan - kepingan puzzle itu hingga berserakan di lantai.
"Maaf ya mom, semenjak Ace disini justru malah membuat rumah ini berantakan."
"Tidak apa - apa Jane, namanya juga anak kecil yang masih sangat suka bermain."
"Benar Jane, justru tidak apa - apa jika Ace menjadi anak yang aktif serta menjadi anak yang suka bermain seperti ini untuk melatih motoriknya."
"Iya dad, terima kasih banyak sudah mau menerima Jane di rumah ini lagi."
"Hei kamu ini masih menjadi menantuku serta putriku, jadi datanglah sesukamu karena pintu rumah ini akan selalu terbuka lebar kapanpun yang kamu inginkan."
Setelah mendengar hal itu Jane langsung tersenyum, akan tetapi tiba - tiba saja Ace menangis.
"Huwaa eomma."
"Kenapa sayang?" tanya Jane membawa Ace ke pangkuannya.
"Yang itu hilang, dan Ace tidak bisa menemukannya."
"Jadi ada bagian dari puzzle yang hilang?"
Ace mengangguk sembari menangis.
"Nee."
Semua orang langsung mencari dimana keberadaan kepingan puzzle yang hilang. Tidak lama kemudian Rosie menemukannya terselip di bawah salah satu mainan dinosaurusnya.
"Ini yang kamu cari," ucap Rosie memberikan kepingan puzzle itu kepada Ace.
"Terima kasih."
"Iya, sudah jangan menangis lagi ya?"
"Nee."
Ace lalu memasangnya, dan setelah itu dia tersenyum lebar.
__ADS_1
"Yeayy."